Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Berangkat ke Amerika


__ADS_3

“Kak, boleh Opa bertanya sama Kakak?” tanya Tuan Ferry sambil menatap Qisya.


Qisya yang pada saat itu sedang sibuk menemani sang adik bermain boneka, seketika ia langsung menengok ke arah Opa Ferry.


“Mau nanya apa, Opa?” tanya Qisya dengan lembut.


“Saat Kakak pergi ke Amerika, Kakak harus janji akan sembuh okay? Jika Kakak tidak ingin sembuh, maka Opa tidak akan mengizinkan kalian semua pergi ke sana” ucap Opa Ferry dengan menatap tajam mata Qisya.


“Oma juga tidak mau mengizinkan jika Kakak tidak sembuh saat berobat di sana” saut Oma Syifa.


“Om juga enggak akan izinin Kakak untuk pergi ke sana kalau Kakak enggak mau janji untuk bisa sembuh dan kembali berkumpul dengan kami di sini” ucap Arya.


“Mbah Kung akan sangat sedih saat Kakak pindah ke Amerika tapi jika Kakak di sana tidak bisa sembuh, maka rasa sedih di dalam hati Mbah Kung akan semakin bertambah” ucap Abah dengan raut wajah sedihnya.


“Mbah Uti juga sama kaya Mbah Kung, tapi kalau Kakak mau sembuh pasti kami semua akan sangat senang. Kami rindu di saat-saat di mana dulu Kakak selalu ceria yang selalu mengajak Om Arya bercanda, berantem bahkan Kakak selalu meledek semuanya. Atau juga saat Kakak selalu bersemangat untuk terus membuat kami semua tertawa untuk setiap harinya. Tidak seperti sekarang di mana Kakak selalu murung, sedih, ataupun selalu menyendiri. Kami yang melihatnya pun jadi ikutan sedih” ucap Umi.


Qisya seketika terdiam menatap semuanya satu persatu, Qisya dapat melihat kasih sayang yang begitu tulus dan dalam di sudut mata mereka. Qisya yang tidak tahu harus menjawab apa, membuat ia terdiam cukup lama. Kemudian pada akhirnya Qisya berbicara.


“Insya Allah Kakak janji akan sembuh dan kembali seperti dulu, demi kalian semua yang sudah sangat menyayangi Kakak dengan tulus” Qisya tersenyum yang membuat semuanya meneteskan air mata.


Qisya yang dulu sangat kecil, kini sudah tumbuh menjadi Qisya yang sangat dewasa. Bahkan cara berpikirnya pun sangat menyentuh hati mereka. Oma Syifa pun langsung duduk di bawah untuk memeluk Qisya sambil menangis, yang membuat Umi juga ikut memeluknya bersama-sama.


Qisya dapat merasakan kasih sayang mereka semua untuknya dalam tatapan dan pelukan hangat itu. Tidak seperti yang sudah Bisma katakan pada saat itu kalau mereka tidak menginginkan atau pun menyayangi Qisya seperti anak bahkan cucu kandung mereka sendiri.


“Ya sudah, lalu kapan kalian akan berangkat? Apa semuanya sudah dipersiapkan?” tanya Opa Ferry.


“Sudah, Pah. Brian sudah menyuruh asisten Brian untuk mengatur semuanya di Amerika. Jadi sekarang kami hanya perlu membawa badan serta barang-barang yang cukup untuk di sana, dan kemungkinan 1 minggu lagi” jawab Brian.


“Baiklah, Abah tidak bisa melarang kalian untuk tetap berada di sini. Mungkin dengan begini Qisya bisa kembali seperti sedia kala. Abah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian semua di sana, dan jangan lupa untuk pulang ke sini supaya bisa menengok kita yang sudah mulai menua. Apa lagi umur tidak akan ada yang tahu, bukan?” ucap Abah sambil tersenyum.


“Abah ngomong apa sih, Hana enggak suka ya Abah berbicara seperti itu. Insya Allah kita semua akan panjang umur sampai kalian bisa melihat cucu-cucu kalian bisa hidup bahagia bersama pasangannya dan kalian akan mendapatkan cicit yang sangat menggemaskan” bantah Hana dengan wajah sedihnya menatap Abah.


“Insya Allah, semoga saya kita masih diberi umur panjang dan bisa menikmati masa tua kita dengan sangat bahagia” saut Abah.


“Pasti, kita akan bisa berkumpul kembali. Aku yakin, Brian dan Hana tidak akan bisa pergi jauh lama-lama dari kita semua” ucap Opa Ferry.


“Ya, Pah. Semoga saja seperti itu, kami juga berat untuk meninggalkan kalian. Tapi ini demi perusahaan Mas Brian dan kesembuhan Qisya. Jadi mau tidak mau, kita harus berangkat ke sana” jawab Hana dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


“Kalian tenang saja, akan kita pastikan 2 bulan sekali kita bakalan pulang ke Indonesia menemui kalian semua” ucap Brian.


“Benarkah itu, Brian? Awas jika kamu bohong. Mamah akan susul kalian ke sana dan akan mengambil cucu-cucu Mamah untuk pulang ke sini” ancam Oma Syifa dengan wajah yang sudah sedikit sembab.


“Brian janji, Mah. 2 bulan sekali kami akan menyempatkan untuk datang ke sini” saut Brian.


“Ya sudah, boleh kan selama 1 minggu ini Umi dan Abah tinggal di sini untuk bersenang-senang sama cucu-cucu kami yang sebentar lagi akan meninggalkan kami begitu jauh. Kami hanya ingin melepas kerinduan kami yang nantinya akan kami simpan baik-baik menunggu kalian untuk menengok kami di sini” tanya Umi dengan wajah penuh harapan.


“Boleh dong, Mi. Malahan kami senang jika kalian mau menginap di sini sampai kami pergi. Dan kamu Arya, apa kamu juga akan tinggal di sini sementara waktu?” tanya Brian sambil menatap Arya yang dari tadi hanya terdiam menyimak obrolan semuanya.


“Sepertinya aku tidak bisa, Mas. Nanti malam aku harus pulang karena pagi-pagi sekali akan ada meeting penting yang memang tidak bisa di cancel. Tapi tenang saja, paling 2 hari sebelum kalian berangkat aku sudah ada di sini kok untuk menemani ponakan-ponakan Om yang cantik dan tampan ini ya kan...” ucap Arya sambil duduk di depan 3 kurcaci yang sedang asyik bermain.


“Yey... Holeee... Om Yaya mau inep yey... ohya Om anti angan lupa bawain loti totat ya yang enyak itu Om” saut Lily dengan senang.


“Roti Cokelat? Oke siap, peri kecil. Perintah akan dilaksanakan hehe...” ucap Arya sambil mengelus kepala Lily penuh kasih sayang.


“Lalu, bagaimana dengan Kakak dan Lukas? Apa kalian juga mau dibawakan sesuatu sama Om, hem...” tanya Arya.


“Tidak perlu, cukup Om bisa di sini Lukas sudah senang. Setidaknya kami bisa bertemu sebelum adanya perpisahan” jawab Lukas dengan dingin.


“Yakk... Dasar ponakan nyebelin. Lily saja hanya minta roti coklat, sedangkan Lukas hanya meminta untuk aku menemaninya sebelum berangkat. Tapi kamu, kamu malah minta yang sangat berat” ucap Arya yang membuat semuanya tertawa kecuali Lily dan Lukas.


“Nahkan, apa yang diucapkan Qisya memang benar loh. Lagian kamu sudah cukup umur Arya. Jika kamu ketuan nanti, yang ada malah enggak ada yang mau bahaya ya kan, Bah... hehe...” ledek Umi.


“Ya benar, Arya. Kamu segera cari pendamping biar rumah sebesar itu tidak sepi penghuninya, sekarang saja berasa kaya enggak ada orangnya. Kalau ada suara tangisan bayi kan jauh lebih rame ya kan hehe...” ledek Abah.


“Yaaakkk... Dasar kalian ini bisanya hanya meledekku saja, lagian umurku belum tua jadi harus fokus merintis usaha agar semakin maju. Seperti yang kita ketahui, jodoh sudah ada yang mengatur kalau sudah waktunya juga akan di pertemukan sendiri” saut Arya dengan kesal.


“Dek... Jodoh memang sudah ada yang mengaturnya, tapi kita juga harus berusaha untuk mencari dan mendapatkannya. Masalah baik atau tidaknya itu pasti akan ketahuan seiring berjalannya waktu. Jadi kamu harus segera mencari wanita yang akhlaknya bagus, supaya bisa menghormati serta sayang terhadap orang tua” ucap Hana.


“Ya kaya aku begini kan meski aku memang tidak sempat punya pikiran untuk mencari pendamping, tapi Allah mendekatkan kami dengan perantara Qisya. Awalnya kami hanya melakukannya demi Qisya, tapi kini malah berbuah manis ya kan sayang...” ucap Brian sambil menatap Hana.


“Ya, Mas. Alhamdulillah, tapi semoga saja nasib Arya jauh lebih bagus. Supaya tidak merasakan seperti kita, aku tidak mau sampai adikku merasakan apa yang aku rasakan dulu” ucap Hana.


“Ya, kamu memang benar sayang. Aku juga tidak mau jika Arya merasakan hal itu, aku saja yang menyakitimu benar-benar sangat menyesal jadi jangan sampai kejadian itu terjadi oleh Arya” ucap Brian.


“Aduhh... Sepertinya aku harus pulang deh, ya sudah aku pamit pulang dulu ya. Dan untuk kalian ponakan Om jangan nakal-nakal ya, nanti jika urusan Om sudah selesai Om akan kembali ke sini, dahh...” saut Arya yang mengalihkan perhatian semuanya dan langsung bersalaman kepada semua orang untuk berpamitan.

__ADS_1


Arya langsung meninggalkan kediaman rumah keluarga Brian. Semuanya yang sudah sangat lelah langsung beristirahat menuju kamarnya masing-masing karena hari sudah semakin malam membuat mereka sedikit merasa lelah.


...*...


...*...


1 minggu telah berlalu...


Brian, Hana dan 3 kurcaci pun bersiap-siap untuk berangkat ke Amerika hari ini. Yang dimana kemungkinan mereka akan tinggal di sana cukup lama sampai akhirnya nanti mereka akan kembali ke Indonesia.


“Sayang, apa sudah siap semuanya? Jika kita kesiangan nanti, yang ada akan semakin macet di perjalanan loh...” teriak Brian dari bawah.


“Ya, Mas ini sudah kok. Sebentar ya...” teriak Hana dari atas kamar Lily.


Qisya dan Lukas sudah lebih dulu untuk bersiap-siap. Namun Lily dia sangat susah karena banyak sekali yang mau di bawa dari mulai mainan, boneka segala macam yang membuat Hana harus membujuknya terlebih dahulu.


Pada akhirnya Lily bisa sedikit mengerti dan hanya membawa mainan atau boneka kesayangannya saja. Hana dan Lily turun saling bergandengan serta tangan satunya Hana memegang koper Lily.


Brian yang melihat itu pun langsung segera menolong Hana untuk membawakan koper Lily. Setelah semua koper sudah siap masuk ke bagasi mobil, lalu mereka semua memasuki mobilnya menuju bandara.


Sesampainya di sana mereka langsung berjalan menuju pesawat yang mana mereka harus merasakan perpisahan yang begitu menyayat hati. Sehingga mereka berlima langsung berpamitan satu persatu sambil memeluk yang lainnya hingga menangis sesenggukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu ya cerita hari ini semuanya... 😁😁😁


Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗


Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗


Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2