
Apalagi Jay dan Key juga masih harus sekolah besok jadi mereka memutuskan untuk kembali saat ini juga. Tidak lupa pula Ayah Brian menyiapkan supir dan bodyguard yang akan mengantarkan Mommy Nisha, Key dan Jay dengan selamat ke rumah kediaman Daddy Ken.
...*...
...*...
1 Minggu telah berlalu..
Hari ini adalah hari dimana Alex sangat merindukan Sasya, lantaran Alex selalu menahan diri untuk tidak selalu menemui Sasya secara terus menerus yang mana akan membuat Sasya semakin menjauhinya.
Alex berniat tidak akan memaksakan perasaannya yang nantinya kan berakibat fatal untuk hubungannya dengan Sasya.
Alex hanya bisa memperhatikan Sasya dari jauh tanpa mau memperlihatkan wajahnya, yang mana Alex bagaikan seorang pengintal yang akan memantau semua aktifitas Sasya.
Sedangkan Joko, ia selalu di sibukkan dengan urusan cintanya yang semakin tumbuh kepada Cika hingga kini Cika sudah bisa berjalan dan kondisinya pun semakin membaik.
Tak lupa, Joko juga mengurus bisnis bawah tanah milik Alex yang mana saat ini hanya Joko yang mengurusnya.
Namun, dengan perlahan bisnis itu berjalan tidaklah sepadat jadwal biasanya karena Alex menyuruh Joko untuk tidak selalu menerima pekerjaan yang benar-benar tidak membutuhkan jasanya.
Mereka akan menerima pekerjaan yang mana memang sangat-sangat membutuhkan jasanya, tidak seperti dulu yang selalu mengambil semuanya tanpa melihat apakah pekerjaan yang akan mereka kerjakan itu ringan atau begitu berat.
Tapi, kali ini Alex seperti menunjukkan perubahannya yang semakin hari semakin baik. Entahlah, semenjak bertemu kembali dengan Sasya semua yang ada di dekat Alex merasa senang saat melihat reaksi Alex yang tidak seberuntal saat dulu.
Ya, walaupun masih cuek dan dingin terhadap orang luar. Tapi, untuk orang keluarga Alex mencoba agar bersikap sebaik mungkin.
Meski terkesan bukan Alex, cuman mereka menghargai betapa susahnya merubah dari Alex yang terkenal dingin dan begitu kejam kini berubah menjadi pria biasa.
...*...
__ADS_1
...*...
Siang hari tepat pukul 11, di sebuah taman rumah sakit..
Sasya baru saja kelar dengan tugasnya, yang mana Sasya selalu duduk di kursi taman untuk menghilangkan rasa penatnya.
Tapi, entah kenapa Alex yang melihat wajah Sasya dari jauh membuatnya mengerutkan kedua alisnya dalam keadaan bingung.
"Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya terlihat sangat murung? Biasanya dia selalu terlihat biasa saja, tidak secemas itu. Apa dia ada masalah dengan salah satu pasiennya? Atau dengan seseorang yang satu kerjaan dengannya?"
"Astaga.. kenapa perasaanku jadi tidak tenang seperti ini sih. Kamu kenapa si Syaa.. pengen rasanya aku langsung duduk di sampingmu dan menanyakan ada apa dengan wajahmu itu, tapi jika aku tiba-tiba ke sana pasti kamu tidak akan menyukaiku lantaran kamu masih menjaga jarak denganku"
"Aku bingung, Syaa.. aku harus bagaimana, supaya aku tahu ada apa denganmu saat ini. Perasaanku semakin tidak tenang, dari tadi lihat kamu melamun seperti itu"
Alex terus bergumam di dalam hatinya dengan keadaan gelisah, cemas dan juga penuh kekhawatiran saat melihat Sasya duduk seorang diri dengan keadaan yang tidak seperti biasanya.
Sedangkan Alex dia duduk di salah satu taman yang berada di belakamg pohon besar sehingga Alex bisa melihat Sasya, namun Sasya tidak bisa melihat Alex.
"Entahlah, aku juga bingung dengannya Pinjai. Kira-kira ada apa ya dengannya, apa dia ada masalah dengan pasien atau rekan kerjanya?"
"Jika semua itu benar, aku akan langsung mengurusnya agar mereka semua tidak berani membuat gadis kecilku kembali murung seperti ini!"
Alex berbicara sambil pandangan matanya terus menatap Sasya tanpa mengalihkannya sedikit pun, namun nada ucapan Alex seperti terlihat sangatlah dingin.
Alex tidak pernah main-main dengan ucapannya apa lagi jika ini menyangkut dengan orang yang sangat berarti di dalam hidupnya.
Sementara di sisi Sasya dia seperti merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam hatinya, yang mana Sasya sendiri pun tidak tahu perasaan apakah itu?!.
"Kenapa perasaanku dari tadi pagi tidak enak ya, ada apa ini?" gumam kecil Sasya dengan kegelisahannya.
__ADS_1
Namun, selang beberapa menit seorang pria sedang berlari ke sana ke sini yang mana itu adalah Ash.
Ash berlari dengan wajah paniknya serta mencari keberadaan Sasya di penjuru rumah sakit, yang mana Ash baru ingat jika jam segini Sasya pasti berada di taman rumah sakit.
"Kiss.. hahh.. hahh.. hahh.." Ash berlari dengan keadaan ngos-ngosan yang kini sudah berdiri tepat di depan Sasya sambil membungkukkan punggungnya sambil kedua tangannya memegang kedua lututnya.
"Ada apa, Ash? Kenapa kamu lari-larian seperti ini, apa ada masalah denganmu?" tanya Sasya dengan wajah bingungnya serta menatap Ash yang masih membungkukkan tubuhnya.
Ash menoleh ke arah Sasya yang mana matanya tertuju pada sebotol aqua yang sudah tinggal setengah.
Ash segera duduk serta meminum air tersebut dengan sangat rakus, terlihat jika Ash benar-benar sangat haus.
Sasya hanya bisa menggelengkan kepalanya kecil saat melihat tingkah Ash. Awalnya, Sasya ingin marah. Namun, saat melihat kondisi Ash begitu lelah membuat Sasya mengurungkan niatnya.
Sedangkan Alex yang melihat itu langsung mengepalkan telapak tangannya dengan rahang yang mulai mengeras.
"Ckk.. bisa-bisanya dia meminum botol aqua milik Sasya yang mana disitu ada bekas bibirnya. Awas saja kau Ash, kali ini kau berhasil mencuri start dariku, tapi lain kali lihat saja! Aku tidak akan membiarkan semua ini kembali terjadi!"
"Sasya adalah milikku yang mana apa pun yang bekas Sasya gunakan itu tidak boleh disentuh oleh siapa pun kecuali aku!"
Alex sangat geram melihat tingkah Ash yang seenaknya tanpa permisi main mengembat air minum milik Sasya, hingga membuat Pinjai mengerti jika Alex sedang cemburu hanya karena botol minum seolah-olah Ash sudah mencium bibir Sasya.
"Sabar, Tuan. Itu hanya botol minum saja bukan bibir asli Nona Sasya. Jadi, tidak usah merasa tersaingin karena Tuan sudah pernah menyicipinya pertama kali pada waktu itu. Bahkan sampai menikmatinya" celetuk Pinja tanpa sadar yang kini membuat Alex langsung menatapnya dengan tatapan aneh.
"Sejak kapan kamu mengingat kejadian itu? Bukankah aku pernah menyuruhmu untuk tidak melihatnya? Oh aku paham! Ternyata diam-diam kau mengintip adegan itu, benarkah begitu PINJAI SANJAYA!!" sahut Alex dengan menekankan kata-katanya sambil menatap tajam ke arahnya.
Pinjai yang sadar atas ucapannya membuat ia menoleh dengan perasaan gugup dan juga ketakutan. Hingga membuat Pinjai menggarukkan tengkluknya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung.
"Hehe.. ma-maaf, Tuan. A-aku tidak sengaja melihatnya ketika a-aku sedang melihat ke arah belakang yang mana aku melihatnya dari kaca spion atas mobil. Jadi, bukan karena di sengaja. Semua murni karena ketidak sengajaan saja" elak Pinjai dengan semua pembelaan atas dirinya agar tidak terkena semprot singa jantan.
__ADS_1
Alex hanya menatap Pinjai dengan tatapan yang sangat malas, lantaran Alex sangat tahu jika Pinjai seperti sedang mengumpeti kebohongannya sendiri karena ia takut jika Alex memarahinya yang mana dia sudah trauma akibat kejadiaan waktu itu saat Alex menghukumnya di kandang hewan kesayangannya.