Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Tingkah Ayah dan Anak


__ADS_3

“Yakk... Apa-apaan ini, kenapa pakai adegan peluk-pelukan begini. Dan satu lagi, kenapa kamu mencium pria lain selain aku suamimu?” ucap Brian dengan nada kesalnya.


“Astaghfirullah, Mas Brian kenapa sih aneh banget. Arya itu adikku bukan orang lain, wajar dong lagian kami itu sedarah tau...” ucap Hana sambil menghapus air matanya.


“Ayah jangan galak-galak sama Bunda” teriak Qisya yang langsung duduk ditengah-tengah Brian dan Hana.


“Sudah sana main sama Baby twins, jangan ikut campur masalah orang tua” jawab Brian dengan tegas.


“Enggak, enggak mau! Qisya mau di sini sama Bunda. Lagian Ayah kenapa sih malah-malah mulu, nanti cepat tua teyus mati mau?” celoteh Qisya.


“Yakk... Kamu nyumpahin Ayah cepat mati gitu? Dasar anak ngeselin” saut Brian dengan wajah marahnya.


“Dasar Ayah galak!” jawab Qisya yang tidak mau kalah.


“Kamu ngeselin!” teriak Brian.


“Ayah galak!” teriak Qisya.


“Sudah-sudah cukup ya... Bunda pusing lihat kalian berantem mulu seperti ini” saut Hana yang sedikit mengencangkan suaranya sambil menutup kupingnya.


“Mas Brian sudahlah mengalah saja sama anak kecil, lagian juga Mas Brian tidak akan bisa mengalahkan Qisya. Nanti kalau jurusnya sudah keluar baru deh ngalah...” ucap Arya.


Brian yang mendengar ucapan Arya ada benarnya pun langsung terdiam dengan wajah kesalnya. Ia tidak mau kembali berdebat yang pada akhirnya pasti Qisya akan merengek nangis kepada Hana untuk meminta pertolongan. Sedangkan dirinya pasti akan terkena masalah nantinya yang akan merugikan si Joni.


“Bunda enggak apa-apa kan, tangannya ada yang sakit enggak? Teyus Ayah naliknya kenceng apa pelan?” tanya Qisya dengan wajah penuh kekhawatiran.


“Bunda enggak apa-apa sayang, sudah ya Kakak baikkan sama Ayah enggak boleh berantem terus, enggak baik loh nanti Bunda sedih lihatnya bagaimana?” rayu Hana dengan wajah yang di buat sedih.


“Tapi Bunda, kan Ayah duluan yang galak sama Bunda. Kakak enggak mau sampai Bunda sakit lagi kaya dulu” ucap Qisya yang masih teringat kejadian Hana yang koma beberapa bulan.


“Sttt... Sayang, dengarkan Bunda ya. Bunda sakit itu bukan karena Ayah, tapi karena musibah yang Allah kasih untuk keluarga kita supaya kita lebih bersyukur lagi. Jadi Qisya enggak boleh nyalahin Ayah ya, Qisya harus lupain semua itu. Oke...” bujuk Hana.


“Iya deh Bunda, Kakak minta maaf ya” ucap Qisya dengan wajah sedihnya.


“Minta maaf sama Ayah dong, bukan sama Bunda” ucap Hana sambil tersenyum.


Qisya pun berbalik badan menatap sang Ayah dengan wajah sedihnya.


“Ayah... Kakak ma-mau minta maaf sudah malah-malah sama Ayah. Ayah mau kan maafin Kakak?” tanya Qisya.


“Enggak!” jawab Brian dengan berpura-pura membuang mukanya.


“Bunda... Ayah enggak mau maafin Kakak” ucap Qisya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


“Ayah, ayo dong baikkan sama Kakak. Kasihan loh Kakak jadi sedih” ucap Hana.


“Hiks... Bunda” tangis Qisya pecah lalu ia memeluk Hana dengan sangat erat.


“Cupcupcup... Sayang sudah dong jangan nangis. Itu Kakak lihat Baby twins sampai bingung loh” ucap Hana sambil menenangkan Qisya.


“Hiks... Ayah Bunda, Ayah dia hiks... Ayah enggak mau maafin Kakak hiks... Bunda jangan sedih ya, karena Ayah enggak mau maafin Kakak padahal Kakak sudah minta maaf tapi Ayahnya jahat enggak mau maafin Kakak hiks...” Qisya menangis dengan sesenggukan yang membuat Brian sedikit tertawa.


“Brian jangan bercanda deh... Itu lihat Kakak sampai nangis begitu” ucap Nyonya Syifa.


“Brian sudah cukup bercandanya, atau kamu mau Hana sakit lihat tingkah kalian yang selalu saja membuatnya pusing” saut Tuan Ferry.


“Hati-hati, Mas. Nanti bisa-bisa jatahmu di potong habis loh hihi...” ucap Arya.


Brian pun menyudahi aktingnya dan langsung menggendong Qisya di dalam pelukannya sambil duduk.


“Aduh... Anak Ayah yang cantik sudah berat rupanya ya. Sudah dong jangan menangis lagi malu sama Baby twins tuh, nanti mereka ikutan nangis loh. Ayah kan cuman bercanda, mana mungkin Ayah bisa lama-lama berantem sama Kakak hem... Kakak kan anak baik, jadi Ayah tidak akan marah sama Kakak. Kecuali Kakak salah baru Ayah marah” ucap Brian sambil memeluk Qisya.


“Hiks... Ayah benelan sudah maafin Kakak kan, janji enggak malah-malah lagi. Kakak enggak mau lihat Bunda sedih kalau kita belantem teyus kasihan Bunda nanti pusing” ucap Qisya yang menyudahi tangisannya.


“Uhh... Sayangnya Ayah pintar banget sih, sudah jangan nangis terus nanti cantiknya hilang loh” bujuk Brian sambil mengusap air mata Qisya dan sedikit mencium keningnya.


“Yakk... Enggak mau Ayah. Iya nih Kakak enggak nangis lagi deh biar cantik teyus hehe...” saut Qisya sambil tertawa yang membuat Brian gemas dan langsung mencubit hidung Qisya.


Kini sudah saatnya mereka semua beristirahat karena hari sudah mulai malam. Tak lupa Hana dan Brian pun membawa Baby twins ke dalam kamar.


Namun, di saat Hana dan Brian baru saja ingin tidur tiba-tiba Baby Lily menangis karena haus. Hana lalu menyusui Baby Lily dengan sangat telaten. Bahkan ia tak lupa untuk selalu mencium serta mengelus wajah Baby Lily.


“Sayang, aku juga mau susu” rengek Brian sambil merucutkan bibirnya.


“Ya sudah nanti aku buatin ya kalau sudah selesai menyusui Baby Lily” ucap Hana.


“Enggak mau, maunya sekarang” jawab Brian yang masih merengek.


“Sabar dong, Mas. Hana kan lagi nyusuin Baby Lily mana mungkin sambil membuatkan susu untuk Mas” ucap Hana dengan wajah sedikit kesal.


“Kok di buatin sih, memangnya aku ingin susu apa?” tanya Brian untuk memastikan apa yang ia maksud sama dengan apa yang ada di pikiran Hana.


“Susu yang di dalam gelas kan, susu coklat?” tanya Hana dengan wajah bingungnya.


“Bukan, susu putih sayang yang biasa ituloh...” kode Brian sambil matanya terus menatap Baby Lily yang sedang menyusu.


“Susu putih yang biasa, maksudnya bagaimana sih Mas. Hana bingung deh, lagian kan Mas Brian tidak menyukai susu putih” tanya Hana.

__ADS_1


“Susu itu loh sayang...” ucap Brian sambil menunjuk ke arah gunung kembarnya Hana.


Hana seketika refleks melihat ke arah gunungnya dan “Ya ampun, Mas Brian... Hana kira apaan. Ya jangan lah ini kan punya Baby twins kalau Mas menyusu mereka nanti tidak kebagian” ucap Hana


“Ayolah sayang dikit saja loh... Pisssss, aku mau nyobain susunya Baby twins seperti apa rasanya” rengek Brian dengan menyatukan tangannya.


“Ya sudah tapi sebentar saja ya” jawab Hana.


“Ya sayang hehe...” ucap Brian dengan wajah yang sangat senang.


Di saat Hana sudah mengeluarkan gunung satunya tiba-tiba saja Baby Lukas menangis.


Oeekk... Oeekk... Oeekk...


Brian yang baru saja ingin melahap gunung Hana pun terhenti saat mendengar isak tangan Baby Lukas.


“Aduh... Anakku satunya nangis Mas, tolong bawa ke sini dong. Mungkin dia juga haus” ucap Hana.


“Kan aku duluan sayang yang minta, kenapa Baby Lukas yang mendapatkannya sih” ucap Brian dengan sangat kesal.


“Ayolah Mas tolongin, kasihan Baby Lukas nangis terus. Nanti kalau sudah selesai gantian deh Mas yang menyusu” ucap Hana.


“Bener ya nanti gantian aku yang nyusu” ucap Brian.


“Ya sayang, sudah ayo cepat bawakan dia ke sini” saut Hana.


Kemudian Brian pun dengan kesalnya langsung mendekati box Baby Lukas dan menggendongnya untuk diberikan kepada Hana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁


Dan terima kasih atas dukungan kalian selama ini semuanya 😄😄😄


Semua dukungan kalian itu sangatlah berarti untuk Author 😊😊😊


Author akan berusaha untuk bisa up lebih banyak lagi 💪🏻💪🏻💪🏻


Dan Author juga akan membuat ceritanya lebih menarik 😆😆😆


Jaga diri kalian dan sampai jumpa para pembaca setiaku 🤗🤗🤗


Sayang kalian banyak banyak semua pembaca setiaku 🥰❤️🤍

__ADS_1


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2