
Seketika Brian langsung menumpahkan semuanya dengan menangis di dalam pelukan sang istri.
"Hiks.. ma-maafin aku be-belum bisa jadi suami yang baik untukmu Hana" ucap Brian di dalam pelukan Hana sambil menangis.
"Hiks.. mas kenapa ngomong begitu, aku tidak ada pikiran ke sana mas. Mas hei, lihat Hana lihatt.." ucap Hana sambil melepaskan pelukan Brian dan menaup wajah Brian dengan sedikit berjinjit.
"Hiks.. hiks.." Brian menatap Hana sambil terisak.
"Sekarang mas, ganti baju dulu. Sudah jangan diteruskan mandinya kasihan badan mas sudah mulai menggigil seperti ini" Hana menarik Brian untuk masuk ke ruang ganti.
"Mas ganti pakaian dulu, Hana tunggu di sini. Ayo cepat" ucap Hana dengan nada sedikit tegas dan membuat Brian hanya menuruti sambil menangis.
Hana terus saja mondar-mandir ke sana ke sini di depan ruang ganti sambil menunggu Brian.
Tak lama Brian keluar dengan ke adaan masih terisak dengan mata sembabnya, Hana yang melihat Brian langsung sedikit menariknya dan membawanya ke kasur.
Entah kenapa Brian langsung menyender di bahu Hana tak lupa kedua tangannya yang memeluk pinggang Hana sangat erat.
"Hiks.. Hana maafin aku, selama ini aku belum bisa jadi suami yang baik untukmu. Aku masih suka membandingan masa lalu dengan masa depan. Bahkan sekarang aku sudah sadar jika aku harus bisa melawan diriku sendiri supaya tidak kehilangan semuanya"
Brian mengoceh tanpa jeda membuat Hana semakin bingung, tetapi Hana mencoba untuk berdiam lebih dulu agar Brian bisa meluapkan semua perasaan yang saat ini sedang mengganjal di dalam hatinya.
"Aku tahu aku salah, sudah menyakitimu atas sikapku yang terlalu egois seperti ini. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menjadikan masa lalu sebagai kenangan dan memproritaskan masa depan sebagai perjuangan hiks.."
Hana mencoba untuk mengelus punggung Brian dengan sangat lembut sambil berkata "keluarkan semuanya mas, Hana siap mendengarkannya. Biar mas bisa tenang"
"Hiks.. aku masih sangat sayang pada dia, tapi aku tidak mau sampai merasakan kehilangan untuk ke dua kalinya. Aku benci arti kehilangan, aku gak mau pokonya gak mauuuu.. huaa hikss.."
Brian menangis dengan sangat kejar membuat Hana ikut merasakan kegelihan di dalam hati Brian.
__ADS_1
"Mas, coba sini lihat Hana dulu" ucap Hana dengan sangat lembut.
Brian mendongak dan menatap Hana dengan mata sembabnya sambil masih memeluk pinggang Hana.
"Mas tidak boleh jadi pria yang lemah, mas harus bisa melawan diri mas sendiri. Hana di sini untuk mas, Hana janji tidak akan pergi meninggalkan mas apa pun yang terjadi Hana akan sabar menunggu mas untuk bisa mencintai Hana sepenuh hati mas"
"Jujur, saat ini Hana sudah benar-benar mencintai mas. Meskipun Hana tau ini salah, tapi Hana tidak bisa bohong mas. Kita menikah hanya karena Qisya, bukan karena perasaan. Hana sadar Hana tidak akan bisa menggantikan posisi mending istrimu hiks.."
Hana menangis dan membuat Brian langsung menaup wajah Hana.
"Kamu gak boleh ngomong begitu, janji sama aku bantu aku untuk melawan diriku sendiri. Agar aku bisa membedakan mana yang harus di kenang dan mana yang harus diperjuangkan. Kamu sayang kan sama aku?" tanya Brian dan hanya di angguki oleh Hana.
"Hiks.. ya mas Hana sayang sama mas Brian, tapi Hana takut jika perasaan Hana tidak terbalaskan" ucap Hana sambil menunduk.
"Aku belum bisa menjawab itu, tapi yang aku rasa saat ini aku nyaman sama kamu Hana" ucap Brian dengan tegas.
Hanya berbicara dengan nada sedikit takut jika Brian akan menolak dan langsung memarahinya karena berusaha untuk ikut campur dengan masa lalunya.
Brian langsung melepaskan tangannya dan menatap lurus ke arah depan.
"Ma-mas, maaf jika mas tidak bisa menceritakannya. Hana tidak akan memaksanya. Semua orang punya masa lalunya sendiri, jadi maaf jika Hana mencoba untuk ikut campur urusan mas"
Hana mencoba untuk memegang tangan Brian sambil menatap wajah Brian dari samping.
"Tidak apa-apa, kamu berhak tahu semua tentang masa laluku dan siapa Qisya. Supaya kamu tidak akan salah paham nantinya"
Brian berbicara sambil menatap lurus ke arah depan dengan tangan yang menggenggam tangan Hana.
Brian mulai menceritakan awal bertemunya dengan mendingan istrinya, sampai akhirnya Brian menceritakan semua perjuangan mereka untuk bisa sampai di pernikahan.
__ADS_1
Namun, di saat Brian ingin menceritakan tentang kejadian yang sangat menyakitkan hatinya itu membuat Brian meneteskan air matanya sangat deras tetapi tidak ada sedikit pun isak tangis Brian.
"Mas, sudah jangan di teruskan jika berat untuk di ceritakan. Hana tidak mau membuka luka lama yang selama ini mas obati dengan susah payah" ucap Hana.
Brian menengok dan menatap Hana dengan air mata yang menetes sambil menggenggam erat tangan Hana.
"Di saat malam pertama kita, aku dan dia sedang berusaha untuk menghabiskan malam yang panjang itu dengan pergulatan di atas ranjang. Tetapi di saat aku ingin mengambil hakku, tiba-tiba saja segerombolan perampok memasuki kamar dengan mendoprak pintu yang lupa aku kunci"
"Lalu aku langsung menyuruh dia untuk menyelimuti tubuhnya yang masih polos. Aku langsung mengambil celanaku dan memakainya dengan terburu-buru. Sampai seketika aku sedang melawan salah satu dari perampok, aku lengah dengan keadaan dia. Bahkan dia sudah ada di dalam pelukan perampok lainnya dengan keadaan polos"
"Su-sudah mas, jangan diteruskan hiks.. Hana tidak kuat mendengarnya hiks.." Hana menangis merasakan betapa sakitnya jika berada di posisi mereka saat itu.
"Aku langsung mencoba untuk menarik dia tetapi perampok lainnya menghadangku dan memegang tanganku, sampai akhirnya perampok itu berhasil memegang aset berharga istriku dengan tangannya dengan meremasnya sangat kuat yang membuat dia berteriak kesakitan hiks.."
"Mas, cu-cukup sudahh.. hiks" Hana menutup kupingnya dengan kedua tangannya lalu menutup matanya sambil menangis.
Tetapi Brian terus menatap Hana dengan air mata yang mengalir dan melanjutkan kisahnya.
"Di saat aku yang sudah mulai emosi langsung menghajar salah satunya, lalu berhasil lolos dan lkembali menarik dia dengan sangat kasar. Untungnya dia berhasil berpindah di dalam pelukanku, lalu aku langsung memakaikan semua pakaiannya dengan sangat cepat. Sedangan dia terus saja menangis ketakutan bahkan dia menggigit jarinya layaknya seorang wanita yang sedang mengalami trauma"
"Mass.. cukupp!!! Hiks.." teriak Hana dengan keadaan yang masih sama menutup telinganya dengan air mata yang terus menetes.
"Kemudian aku menyuruhnya untuk berjaga-jaga di belakangku, dengan perlahan aku mengambil pistol yang sempat aku simpan di saat aku punya pirasat bahkan akan terjadi sesuatu di rumah itu. Sampai akhirnya sang perampok itu pun ikut mengeluarkan pistol yang jauh lebih berbahaya dariku, seketika tubuhku terdiam dan memikirkan bahwa perampok itu bukanlah perampok biasa, melainkan perampok kelas atas"
"Entah aku harus gimana lagi, aku tetap berusaha untuk mempertahankan istriku agar dia baik-baik saja. Para perampok mengacak semua isi kamarku yang memang tidak ada isinya, di saat itulah kami mulai berantem bahkan aku berhasil mengalahkan kedua anak buahnya"
"Namun, disaat aku sedang memukuli keduanya. Tiba-tiba saja dia langsung memelukku, dan dor.. dor.. dor.. 3 kali dia tertembak pas di punggungnya yang menembus jantung serta hatinya, dan di saat itulah kisahku bersamanya sudah berakhir. Bahkan aku pun belum mengambil hakku atas dirinya di saat malam itu"
"Hiks.. mas, ma-maafin Hana maaf sudah membuat mas kembali terluka" Hana langsung memeluk Brian dengan sangat erat yang langsung dibalas oleh Brian sambil kembali menumpahkan semua rasa sakitnya.
__ADS_1