Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Menjadi Pria Sejati


__ADS_3

Di tambah lagi Jay tidak memiliki nomor ponsel Lily, Jay hanya di berikan alamat rumah Lily dari seutas kertas kecil yang kini sudah ada di tangan sang sopir. Bahkan sang sopir sudah memindahkan alamat tersebut ke dalam ponselnya dan menyalakan maps atau petunjuk arah agar mereka bisa sampai ke rumah Lily tanpa kesasar.


"Makanya manfaatkan waktu itu sebaik mungkin, di mana kamu itu harus pintar membagi waktumu antara main, belajar, beristirahat dan juga keluarga. Jangan semuanya kamu gantungkan dengan main games, yang pada akhirnya kamu sendiri lupa akan janjimu dengan orang lain"


"Mencari kepercayaan dari seseorang itu sangalah sulit, Jay! Jadi harusnya kamu bisa menjaga kepercayaannya dengan sangat baik. Bagaimana jika gadis itu tidak mempercayaimu dan menganggap kamu itu sebagai laki-laki yang ingkar janji, laki-laki pembohong dan laki-laki bermulut manis namun kenyataannya pahit?"


"Kamu tahu tidak kalau harga diri dari seorang laki-laki itu ada 2, yang pertama pekerjaan. Jika laki-laki tidak memiliki pekerjaan atau malas mencari nafkah, maka harga dirinya akan langsung jatuh sejatuh-jatuhnya dari harga diri seorang wanita yang mana dia hanya sebagai penjual kue keliling. Setidaknya wanita itu ada usaha bagaimana caranya bisa menghidupi kehidupannya"


"Lalu yang kedua adalah ucapan, yang mana jika seorang laki-laki sudah mengucapkan janji atau pun berkata yang manis terhadap seorang wanita maka dia harus membuktikannya dengan sebuah tindakan. Jangan seperti tong kosong nyaring bunyinya!"


"Contohnya ya ini nih, seperti kamu yang sudah berjanji akan datang jam 11 tapi kenyataannya sekarang aja sudah jam 1 kamu masih ada di dalam perjalanan. Belum lagi kamu tidak ada kontak gadis itu, apakah dia tidak akan marah, kesal? Atau bisa jadi ia akan membencimu? Itu karena apa?"


"Ya semuanya itu karena kelalaian kamu dalam membagi waktu, sehingga kamu mematahkan kepercayaan seseorang yang mana nanti kamu harus berusaha untuk mengembalikan kepercayaan itu. Ya walaupun sulit dan susah, tapi kamu harus bisa membalikan keadaan seperti semula agar kamu dan gadis itu bisa kembali berteman"


Key memberikan pengertian kepada Jay, hingga membuat sang sopir pun sedikit menoleh ke arah spion atas dan melihat betapa dewasanya Key saat ini dalam menyikapi sikap Jay yang selalu saja bertingkah seenaknya.


Bahkan sang sopir tersenyum bangga, lantaran anak yang selama ini tidak di harapkan oleh Tuannya malah jauh lebih baik dari pada anak Tuannya sendiri. Ya mungkin saja karena Jay yang selalu di manja oleh Daddy Ken hingga membuat anaknya itu tidak bisa berpikir dewasa.

__ADS_1


Cuma sang sopir pun berpikir bahwa Jay sangat beruntung bisa memiliki seorang Kakak seperti Key yang mana dia tidak pernah merasa iri atau sakit hati karena Daddy Ken selalu aja berpihak pada Jay. Malah Key terlihat sangat menyayangi Jay dan menjaganya agar bisa menjadi laki-laki sejati supaya dia tidak mewarisi sifat atau tindakan negatif dari Daddy Ken.


Jay tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia langsung saja memeluk Key dari arah samping dengan sangat erat bahkan matanya pun sudah berkaca-kaca.


"Hiks... Jay sayang banget sama Kakak, Kakak jangan pernah membenci Jay ya karena Daddy... Jay mohon, Jay enggak bisa kehilangan Kak Key..." Jay memeluk sambil mendongakkan kepalanya dan ia menatap Key dengan mata sedihnya.


Key tersenyum sambil ia membenarkan rambut Jay yang sedikit berantakan dan juga mengusap pipinya yang sudah di basahi oleh air mata.


"Kakak juga sayang banget sama Jay, melebihi Kakak sayang sama diri Kakak sendiri. Kakak juga tidak akan pernah meninggalkan Jay sama Mommy Nisha, karena kalian adalah harta yang paling berharga untuk Kakak"


"Tapi Kakak minta sama Jay supaya Jay menjadi laki-laki sejati, laki-laki yang sangat menghargai wanita. Baik wanita itu salah atau pun tidak, Jay tidak boleh bersikap kasar padanya baik dari mulut atau dari tindakan yang akan menyakiti tubuhnya. Kakak dan juga Mommy akan sangat marah jikalau Jay memiliki sifat yang sama dengan DIA. Paham kan apa maksud ucapan Kakak?"


"Jay janji... kalau Jay tidak akan pernah mengecewakan Kakak dan Mommy. Jay akan menjadi pria sejati seperti apa kata kalian. Jay juga tidak mau seperti Daddy yang bersikap kasar dengan wanita, tapi kenapa rasanya susah sekali untuk bisa menjadi kesatria seperti apa yang Kakak ucapkan?" tanya Jay.


"Semua itu tidak mudah Adikku sayang. Bahkan seseorang yang sudah menjadi kesatria pun masih harus tetap belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi. Jadi Jay enggak boleh mengeluh, Jay harus belajar dan terus belajar. Jay boleh kok bersikap dingin terhadap siapa pun itu, asalkan Jay tidak membuat kesalahan yang mana akan melukai hati orang itu"


"Apa lagi Jay sekarang sudah tahu apa kesalahan Jay pada gadis itu kan? Jadi Jay harus mau mengakui jika Jay salah, dan Jay juga harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah Jay lakukan ini sehingga membuat gadis itu marah"

__ADS_1


"Terus... Jay harus bisa membuat gadis itu mau mendengarkan penjelasan Jay tanpa harus berbicara kasar atau pun memakai kekerasan yang nantinya pasti akan membuat gadis itu menangis"


"Kakak tidak mau sampai itu terjadi ya, paham! Apa lagi di sana itu pasti ada keluarganya yang mana Jay tahu kan kalau gadis itu adalah adik kesayangan Abangnya. Sama seperti Jay, Adik kesayangan Kakak jadi setiap Kakak pasti tidak akan terima jika adiknya di buat menangis atau di kecewakan. Apa Jay sudah siap mengakui kesalahan Jay dan berusaha meminta maaf padanya?"


Key berusaha untuk selalu memberikan pengertian demi pengertian darinya agar membuat Jay selalu berpikir dewasa. Ya meskipun terkadang Jay masih sering berubah-ubah sifatnya, tetapi setidaknya dengan perlahan Jay sudah mulai bisa mengerti apa yang diucapkan Key padanya.


"Jay sudah siap Kak, tetapi nanti Kakak bantu Jay ya kalau Lily marah sama Jay. Jay takut kalau Lily akan membenci Jay dan menganggap Jay itu laki-laki tukang bohong" ucap lirih Jay dengan wajahnya yang sedih.


"Pastinya dong... Kakak akan bantu Adik kesayangan Kakak ini, tetapi jika Kakak lihat mereka itu dari keluarga baik-baik. Jadi tidak mungkin lah kalau gadis yang bernama Lily akan menaruh kebencian padamu hanya karena kamu terlambat datang ke rumahnya"


"Jadi sudah jangan menangis lagi, yaa... Sekarang hapuslah air matamu dengan tissu basah itu supaya nanti saat sudah sampai di rumahnya kamu tidak akan terlihat seperti habis menangis. Kakak enggak mau sampai mereka tahu jika di balik sikap adikku yang cuek dan dingin itu, ternyata adalah seorang Adik yang sangat manja dengan Kakaknya seperti ini hemm.."


Key mencoba meledek Jay agar ia tidak kembali merasakan sedih, lantaran Jay masih memikirkan keadaan Lily saat ini. Apakah Lily marah padanya? Apakah Lily akan membenci Jay? Ataukah Lily akan memusuhi Jay? Itulah semua yang ada di pikiran Jay yang membuat Jay sangat takut jika semua itu terjadi.


Entahlah perasaan apa yang saat ini Jay rasakan, yang penting Jay hanya takut jika Lily menjauhinya. Namun jikalau Lily berada di dekatnya, Jay malah merasa sangat kesal. Tetapi kekesalannya itu seperti membuat kenyamanan tersendiri di dalam hati Jay. Jadi Jay lebih memilih Lily dekat dengannya dan juga membuat dirinya merasa lebih kesal, dari pada Lily menjauhinya yang mana akan membuat hatinya Jay merasa sedih.


"Yaaakk... enak saja! Jay enggak manja dan cengeng ya! Jay ini cuma takut aja kalah Lily marah, itu doang kok... Lagian juga kalau Lily marah, terus Lily enggak mau temenan lagi sama Jay ya sudah enggak apa-apa kok. Jay masih banyak teman lainnya"

__ADS_1


Jay berbicara dengan nada kesal sambil menunjukkan wajahnya yang berusaha di buat sedatar mungkin, tapi itu malah terkesan seperti orang yang sedang berbohong.


__ADS_2