
“Hiks.. yang sabar ya sayang, kita doakan untuk Hana dan anakmu yang ada diperutnya agar semuanya baik-baik saja. Mamah tahu menantu Mamah kuat kok, bahkan anaknya saja kuat jadi Bundanya juga akan kuat. Kita serahkan semuanya kepada Allah” saut Nyonya Syifa sambil memeluk Brian.
Brian pun membalasnya sambil menumpahkan semua rasa sedih serta penyesalannya yang begitu dalam kepada sang Mamah.
Namun, di saat mereka sedang mencoba menguatkan satu sama lain. Tiba-tiba saja Tuan Ferry tersadar sambil melihat ke arah mereka dan berkata “Ma-Mamah... Bri-Brian...” ucap Tuan Ferry dengan suara lemasnya.
Brian dan Nyonya Syifa seketika menatap ke arah Tuan Ferry dengan wajah terkejutnya bercampur dengan rasa senang.
“Alhamdulillah... Papah akhirnya sadar juga. Sekarang tinggal Qisya yang masih tidur” ucap Brian sambil melirik Qisya yang masih tertidur dengan pulas.
“Di- di mana Hana? Kok dia tidak terlihat di ruangan ini?” tanya Tuan Ferry dengan mata yang melirik-lirik mencari keberadaan menantunya.
“Hana masih ada di ruang operasi, Pah. Hana mengalami luka yang cukup berat dari kita semua. Itu disebabkan karena ia berusaha untuk melindungi Qisya. Bahkan anak kami pun ikut selamat dari kejadian ini” ucap Brian sambil menatap Tuan Ferry sambil duduk di tengah-tengah bangkar mereka berdua.
“A-anak? Ma-maksudnya?” tanya Tuan Ferry dengan wajah bingungnya seolah-olah ia sedang tidak bisa mencerna kode dari perkataan Brian.
“Hana sedang mengandung, Pah. Makannya Mamah tadi senyum-senyum sendiri karena sudah mengetahuinya. Bahkan Mamah yang menyuruh Brian untuk periksa ke dokter agar kita bisa pastikan dugaan Mamah benar atau salah. Niat Mamah ingin membuat kejutan kebahagiaan untuk semuanya, kini malah menjadi kejutan kesedihan” ucap Nyonya Syifa untuk membantu Brian menjelaskan semuanya.
Tuan Ferry yang mendengar semua itu merasa sangat terkejut bahkan ia tak sengaja meneteskan air mata kebahagiaan sambil berkata “Ha-Hana hamil? Dan cu-cucuku akan bertambah”
Brian dan Nyonya Syifa yang baru kali ini melihat Tuan Ferry meneteskan air mata tanpa sadar membuat mereka tersenyum sangat bahagia.
Hanya mendengar berita kehamilan Hana bisa sampai membuat Tuan Ferry menangis saking bahagianya.
“Lalu, bagaimana keadaan mereka di ruang operasi Brian? Kenapa kamu tidak menemaninya di sana?” tanya Tuan Ferry dengan wajah bingungnya.
“Brian ingin sekali menemani Hana di sana, Pah. Tapi dokter menyarankan agar Brian beristirahat lebih dulu. Bahkan, dokter sudah menyuruh suster untuk ke sini jika operasi Hana sudah selesai” ucap Brian.
“Tapi kalian tidak apa-apa kan?” tanya Tuan Ferry kepada Brian dan Nyonya Syifa.
“Kami baik-baik saja, Pah” ucap Nyonya Syifa sambil tersenyum menatap suaminya.
__ADS_1
“Hiks... Bunda, Isa takut. Ayah, Opa, Oma hiks...” Qisya terisak di dalam tidurnya dengan trauma yang masih melekat di pikirannya.
Brian yang mendengar suara Qisya langsung dengan langkah pincangnya mendekati bangkar Qisya. Lalu ia mencoba memeluk Qisya sambil menenangkan serta membangunkan Qisya dari tidurnya.
“Sayang, bangun Nak. Ini Ayah sayang, Oma dan Opa juga ada di sini loh. Ayo, buka matanya sayang” ucap Brian sambil meneteskan air matanya saat menatap serta mengelus wajah mungil Qisya dengan lembut.
“Hiks... Ayah, Bunda ana... Bunda ana. Isa mau peyuk Bunda Ayah. Adi Isa mimpi alau Bunda pelgi jauh. Isa ndak mau diinggalin Bunda, Ayah hiks...” ucap Qisya sambil menangis dengan sangat kejar membuat jantung Brian berdebar sangat kencang.
Brian yang mendengar ucapan Qisya seketika terdiam layaknya seorang patung, bahkan kini deru nafas serta jantungnya sudah mulai tidak beraturan.
Pikiran Brian pun mulai berkelana kemana-mana memikirkan keadaan Hana.
“Sayang, kamu tidak akan meninggalkan aku kan, kamu sedang hamil loh. Apa kamu tidak kasihan dengan anak kita. Kamu pasti kuat kan? Aku sayang kamu, Hana. Aku benar-benar mencintaimu. Please, aku mohon jangan tinggali aku. Jika kamu pergi, maka aku pun akan ikut bersamamu ” ucap Brian di dalam hati kecilnya sambil terdiam dan terus menerus mengeluarkan air matanya.
“Ayah hiks... enapa diam, Bunda ana Ayah, Isa mau ketemu Bunda. Ayo Ayah ke Bunda. Isa ndak mau Bunda pelgi jauh-jauh. Isa tayang cama Bunda. Isa ndak mau kehilangan Bunda agi. Isa ndak mau pokona Isa mau Bunda, hiks... hua... hiks... Bunda” teriak Qisya dengan isak tangisnya.
Nyonya Syifa dan Tuan Ferry berusaha bangun dari bangkarnya secara perlahan kemudian berjalan dengan langkah lambatnya sambil mengangkat botol impusan dan mendekati bangkar Qisya
Hampir 3 jam lamanya Hana berada di dalam ruang operasi, dan saat ini ada satu suster yang berjalan menuju kamar rawat keluarga Brian.
Tok... tok... tok...
Sang suster mengetuk pintu kamar rawat kemudian membuka handle pintu dengan perlahan, kemudian ia masuk dengan membawa sebuah berita tentang Hana.
“Permisi.. Tuan, Nyonya. Saya ke sini ingin menyampaikan berita jika Nyonya Hana sudah selesai di operasi. Namun, ia masih harus menjalani perawatan khusus di ruang ICU karena kondisinya sangat kritis, dan memerlukan bantuan untuk bertahan dari alat medis. Kami pun setiap setengah jam sekali akan mengecek kondisi Nyonya Hana dan kandungannya”
Sang suster mencoba untuk menjelaskan semua tentang kondisi Hana.
“Saya ingin bertemu dengan istri saya, sekarang juga!!” ucap Brian dengan wajah datarnya serta suaranya yang mulai dingin.
“Ba-baik Tuan, tapi jika ingin melihatnya hanya di perbolehkan satu persatu masuknya secara bergantian serta anak kecil tidak boleh masuk ke ruangan. Dan yang penting jangan lupa memakai baju medis lengkap” jawab sang suster dengan nada sedikit ketakutan.
__ADS_1
“Ya sudah, kamu pergi duluan lihat istrimu. Biar kami di sini dulu untuk menjaga Qisya yang masih butuh istirahat” ucap Tuan Ferry sambil menatap wajah Qisya yang sudah mulai kembali mengantuk dan tertidur.
“Titipkan salam kami kepada Hana, kami semua sayang sama dia. Bilang sama dia untuk tetap bertahan dan kuat demi kita serta anak di dalam kandungannya” saut Nyonya Syifa.
Saat ini pikiran Brian benar-benar kacau, ucapan Qisya masih terngiang-ngiang dalam pikirannya.
Bahkan sifat Brian sudah menjadi seorang pria yang sangat dingin bahkan cuek. Ia berusaha menutupi rasa takutnya dengan sikap dinginnya agar orang lain tidak bisa mengasihaninya.
Brian berjalan lebih dulu diikuti sang suster dengan mendahului Brian. Tak membutuhkan waktu lama, kini Brian sudah berada di ruang ICU.
Brian melihat dari jendela kaca yang besar betapa sakit hatinya saat melihat wanita yang selama ini ia berusaha untuk membuatnya menderita namun masih tetap kuat. Kini, menjadi sangat lemah tak berdaya dengan bantuan alat-alat medis di seluruh tubuhnya.
Sang suster mempersilahkan Brian supaya memasuki ruangan serta di ajari bagaimana caranya memakai semua pakaian serta mensterilkan tubuhnya.
Dengan perlahan Brian melangkahkan kakinya untuk menemui Hana, meski pun berat rasanya untuk Brian melihat keadaan Hana yang saat ini.
Brian mencoba untuk menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya agar degup jantungnya kembali normal. Semua keberanian Brian kumpulkan supaya lebih kuat untuk menemui Hana serta agar ketakutan di dalam diri Brian sedikit berkurang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali lagi dengan Author kalian yang masih banyak kekurangan ini... 😆😆😆
Sampai sini dulu ya cerita untuk hari ini para pembaca setiaku... 😉😉😉
Bagaimana menurut kalian? Apa yang akan terjadi pada Hana nantinya??? 🤔🤔🤔
Jika kalian penasaran maka tunggulah kelanjutan cerita mereka disini... 😁😁😁
Terus dukung Author yaaa... Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1