
Tokk... Tokk... Tokk...
Sasya terkejut dan ia langsung duduk dengan keadaan mengelap mulutnya karena ia takut jika sampai tanpa sengaja ia tertidur dalam keadaan mulut terbuka.
“Excuse me Doc, salah satu bodyguard dari Tuan Alex memanggil dokter Sasya untuk segera pergi ke ruangannya” ucap sang suster.
“Akh... Al-alright, saya akan segera ke sana, terima kasih atas infonya Sus” ucap Sasya dengan wajah terkejut.
“Kalau begitu saya pamit Dok. Excuse me...” ucap sang Suster yang langsung pergi.
“Huffftt... Sabar Sasya, sabar... Ayo kamu pasti bisa, semangat” gumam Sasya yang memberikan semangat untuk dirinya sendiri, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk sedikit menyegarkan wajahnya.
Setelah selesai, Sasya langsung berjalan menuju ruangan Alex di rawat. Tetapi saat di perjalanan menuju ruangan, Sasya malah bertemu dengan Dokter Rini.
“Hai, dokter Sasya... Kok belum pulang? Bukannya jam kerjanya sudah habis?” tanya Dokter Rini sambil berjalan mendekatinya
“Eh Dokter Rini hehe... Kirain tadi siapa. Iya nih Dok, semua gara-gara Tuan menyebalkan itu. Dia menghukumku karena aku tadi habis ngerjain dia, habisnya kesel banget sih...” celoteh Sasya yang membuat Dokter Rini tersenyum.
“Sabar ya Dok, tapi saya salut loh dengan dokter Sasya yang berani banget mengerjai Tuan Alex orang terpandang itu. Padahal status Dokter Sasya hanyalah relawan sedangkan saya dokter sungguhan, tetapi saya tidak berani melakukan itu semua karena saya tidak mau kehilangan pekerjaan ini” ucap Dokter Rini.
“Lagian juga Sasya kan hanya mengerjainya sedikit saja, tapi kenapa dia malah menghukum Sasya untuk merawatnya 24 jam selama dia di rawat. Apa itu nama adil? Kan enggak Dok...” Jawab Sasya.
“Memangnya dokter Sasya mengerjai Tuan Alex dengan cara apa? Kok bisa sampai di hukum seperti itu? Aduh kenapa saya jadi penasaran ya hehe...” sahut Dokter Rini dengan tertawa kecil.
“Hehe... Jadi begini Dok...” Sasya mencerita semua kejadian tadi siang.
Dokter Rini yang mendengarnya tidak bisa lagi menahan tawanya, karena di balik kelucuan tersebut terdapat sedikit kepolosan di dalam diri Sasya. Di saat mereka tertawa ria, kini membuat mereka bungkam karena kedatangan seorang pria.
“Ekhem... Sudah selesai ngerumpinya? Bukannya tadi suster telah berbicara padamu jika Tuan Alex sudah menunggu hem...” ucap pria tersebut yang bernama Pinjai dengan nada tegasnya.
“Do-Dokter Sa-Sasya, saya pamit dulu ada pasien darurat permisi...” ucap Dokter Rini sambil berlari kocar-kacir.
Sasya menatap kepergian dokter Rini, dan kembali menatap Pinjai.
“Eh... Tu-Tuan Pinjai, makin tampan saja hehe...” ucap Sasya yang berusaha menutupi rasa takutnya.
“Sudah basa basinya? Atau mau bertambah hukumanmu?” ucap Pinjai dengan semua ketegasannya yang membuat Sasya langsung kabur begitu saja.
“Dasar Dokter kemarin sore! Eh... Ta-tapi kenapa dia mirip sekali tingkahnya sama Non Qisya ya? Akhh... Apaan sih, kenapa aku malah jadi ke ingat dengannya. Sudahlah aku harus mengawasinya agar tidak kabur lagi” gumam Pinjai sambil berjalan mengikuti Sasya yang sudah menjauh.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan Alex, Sasya langsung masuk begitu saja dengan raut wajah yang di buat tersenyum. Namun di dalam hatinya ia sangat kesal melihat tingkah pria yang ada di depannya ini.
“Permisi Yang Mulia, ada apa gerangan kau memanggilku?” ucap Sasya dengan nada kerajaan.
Alex hanya duduk diam dengan wajah datarnya, sambil melirik ke arah makanan yang beberapa menit lalu suster bawakan untuk makan malam.
“Apakah mulutmu sedang sari awan, Tuan?” tanya Sasya kedua kalinya yang masih tetap membuat Alex bungkam seribu bahasa.
“Kalau kau tidak mau berbicara, buat apa memanggilku ke sini? Lebih baik aku pulang, tidur hump...” sahut Sasya dengan wajah kesalnya, serta ia berbalik dan berjalan ke arah pintu.
Alex yang melihat itu pun langsung mengeluarkan suaranya agar mencegah kepergian Sasya.
“Suapin!” ucap Alex berhasil membuat Sasya membelalak terkejut dengan satu kata yang benar-benar ekstrem baginya.
Sasya membalikkan tubuhnya menatap Alex dan berkata dengan gugup, “A-apa ya-yang Tuan katakan tadi?”
“Saya bilang suapin, apa masih kurang jelas?” tegas Alex tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“A-apa kau sudah gila, Tuan! Aku ini seorang dokter bukan pembantu, paham!” pekik Sasya yang sudah kesal.
“Ya sudah kalau tidak mau, tak apa. Tinggal besok lihatlah apa yang akan terjadi dengan rumah sakit ini” ancam Alex sambil menatap sudut kamarnya.
“Ekhem...” Alex berdehem untuk membuat Sasya tersadar dari lamunannya.
“Kenapa matanya seperti itu? Mau saya bantu mengeluarkannya?” ucap Alex dengan datar.
“Enggak usah, terima kasih...” sahut Sasya dengan senyuman yang ia paksakan.
“Sama-sama...” jawab Alex dengan segala kecuekannya.
Lalu Sasya berjalan dengan perlahan mendekati bangkar Alex dan mengambil piring tersebut.
Takk...
Takk...
Takk...
Sasya mengetuk-ngetuk piring tersebut dengan sangat kencang, terlihat jelas jika dirinya benar-benar emosi dengan Alex. Bahkan untuk memotong ayam pun sampai membuat sendok di tangannya meleyot saking besarnya tenaga yang Sasya keluarkan.
__ADS_1
Seolah-olah Sasya melampiaskan kekesalannya kepada ayam tersebut. Sedangkan Alex yang melihatnya hanya bisa menahan tawa melihat aksi lucunya Sasya yang benar-benar sangat receh baginya.
“Yahhhh... Kok meletot sih sendoknya” ucap Sasya sambil mengangkat sendok tersebut, yang kini membuat Alex sudah tidak bisa menahan tawanya.
“Bhahaa... awsshh... haha...” Alex tertawa sambil memegangi perutnya yang sangat nyeri, namun Sasya yang melihat itu malah dibuat semakin kesal.
“Kenapa ketawa, hah! Ada yang lucu?” sahut Sasya penuh emosi.
“Ayam enggak salah apa-apa malah di jajah, bagian di jajah balik penyok kan haha... awsshhh... aduhh haha...” ucap Alex sambil tertawa lepas.
“Kaaauuu...” geram Sasya yang langsung memasukkan bubur tersebut ke dalam mulut Alex saat ia masih tertawa.
Alex melototkan matanya dan langsung menelannya dengan sekali tegakan, membuat Sasya tertawa.
“Bhahaah... Rasain tuh, makanya jangan bisanya cuma ngetawain orang mulu. Memangnya kau doang yang bisa tertawa, aku juga bisa kali” sahut Sasya.
“Mi-mi-minum...” ucap Alex dengan wajah memerah akibat tenggorokannya sedikit tersendat bubur.
“Apa? Aku tidak dengar?” ucap Sasya dengan segala aktingnya dan Alex hanya bisa memperagakan seperti orang yang sedang meminum.
“Oh mau minum... Baiklah, silahkan Yang Mulia...” ucap Sasya yang memberikan gelas tersebut pada Alex.
Ya meskipun Sasya kesal tapi ia juga tidak mau sampai menyiksa Alex lebih lama lagi, jadi Sasya memberikan segelas air putih kepada Alex untuk bisa membuat bubur yang tersendat di tenggorokannya untuk turun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1