
Tak lama terlihat notif tulisan berdering, yang artinya sambung telepon sudah menyambung. Mereka hanya perlu menunggu beberapa menit, apakah Anna akan menjawabnya atau tidak.
Ash terlihat begitu gugup, gelisah dan juga detak jantungnya memompa cukup cepat. Baru kali ini Ash merasakan jatuh cinta setelah dia berusaha keras menghilangkan perasaannya dari Sasya.
Namun, kali ini berbeda. Ash merasa jika dia benar-benar telah jatuh cinta sepenuhnya kepada Anna, berbeda ketika dia mencintai Sasya yang masih memikirkan antara persahabatan atau cintanya.
"Bagaimana?" tanya Sasya, sedikit cemas.
Ash hanya bisa mengangkat kedua bahunya sekilas, kemudian dia menunjukkan ponselnya yang masih berdering.
Sayangnya, panggilan malah terputus. Rasa kecewa dan juga sedikit putus asa mulai menyelimuti hati Ash.
"Sudah aku bilang, kan. Dia itu tidak ada perasaan, jadi enggak usahlah ngomporin. Aku tidak mau kembali merasakan sakit hat--"
Ash menghentikan ucapannya ketika ponselnya berbunyi, satu nama yang begitu berkesan mampu membuat kedua mata Ash berbinar penuh keterkejutan.
"Makannya jadi orang jangan pesimis. Terbukti bukan, jadi cepatlah angkat sebelum dia mematikan teleponnya!" ujar Sasya, antusias.
Ash berusaha menetralkan detak jantungnya, sedikit melirik kearah Sasya yang terus berusaha menyemangatin Ash.
Perlahan, Ash mencoba menarik tombol hijau kearah atas bersamaan munculnya wajah Anna yang berhasil membuat wajah Ash memerah.
[Hai ... Maaf ya aku baru lihat, soalnya tadi aku lagi keluar sebentar dan lupa bawa ponsel. Pas aku lihat, ternyata ada panggilan tak terjawab darimu.] ucap Anna sambil tersenyum.
[Ohya ... Ada apa, Ash? Tumben, apa kau lagi tidak sibuk? Bukannya, jam segini kamu sedang istirahat?] sambung Anna yang masih setia tersenyum menatapnya.
Ash dari tadi hanya terdiam menatap wajah Anna, rasanya ingin sekali Ash langsung terbang menemui Anna. Lalu, menyatakan cintanya sambil memeluknya.
Kembali lagi, Ash sadar jikalau status mereka cuman sekedar bersahabat. Bahkan Ash juga tahu perasaan ini mungkin saja, hanya dia yang memilikinya.
Jadi menurut Ash, bisa melihat wajah Anna dengan cara seperti ini sudah mengobati rasa rindu didalam hatinya yang seakan-akan ingin sekali memberontak.
Rasanya Ash mau berteriak dan berkata. "Anna, aku sangat merindukanmu!"
"Ada satu hal yang belum kamu ketahui yaitu, ketika pertama kali kita bertemu, ternyata aku sudah mulai menaruh hati padamu,"
"Namun, aku belum siap mengatakan bahwa kamu bagian dari belahan jiwaku yang hilang."
__ADS_1
Ash melamun menatap wajah Anna, seketika Anna mengerutkan dahinya saat melihat Ash hanya bisa terdiam tanpa menjawab pertanyaannya.
Beberapa kali Anna memanggil Ash, tapi dia enggan terbebas dari lamunannya. Sehingga Sasya yang melihatnya begitu kesal, langsung mencubit paha Ash sedikit keras.
Dari situ Ash memekik keras sambil mengusapnya menoleh kearah Sasya dengan tatapan tajam. Sedangkan Sasya, dia selalu menunjuk ke arah ponsel Ash yang mengarah ke atas langit.
"Ssstt, itu ponselmu. Lihat ponselmu!" Sasya menunjuk ke arah ponsel Ash dengan suara lirih layaknya seseorang yang sedang berbisik.
Ash masih belum tersadar, bahkan dia malah menatap wajah Sasya. Ash sangat bingung ketika melihat sikap Sasya yang begitu aneh.
"Astaga, Ace! Ponselmu itu, lihatlah!" sambung Sasya kembali.
"Apaan sih, maksud!" sahut Ash, sedikit kesal.
Namun, suara Anna berhasil membuat Ash segera menoleh ke arah layar ponselnya.
Wajah Ash benar-benar syok ketika dia baru saja menyadari bahwa dari tadi dia sedang melakukan panggilan bersama Anna.
Akibat keterpesonaan Ash terhadap Anna, membuat Ash menjadi ngeblank. Kegugupan Ash mampu mengundang tawa bagi Sasya.
[Ash, apa kamu baik-baik saja disana? Aku dengar kamu berteriak gitu, apa ada sesuatu yang terjadi denganmu?] tanya Anna, wajahnya terlihat sedikit cemas.
[Oh, begitu. Aku ki--]
A-awshh ...
Sasya kembali mencubit paha Ash lantaran dia tidak terima dikatakan binatang olehnya. Mata Sasya melotot ke arahnya, Ash langsung melirik kesal sambil mengelus pahanya sendiri.
[Kenapa, Ash? Apa binatang itu kembali menggigitmu?] tanya Anna, bingung.
[Sepertinya begitu, hehe ....] jawab Ash, tertawa kecil.
[Astaga, kenapa binatang itu senang sekali mengganggumu?] ucap Anna.
[Entahlah, aku juga bingung. Mungkin karena kau terlalu manis, jadi dia selalu menggangguku.] sahut Ash sekilas melirik ke arah Sasya.
"Ash, kau!" geram Sasya, tangannya mulai mengisyaratkan bahwa dia akan segera menerkam Ash.
__ADS_1
Sesekali Ash melirik ketakutan, tetapi dia tetap berusaha untuk setenang mungkin agar tidak membuat Anna menjadi curiga padanya.
[Hem, seperti itu. Kenapa tidak kau matikan saja, siapa tahu dia binatang berbahaya. Apa lagi, banyak binatang kecil yang terkadang meresahkan. Jadi, lebih baik kau matikan saja biar aman!]
Anna berbicara spontan tanpa merasa bersalah sama sekali. Ash mendengar perkataan Anna berusaha keras untuk menahan tawanya, ketika melihat wajah Sasya begitu syok.
Sampai seketika ide jahil muncul dipikiran Ash, sambil menjawab ucapan Anna. [Ya, kau memang benar, Anna. Sepertinya aku harus segera membasminya, agar tidak akan membahayakan diriku sendiri.]
"Yak! Dasar teman tidak tahu diri, sudah dibantuin biar bisa mengetahui apakah Anna juga mencintaimu atau tidak. Sekarang malah mengejekku, menyebalkan!" gumam Sasya kesal sambil berdiri menatap tajam ke arahnya.
Sasya pergi dalam keadaan mengambek, sesekali menginjak-injakkan kedua kakinya ke tanah, lalu pergi meninggalkan Ash seorang diri.
Anna terkejut mendengarnya. Tetapi bukan terkejut akibat suara Sasya, melainkan perkataan Sasya yang menyebut namanya sangat jelas.
Ash yang berniat ingin menjahili Sasya, tiba-tiba malah dirinya yang terjebak didalamnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung bagi Sasya, berhasil membongkar semuanya disaat sambungan ponsel masih terhubung sama Anna.
Rasa gugup, panik dan juga malu kini bercampur aduk menjadi satu. Mereka berdua sama-sama menunjukkan ekspresi wajah yang mulai memerah akibat menahan malu.
[Ta-tadi si-siapa ya-yang ngomong be-begitu? Ke-kenapa dia me-menyebut namaku?] tanya Anna sedikit terbata-bata, rasa gelisah mulai menyelimutinya.
Ash terdiam sejenak, dia mencoba untuk berpikir keras. Bagaimana caranya agar Anna tidak sampai marah, apa lagi Ash belum sepenuhnya percaya sama Sasya, jika Anna juga sudah mulai menaruh hati padanya.
[E-enggak, i-itu bu-bukan namamu kok. Mu-mungkin hanya mirip saja. Ya-ya sudah, A-aku off dulu ma-mau ke kantin be-beli makan,]
[Jam istirahatku tinggal beberapa menit lagi, karena sebentar lagi aku akan ada operasi. Jaga dirimu baik-baik ya, jangan lupa jaga kesehatan. Jika ada apa-apa segera hubungi aku, dahh ....]
Ash berbicara dalam keadaan tergesa-gesa, dia sudah kepalang malu akibat ulah Sasya. Dengan begitu, Ash segera meminta izin untuk ingin mengakhiri panggilan tersebut.
[O-oh, be-begitu. Ba-baiklah, se-semangat ke-kerjanya ya, dan ja-jaga kesehatanmu. Jika bu-butuh teman me-mengobrol, hubungi aku saja, a-aku tidak a-akan keberatan kok.] sahut Anna, wajahnya sudah sangat merah.
[Te-terima ka-kasih, na-nanti a-aku kabarin lagi, ya-ya sudah a-aku tutup dulu te-telponnya. Dahh ....]
Ash mematikan ponselnya ketika Anna tersenyum menganggukan kepalanya. Jantung mereka berdebar sangat cepat, nafasnya mulai memburu dan juga wajahnya terasa begitu panas.
Ash memegang detak jantungnya sendiri, dia bisa merasakan cinta yang besar untuk Anna. Apakah yang dikatakan Sasya benar, jika dia harus secepat mungkin mengejar cintanya pada Anna? Atau dia harus membiarkan cinta itu padam seiring berjalannya waktu?.
Entahlah, Ash bingung. Dia segera bangkit dari kursinya menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sedikit kosong.
__ADS_1
Namun, disana Ash malah bertemu dengan Sasya yang sedang asyik makan. Ash terus mengoceh sepanjang Sasya makan, sedangkan Sasya hanya bisa sesekali tertawa dan juga mengejek Ash.
Niat hati ingin menjahili Sasya, kini malah Alex sendiri yang terkena batunya. Untungnya Anna bisa mempercayainya, walaupun Ash tidak bisa memastikannya 100 persen, setidaknya Ash tidak akan terlalu malu pada Anna nantinya.