Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Wanita Paruh Baya


__ADS_3

“Sabar Mas, kita bisa bicarakan baik-baik. Aku tahu kamu khawatir sama keluarga kita tapi ingat kita tidak boleh sembarangan untuk menuduh seseorang apa lagi sampai memfitnahnya itu dosa besar Mas” ucap Hana yang berusaha meyakinkan Brian.


“Hiks... Sudah Nyonya, ti-tidak apa-apa jika Tuan tidak mempercayai saya. Saya bisa bekerja di tempat lain saja. Permisi” ucap wanita paruh baya itu sambil menghapus air matanya dan ingin berlari, namun Hana menahannya dan memeluk wanita itu.


Kini, pecahlah air matanya wanita paruh baya itu dengan sangat menyayat hati Hana. Hana yang bisa merasakan kesedihan teramat dalam dari wanita paruh baya itu pun ikut menangis.


Di saat Hana sedang berusaha menenangkan wanita paruh baya itu pun membuat Brian merasa kesal.


“Ck! Apa-apaan ini. Siapa dia sebenarnya kenapa mendadak bisa masuk rumah ini? Apa dia orang baik atau hanya berpura-pura baik saja! Aku harus cari tahu semuanya agar keluargaku tidak sampai ada yang celaka ” ucap Brian di salam hatinya.


“Sudah ya Bi, Bibi tidak usah dengarkan perkataan suami saya. Saya atas nama suami saya ingin meminta maaf pada Bibi jika perkataannya ada yang membuat Bibi sakit hati” ucap Hana sambil memegang kedua tangan wanita paruh baya itu dan menatapnya sangat dalam.


“Hiks... Ti-tidak apa-apa Nyonya, saya bisa paham jika Tuan hanya kaget saja karena tiba-tiba saya ada di sini. Wajar saja Beliau mencurigai saya, karena mungkin Tuan merasa benar-benar harus melindungi keluarganya dari bahaya” ucap Bibi sambil tersenyum.


“Sayang, kenapa kamu minta maaf pada dia, kan kita belum tahu siapa dia. Jika terbukti dia adalah orang jahat yang menyusup ke rumah kita, maka aku tidak akan melepasnya bahkan aku akan melaporkannya kepada pihak yang berwajib untuk menghukumnya seberat-beratnya” ucap Brian dengan sangat tegas.


“Mas bisa diam dulu tidak, lebih baik kita tunggu Mamah dan Papah saja. Kita minta penjelasan dari mereka kenapa di rumah ini bisa kedatangan Bibi. Dan apa alasan mereka membawa Bibi ke sini. Kalau Mas masih marah-marah seperti ini kita tidak akan menemu titik terangnya, paham kamu” saut Hana dengan nada yang lebih tegas.


Brian yang sudah melihat Hana mulai bersikap dingin membuat ia langsung terdiam dan duduk dengan wajah yang sangat kesal.


“Ya sudah, Bibi bersihkan muka Bibi dulu. Dan Hana ingin meminta tolong untuk buatkan jus oranye ya Bi. Supaya bisa membuat Mas Brian lebih adem lagi, sebelumnya Hana minta maaf ya Bi sudah menyuruh-nyuruh Bibi” ucap Hana yang penuh dengan rasa tidak enak.


“Tidak Nyonya, ini sudah tugas saya sebagai pembantu jadi Nyonya tidak usah merasa tidak enak seperti itu. Bibi malah senang bisa bekerja di sini melayani keluarga baik seperti kalian semua” ucap Bibi sambil tersenyum.


“Jangan panggil Nyonya Bi, saya tidak pantas. Lebih baik panggil Hana saja” ucap Hana sambil tersenyum.


“Tidak Nyonya, itu tidak sopan. Saya tidak berani” bantah Bibi dengan wajah yang ketakutan.


“Panggil dia Nona besar, dan panggil saya Aden besar” saut Brian sambil menunjukkan aura dinginnya.

__ADS_1


“Ba-baik A-aden besar, kalau begitu saya pamit ke belakang dulu permisi...” ucap Bibi yang langsung pergi meninggalkan ruang tamu dengan penuh ketakutan.


Saat Hana sudah melihat kepergian Bibi, kini ia melihat ke arah wajah Brian yang masih penuh dengan kekesalan.


Hana pun duduk di samping Brian yang sedang duduk bersandar serta merentangkan kedua tangannya. Kemudian Hana menepuk kecil paha Brian sambil mengelus dada Brian.


“Sabar sayang, kamu tidak seharusnya emosi kaya tadi. Kasihan loh bibi sampai menangis seperti itu, aku tahu kamu banyak pikiran tentang orang itu. Apa lagi kamu sangat khawatir dengan keluarga kita, tapi sebaiknya tadi kamu menanyakan semuanya dengan kepala dingin. Supaya kita tahu kenapa Bibi bisa ada di sini, atau kita bisa mencari tahu kepada Mamah dan Papah. Tidak seperti ini, jika Bibi itu orang baik maka kau sama saja memfitnahnya sayang. Dan itu tidak boleh, dosanya benar-benar sangat banyak loh”


Hana berbicara panjang lebar untuk membuat Brian supaya mengerti jika apa yang ia lakukan tadi adalah salah. Tidak seharusnya Brian main asal tuduh menuduh seseorang saja, apa lagi sampai menyakiti perasaannya.


“Maaf sayang, aku hilap habisnya kamu tahu kan beberapa bulan yang lalu kamu dan Baby twins hampir saja celaka. Bahkan sampai detik ini aku tidak berhasil menemukan orang itu. Bagaimana jika orang itu akan kembali dan mencelakai kamu atau anak-anak kita? Aku takut sayang, takut. Aku tidak mau kembali merasakan kehilangan orang yang sangat aku cintai. Makannya aku seperti ini, bahkan Qisya saja aku beri penjagaan dari jauh agar tidak membuat Qisya sampai ketakutan”


“Kamu tahu kan keadaan Qisya kemarin seperti apa, dan syukurnya trauma itu bisa hilang dari pikiran Qisya. Jika tidak, bagaimana Qisya kedepannya sayang. Apa kita harus melihat Qisya yang terus menerus ketakutan?”


Brian mengoceh tanpa jeda sambil menguapkan semua perasaan kekhawatiran serta ketakutannya yang saat ini selalu mengganggu pikiran Brian.


Hana hanya bisa terdiam sambil mendengarkan semuanya agar Brian bisa jauh lebih tenang setelah mengeluarkan perasaan yang selama ini ia pendam seorang diri.


Brian yang mendengarkan ucapan Hana pun membuat ia langsung memeluk Hana dengan sangat erat.


“Ya, sayang aku janji aku akan berubah lebih baik lagi. Tapi, aku mohon jangan tinggali aku sendiri ya. Aku enggak mau kehilangan kamu dan anak-anak kita hiks...” saut Brian sambil menangis.


“Ya, ampun Mas Brian cuman kaya gitu saja sudah nangis. Kamu ini aneh loh, bentar-bentar nangis manja aku tidak ngerti lagi. Seorang Brian yang kaku, dingin, serta cuek kini malah terlihat seperti Brian yang sangat manja, cengeng” ucap Hana dengan kesal.


“Yakk... Kamu bilang apa tadi? Aku ini suamimu loh, jadi jangan berani padaku ya. Atau...” ucapan Brian terpotong saat Hana langsung menyerobotnya.


“Atau apa? Kamu berani sama aku, hem...” ucap Hana sambil menatap tajam Brian.


“Eh, hehe... E-enggak jadi sayang, aish... Sudah ya jangan di bahas aku cuman bercanda sayang” Brian cengengesan sambil memegang tangan Hana sambil menciumnya.

__ADS_1


Bibi yang dari tadi berdiri sambil memegang nampan minuman yang tidak jauh dari ruang keluarga pun tersenyum sambil berkata “Mereka benar-benar pasangan yang sangat cocok. Aku tidak salah bekerja di tempat orang kaya yang hatinya sangat baik, aku kira orang kaya semuanya pada kejam kepada pembantunya. Tetapi, keluarga ini malah menganggap pembantu juga sebagai keluarga mereka"


"Beruntung sekali aku datang ke tempat ini, semoga saja nanti mereka tidak akan memecatku. Kasihan anakku di rumah sedang sakit keras, aku butuh biaya banyak untuk membawanya ke rumah sakit”


“Aishh... Kenapa aku malah curhat di sini sih, sudahlah fokus kerja saja. Kalau tidak, bisa-bisa aku di marahi sama Den galak” gumam Bibi sambil kembali berjalan mendekati Brian dan Hana.


Brian yang melihat kedatangan Bibi pun langsung melepaskan pelukannya dari Hana serta membuang mukanya sambil menghapus air matanya dengan sangat cepat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏


Papay 🤗🤗


__ADS_2