
Beginilah Anna, dia selalu bersikap apa adanya didepan Ash. Sedangkan Ash memang sudah tidak heran lagi, dengan semua tingkah laku Anna yang seperti ini.
Bagi Ash, selama dia bisa menatap Anna dari dekat maka dia tidak akan keberatan jika isi dompetnya semakin menipis sebelum waktunya gajian.
...*...
...*...
Siang hari di Los Angeles, Sasya dan Alex sedang menonton televisi di ruang keluarga. Sedangkan Lukas sama Lily sudah berangkat ke Universitas, karena ada kelas di siang hari.
Bunda Hana disibukkan untuk membuatkan asinan buah yang sama persis seperti apa yang Sasya minta, lalu Ayah Brian. Dia sudah berangkat kerja, lantaran ada beberapa meeting penting yang tidak bisa ditunda.
Padahal Ayah Brian masih ingin berada dirumah sampai waktu bahagia itu tiba, dimana Sasya akan menyadari jika dirinya sedang mengalami gejala wanita hamil.
Hari ini, terlihat jelas bahwa sikap Alex semakin kesini semakin manja sama istrinya. Dia tidak bisa sedikit pun berjauhan sama istrinya.
Bahkan sekarang pun posisi Alex tiduran diatas paha Sasya, tepat disofa panjang sambil menonton televisi sesekali tangannya mengusap perut istrinya.
Tak lama Bunda Hana datang membawa sebuah asinan yang sangat segar. Sasya langsung menerimanya, dan memakannya secara perlahan.
"Hem, nyam ... Nyam ... Enak." gumam Sasya saat menikmati suapan demi suapan yang baru saja masuk kedalam mulutnya.
Bunda Hana hanya bisa tersenyum ketika melihat Sasya. Kemudian Bunda Hana mencoba untuk merekamnya sekilas, lalu dikirim ke Ayah Brian agar dia bisa menyaksikan bagaimana lucunya anaknya ketika sedang mengidam.
Berbeda halnya sama Alex, dia tercenga melihat cara makan istrinya. Padahal tadi pagi Sasya sudah menghabiskan 2 piring nasi goreng sekaligus beserta lauknya.
Belum lagi Sasya juga sudah menghabiskan beberapa bungkus camilan, cake dan juga kue lainnya.
Alex mulai merasa tergiur ketika mendengar suara krenyes-krenyes didalam mulut istrinya, apa lagi air yang terlihat berwarna merah membuat Alex semakin kepengen.
"Kenapa lihatin aku kaya gitu? Mas mau?" ucap Sasya, ketika muka suaminya terlihat aneh.
"Memangnya boleh?" gumam lirih Alex, matanya menatap kearah mangkuk yang ada ditangan istrinya.
"Enggak." jawab Sasya, spontan.
"Sayang ...." rengek Alex, wajahnya terlihat begitu menggemaskan. Sampai Bunda Hana pun terkekeh melihatnya.
"Kalau kamu mau, Bunda bisa mengambilnya. Masih ada kok, tenang aja. Tadi Bunda buat lumayan banyak, cuman Bunda taruh didalam kulkas biar dingin hehe ...." ucap Bunda Hana.
__ADS_1
"Bo---"
"Tidak usah, Bun. Sasya bercanda kok, ya sudah ini cobain Mas. Enak tahu seger banget hihi ...." sambung Sasya.
"Suapin, boleh?" ucap Alex, manja.
"Tentu boleh dong, apa sih yang enggak buat suamiku tercinta. Nih, aaa ...."
Sasya mengambil salah satu potongan buah yang ada didalam asinan tersebut, lalu menyuapini Alex dengan perlahan.
Bunda Hana kembali memvideokan ekspresi Alex, yang sebentar lagi akan berubah. Ya, memang benar baru beberapa menit saja ekspresi wajah Alex langsung berubah masam.
"Arrrghh ... Gila! Asinan macam apa ini. Kenapa rasanya asin berubah jadi asam!" pekik Alex, dengan gerakan tubuhnya yang seperti orang sedang menggigil.
Sasya dan Bunda Hana yang melihat ekspresi tersebut sudah tidak bisa lagi menahan tawanya, kali ini Alex benar-benar tidak mengerti dengan istrinya.
Disela-sela mereka tertawa Alex segera merebut mangkuk yang ada ditangan istrinya, membuat Sasya merengek meminta dikembalikan.
"Yak! Mas, kembalikan asinan milikku ...." rengek Sasya.
"Enggak, aku enggak mau! Kalau kamu makan ini yang ada perutmu akan jatuh sakit, kamu mau masuk rumah sakit, hahh!" tegas Alex, menjauhkan mangkok tersebut.
"Eng---"
"Sudah, Lex. Kamu berikan saja asinannya itu pada istrimu, kalau kamu tidak mau anakmu mencari ileran." ucap Bunda Hana, berhasil membuat Alex terdiam.
Dengan sigap Sasya merebut asinan tersebut dan kembali memakannya begitu lahap. Sedangkan Bunda Hana sedikit membisikan kepada Alex tentang kondisi istrinya.
Wajah terkejut dipenuhi rasa bahagia dan juga bola mata mulai berkaca-kaca, membuat Alex merasa sangat senang. Apa yang dia inginkan selama ini bisa menjadi kenyataan, ya walaupun belum pasti.
Namun, perkataan Bunda Hana seperti mewakilkan semua perasaannya yang selama ini menantikan seorang keturunan.
Alex tersenyum melihat istrinya kembali menikmati asinan tersebut, bahkan Alex rela mengambilkannya kembali jika Sasya masih mau menginginkannya.
Setelah selesai Sasya merasa begitu puas dengan apa yang sudah dia makan hari ini, rasanya perutnya begitu kenyang.
Sampai tidak sengaja mata Sasya melihat kearah suaminya, yang kini sedang menatapnya sambil meneteskan air matanya.
"Ma-mas? Ma-mas kenapa? Ko-kok nangis? Mas marah sama Sasya? Mas kecewa sama Sasya, karena Sasya menghabiskan itu semua tanpa seizin Mas?" ucap Sasya yang merasa tidak enak.
__ADS_1
"Bu-bukan Sayang, bukan. Aku menangis akibat perkataan Bunda Hana, dia bilang kalau kamu begitu lantaran kamu sedang hamil." ucap Alex, terbata-bata.
Degh!
Jantung Sasya seketika terhenti untuk persekian detik, dan kembali berdetak sangat cepat.
Sasya begitu syok ketika dia mendengar ucapan suaminya, lalu matanya melirik kearah Bunda Hana yang hanya bisa tersenyum dan mengangguk kecil.
"Bu-bunda, ta-tahu da-dari mana Sasya ha-hamil? Se-sedangkan Sasya saja ti-tidak mengalami mual-mual." gumam Sasya, lirih.
"Awalnya Bunda juga tidak tahu, Kak. Tapi, berkat Ayah, jadi Bunda langsung sadar bahwa sikapmu ini seperti wanita yang sedang mengandung." jawab Bunda Hana.
"Ba-bagaimana ji-jika semua ini, ha-hanya kebetulan dan Sasya ti-tidak hamil?" tanya Sasya menatap Bunda Hana dan Alex secara bergantian.
"Kamu enggak boleh berbicara seperti itu, Sayang. Kita harus optimis, apa pun yang terjadi yang penting kita sudah berusaha." sahut Alex, menggenggam tangan istrinya.
"Ya, benar. Apa yang dikatakan suamimu memang benar, Sayang. Kita bisa membuktikannya menggunakan test pack, kan?"
"Jadi apa pun hasilnya nanti, setidaknya kita harus tetap optimis, jika bukan sekarang waktunya. Maka masih ada hari esok untuk mewujudkannya."
Bunda Hana mencoba untuk menasihati Sasya, bahkan posisi Bunda Hana sudah duduk di samping Sasya sambil mengelus kepalanya.
Sasya bergegas memeluk Bunda Hana sambil menangis, dia masih tidak percaya dan juga masih enggan mengeceknya.
Sasya takut jika harapan besar keluarganya akan menjadi kekecewaan, ketika melihat hasilnya jauh dari apa yang mereka inginkan.
"Bismillah, Sayang. Jika kamu takut mencobanya, bagaimana kita bisa tahu apakah semua prediksi kita itu benar atau tidak. Apa kamu mau langsung memeriksanya kerumah sakit, biar lebih pasti?" ucap Bunda Hana.
"Mungkin itu lebih baik, Bun. Alex setuju, kita kerumah sakit saja biar kita bisa memastikan semuanya." sahut Alex, penuh keseriusan.
Sasya melepaskan pelukannya dari Bunda Hana, lalu Sasya menggelengkan kepalanya. Dia menolak keras untuk pergi kerumah sakit, karena menurut Sasya itu akan semakin membuatnya merasa gugup.
Jika kenyataannya Sasya tidak mengandung maka, mereka akan semakin kecewa. Jadi, mau tidak mau Sasya lebih memilih mengeceknya menggunakan test pack.
Bunda Hana dan Alex pun menyetujui keputusan Sasya, setidaknya dia sudah berusaha mau mencoba melakukannya. Walaupun perasaan Sasya masih terlihat gelisah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai guys ... jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Terima kasih.. 🙏🏻...
__ADS_1