Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Dokter Kecil Itu


__ADS_3

Alex dari tadi sudah menahan detak jantungnya agar tidak berpacu dengan sangat cepat. Tapi siapa sangka, jantung Alex malah seperti ingin loncat dari tempatnya sehingga membuat Sasya tersadar karena mendengar detak jantung Alex begitu kencang dan juga cepat.


“Tuan, apakah Anda memiliki riwayat jantung? Saya dengar detak jantung Tuan begitu cepat, ppa perlu saya panggilkan dokter spesialis jantung agar bisa memeriksamu lebih dalam lagi, Tuan? Saya takut jika ada apa-apa dengan jantung Tuan, karena saya tidak mau masuk penjara hanya karena saya baru menjalankan tugas ini” celoteh Sasya yang membuat Alex merasa sangat nyaman.


“Apakah seorang dokter bisa secerewet ini kepada pasiennya? Karena yang saya tahu seorang dokter itu biasanya bersikap sangat lembut dan juga tenang, tapi lihatlah dirimu? Kau terlihat begitu panik hanya karena menangani 1 pasien, bagaimana jika kau menangani 1000 pasien?"


"Apakah nanti kau akan mendadak mati hanya karena menangani banyak sekali pasien? Sehingga akan ada banyak berita yang mengabarkan bahwa ada seorang dokter yang meninggal dunia akibat kebanyakan manangani pasien” ucap Alex dengan sangat datar.


“Sabar Sasya sabar... Ini pasien pertamamu jadi jangan buat Dokter Rini sampai kecewa padamu. Ingatlah dia telah mempercayakan pasiennya padamu, jadi bersikaplah semanis mungkin ya meskipun dia sangat menyebalkan sih...” gumam Sasya di dalam hati kecilnya sambil tersenyum menatap Alex.


“Kenapa diam?” tanya Alex dengan sangat dingin.


“Nothing Sir, ya sudah sepertinya tugas saya sudah selesai jadi saya pamit untuk kembali bekerja permisi...” sahut Sasya sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya menjauhi bangkar Alex.


Tapi entah kenapa Alex malah memiliki perasaan seperti enggan untuk mengizinkan Sasya agar pergi darinya. Kemudian Alex langsung menahan Sasya agar tidak pergi dengan berpura-pura untuk meringis kesakitan.


“Sssttt... awwwhhss...” keluh Alex yang memegangi perutnya.


Suara rintihan keluh Alex telah berhasil membuat Sasya berbalik dengan keadaan cemas dan segera berlari kecil, namun tidak tahu bagaimana tiba-tiba saja Sasya tersandung sesuatu yang membuatnya langsung jatuh ke dalam pelukan Alex.


Cuuupp !...


Alex mencium kening Sasya bersamaan dengan jatuhnya Sasya di pelukannya. Namun semua itu tidak bertahan lama karena tanpa sengaja sikut Sasya menekan luka yang ada di perut Alex.


“Aarrgghhhh...” teriak Alex saat merasakan sakit yang luar biasa.


Sasya yang tidak sengaja pun langsung berdiri dengan salah tingkah, ia bingung harus bagaimana lagi. Seakan-akan ia melupakan jika dirinya adalah seorang dokter, dan dia malah langsung berlari mencari dokter Rini.


“Se-sebentar Tuan saya akan panggilkan dokter Rini, permisiiiii....” ucap Sasya dengan keadaan panik serta langsung keluar dari ruangan dalam keadaan tergesa-gesa yang membuat Pinjai langsung masuk mengecek kondisi Alex bersamaan dengan mafioso yang tadi berjaga di dalam.


“Tuan, sebenarnya ada apa? Kenapa Tuan meringis kesakitan seperti ini? Apa ini semua karena anak kemarin sore itu? Bukannya aku sudah bilang kan kalau-...” ucap Pinjai terhenti saat Alex mengangkat tangannya ke atas.


“Aku tidak apa-apa assth... Kenapa kalian masuk ke sini? Dimana dokter itu?” ucap Alex dengan sedikit meringis.


“Tadi dia keluar lari-lari, lalu aku masuk ke sini untuk mengecek keadaan Tuan. Takutnya anak kecil itu bisa membuat Tuan dalam bahaya” ucap Pinjai.


“Ya memang dia sudah hampir membunuhku dengan membuat jantungku berdetak tidak karuan. Entah kenapa saat aku berada di dekatnya aku seperti merasakan ke nyaman yang dulu pernah aku dapatkan sebelumnya” gumam Alex dengan sangat lirih namun masih sedikit terdengar samar di telinga Pinjai.

__ADS_1


“Apa Tuan? Bisa diulangi lagi? Saya tidak dengar karena suara Tuan sangat kecil” ucap Pinjai dengan wajah bingungnya.


“Ekhemm... Ti-tidak jadi, ya sudah kalian keluar dari sini saya mau istirahat” ucap Alex dengan dingin.


“Tap-...” ucap Pinjai terhenti saat Sasya masuk ke dalam ruangan sambil menarik dokter Rini.


“Hahh... hahh... I-itu dok, tadi dia kesakitan entah kenapa dan juga jantungnya berdetak sangat kencang. Jadi saya takut jika ada apa-apa dengannya, nanti saya bisa masuk penjara” ucap Sasya dengan kepanikannya.


“Tenang Dokter Sasya, tenang. Coba tarik nafasmu lebih dulu agar kamu bisa tenang dan lihatlah itu, Tuan Alex baik-baik aja kok” ucap Dokter Rini yang membuat Sasya langsung menatap Alex, sedangkan Alex hanya terdiam dengan wajah datarnya.


“Lo-loh... Ko-kok Tuan Alex biasa saja? Ta-tadi perasaan kesakitan” ucap Sasya tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


Pinjai dan mafioso hanya menatap ke-2 Dokter dengan tatapan bingung terhadap kepanikan di wajah Sasya. Dokter Rini yang juga sedikit bingung, lalu ia mendekati bangkar Alex serta meminta izin untuk memeriksanya kembali agar bisa membuat Sasya mengerti.


Hampir 5 menit Dokter Rini mengecek ulang kondisi Alex, dan hasil semuanya baik-baik aja tanpa ada keluhan apa-apa. Hanya saja lukanya di perut Alex masih basah jadi ia harus setiap 2 kali sehari ganti perban sampai darahnya tidak lagi mengalir keluar.


“Syukurlah, keadaan Tuan Alex semuanya baik-baik saja. Namun lukanya sedikit terbuka lagi, tapi tidak apa-apa karena sejauh ini semuanya masih sangat stabil"


"Mungkin tadi Tuan Alex berteriak karena ia merasa lukanya sangat menyiksa akibat obat bius sudah tidak lagi berfungsi” jelas dokter Rini yang membuat semuanya mengangguk kecil, tapi tidak dengan Sasya dan Alex yang malah saling tatap menatap dengan tatapan berbeda.


“Al-alright Sir, excuse me...” ucap Dokter Rini sambil berbalik serta berjalan bersama yang lainnya.


Namun saat Dokter Rini sudah sampai di pintu, Sasya langsung mengejar dokter Rini dan ia memegang tangannya sambil menunjukkan wajah ketakutannya.


“Dok, bisakah aku merawat pasienmu yang lain saja? Aku tidak sanggup jika harus berhadapan dengan pria seperti itu” ucap Sasya dengan sangat pelan sambil melirik sekilas ke arah Alex.


“Calm down Dokter Sasya, kamu pasti bisa kok merawat Tuan Alex. Saya percayakan pasien kehormatan saya padamu karena saya tahu kamu pasti bisa merawatnya sebaik mungkin, dan apa kamu lupa jika kamu yang sudah menyelamatkannya?"


"Jadi sekarang cuma kamu yang paham betul dengan keadaan Tuan Alex. Jika aku menyerahkannya pada Dokter magang yang lain, belum tentu mereka bisa seperti dirimu” ucap Dokter Rini memberikan semangat pada Sasya dengan tersenyum sambil mengelus pundaknya.


Padahal di hati Dokter Rini, ia juga sangat takut jika sampai berurusan dengan Alex karena dia sudah paham betul sikap Alex seperti apa. Jadi saat ia tahu jika Sasya adalah wanita yang baik, ceria dan juga penyabar, maka langsung saja ia serahkan padanya siapa tahu dengan begitu Alex akan lebih cepat sembuh serta tidak akan marah-marah lagi atas kesalahan kecil.


Banyak Dokter yang menyerah saat menangani Alex, maka dari itu sebenarnya tidak ada yang berani jika setiap saat harus di hadapkan dengan Alex. Apa lagi saat mendengar Alex menjadi langganan di rumah sakit, semua Dokter langsung menyibukkan diri untuk mengontrol pasien dan hanya Dokter Rini yang bisa bertahan dengan semua sikap Alex.


Namun kali ini sudah ada Sasya, jadi Dokter Rini mencoba untuk membuat Sasya merasakan bagaimana caranya menghadapi pasien yang sedikit bandel dan juga pemarah seperti Alex. Ya anggap saja saat ini Sasya seperti sedang di ospek sama kayak saat ia menjadi murid atau pun mahasiswi baru.


“Baiklah kalau begitu, Dok. Semoga saja Sasya bisa menghadapinya, lagian juga orangnya sangat menyeramkan jadi Sasya sedikit takut” bisik Sasya yang membuat Dokter Rini tertawa kecil.

__ADS_1


“Sedang ngomongin apa kalian sampai tertawa seperti itu?” ucap Pinjai dengan tatapan tajamnya.


“Eh... Tu-Tuan hehe... Ti-tidak kok, sa-saya cuma bilang jika Tuan sangat tampan” ucap Sasya sambil menyengir kuda sehingga membuat Alex yang melihatnya merasa kesal.


“Cepat keluar!!!!!!” pekik Alex dengan suara yang begitu menggelegar hingga membuat semuanya kecar kacir berlari keluar ruangan, sedangkan Sasya ia hanya bisa terdiam menutup matanya.


“Astagfirullah... Ayah, Bunda semoga Sasya kuat ya untuk menghadapi pasien yang seperti ini...” gumam Sasya di dalam hati kecilnya.


Alex yang menyadari jika suaranya membuat Sasya ketakutan pun langsung mencoba untuk sedikit menenangkan emosinya.


“Ekhem... Kenapa kau cuma diam di situ” ucap Alex dengan suara dinginnya namun tidak sampai seperti tadi.


Sasya kemudian membuka matanya secara perlahan menatap Alex dari kejauhan.


“Y-ya Tuan... A-ada apa?” ucap Sasya dengan wajah sedikit takut, namun ia berusaha untuk berjalan mendekati bangkar Alex.


“Kau tahu apa kesalahanmu tadi?” sahut Alex yang membuat Sasya berhenti, serta kembali memutar otaknya untuk berpikir kejadian beberapa saat sebelumnya.


Setelah Sasya mulai mengingat semuanya, seketika ia malah melototkan matanya menatap tajam ke arah Alex.


“Kaaauuu...” geram Sasya sambil berjalan ke arah bangkar Alex yang membuatnya sedikit merinding, entah kenapa baru kali ini Alex merasa takut dengan tatapan Sasya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊


Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇


Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺


Sayang kalian banyak banyak para pembaca setiaku ❤️❤️❤️


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2