Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Sedang Belajar Berjalan


__ADS_3

Beberapa kali mereka hampir terjatuh dan membuat dua hewan kesayangan Alex dengan senang hati menyambut mereka. Sampai ketika Manda yang sudah merasa kasihan itu langsung mendekati Alex yang masih sedikit tertawa.


“Sudah cukup menghukum merekanya, sekarang ini waktunya Tuan memaafkan mereka. Kasihan tubuh mereka sudah sangat bau dan mereka terlihat sangat kelelahan juga. Jika terus begini, pasti Tuan sendiri yang akan repot mengurus semuanya, kalau sampai mereka berdua jatuh sakit dalam waktu bersamaan” ucap Manda sambil menggendong Alle yang sudah tertidur akibat kelelahan menertawai Daddynya.


“Baiklah, Mafioso... pancing Cooky dan Cuuky untuk masuk ke rumah mereka supaya bisa mempermudah mafioso lainnya untuk menolong mereka” ucap Alex dengan wajah datar yang membuat mereka semua paham.


Hany membutuhkan waktu 5 menit saja Cooky dan juga Cuuky sudah memasuki rumah mereka dengan sangat aman. Kini waktunya Mafioso lainnya masuk untuk membantu Joko dan Pinjai yang sudah semakin lemas. Entah mengapa Joko dan juga Pinjai malah terkejut dan membuat mereka malah tak sadarkan diri.


Joko dan juga Pinjai mengira jika yang menepuk punggungnya adalah hewan buas itu, rasa ketakutan mereka cukup dalam namun untungnya saja mereka pingsan tepat di tangan Mafioso lain. Jadi mereka jatuh dengan aman dan tidak sampai terjatuh ke bawah dengan ketinggian yang cukup tinggi.


“Huufftt... kerjaan lagi deh mengurusin dia, mana bau pesing lagi. Tapi ya sudah ini sudah tugasku juga sebagai istrinya. Setidaknya dia sudah membuat perutku terkocok-kocak geli akibat aksi lucunya hihi...” Manda bergumam sambil dirinya menggendong Alle dan berjalan masuk bersamaan dengan Mafioso yang telah menggotong Pinjai.


Lalu Manda menyuruh Mafioso itu untuk meletakkan Pinjai di bathtobe kamar mandi karena ia harus membersihkan Pinjai terlebih dahulu. Sedangkan Joko, diurusi oleh Mafiosonya. Nasib jomblo ya begitu, untungnya ada mafioso kan... coba kalau tidak, bagaimana Joko akan mengurus dirinya sendiri di keadaannya yang seperti ini.


Tidak mungkin juga Mafioso langsung meletakkan di atas ranjang. Bisa-bisa kamar Joko yang begitu wangi, malah tercemar oleh bau pesing yang sangat menyengat.


...*...


Malam hari...


Alex memasang wajah murung akibat ia selalu terbayang dan kembali teringat dengan semua ucapan Sasya bahwa ia benar-benar ingin melupakannya serta menjauhinya hanya karena Sasya salah paham dengan ucapan Alex pada waktu itu.


Namun sedetik kemudian, Alex kembali tersenyum saat mengingat jika Sasya menjaga dengan sangat baik ponsel yang Alex belinya waktu itu. Bahkan Alex tahu jika ponsel itu sudah sangat jelek, tetapi Sasya tetap menggunakannya.


“Hem... sepertinya Sasya juga memiliki perasaan yang sama denganku. Hanya saja, Sasya belum bisa mempercayaiku sepenuhnya. Ya meskipun traumanya itu sudah menghilang, tapi memang benar jika rasa ketakutannya masih melekat di dalam dirinya”


“Jadi apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menurunkan ego milikku ini dan memperjuangkan Sasya kembali? Tapi bagaimana jika aku merasakan hal yang sama seperti almarhum Ibu? Apa aku bisa kuat menerima semua itu ya... Sedangkan Ibu saja sampai jatuh sakit dan mengakibatkan ia meninggal dunia”


“Tapi kalau aku berdiam seperti ini aja, malah membuatku jadi semakin tidak tenang. Ya mungkin saat ini Sasya tidak memiliki pasangan jadi aku bisa tenang, tapi apakah besok-besoknya Sasya akan terus menyendiri? Tidak mungkin kan... pasti akan ada seorang pria yang akan mendekatinya”


“Bahkan saat aku tahu Ash mendekati Sasya, hatiku rasanya begitu sakit. Lalu bagaimana jika ada ribuan pria yang mengejarnya? Arrrghhh... tidak... tidak... tidak!! Aku tidak mau kehilangan Sasya, cukup sekali aja aku kehilangannya dulu karena ulahku sendiri. Saat ini aku tidak mau kehilangannya lagi, Sasya haruslah menjadi milikku... milikku selamanya”


Alex mengoceh sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya, lalu ia langsung terduduk di kasurnya sambil ia memutar otaknya untuk mencari ide-ide baru yang akan membuat dirinya bisa kembali lagi dekat dengan Sasya.

__ADS_1


5 menit telah berlalu...


Kini Alex telah menemukan cara agar ia bisa kembali mengambil kepercayaan Sasya, marena hanya itu yang terpenting saat ini. Kalau untuk masalah hati maka biarlah berjalan seiring waktu, namun ia percaya jika tidak berusaha, maka Sasya akan terus berpikir negatif tentangnya.


“Heemm... sepertinya besok aku harus menemui Sasya dan juga kasih sesuatu untuknya. Hitung-hitung aku ini belajar mengambil hatinya ya kan...” gumam kecil Alex yang kembali merebahkan tubuhnya dan tak lama ia pun tertidur dengan pulas.


...*...


Pagi hari...


Alex pergi ke suatu tempat bersama Pinjai untuk membelikan sesuatu yang nantinya akan Alex berikan kepada Sasya. Entah mengapa Alex merasa jika ia harus berusaha keras untuk kembali membuat Sasya menyukainya. Ya walaupun hanya dengan rasa percaya dirinya itu sudah membuat Alex senang.


Dengan begitu mungkin Alex akan lebih mudah mendekati Sasya dan mencoba mengambil hatinya. Sedangkan Joko, ia pergi ke Markasnya dengan wajah yang begitu ceria. Namun jika pas di depan para Mafiosonya, Joko memperlihatkan wajah sangarnya yang begitu datar dan juga dingin.


Dengan perlahan langkah kaki Joko lalu terhenti tepat di depan sebuah ruangan kecil yang di dalamnya terdapat seorang wanita yang sedang berusaha berjalan dengan wajahnya yang sangat senang. Joko yang melihat itu semua pun ikut merasa bahagia dan juga ia tersenyum kecil.


Lalu Joko menyuruh salah satu Mafioso untuk membukakan pintu besi yang selalu di rantai serta di gembok. Belum lagi ruangan itu pun selalu di jaga ketat oleh beberapa Mafioso bertubuh kekar.


“Pagi Honey...” sapa Joko yang berhasil masuk ke dalam sel wanita yang mana itu adalah Cika.


Tidak lupa di pergelangan kakinya Cika terdapat luka bekas pasungan tersebut yang sudah bertahun-tahun melekat di kakinya. Cika yang sekarang ini sedang berdiri merambat di dinding, membuat ia langsung menoleh ke arah datangnya suara dan lalu mata Cika pun seketika berbinar penuh cahaya.


“Tu-Tuan Joko...” ucap Cika yang sudah membaik dan tidak lagi ketakutan setiap bertemu dengannya.


“Wah... rupanya ada yang sedang belajar berjalan nihh... ayo sini jalan ke arahku” jawab Joko dengan tersenyum.


“Mana bisa Tuan, kakiku masih sangat kaku. Ini saja aku berdiri juga dengan bantuan dinding. Bahkan aku terlihat bagaikan anak kecil yang baru saja bisa berjalan, hump...” sahut Cika dengan wajah cemberut.


“Tidak apa-apa Cika, cobalah jalan ke arahku... aku yakin kamu bisa kok” ujar Joko dengan tersenyum manis.


“Tapi bagaimana jika aku jatuh? Jarak di antara kita cukup jauh, bahkan tidak ada dinding yang akan menjadi rambatanku untuk bisa sampai tepat di depanmu...” ucap Cika dengan wajah sedih karena ia belum yakin jika kakinya sudah sangat kuat untuk berjalan tanpa melakukan perambatan.


“Jangan pernah takut karena sampai kapan pun Cika... aku tidak akan pernah membiarkanmu kembali terluka. Ayolah sayang... berjalan ke arahku ya...” titah Joko sambil dia merentangkan kedua tangannya, tak lupa matanya juga selalu berjaga-jaga untuk mengawasi gerak-gerik tubuh Cika.

__ADS_1


Cika merasa takut dan tidak percaya diri, ia mencoba berjalan perlahan menjauhi dinding membuat tubuhnya itu bagaikan seorang anak kecil yang baru aja belajar berjalan dengan keadaan tubuh oleng ke kanan dan ke kiri layaknya sebuah kapal yang terumbang-ambing di lautan luas.


“Tu-Tuan... a-aku takuuutt...” ucap Cika dengan mata yang sudah berkaca-kaca akibat ketakutan yang melanda dirinya.


Cika merasa takut jika sampai terjatuh kembali, maka ia akan sangat malu dan terlihat begitu lemah di depan pria yang kini selalu menjadi semangat untuknya.


“Ayolah sayang... kamu pasti bisa, kamu wanita kuat kok. Jadi stop ya berbicara seperti itu, lebih baik tanamkan di dalam hati kecilmu kalau kamu bisa kembali berjalan lagi dan selalu mendampingiku kemana pun aku pergi” ujar Joko yang membuat Cika meneteskan air mata.


Entahlah perasaan Cika sangat campur aduk, karena Cika tidak tahu lagi harus bagaimana untuk membalaskan semua kebaikan Joko padanya. Bahkan kalau Cika harus mengucapkan kata terima kasih beribu-ribu kali pun, tidak akan pernah cukup untuk membalas semua yang Joko berikan padanya.


Sampai akhirnya Cika sudah hampir berjalan ke depan Joko dengan keadaan tubuh yang mulai bergetar akibat Cika terlalu lama berdiri sehingga kakinya itu belum sepenuhnya kuat untuk kembali menopang tubuh mungilnya sendiri.


Kini tubuh kecilnya Cika oleng ke kanan yang membuat Joko refleks segera menolong dengan cara menarik Cika dan membawanya ke dalam dekapan erat yang begitu menyejukkan.


“Hiks... a-aku ga-gagal Tuan hiks... a-aku lemah, a-aku tidak pa-pantas untukmu hiks...” Cika menangis meratapi nasib malangnya di dalam pelukan Joko.


Tangis kesedihannya Cika itu membuat Joko ikut merasakan kesedihannya dan sampai-sampai Joko pun menggendong tubuh Cika karena kakinya sudah tidak lagi menapak dengan kokoh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳


Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭


Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 🤗🤗🤗

__ADS_1


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2