
Brian perlahan mendekati sang ibu yang terbaring lemas di bangkar penuh dengan alat-alat yang terpasang.
“Bu, maaf Brian terlambat membawa ibu kesini hiks..” Brian menatap sang ibu dengan air mata yang menetes.
“Ti-tidak Tuan, anda sudah berusaha menyelamatkan anak saya it-itu sudah lebih dari cukup buat saya” ucap sang ibu dengan suara yang sangat lirih.
“Ibu harus kuat ya, demi anak ibu loh. Dan di mana keluarga ibu? Brian akan menghubungi mereka” tanya Brian.
“Sa-saya ti-tidak pu-punya siapa-siapa lagi Tuan, dan sa-saya sudah ti-tidak kuat lagi” ucap sang ibu dengan terbata-bata.
“Tidak Bu, ibu tidak boleh berbicara seperti itu kasihan anak ibu. Bagaimana dengan dia jika ibu meninggalkannya?” Brian mencoba untuk menguatkan sang ibu yang sudah mulai pasrah.
“To-tolong ja-jaga a-anaku Tu-an, a-aku percaya ba-bahwa Tuan adalah o-orang baik. A-aku ti-titip anakku padamu”
Sang ibu langsung menghembuskan napas terakhirnya.
Tit..
Tit..
Tit..
Suara alat-alat medis yang menandakan tidak ada lagi aliran suara detak jantung sang ibu.
Sang dokter langsung memeriksa detak jantung sang ibu, tapi naas sang ibu sudah tidak bisa diselamatkan.
“Maaf Tuan, pasien sudah tidak bisa ditolong dan dinyatakan sudah meninggal dunia. Saya turut berbuka cita Tuan” ucap sang dokter dengan wajah sedih.
“Bu, hiks... bangun Bu, bagaimana dengan anak ibu. Brian tidak memiliki istri, bagaimana bisa Brian mengurusnya” teriak Brian sambil menggoyangkan tubuh sang ibu.
Entah kenapa hari ini Brian melupakan sikap dinginnya, dan menjadi pria yang sangat ramah.
Bahkan Brian menangis melihat sang ibu yang sudah tidak bisa ditolong dan meninggalkan sang anak yang baru saja dilahirkan.
*
*
*
*
Saat ini sang ibu sudah di makamkan Brian serta pengurus rumah sakit di pemakaman terdekat dari rumah sakit.
Brian juga sudah mengabari kedua orang tuanya supaya datang ke rumah sakit dan tidak lupa Brian juga sudah menceritakan semua kejadiannya itu.
Kini Brian berdiri di luar ruangan bayi sambil menatap sang Baby dari kaca.
“Cepat sehat sayang, ayah di sini untuk kamu. Nanti kita pulang sama-sama ya” ucap Brian.
Tak lama kemudian sang dokter keluar dari ruangan bayi untuk mendekati Brian.
__ADS_1
“Maaf Tuan, bayinya belum di azan kan. Apa Tuan ingin mengazankan nya sekarang?” tanya sang dokter.
“Baik dok, saya akan mengazankan anak saya” ucap Brian sambil menatap sang Baby.
Sang dokter kembali masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Brian dari belakang dan mendekati sang Baby tersebut.
Perlahan demi perlahan sang dokter menggendong Baby dan memberikannya kepada Brian.
Dengan sigap Brian menggendong sang Baby penuh dengan kasih sayang, entah dapat ilmu dari mana sehingga Brian bisa menggendong anak bayi yang terbilang masih merah itu tanpa rasa takut sekalipun.
“Oekk.. oekk.. oekk” tangis sang Baby.
Perlahan Brian mendekati mulutnya ke telinga sang Baby, kemudian mengazankan dengan suara yang begitu tenang.
Sampai-sampai membuat sang Baby yang awalnya menangis kencang ini menjadi sangat tenang dengan mata yang masih sangat sulit untuk terbuka.
“Dia benar-benar pria baik yang akan menjadi ayah untuk bayi almarhumah. Tidak salah pilih jika almarhumah menitipkan kepada pria ini” ucap sang dokter di dalam hati.
“Semoga almarhumah bisa tenang di sana saat melihat anaknya diurus dengan pria baik seperti ini. Bahkan sang Baby pun terlihat sangat nyaman di pelukannya” sambung sang dokter di dalam hati dengan rasa kagumnya.
Brian yang sudah selesai dengan tugasnya langsung mengembalikan sang Baby kepada dokter untuk kembali ditaruhnya di ruang bayi untuk beberapa hari ini.
Tidak lama keluarga Brian datang dengan tergesa-gesa dan langsung menuju ruang bayi.
“Sayang.. bagaimana dengan ibu dari anak itu?” tanya Nyonya Syifa dengan nada cemas.
“Ibunya tidak bisa di selamatkan mah, bahkan anaknya dititipkan ke Brian saat-saat terakhirnya” ucap Brian dengan bibir yang bergetar.
“Tidak apa-apa nak, mungkin ini adalah jalan Tuhan agar kamu tidak merasakan kesepian lagi setelah meninggalnya Sandra” saut Tuan Ferry.
Brian menatap kedua orang tuanya dengan tatapan memohon agar mereka menyetujui untuk Brian mengadopsi anak tersebut, karena ini adalah amanah dari mendiang ibunya yang menitipkan kepada Brian.
“Papah akan membantu mengurus semuanya, jadi kamu tenang saja ya. Biar nanti pengacara papah yang turun tangan, kamu fokus saja dengan sang Baby” celetuk Tuan Ferry yang diangguki oleh istrinya.
Brian sangat senang mendengar perkataan papahnya yang mendukungnya untuk mengurus anak tersebut.
“Apa kamu sudah menemukan nama untuknya, Brian?” tanya sang mamah.
“Namanya Balqisya Zhafira yang artinya anak perempuan yang beruntung bagaikan ratu negeri Syahban” jawab Brian dengan senyum yang lebar.
“Namanya bagus banget sayang, kamu dapat inspirasi dari mana?” tanya sang mamah dan diangguki oleh suaminya.
“Brian juga tidak tahu mah, hanya nama itu yang selalu terbayang saat melihat bayi cantik yang sangat beruntung ini” saut Brian dengan menatap sang Baby dari luar ruangan melalui kaca.
“Lalu nama panggilannya?” saut Tuan Ferry.
“Qisya” jawab Brian sambil tersenyum lebar.
Kedua orang tua Brian hari ini benar-benar di buat sangat bahagia, Karena sifat Brian yang selama setahun ini menghilang kini kembali lagi bersinar.
Entah kenapa mereka merasa sangat bersyukur, setelah kepergian Sandra waktu itu kini kepedihan dan rasa sakit semuanya tergantikan oleh kehadiran bayi mungil yang cantik tak berdosa seperti ini ke dalam kehidupan Brian.
__ADS_1
3 hari berlalu
Saatnya Brian membawa sang Baby pulang ke rumah keluarga Brian, karena rumah yang dulu bersama mantan sang istri sudah Brian jual agar tidak mengingat kejadian yang sangat tragis itu.
"Terima kasih banyak dok, sudah membantu saya untuk menjaga bayi ini. Semoga saya bisa menjaga amanah sang ibu dengan baik dan saya akan berusaha untuk menjadi seorang ayah yang sangat menyayangi serta menjaganya seperti anak kandung saya sendiri" ucap Brian sambil menggendong sang Baby.
"Saya juga akan mendoakan semoga kalian selalu bersama dan bahagia ya, bahkan sang Baby terasa sangat nyaman berada di pelukan Tuan hehe.." celetuk sang dokter yang membuat Brian tersenyum.
Sampai akhirnya Brian membawa sang Baby keluar dari rumah sakit menuju rumah utama menggunakan sopir pribadi.
*
*
*
*
Di rumah kediaman keluarga Brian
Brian dan sang Baby di sambut dengan sangat meriah oleh Tuan Ferry beserta istrinya Nyonya Syifa.
"Selamat ya sayang, kamu sudah menjadi seorang ayah meskipun dia bukan anak kandungmu tetapi kamu harus memperlakukan dia seperti anakmu sendiri" ucap sang mamah.
"Selamat nak, kamu sudah melakukan hal yang benar dengan mengadopsinya dan memberikan dia kehidupan serta status yang baru" saut sang papah dengan rasa bangga.
"Brian berjanji akan selalu menyayangi dan menjaga Qisya seperti anak kandung Brian sendiri" jawab Brian dengan tersenyum bahagia memandang wajah sang Baby.
Sampai akhirnya, kini Brian telah resmi menjadi seorang ayah sambung untuk sang Baby yang sah menurut hukum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para leaders 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung othor terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏
Papay 🤗🤗