Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Encoknya Kumat


__ADS_3

Dan akhirnya Abah dan Umi pun berpelukan dengan sangat hangat, sehingga tidak terasa bahwa saat ini mereka sedang melakukan hubungan suami istri.


Abah dan Umi yang sudah cukup umur, tetapi mereka tidak mau kalah dengan anak muda yang berusaha menjaga keharmonisan rumah tangganya. Karena dengan cara itulah Abah dan Umi untuk merekatkan hubungan mereka agar tetap romantis.


“Aduh... hahaha... geli Abah, pelan-pelan dong” ucap Umi sambil merasakan tubuhnya yang sedang dijamak oleh Abah.


Dengan perlahan Abah mendaki gunung Umi yang sedikit kendor dengan sangat gemas. Ia melahapnya sambil memainkan pucuk dari gunung tersebut.


“Haha... Abah ishh... nakal ya, gelih tahu” saut Umi sambil meliuk-liukkan badannya.


“Hemp... hemp...” Abah mengemutnya dengan menikmati gunung yang selalu ia daki.


Sampai seketika Abah sudah mencapai puncaknya, kemudian membuka kedua kaki Umi dengan perlahan.


Dan terlihatlah sawah Umi yang sudah banjir akibat permainan Abah, ya meskipun Abah tidak seperti anak muda tetapi ia sangat pintar untuk membuat Umi puas.


Abah kembali mengarahkan juniornya serta sedikit mengurutnya untuk memasuki rumahnya.


Jleb ! ...


Jleeeebb ! ...


2 kali hentakan saja bisa langsung menerobos sang rumah dengan sangat dalam. Umi yang merasakan sesuatu di dalam sana hanya bisa sedikit meringis.


Kemudian, Abah menggoyang-goyangkan pinggulnya serta memaju mundurkan juniornya dengan sangat lembut.


Sampai akhirnya Abah menambahkan temponya untuk sedikit mempercepat goyangannya. Serta Umi hanya bisa menyeimbangi goyangan Abah sesekali mende*sah kenikmatan.


Abah tak henti-hentinya menerobos rumah junior dengan menekannya lebih dalam. Dan akhirnya mereka melakukan pelepasan bersama-sama.


“Terima kasih Umi, sudah selalu siap untuk melayani Abah kapan pun dan di mana pun kita berada” ucap Abah.


“Sama-sama Abah, terima kasih juga karena Abah selalu tahu bagaimana cara memuaskan Umi. Bahkan Umi sampai tidak bisa berkata-kata lagi selain mengeluarkan suara-suara indah untuk Abah” saut Umi.


Dan mereka pun kembali membersihkan tubuhnya lalu, beristirahat.


Di kamar Tuan Ferry dan Nyonya Syifa


“Sayang, argh... pelan-pelan dong” ucap Nyonya Syifa sambil mende*sah kenikmatan.


“Arghh... tidak sayang, ini nikmat sekalihh” de*sah Tuan Ferry sambil menggoyangan pinggulnya dengan tempo cepat.


“Arghh... hemp... uhh... hati-hati pinggangmu nanti encoknya kumat loh, Pah” saut Nyonya Syifa sambil menikmati goyangan suaminya.


“Tidak akan sayang, aku masih muda” jawab Tuan Ferry dengan kembali menambahkan kecepatan goyangannya sampai membuat buah cerry Nyonya Syifa ikut bergoyang mengikuti irama hentakan Tuan Ferry.

__ADS_1


Cpkk... cpkk.m. cpkk...


Bunyi suara penyatuan mereka terdengar sangat keras yang membuat keduanya semakin bergairah.


Mereka hampir berganti-ganti posisi satu sama lain dan disaat posisi yang terakhir kini Nyonya Syifa kembali pada posisi awalnya yaitu di bawah kungkuhan sang suami.


Saking mereka mendengar suara-suara indahnya satu sama lain membuat mereka semakin panas, bahkan Tuan Ferry sampai lupa jika ia sudah bukan lagi anak muda.


Bahkan ia sering merasakan encok di bagian pinggulnya akibat terlalu bersemangat saat bermain. Namun, di saat mereka sudah ingin sampai di puncaknya tiba-tiba saja...


Krekek ! ...


“Aaaaaaa...” teriak Tuan Ferry sambil memegangi pinggul belakangnya.


“Nah... baru saja tadi diomongin sudah kejadian kan” ucap Nyonya Syifa dengan wajah kesalnya.


“Sttt... sayang sakit hiks...” rengek Tuan Ferry sambil menangis.


“Ck! Bikin repot saja. Makannya kalau sudah tua itu tidak usah bergaya pakai tempo cepat. Kalau sudah begini aku yang repot” omel Nyonya Syifa.


“Hiks... Sudah tahu suami kesakitan masih saja di omeli” rengek Tuan Ferry.


“Ya sudah cabut punyamu, memangnya mau nancep seperti itu terus?” tanya Nyonya Syifa.


“Astaga, kamu sudah tahu sakit masih saja bicara seperti itu” saut Nyonya Syifa dengan sedikit menggoyangkan pinggulnya untuk membenarkan posisi.


“Argghh... Sayanggggg, jangan gerak dulu jadi bangun lagi kan dia hiks...” rengek Tuan Ferry.


“Yakk... Aku cuman ingin membenarkan posisiku ya, bukan ingin membangunkannya. Lagian siapa suruh masih nancep di situ. Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa mengobati encokmu itu Pak Tua?” geram Nyonya Syifa dengan menekankan kata-katanya.


“Bantu aku tidur pelan-pelan tapi jangan sampai lepas, aku masih mau main. Tapi kamu yang mimpin ya” ucap Tuan Ferry sambil tersenyum.


“Ck! Dasar pria Tua menyebalkan. Sudah tahu encok ini malah ingin main lagi” gumam Nyonya Syifa dengan nada kesalnya.


“Ayolah sayang... Kamu tidak kasihan sama aku yang sudah encok ini. Nanti kalau sudah sembuh aku kasih bonus deh kita main sampai pagi gimana, mau kan?” bujuk Tuan Ferry.


“Sampai pagi bagaimana coba, baru main sejam saja pinggang sudah encok. Apa lagi sampai pagi, bisa-bisa tulangmu pada copot semuanya” saut Nyonya Syifa.


“Jadi enggak mau nih, huaaa... hiks... sayang jahat suami sakit bukannya di manja malah diomeli terus hiks... jahat” kini saatnya Tuan Ferry mengeluarkan jurus andalannya yang membuat Nyonya Syifa tidak bisa berkutik lalu ia menuruti sang suami


Dengan perlahan Nyonya Syifa bangun dan menidurkan Tuan Ferry dengan hati-hati. Tuan Ferry meringis kesakitan saat tubuhnya di buat terlentang.


Namun, saat Nyonya Syifa mencoba bergoyang di atas Tuan Ferry, ia malah semakin merasakan kesakitan. Lalu, tidak ada cara lain dari pada sang suami kembali merengek untuk mengeluarkan sesuatu yang tadi sudah nanggung.


Akhirnya, Nyonya Syifa dan Tuan Ferry melakukan posisi 69 dengan begitu mereka bisa menikmati satu sama lain, walaupun hanya dengan sentuhan lidah.

__ADS_1


Mereka asyik bermain dengan mainannya sampai akhirnya mereka melakukan pelepasan bersama-sama di mulut masing-masing. Lalu, menelannya dan membersihkannya menggunakan mulut.


Dengan begitu mereka baru bisa merasakan puas, karena sesuatu yang nanggung itu tidak akan baik hasilnya. Jadi, mereka harus segera menuntaskannya.


Di ruang keluarga


Qisya dan Arya yang saat itu sedang menunggu kedatangan Hana dan Brian membuat mereka sedikit jenuh lalu mereka meluap kejenuhan mereka dengan cara nyemil dan menonton film kartun.


“Assalamualaikum...” ucap salam Hana dan Brian bersamaan sambil memasuki rumah.


“Waalaikumsalam...” ucap Qisya dan Arya bersamaan.


“Bundaaa...” teriak Qisya sambil berlari ke arah Hana.


“Uluh... uluh... Anak Bunda yang cantik kok belum bobo? Ini sudah malam loh...” Hana mengusap kepala Qisya yang sedang memeluk perut Hana dan menciuminya.


“Pelan-pelan Kakak, kasihan kalau adiknya nanti ke gencet loh” ucap Brian.


“Hehe... Jangan dong, nanti dedek kembalnya gepeng dong” jawab Qisya sambil melepaskan pelukannya dan tertawa.


“Untung Mas Brian dan Mbak Hana sudah pulang, jadi Arya mau ke kamar dulu ya. Ngantuk banget, hoaam...” Arya menguap sambil menutup mulutnya.


“Ya sudah kamu istirahat, besok kan acara Mbakmu jadi biar fresh nantinya” jawab Brian yang diangguki oleh Hana.


Kemudian Arya berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontainya.


“Qisya juga bobo ya... Bunda juga mau istirahat kan besok acara Bunda. Jadi kalau Qisya nanti ngantuk di acara Bunda, Ayah bakalan marah loh” ucap Brian sambil menatap Qisya.


“Hehe... Jangan dong, Ayah kan kalau malah-malah selem tahu kaya seligala aaauuuuu... hahaha kaburrr...” Qisya berlari menuju kamarnya saat berhasil meledek Brian.


“Yakkk... Dasar anak rese, bisa-bisanya mengatai Ayahnya sendiri” teriak Brian dengan kesal yang malah mendapat meletan lidah dari Qisya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Selamat beraktivitas dan tetaplah semangat... 💪🏻💪🏻💪🏻


Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺


Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗


Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁


Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2