
“Tidak... Bunda tidak boleh tidul lama-lama lagi. Yaya Qisya celita deh... Qisya cuman takut kalau nanti adik-adik Qisya lahir lalu Bunda sama Ayah tidak sayang lagi sama Qisya. Kan Qisya bukan anak...” ucap Qisya terhenti saat Hana langsung memeluk Qisya dari samping.
“Stt... Kakak sayang tidak boleh berbicara seperti itu. Qisya adalah anak Ayah dan Bunda yang sangat baik. Bahkan Qisya akan menjadi seorang Kakkak. Jadi saat ini kita panggil Qisya dengan sebutan Kakak oke...”
“Dan Kakak tidak boleh iri dengan adik-adiknya, cukup Kakak ingat saja bahwa kami semua sangat sayang sama Kakak. Kakak adalah anugerah terindah yang Allah kasih untuk kita semua. Dan sebagai gantinya Allah kasih hadiah untuk Kakak yaitu adik kembar. Jadi bagaimana? Apa Kakak masih sedih heum... Bunda jadi ikut sedih deh”
Hana mencoba membuat Qisya mengerti agar kedepannya nanti tidak akan membuat perselisihan ataupun keributan hanya karena hal sepele.
Dan Hana akan berusaha keras untuk menyamaratakan kasih sayangnya kepada semua anaknya tanpa terkecuali. Begitu pun juga dengan Brian. Dia masih butuh belajar untuk menjadi suami serta Ayah yang baik untuk keluarga kecilnya.
Sampai akhirnya Qisya sudah mengerti dan langsung memeluk Hana dan tidak lupa mencium perutnya sebaik 2 kali yang menandakan bahwa Qisya sudah lebih bisa menerima adik kembarnya tanpa ada perasaan takut akan tersaingi.
“Kamu benar-benar wanita terbaik yang pernah aku kenal, Hana. Aku bersyukur telah memilikimu sebagai istriku. Terima kasih Tuhan Engkau telah memberikanku bidadari dan para malaikat kecil yang sangat berharga dalam hidupku. Dan jangan biarkan mereka semua merasakan kesedihan. Bantu hamba untuk bisa berubah menjadi suami serta Ayah yang baik untuk mereka semua. Aku janji akan membahagiakan mereka sampai titik darah penghabisan ” ucap Brian di dalam hatinya sambil tersenyum menatap Hana dan Qisya yang sedang berpelukan.
Lalu, Brian berdiri dan memeluk mereka bersamaan. Tanpa sengaja Arya mengambil potret mereka yang sedang berpelukan.
Setelah semuanya telah selesai dengan menumpahkan rasa kangennya kepada Hana. Sehingga mereka semua kembali melanjutkan acara tiup lilinnya untuk merayakan ulang tahun Qisya.
Mereka semua kembali bernyanyi sambil bertepuk tangan serta bersorak membuat isi kamar begitu ramai. Tapi, tenang Brian sudah memasang kedap suara.
Posisi Qisya berada di tengah-tengah dengan Brian yang berdiri di sambil Qisya sambil memegang kue ulang tahun.
Sampai di akhir lagunya Qisya, Brian dan Hana bersamaan untuk meniup lilin di atas kue ulang tahun atas permintaan Qisya.
Fiuhh ! ...
Fiuhh ! ...
__ADS_1
Fiuhh ! ...
Lilin pun mati dan kini sudah saatnya Qisya memotong serta membagi kue pertamanya.
Qisya langsung memberikan suapan pertamanya untuk sang Ayah karena ia yang sudah banyak berjasa untuk kehidupan Qisya.
Dan suapan kedua Qisya berikan untuk sang Bunda dengan porsi yang banyak sampai-sampai membuat mulut Hana penuh terisi kue tersebut.
Qisya bilang jika kue untuk sang Bunda harus lebih banyak dari sang Ayah, karena di dalam perut sang Bunda sudah ada adik-adik kembarnya yang sangat dia nantikan.
Kemudian Qisya bergantian menyuapi semuanya dengan perasaan bahagia. Setelah semuanya selesai, mereka semua kembali beristirahat. Orang tua Brian dan Hana serta Arya tidur di ruang tamu dengan menggelar karpet bulu yang sudah di siapkan jauh hari oleh Brian.
Kemudian, Qisya tidur di ruangan Hana dengan memakai sofa kasur Brian. Sedangkan Brian dan Hana masih melek bahkan saat ini Brian merasakan perasaan yang begitu canggung terhadap Hana.
Hana pun yang melihatnya menjadi sedikit bingung dengan tingkah Brian yang terkadang salah tingkah di depan Hana.
“Mas, tidak beristirahat seperti yang lain? Kasihan loh mata Mas sudah merah seperti ini kaya orang yang kurang tidur. Lalu, kenapa wajah Mas tidak di rawat seperti biasanya? Dan di mana badan Mas yang sangat berisi otot-otot itu heum... kenapa semuanya jadi seperti tidak terurus? Ada apa sama kamu Mas?”
Hana memandangi wajah Brian dengan sangat dalam bahkan ia mencecar Brian dengan semua pertanyaan yang sedari tadi ada di dalam pikiran Hana.
Brian dengan perlahan menarik nafasnya, sambil menggenggam tangan Hana dengan sangat lembut menggunakan kedua tangannya.
Hana sedikit tersontak kaget karena ulah Brian, namun ia masih bisa menetralkan rasa malunya.
“Maafkan aku, Hana. Selama ini aku terlalu egois, bahkan aku pun terlalu angkuh. Bahkan aku juga selalu bersikap kasar sama kamu. Aku sadar, aku bukan suami yang baik buat kamu”
“Dari kejadian waktu itu, aku telah belajar banyak agar aku lebih bisa lagi menghargai dan bersyukur dengan apa yang aku punya saat ini”
__ADS_1
“Kamu, Qisya serta anak-anak kita adalah harta yang paling berharga untukku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kalian bahkan aku akan membuat kalian bahagia meskipun aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk kalian, maka aku ikhlas. Karena lebih baik aku kehilangan nyawaku sendiri dari pada aku kehilangan kalian semua”
“Aku adalah pria yang gengsi untuk mengatakan perasaanku sendiri dengan berbagai alasan bahwasanya aku belum mencintaimu, bahkan aku belum siap mengungkapkannya. Tapi saat ini aku sudah tidak lagi mau menutupi perasaanku dengan sikap dinginku itu. Karena saat ini aku sudah sangat siap untuk mengungkapkannya padamu”
“Pertama kali kita bertemu bahkan aku di sambut baik oleh keluargamu, aku melihat adanya keharmonisan dalam keluarga kalian. Bahkan awalnya aku mengira kamu adalah mantan istriku yang telah kembali hidup dengan menggunakan tubuhmu. Tapi aku salah, semakin hari semakin membuat aku sadar jika kamu lebih segalanya dari masa laluku. Dia adalah masa laluku yang harusnya aku kenang tanpa mengesampingkan masa depanku”
“Perlahan demi perlahan aku telah mulai mencintaimu, namun di saat Satria datang. Aku seperti di butakan oleh cintaku sendiri. Aku tidak bisa membedakan mana yang namanya cinta dan mana yang namanya keegoisan. Aku terlalu cemburu denganmu karena aku benar-benar takut kehilangan. Kamu tahu kan aku paling benci dengan kehilangan. Maka dari itu aku ingin menyiksamu agar kamu tidak berani bermacam-macam padaku. Ta-tapi hiks... aku salah, semakin aku menyiksamu itu akan semakin menambahkan luka pada hatimu. Bahkan aku bisa membuatmu pergi dengan sendirinya”
“Hiks... maafkan aku sayang, aku menyesal karena aku tidak pernah bersyukur atas apa yang aku punya saat ini hiks... kehidupanku benar-benar sudah berubah, aku tidak mau menjadi Brian yang dingin kepada keluarga, tapi cukup jadi Brian yang dingin di depan orang lain untuk menjaga perasaanmu. Aku tidak mau kembali menyakitimu sayang hiks... aku mohon maafkan aku”
Brian menangis sambil mengungkapkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam. Lalu, Hana yang merasakan ketulusan dari ucapan Brian seketika pun meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka jika dengan ia tertidur lama bisa mengubah Brian seperti ini.
“Hiks... Ma-mas Brian, Hana senang mendengarnya. Jika Mas sudah mengakui kesalahan Mas, Hana juga mau meminta maaf sama Mas Brian kalau Hana belum bisa jadi istri yang baik. Hana masih suka mengeluh bahkan sangat cengeng hiks... Mas Brian adalah suami terbaik yang Hana punya. Jadi tolong jangan berbicara seperti itu Hana tidak mau lagi mendengar ucapan itu”
Hana menggenggam tangan Brian sambil menatapnya dengan tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Jangan bosan-bosan ya buat dukung Author Cubby ini... 🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk selalu tersenyum dan bahagia ya semuanya... 😁😁😁
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻