Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Nona Rose dan Tuan Bisma


__ADS_3

“Yakk... Dasar gadis kecil yang menyebalkan, berani-beraninya kau mengikuti aku seperti itu” jawab Bisma.


“Om juga, dasar Om-om tua yang bisanya hanya marah-marah saja. Jika tidak marah ya, cuek. Kalau enggak cuek ya, dingin. Hanya itu yang Om bisa kan. Marah, dingin dan cuek adalah sifat Om yang sangat ngeselin” ucap Qisya.


“Yakk... Kau ini terus saja mengoceh kaya burung beo. Sudah ayo pulang, hari sudah mulai gelap” ucap Bisma yang langsung menggenggam tangan Qisya.


“Yah... Kok pulang sih, Om. Kan aku belum jajan di sana, ayo jajan dulu Om baru kita pulang” rengek Qisya sambil menatap Bisma dengan wajah imutnya.


“Astaga, gadis kecil ini kenapa terlihat sangat menggemaskan seperti ini. Akh... Tidak, tidak, tidak. Apa-apaan sih Bisma! Kenapa kamu malah memuji anak dari musuhmu ini. Mau dia cantik, lucu, atau apalah tetap saja dia adalah bagian dari musuhmu. Sadar Bisma, sadar. Dia seorang anak kecil sedangkan kamu adalah laki-laki dewasa. Jadi jangan melebihi batas antara anak kecil dan laki-laki dewasa. Paham kan !” ucap Bisma di dalam hatinya sambil menatap wajah Qisya tanpa mengedip sedikit pun.


“Qisya tahu, eh... Ma-maksudnya Rose tahu kalau Rose ini memang cantik jadi tidak perlu berlebihan seperti itu menatapnya. Takutnya nanti terbawa mimpi” saut Qisya dengan nada sombongnya yang membuat Bisma langsung tersadar dan langsung melepaskan tangan Qisya yang sedikit mengalihkan pandangannya.


“Jangan geer ya, aku ini bukan melihat wajahmu yang katamu sangat cantik itu. Tapi aku melihat sepertinya wajahmu mulai kusam dan hitam. Apa lagi bola matamu seperti seekor Panda” jawab Bisma dengan cuek.


“Masa iya sih?” tanya Qisya yang langsung mengeluarkan ponselnya untuk berkaca agar bisa mengecek apakah yang dibilang oleh Bisma itu benar atau salah.


Lalu, tak lama Qisya pun berteriak. “Huaa... Om benar, mata Qisya eh maksudnya mata Rose kenapa bisa seperti ini, huaa... Rose jadi tidak terlihat seperti gadis Korea dong, huaaa... Om ayo kita ke salon atau ke dokter biar mata Rose bisa segera di obati. Ini pasti gara-gara semalaman Rose enggak bisa tidur karena ke asyikkan main game sampai lupa jam tidur dan bablas sampai pagi” celoteh Qisya yang langsung membuat Bisma melototkan matanya.


“Apa? Jadi, semalaman kamu bergadang? Oh, bagus ya. Tidak ada saya malah jam tidurmu mulai berantakan seperti itu. Baiklah nanti akan aku buatkan alarm yang akan bisa mengontrol semua jam makan, main, serta istirahat supaya kamu bisa lebih menghargai waktu kembali” tegas Bisma yang tidak dihiraukan oleh Qisya.


“Om cerewet banget sih, bahkan Bunda sama Ayah saja tidak secerewet ini. Sudah ayo cepat antar Rose berobat atau ke salon terserah, yang penting wajah Rose kembali cantik tanpa mata Panda” ucap Qisya dengan kesal.


“Berani kamu mengataiku cerewet?” tanya Bisma yang kembali menekan kan kata-katanya.


“Kalau Om masih mengoceh seperti itu, ya sudah Rose pergi saja bersama Om Pinjai saja. Dia bisa jauh lebih mengerti Rose dari pada Om yang hanya bisanya marah-marah mulu makanya jadi cepat tua. Buat apa ganteng tapi enggak bisa ngertiin perempuan” saut Qisya sambil berjalan pergi meninggalkan Bisma yang masih terdiam saat mendengar semua ucapan Qisya.

__ADS_1


“Gadis kecil itu bisa berbicara bagaikan seorang gadis yang sudah mulai dewasa” gumam Bisma yang tak percaya.


“Om mau ikut atau Rose tinggal?” teriak Rose yang sudah membuka pintu mobil.


“Ck... Dasar gadis kecil yang menyebalkan. Itu kan mobilku, kenapa seolah-olah aku yang menumpang di situ coba...” ucap Bisma di dalam hatinya sambil berjalan menuju mobil.


Sedangkan Qisya sudah duduk manis di sana dengan wajah yang cemberut menahan rasa kesal karena sifat Bisma yang sangat menyebalkan. Setelah Bisma masuk ke dalam mobil, Pinjai langsung melajukan mobilnya menuju penginapan.


Dikarenakan di sini tidak ada yang memberitahu mereka harus kemana, jadi Pinjai dengan inisiatifnya langsung membawa mereka ke penginapan. Lalu, Bisma dan Qisya tetap dengan sifat kesalnya masing-masing sambil menatap kaca samping yang saling berlawanan.


Terlihat di sana mereka sedang memasang wajah kesal serta saling berdiam diri tanpa ada percakapan sedikit pun. Sesampainya di penginapan mereka pun turun dengan keadaan yang masih berdiam diri.


“Sepertinya mereka berdua sedang ada masalah karena tidak biasanya Nona Rose dan Tuan Bisma saling diam seperti ini. Tuan Bisma memang bisa di mengerti, tapi jika yang diam adalah Nona Rose maka itu tidak akan mungkin karena dia tipe gadis yang sangat ceria dan bahkan sangat suka mengoceh ” ucap Pinjai di dalam hatinya sambil berjalan serta melihat Qisya dan Bisma yang jalan lebih dulu tanpa saling berbicara.


Pinjai yang merasa heran pun hanya bisa melihat dan terdiam, karena jika harus menegur mereka pun waktunya belum tepat. Jadi, Pinjai membiarkan mereka berdua untuk menenangkan dirinya sendiri dulu.


Jika waktunya sudah tepat maka ia akan menjadi penengah yang baik, supaya mereka berdua bisa kembali seperti biasanya yang saling mengobrol tanpa berdiam diri bagaikan patung yang hidup.


...*...


...*...


Malam hari pukul 7


Pinjai yang sudah selesai menyiapkan menu makanan sehat untuk mereka semua, kini sedang menyiapkan dan menatanya di atas meja makan. Tak lama Qisya pun datang sambil menyapa Pinjai dengan sangat ramah.

__ADS_1


“Selamat malam Om. Lagi ngapain nih? Sepertinya lagi sibuk ya”


“Eh Nona Rose, selamat malam juga. Enggak kok, ini saya hanya menata makanannya saja biar terlihat rapi” jawab Pinjai sambil menoleh ke arah Qisya dan kembali merapikan meja makan.


“Wah... Sepertinya makanan malam ini terlihat sangat enak. Om Pinjai belajar masak dari mana? Bukankah Om kan laki-laki, kenapa malah bisa jago masak? Padahal kan ini pekerjaan wanita. Aku yang wanita saja belum bisa masak, cuman bisa ngerebus air, masak mie, goreng telur, nugget, sosis sudah gitu-gitu doang hehe...” ucap Qisya sambil duduk di kursinya.


“Tidak semua memasak itu identik dengan seorang wanita, Non. Laki-laki juga banyak yang bisa memasak bahkan lebih jago dari seorang wanita. Apa Nona tahu kalau Tuan Bisma juga sebenarnya jago sekali memasak loh, hanya saja ia tidak mau mengembangkan bakatnya itu. Dia terlalu gengsi karena menurutnya urusan dapur itu adalah urusan seorang wanita. Jadi, tugas laki-laki hanyalah bekerja, bekerja dan bekerja”


“Dan kalau Nona bertanya saya bisa masak dari siapa? Maka jawabannya dari Ibu saya. Dulu sewaktu saya kecil, saya sangat senang membantu Ibu saya memasak di dapur bahkan kami sampai melakukan lomba. Siapa dari kami yang masakan paling enak, maka akan mendapatkan hadiah. Dari situ saya terus belajar memasak bersama Ibu saya, bahkan saya juga sempat bersekolah di jurusan memasak. Namun sayangnya Ibu saya sudah tidak ada, jadi saya harus bisa membuat Ibu saya bangga karena telah mengajari anaknya untuk menjadi laki-laki yang mandiri”


Celotehan Pinjai membuat Qisya seketika terdiam, cerita Pinjai kembali mengingatkan Qisya kepada sang Bunda dan Omanya yang selalu mau membantu serta mengajari Qisya untuk bisa belajar mandiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai... Hai... Hai... 🤗🤗🤗


Apa kabar para pembaca setiaku? Aku harap kalian sehat selalu ☺️😊😇


Aku ingin kembali memberikan rekomendasi Novel nehh 🤭🤭🤭


Silahkan di jelajahi dan jangan lupa tinggalkan jejak yaa... 😁😆😆


...*...


__ADS_1


__ADS_2