Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Bukan Anak Kandungmu


__ADS_3

Brian yang melihat kedatangan Bibi pun langsung melepaskan pelukannya dari Hana serta membuang mukanya sambil menghapus air matanya dengan sangat cepat.


“Permisi... Den, Non. Ini minumnya silahkan” ucap Bibi sambil meletakkan minuman di meja dengan tersenyum.


“Terima kasih ya, Bi. Maaf Hana sudah merepotkan Bibi” ucap Hana sambil tersenyum.


Namun, tak lama Nyonya Syifa bersama Tuan Ferry dan Qisya pun datang berjalan menuju ruang tamu. Mereka bertiga langsung memberi salam, dan di jawab oleh Brian, Hana serta Bibi.


Kemudian mereka semua bersalaman dengan satu sama lain kecuali Bibi.


“Wah... Bunda, Ayah sama Baby twins sudah pulang, yeey... Qisya akhilnya bisa main sama meleka” ucap Qisya sambil bersorak senang sampai membuat ia jingkrak-jingkrakkan.


“Eits... Kakak kan baru pulang sekolah jadi harus bersih-bersih dulu kan habis dari luar nanti kalau sudah bersih baru boleh main sama Baby twins oke...” ucap Hana sambil tersenyum.


“Yah... Bunda, kan Qisya kangen sama dedek mau cium” jawab Qisya dengan cemberut sambil menunjukkan wajah sedihnya.


“Kakak ingat ya tidak boleh seperti itu kasihan Bunda nanti, kan Kakak sudah besar jadi harus nurut apa kata orang tua” ucap Brian.


“Ck!! Ayah sudah enggak sayang sama Kakak lagi ya, kan Kakak cuman mau cium dedek doang emangnya enggak boleh?” saut Qisya dengan nada kesalnya.


“Kan Bunda bilang Kakak harus bersih-bersih dulu baru bisa cium adiknya, kalau Kakak pulang sekolah bawa kuman bagaimana dengan Baby twins? Bisa-bisa nanti mereka sakit, Kakak mau tanggung jawab kalau mereka sakit. Apa lagi mereka masih kecil rentang banget sama penyakit” jawab Brian dengan sangat tegas.


“Hiks... Ayah jahat, Ayah sudah enggak sayang lagi sama Qisya hiks...” teriak Qisya sambil berlari menuju kamarnya dengan langkah kecilnya.


“Qisya tunggu, maksud Ayah bukan begitu” teriak Brian sambil melihat Qisya yang sudah mulai menjauh.


“Mas Brian ini kenapa sih hari ini, kenapa semua orang kenapa marah?” saut Hana dengan wajah kesalnya.


“Tenang sayang, ingat kamu habis lahiran jadi jangan sampai membuatmu stres kasihan Baby twins nanti susah untuk menyusu jika asimu tidak lancar” ucap Nyonya Syifa sambil mengelus punggung Hana.


“Tapi, Mah. Mas Brian tuh aneh hari ini tahu, tadi Bibi yang kena marah. Sekarang Qisya, nanti siapa lagi Baby twins gitu?” saut Hana yang sudah terbawa emosi.

__ADS_1


“Bukan begitu sayang, aku cuman mau kasih tahu Qisya doang. Tapi dia malah menganggapnya aku jahat, dan sudah tidak sayang lagi sama dia” bantah Brian.


“Cara kamu ngasih tahu kepada Qisya itu salah, Mas. Kamu tahu kan mereka berbeda, harusnya kamu lebih hati-hati saat berucap. Pasti sekarang dia mikirnya kamu sudah melarangnya untuk berdekatan dengan adiknya sendiri” ucap Hana yang sudah meneteskan air mata.


“Apa yang dikatanya Hana itu benar, Brian. Kamu itu seorang Ayah harusnya bisa melihat situasi sekarang, kamu tahu kalau waktu itu Qisya cemburu dengan Baby twins? Dia merasa jika mereka lahir maka kalian sudah tidak menyayangi Qisya. Jadi, Papah minta tolong padamu, cobalah untuk menjaga emosimu. Papah tahu kamu banyak pikiran tapi jangan sampai kamu limpahin semuanya kepada orang yang tidak bersalah” saut Tuan Ferry dengan tegas.


“Dahlah, Mah, Pah. Hana pamit ke kamar Qisya dulu hiks... Hana titip Baby twins sebentar kasihan Qisya pasti dia sangat sedih sekarang” ucap Hana sambil menangis dan berusaha bangun dari duduknya.


“Mamah temenin ya sayang, kasihan kamu masih lemas dan tidak boleh banyak bergerak” ucap Nyonya Syifa yang sedang berusaha membantu Hana.


“Tidak usah, Mah. Hana ingin berbicara berdua dulu sama Qisya biar Hana mencoba untuk membuatnya mengerti karena akhir-akhir ini pasti perasaan Qisya lebih sensitif karena kelahiran Baby twins” ucap Hana.


“Aku ikut sayang” ucap Brian.


“Stop di situ!! Dan jangan sampai kamu mengikutiku, mengerti!” saut Hana dengan sangat dingin.


“Tap...” ucapan Brian terhenti saat Hana kembali berbicara.


Nyonya Syifa dan Tuan Ferry hanya terdiam melihat perdebatan suami istri di hadapannya.


Ya, memang benar ini adalah kesalahan Brian untuk kurang berhati-hati berbicara pada Qisya yang akhirnya membuat ia salah paham kepada Brian.


Sedangkan sang Bibi sudah kembali ke dapur karena tidak mau ikut campur urusan majikannya.


Hana pun langsung berjalan tertatih-tatih berusaha menaiki satu demi satu anak tangga dengan perlahan.


“Lihat istrimu, dia baru saja selesai lahiran malah kamu bikin stres kaya begitu. Buka mata kamu Brian buka, ya Allah... Kamu kenapa sih seperti ini, padahal kamu tahu kalau Qisya dan Baby twins itu berbeda Brian. Bahkan, Qisya sendiri sudah tahu kalau dia bukan anak kandungmu. Tapi kenapa kamu malah jadi seperti ini” ucap Nyonya Syifa dengan emosi sambil duduk di samping Brian.


“Ma-maaf Mah, Pah. Brian salah, seharusnya Brian tidak ngomong seperti itu kepada Qisya” jawab Brian sambil menunduk.


“Kamu itu ada apa sih Brian, tadi Hana bilang kamu memarahi Bibi? Apa benar itu?” tanya Tuan Ferry.

__ADS_1


“Ya, Pah. Brian kaget saat pulang ke rumah kalian tidak ada di rumah bahkan kami mengucap salam pun tidak ada yang menjawab. Sampai akhirnya aku dan Hana beristirahat di sini, tapi tiba-tiba wanita itu mendekat. Otomatis Brian kaget dong, tiba-tiba ada orang yang tidak di kenal bisa masuk rumah seperti ini”


“Brian berpikir bahwa dia adalah mata-mata orang itu, sampai akhirnya Brian memarahinya Hana pun malah memarahi Brian balik. Padahal jelas-jelas saja mana mungkin Mamah dan Papah mau mempekerjakan pembantu tiba-tiba seperti ini, sedangkan dulu saja Mamah tidak pernah mencari pembantu tapi hanya menyewa orang untuk membersihkan rumah setelah itu balik pulang jika pekerjaannya sudah selesai”


“Tapi, wanita itu malah sepertinya tinggal di sini benar kan? Kenapa Mamah dan Papah tidak memberitahu Brian lebih dulu, kenapa kalian main asal ambil tindakan seperti ini. Yang jelas-jelas kalian tahu kalau Brian masih mencari orang itu, bagaimana jika pembantu itu hanya bersandiwara jika anaknya sedang sakit. Padahal, dia adalah mata-mata di sini”


Brian mengoceh tanpa jeda untuk mengutarakan apa yang ia curigai dari tadi.


“Cukup Brian, cukup!! Kamu itu tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Bibi itu orang jujur Brian, bahkan dia yang menolong Mamah saat Mamah hampir saja dijambret oleh preman saat Mamah habis belanja ke supermarket” ucap Nyonya Syifa.


“Lalu, kenapa dia bisa ada di sini?” tanya balik Brian dengan wajah bingungnya.


“Ya habisnya bagaimana Brian, Bibi itu terlihat sangat sedih saat menolong Mamah jadi Mamah kasihan lihatnya. Akhirnya Bibi cerita jika anaknya sedang sakit keras karena putrinya mengidap penyakit kanker hati dan membutuhkan biaya untuk pengobatannya. Mamah yang mendengarnya pun merasa sangat sedih, seandainya Mamah ada di posisi itu pun Mamah akan stres bingung untuk mencari uang kemana. Ya sudah, jadi Mamah memberikan Bibi pekerjaan sebagai pembantu di rumah, dan kebetulan saja rumahnya tidak jauh dari kompleks perumahan kita”


Nyonya Syifa mencoba menjelaskan semua yang terjadi pada Brian agar ia tidak sampai berburuk sangka kepada Bibi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu ya ceritanya semuanya... 😁😁😁


Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗


Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗


Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2