
Sampai di ruang makan Qisya langsung bersembunyi di belakang kaki Omanya yang sedang merapikan meja makan.
“Oma tolong Isa, ada mostel antik amuk-amuk” ucap Qisya.
“Ya ampun Qisya, Oma lagi bawa sop panas loh” saut Nyonya Syifa sambil memegang mangkuk panas yang berisikan sop.
Saat Hana telah sampai di ruang makan, Hana melihat bahwa sop panas yang berada di tangan Nyonya Syifa akan terjatuh dan mengenai Qisya jadi Hana segera berlari untuk menyelamatkan Qisya.
“Qisya lepaskan Oma sayang” ucap Nyonya Syifa yang sudah tidak bisa untuk mengendalikan mangkuk panas yang ditangannya sehingga..
Prang! ..
Byurr! ..
Mangkuk yang berada di tangan Nyonya Syifa terjatuh dan mengenai punggung Hana yang sudah berhasil memeluk serta menyelamatkan Qisya dari siraman sop panas.
“Bunda.., hiks.. ” teriak Qisya sambil menangis memeluk Hana.
“Stt.. sayang sudah gapapa kok, Qisya baik-baik saja tenang ya” saut Hana mencoba untuk menenangkan Qisya.
“Hana, ya ampun maafkan Mamah sayang. Mamah ceroboh” ucap Nyonya Syifa dengan nada yang begitu khawatir sambil membersihkan punggung Hana dengan tisu.
“Hana gapapa kok, Mah. Hanya sakit sedikit” ucap Hana sambil menoleh ke arah Nyonya Syifat dan berusaha menahan rasa sakitnya akibat siraman sop panas yang menembus ke kulitnya.
Namun, di saat itu pula Brian dan Tuan Ferry yang baru saja turun dari atas lalu mendengar suara isak tangis Qisya yang begitu nyaring membuat mereka khawatir, sampai akhirnya mereka berjalan dengan cepat menuju ruang makan.
“Astagfirullah, Mamah ini ada apa? Kenapa banyak pecahan kaca di sini?” tanya Tuan Ferry sambil melihat lantai yang berserakan pecahan beling.
“Ma-maaf, Pah. Mamah ceroboh, saat tadi Mamah lagi bereskan meja makan sambil memegang mangkuk sop panas. Tiba-tiba saja Qisya berlari dan memeluk kaki Mamah sampai akhirnya mangkuk panas di tangan Mamah terlepas begitu saja”
Nyonya Syifa menjelaskan dengan perasaan bersalah sambil matanya yang sudah mulai berair.
“Tapi tidak ada yang terkena siraman sop yang jatuh itu kan, Mah?” tanya Tuan Ferry kembali untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
“Ha-Hana, Pah. Hana terkena siraman sop panas di punggungnya saat mencoba untuk menyelamatkan Qisya sambil memeluknya, hiks.. maaf, Mamah ceroboh dan tidak sengaja melakukannya” ucap Nyinya Syifa dengan bibir bergetar dan dipenuhi isak tangis rasa bersalahnya.
“Sudah, Mah. Hana gapapa kok, ini juga bukan salah Mamah. Semua ini adalah musibah, agar kita lebih hati-hati. Lagi pula ini juga salah Hana yang berusaha mengejar Qisya akhirnya dia ketakutan dan tidak tahu jika Omanya sedang memegang mangkuk panas” ucap Hana sambil tersenyum menahan semua rasa sakit yang begitu terbakar dikulitnya.
“Ya ampun, sayang kamu gapapa kan” Brian berjongkok sambil mengecek kondisi Qisya dan Hana secara bersamaan.
“Huaa.. hiks, Ayah Isa atut” Qisya langsung memeluk Brian begitu erat.
Lalu Brian menggendong Qisya sambil berdiri diikuti oleh Hana yang berusaha berdiri dengan bantuan Nyonya Syifa.
“Makannya, Mah. Lain kali hati-hati. Kalau ada kejadian seperti itu harusnya Mamah segera menaruh mangkuknya kembali jangan sampai terus di pegang. Untung saja cucu kita tidak kenapa-kenapa. Coba jika ia sampai tersiram air panas, bagaimana? Bisa-bisa tubuh kecilnya terbakar melepuh”
__ADS_1
Tuan Ferry mencoba untuk menasihati istrinya dengan suara yang begitu lembut agar tidak sampai melukai perasaan istrinya. Padahal Tuan Ferry tahu, ini tidak sepenuhnya kesalahan istrinya.
“Qisya juga, harus hati-hati sayang. Jika Oma sedang sibuk Qisya tidak boleh sampai mengganggu Oma ya, apa lagi Oma sedang memegang benda berbahaya” ucap Brian sambil menasihati Qisya yang berada di gendongannya.
“Hiks.. ma-maaf Ayah, Oma. Isa calah” ucap Qisya dengan suara lirihnya.
“Oma juga minta maaf ya sayang, Mamah juga minta maaf ya Hana. Apa punggungnya baik-baik saja? Ayo Mamah bantu obati..”
Nyonya Syifa mencoba untuk mengajak Hana agar segera membantunya untuk mengobati punggungnya.
“Tidak apa-apa, Mah. Hana juga minta maaf ya, ini cuman luka kecil kok” saut Hana dengan senyuman manisnya.
Tuan Ferry yang melihat pecahan beling dimana-mana, membuat ia memunguti semuanya dengan sangat hati-hati. Bahkan di saat Hana dan Nyonya Syifa ingin membantunya, Tuan Ferry menolaknya. Dia tidak mau sampai ada korban lagi akibat pecahan beling.
“Qisya duduk sini ya, nanti makan sama Oma sama Opa oke. Soalnya Ayah mau mengobati Bunda dulu kasihan Bunda kesakitan”
Brian mencoba mendudukkan Qisya di kursi meja makan.
“Oteh, Ayah” ucap Qisya yang sudah mulai tenang kembali.
“Sudah kamu buruan bantu istrimu mengobati lukanya, jika parah cepat bawa dia ke rumah sakit” saut Tuan Ferry sambil duduk di kursinya.
“Kalau ada apa-apa panggil Mamah ya jangan lupa” ucap Nyonya Syifa yang sudah duduk di kursinya.
“Bisa kan nurut apa kata suami, sudah ayo ikut aku ke atas” ucap Brian dengan nada tegasnya.
Namun, Nyonya Syifa dan Tuan Ferry bisa melihat begitu jelas betapa khawatirnya Brian kepada Hana. Hana dan Brian berpamitan pergi ke atas terlebih dahulu untuk segera mengobati luka Hana, dan jika memungkinkan mereka akan turun lagi dan ikut bergabung makan bersama yang lain.
Dengan perlahan Brian memegang tangan Hana menuju kamarnya, sesampainya di kamar Brian langsung menutup pintu dan meraup wajah Hana.
“Sayang, kamu benaran gapapa kan hiks..” Brian kembali menangis sambil menatap wajah Hana penuh dengan kecemasan.
“Ya ampun Mas, Hana gapapa kok. Kenapa Mas menangis sih, tadi di depan semuanya Mas seperti orang yang kuat” goda Hana.
“Yak.. aku ini kuat ya, sudahlah jangan berisik. Lagian juga aku tidak menangis, ini cuman kelilipan saja” jawab Brian dengan penuh alasan.
“Rupa-rupanya suamiku tipe pria gengsian ya” saut Hana.
“Ti-tidak, ngapain aku gengsi. Sudahlah jangan berisik, sini aku obati lukanya” Brian menarik Hana dengan sedikit kasar.
Tetapi Hana hanya bisa tertawa kecil dengan melihat perlakuan atau tingkah laku Brian yang menurutnya begitu lucu. Sampai akhirnya Brian mengunci pintunya lalu membuka sreting panjang di belakang punggung Hana.
“Astaga, mulus banget sih. Yak.. jika seperti ini si Joni bisa-bisa bangun, ayo Brian fokus sama lukanya fokus. Jangan kemana-mana” ucap Brian di dalam hatinya dengan menahan hawa nafsunya.
Dengan perlahan Brian mengusap punggung Hana sambil mengolesi salep luka bakar, sesekali Hana merintis kesakitan.
__ADS_1
“Katanya gapapa, tapi aduh-aduh mulu. Makannya jangan sok kuat jadi orang” ucap Brian sambil menasehati Hana.
“Pelan-pelan Mas, sakit tahu..” jawab Hana.
“Sakit apaan, orang di elus doang sakit. Kaya di masukin Joni saja” ucap Brian.
“ Si Joni? Joni siapa, Mas? Maksudnya di masukin bagaimana, Hana tidak paham” saut Hana sambil membalikkan badannya menghadap Brian.
Dan tanpa sengaja gamis Hana melorot dan terlihatlah kacamata berwarna abu-abu dengan motif bintik-bintik hitam kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hey... Hai... Hello semuanya... 😊🤗🤗
Ketemu lagi dengan aku... Author tergemoy dan terunyu kalian 🤭🤭🤭
Biasa seperti...seperti biasa... Author ingin memberikan rekomendasi Novel hari ini 😁😁😁
Silahkan dijelajahi dan tinggalkan jejaknya ya semuanya... makasih 🤗🙏🏻🙏🏻
BLURB :
Menceritakan wanita yang nyaris sempurna hidup dan fisiknya.
Sangat cantik, pintar dan tajir. Namun, kesepian dan butuh cinta.
Keadaan memaksa nya untuk menikah, dan dia membutuhkan lelaki untuk bisa dinikahinya.
Dan lelaki yang dinikahinya harus mau menerima bayaran untuk pernikahan itu dan menjadi suaminya, sebagai suami bayaran.
Karena dia belum bisa sepenuhnya mempercayai kata cinta. dan tidak ingin terhutang budi oleh seseorang karena telah menikahinya.
Namun siapa sangka, lelaki yanh di nikahinya itu, seorang bocah yang masih dibawah umur, yang diidolakan banyak kaum hawa.
Agung. Seorang lelaki bocah yang ternyata mempunyai kehidupan yang sempurna juga, dia di idolakan oleh hampir semua kaum hawa di sekelilingnya. Bahkan setelah menjadi suami Alexa ,Agung pun di idolakan dan di incar oleh para kaum hawa yang ada dalam ke hidupan Alexa.
Lalu, akankah Alexa mampu mempertahankan Agung tetap jadi milikny?
Akankah Agung tetap setia?
Dan akankah Alexa kuat dengan semua masalah yang dihadapinya?
Dimana masalahnya ternyata penghianatan dari orang-orang terdekatnya?
__ADS_1