Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Ayangku Oppa Jung*kok


__ADS_3

Sasya berbicara di dalam hatinya sesekali air matanya menetes di pipi serta tak lupa menghapusnya menggunakan jarinya dengan perlahan agar tidak membuat Alex merasa curiga.


Bahkan Sasya berusaha menahan isak tangisnya agar tidak sampai terdengar oleh siap pun yang ada di dalam pesawat tersebut, terutama Alex.


*


*


Di New York..


Ayan Brian yang sedang tertidur kini terbangun, dan langsung sedikit membenarkan posisi agar bisa terduduk dalam keadaan menyandar.


Namun, saat Ayah Brian ingin mengambil buah jeruk dan ingin mengupasnya tiba-tiba saja Bunda Hana yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung berlari kecil mendekati Ayah Brian.


"Ya ampun Mas.. kalau mau sesuatu itu bilang saja, kan aku bisa mengupasnya. Jadi, Mas tidak usah banyak bergerak. Ingat kata dokter, kondisi Mas itu masih sangat lemas. Apa lagi wajah Mas saja masih terlihat pucat" celoteh Bunda Hana dengan penuh perhatian yang mana langsung mengambil buah jeruk di tangan Ayah Brian


Kemudian, Bunda Hana mengupas perlahan buah jeruk tersebut yang mana membuat Ayah Brian tersenyum lebar melihat sikap istrinya begitu manis dan tidak pernah berubah dari dulu yang selalu memperhatikan kondisinya apa lagi sangat mencintainya.


"Sudahlah sayang, aku bisa kok melakukan hal kecil seperti itu. Lagian juga tidak berat, masa ia cuman mengupas jeruk sekecil itu saja bisa membuat aku kembali sakit. Kamu ini ada-ada saja, hem.." ucap Ayah Brian sambil mengusap kepala Bunda Hana dengan perlahan.


"Ya namanya juga seorang istri yang melihat suami lgi sakit seperti ini pasti akan berlaku sama, Mas.. kamu juga jika aku sakit bahkan melebihi sikapku saat ini, ya kan? Belum lagi kalau aku mau ke kamar mandi kamu selalu harus menggotongku, layaknya aku sedang sakit keras saja humpt.." jawab Bunda Hana yang malah membuat Ayah Brian terkekeh kecil.


"Hehe.. sudah bisa ya membalikan semua ucapan suamimu ini hem, jadi gemes deh rasanya saat ini aku ingin sekali menerkammu" goda Ayah Brian sambil mengedipkan satu matanya yang mana malah lamgsung mendapati sumpelan buat jeruk dari Bunda Hana.

__ADS_1


"Kau ini Mas, Mas.. dalam keadaan sakit masih saja berpikiran seperti itu. Makannya cepat sembuh dulu baru bisa menerkamku, kalau sakit begini mana bisa kamu menerkamku?" sahut Bunda Hana sambil menyuapi buah jeruk ke dalam mulut Ayah Brian.


"Hem.. nyam.. ya meskipun aku sakit, tapi kan adikku tidak? Apa kamu mau menyobanya, mumpung anak-anak belum datang? Main satu ronde pun jadi.."


Ayah Brian tak henti-hentinya menggoda Bunda Hana, yang mana saat ini Bunda Hana merasa cuek tapi tidak bisa di bohongi jika wajahnya sudah mulai memerah.


Ya, walaupun umur mereka sudah semakin menua tetapi keharmonisan di antara keduanya selalu terjaga dengan sangat baik sehingga mereka selalu terlihat bagaikan pasangan anak muda yang baru saja merasakan kasmaran.


"Huhh.. bagian masalah itu aja langsung bersemangat, bagian minum obat saja susahnya minta ampun. Jadi, bagaimana Lily tidak takut dengan obat, orang Ayahnya saja begini.."


Bunda Hana terus mengoceh yang mana malah semakin membuat Ayah Brian tertawa hingga perutnya sedikit merasakan rasa nyeri, dan juga mulutnya selalu tersumpel buah jeruk dari tangan Bunda Hana.


"Hahah.. aduh, sayang kamu ini ada saja tingkahnya. Namanya, juga Lily anakku ya pasti dia sama dengan akulah. Memangnya mau sama dengan siapa lagi coba? Ayolah sayang.. aku pengen loh, enggak baik menolak permintaan suami" ucap Ayah Brian sambil mengunyah buah jeruk dengan sedikit menunjukkan wajah melasnya.


Bunda Hana berceloteh sambil memakan buah jeruk yang tinggal beberapa biji lagi dengan mencoba mengalihkan topik pembicaraan Ayah Brian.


"Yaaakk.. siapa Oppa Jung*kok itu, hah? Kau berani sekali berselingkuh dengan pria lagi secara terang-terangan seperti ini" pekik Ayah Brian dengan wajah kesalnya.


"Ya memang kenapa jika aku selingkuh, toh kamu sudah mulai menua dan Oppa Jung*kok masih sangat muda. Jadi, hitung-hitung buat cuci mata" celetuk Bunda Hana sambil memakan buah jeruk yang terakhir dengan sangat cuek.


"Huaaa.. sayang, itu kan jerukku kenapa kamu habiskan sih. Lalu, itu siapa Oppa-Oppa itu coba tunjukkan padaku suruh orangnya ke sini maka akan aku gorok habis batang lehernya itu biar kau tidak bisa berselingkuh dariku!"


Ayah Brian berbicara dengan nada rengekan bercampur kesal, yang mana sikapnya benar-benar seperti anak kecil. Maklum saja semakin bertambah umur maka sikapnya akan semakin kembali seperti anak kecil, tapi tidak juga sih.

__ADS_1


Karena Ayah Brian kan memang sudah bucin sama Bunda Hana, jadi ya beginilah dirinya jika sedang berdua tanpa gangguan anak-anak. Namun, jika di depan anak-anak maka Ayah Brian akan terlihat sangat berwibawa dan juga tegas.


"Kau mau tahu siapa Ayangku, jadi lihatlah betapa tampannya dia. Bahkan melebihi dirimu di masa muda" ujar Bunda Hana sambil memperlihtkan ponselnya yang langsung di ambil oleh Ayah Brian.


Betapa terkejutnya Ayah Brian saat melihat postur tubuh Oppa Jung*kok yang sangat sempurna bagaikan roti sobek yang begitu menggiurkan bahkan dia saja sebagai pria benar-benar insecure dengan semua ini.


"Astaga, pantas saja istriku klepek-klepek sama nih cowok. Orang postur tubuhnya bagus banget, gila sih ini sumpah jadi pengen punya tubuh kaya gini lagi" gumam Ayah Brian di dalam hatinya sambil matanya terbelalak keluar.


Bunda Hana yang melihat itu hanya bisa tertawa di dalam hatinya lantaran sudah berhasil mengalihkan ucapan Ayah Brian, ya meskipun membuat Ayah Brian sedikit kesal tapi setidaknya pikiran tentang rasa pengen sudah tidak ada di dalam diri Ayah Brian untuk saat ini.


"Bagaimana sayang, bagus bukan postur tubuhnya. Ya, iya dong.. jadi aku tidak salah pilih Ayang dong? Hem.." sahut Bunda Hana dengan nada menggoda saat melihat Ayah Brian begitu serius menatap postur tubuh Boy Group BTS itu.


"Hissshh.. apaan coba, tubuh kurus kerempeng seperti ini kau bilang bagus? Elehh.. palingan juga kalau dia naik motor langsung terbang tertiup angin"


Ayah Brian mengoceh dengan kesal, yang mana di dalam hatinya dia sangat berniat agar bisa kembali ikut berolah raga untuk membentuk tubuhnya seperti itu supaya Bunda Hana tidak memiliki selingkuhan.


"Tubuh siapa yang kurus dan kerempeng?" tanya seseorang yang kini langsung saja memasuki ruangan Brian tanpa permisi, yang mana membuat Bunda Hana dan Ayah Brian langsung menoleh bersamaan ke arah pintu tersebut.


Betapa terkejutnya Bunda Hana dan Ayah Brian saat melihat siapa yang datang menjenguknya hari ini. Bahkan mereka terdiam mematung dengan mata yang berkaca-kaca, sehingga membuat Bunda Hana segera berdiri dari tempat duduknya.


"Kenapa diam? Apa kedatangan kami mengganggu? Hem.." ucap seseorang sambil berjalan perlahan mendekati mereka.


Bunda yang sudah tidak kuat lagi langsung saja memeluk seseorang dengan sangat erat hingga mereka menangis bersamaan yang mana membuat Ayah Brian pun ikut meneteskan air mata saat seseorang lainnya langsung memeluknya perlahan.

__ADS_1


Entah mengapa hari ini terasa seperti sebuah mimpi bagi Bunda Hana dan juga Ayah Brian, namun inilah kenyataan pada akhirnya air mata kebahagian runtuh yang mana itu adalah air mata kerinduan yang selama ini tersimpan meledak di dalam hati.


__ADS_2