Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Hitung-Hitung Berhadiah


__ADS_3

Sayangnya di sini wajah Alex malah terlihat sangat lucu, Sasya terkekeh kecil sesekali mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama. Alex hanya melirik sekilas Sasya dan berpikir bahwa Sasya sama sekali tidak peka kalau dirinya sedang dalam mode ingin di manja.


"Hihihi.. Sudahlah jangan marah seperti itu, jelek tahu" ucap Sasya menatap Alex sambil tersenyum.


"Memang aku sudah jelek, perjaka tua dan juga miskin. Kenapa? Kalau kamu enggak suka cari aja sana!" sahut Alex yang masih kesal.


"Hem.. Yakin Mas nyuruh aku untuk cari calon imam yang baru?" goda Sasya menaik turunkan salah satu alisnya.


Alex yang menyadari itu langsung menoleh dan merengek bagaikan anak kecil, sampai-sampai membut Sasya tertawa kecil. "Yaakk.. Ja-jangan, ma-maaf a-aku hilaf. Ta-tapi jangan cari lagi ya, sama aku aja please.."


Alex memohon dengan menunjukkan wajah melasnya sambil menyatukan kedua tangannya, Sasya mendengar perkataan Alex kembali membuat ide jahilnya terlintas di pikirannya.


"Hem.. Gimana ya?" ucap Sasya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu layaknya seseorang yang sedang berpikir keras.


"Apa aku coba aja ya? Siapa tahu kan hitung-hitung berhadiah. Bisa jadi nanti aku dapat jodoh yang lebih tampan, baik, kaya-raya, muda dan juga romantis" sambung Sasya sambil melirik ke arah Alex.


Sedangkan Alex malah membolakan kedua matanya terkejut mendengar perkataan Sasya, sampai akhirnya air mata menetes di ujung matanya.


"Ka-kamu ja-jahat Sya.. Ka-kamu ti-tidak sa-sayang la-lagi sa-sama aku hiks.."


"Huaaa.. Bunda Sasyanya jahat sama Alex hiks..."


Rengek Alex sambil duduk di rerumputan dan menendang-nendang angin sesekali mencabut-cabut rumput tersebut.


Kali ini Alex benar-benar terlihat seperti anak kecil yang marah kepada Ibunya saat keinginannya tidak terpenuhi.


Sasya melongo tak percaya ketika melihat sosok Alex yang dia tahu sangat dingin, kejam dan juga berwibawa. Sekarang telah berubah, sehingga Sasya kembali terkekeh kemudian bangkit dari kursinya mendekati Alex.


Sasya duduk di samping Alex menatapnya penuh senyuman indah. Lalu, Sasya berkata. "Hei.. Calon suamiku, apakah pantas Alex yang terkenal kejam dan juga dingin bersikap seperti anak kecil begini?"

__ADS_1


"Hiks.. Bodo amat! Aku tidak peduli, aku sudah banyak berkorban demi kamu tapi sekarang kamu berniat mau mencari pria yang lebih tampan, kaya dan juga muda dariku hiks.. Benar-benar kejam, bahkan lebih kejam dari diriku yang dulu huaa.."


Suara rengekan Alex berhasil menyita perhatian semua orang orang yang ada di sana, Sasya menoleh melirik menatap semuanya dengan perasaan sedikit canggung dan juga malu.


"Sssttt.. Alex diamlah, jangan menangis seperti ini. Malu di lihat orang-orang di sangka aku sudah menyakitimu, ayolah please diam ya.."


Sasya berusaha keras untuk mencoba membujuk Alex, namun sayang Alex tidak mau menggubrisnya dia masih tetap berpikir bahwasanya apa yang Sasya ucapkan tadi adalah kenyataan.


Padahal itu cuman candaan yang berniat ingin menjahili Alex agar terlihat lebih lucu, tetapi malah Sasya sendiri yang terjebak dengan kejahilannya.


"Permisi.. Maaf mengganggu, itu suaminya kenapa ya? Apakah kalian ada masalah?"


"Jangan-jangan kalian lagi berantem ya? Atau istrinya ketahuan selingkuh?"


"Astaga, kasihan sekali suaminya. Sepertinya dia sangat mencintai istrinya, tapi istrinya malah jahat. Kalau begitu Tuan sama saya saja, kebetulan saya jomblo kok hehe.."


"Saya juga mau sama Tuan, meskipun kelihatannya tidak terlalu muda namun auranya bikin gereget. Rasanya ingin cepat-cepat bawa ke kamar hihi.."


"Mohon maaf ya semuanya, ini hanya salah paham! Dan untuk kalian ciwik-ciwik kurang kasih sayang, sebaiknya kalian pergi dari sini karena saya tidak akan menyerahkan orang yang saya cintai pada siapa pun!"


"Sekarang kalian mau pergi atau aku akan menggunakan cara lain?"


Sasya menatap tajam ke arah semuanya dan membuat semua pun langsung kocar-kacir berlari menjauhi Sasya dan juga Alex. Sedangkan Alex yang mendengar itu langsung terdiam sambil tersenyum.


Setelah semuanya pergi, Sasya kembali menoleh kearah Alex yang cuman terdiam menyengir kuda sambil berkata. "Sudah puas membuatku malu, bahkan hampir saja aku dijuluki istri kejam karena telah menyakiti suaminya!"


"Heheh.. Ma-maaf Sayang, lagian kamu sih jahat banget mau ninggalin aku. Padahal aku sudah banyak berkorban untuk cinta kita"


Alex menundukkan wajahnya dengan perasaan sedih, ternyata bercandaan Sasya sedikit mencubit hati Alex. Tapi Sasya senang, karena dengan begini Sasya bisa tahu bahwa Alex memang benar-benar mencintai Sasya.

__ADS_1


Ya sih, cinta pertama memang sangatlah indah. Cuman mereka harus melewati proses yang sangat panjang untuk bisa mencapai di titik ini. Sehingga hanya tinggal beberapa langkah lagi kebahagiaan mereka akan segera tiba.


"Sssttt.. Mas, heii.. Dengarkan aku. Selama ini aku selalu memanggil namamu dengan sebutan Tuan bukan? Terus berganti hanya dengan menyebut namamu dan sekarang aku rubah lagi menjadi panggilan Mas yang artinya kamu memang sangat berarti bagiku"


"Susah payah kita mencapai titik dimana akhirnya keluargaku sudah mulai menurunkan egonya demi kebahagiaan kita. Jadi mana mungkin aku akan menyia-nyiakan perjuangan yang besar ini, hem.."


"Asal kamu tahu, beberapa tahun yang lalu aku harus berkorban untuk menahan semua kerinduan ini hanya untuk dirimu. Bahkan kau pun sama bukan? Ayolah coba berpikir lebih dewasa dan juga positif, insyaAllah sebentar lagi jika Allah berkehendak maka kita akan segera bersatu"


"Untuk itu kamu harus tetap lebih semangat lagi agar kamu bisa mengambil hati Ayah sama Lukas. Memangnya kamu tidak mau kalau setiap pagi selalu menatap wajah istrimu yang cantik saat baru bangun tidur ini, hem.."


"Atau kamu tidak malu dengan Kak Pinjai yang sudah memiliki anak, bahkan Kak Joko juga sudah menikah sama Kak Chika setelah menjadi mualaf sepertimu"


"Jadi ayolah, nunggu apa lagi? Apa mau nunggu senjatamu karatan lebih dulu, baru kamu memiliki keberanian untuk melamarku?"


Sasya berkata sepanjang jalan tol membuat Alex terdiam, apa yang dikatakan Sasya memang benar. Alex seperti menunda-nunda untuk segera melamar Sasya lantaran Alex belum yakin betul jikalau Ayah Brian dan juga Lukas belum sepenuhnya bisa menerima Alex.


"Ya sudah jangan dipikirkan sekarang, ayo kita ke rumah Kakek Iram. Pasti Bunda sudah nungguin di sana"


Sasya berdiri sambil membersikan roknya yang saat ini sedikit kotor, lalu Sasya menatap Alex sambil tersenyum. "Kok diem? Ayolah, cepat bangun. Mau kalau nanti kena amuk Bunda?"


"Jujur ya, kalau aku sih ogah soalnya Bunda itu jika sedang marah melebihi Ayah dan Lukas, serem.. Bisa-bisa kamu nanti di pecat jadi calon menantu, mau?"


Alex langsung segera bangkit dalan keadaan tergesa-gesa. Terlihat jelas bahwa Alex sangat takut kalau Bunda Hana akan membatalkan restunya, padahal susah payah Alex telah mendapatkannya hanya tinggal Lukas sama Ayah Brian saja. Namun, kalau Bunda Hana membatalkannya maka perjuangan Alex akan menjadi sia-sia.


"Huaaaa.. Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau, ya sudah ayo kita ke rumah Kakek Iram" Alex berdiri di depan Sasya membuat Sasya cengengesan.


"Hihi.. Tapi beli es krim dulu ya, aku mau es krim Vanilla. Please..." mohon Sasya.


"Apa sih yang enggak buat calon istriku, hem.." sahut Alex sambil mengelus kepala Sasya.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun berjalan meninggalkan taman menuju toko es krim, kemudian kembali berjalan ke arah mobil Alex sesekali mereka mengobrol sambil bercanda membuat semua mata yang melihatnya merasa sedikit iri.


__ADS_2