
Jika kenyataannya Sasya tidak mengandung maka, mereka akan semakin kecewa. Jadi, mau tidak mau Sasya lebih memilih mengeceknya menggunakan test pack.
Bunda Hana dan Alex pun menyetujui keputusan Sasya, setidaknya dia sudah berusaha mau mencoba melakukannya. Walaupun perasaan Sasya masih terlihat gelisah.
"Ya sudah, kalau begitu Bunda belikan dulu test packnya ya." ucap Bunda Hana, yang baru saja mau bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak usah, Bun. Biar Alex saja, Bunda tinggal kasih tahu aja merek atau jenis-jenisnya biar Alex tidak salah. Kalau perlu nanti Alex fotokan saja pas ditempatnya ya." sahut Alex, antusias.
"Baiklah, belikan saja yang akurat dari semua jenis test peck. Kalau perlu belinya 5 sampai 10 biar bisa lebih membuktikan, jangan lupa cek setiap tanggal kadaluarsanya ya." nasihat Bunda Hana.
"Siap, Bun. Ya sudah Alex berangkat dulu ya, titip Sasya."
"Kamu juga Sayang, jangan makan yang aneh-aneh. Aku enggak mau anak kita kenapa-kenapa, paham kan."
Alex mengelus kepala Sasya dan diangguki olehnya sambil sedikit tersenyum. Kemudian Alex pun bangkit dari kursinya, lalu pergi kearah kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan juga jaket.
Setelah itu, Alex pergi menggunakan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Ace selalu tersenyum bahagia, dia tidak menyangka bahwa istrinya telah mengandung benihnya.
Ya, walaupun belum pasti. Tapi Alex sangat yakin, ketika dia kembali mengingat perlakuannya beberapa hari ini yang selalu senang ketika bisa mengusap atau pun menciumi perut istrinya.
15 menit berlalu, Alex telah sampai disalah satu toko terbesar yang menjual beberapa macam test pack. Dia bahkan membeli 20 jenis test pack. Dari yang harganya murah sampai harganya tinggi.
Disaat semua sudah masuk kedalam kantung kecil, kini Alex pun membayarnya dan segera meninggalkan toko tersebut untuk segera memberikannya pada istrinya.
...*...
...*...
Sesampainya dirumah, Alex langsung berlari menghampiri istri dan mertuanya diruang keluarga.
__ADS_1
Dimana Alex menemukan Sasya sedang memakan spaghetti, padahal beberapa jam lalu dia sudah menghabis banyak makanan.
Namun, bagi Alex itu tidak masalah. Yang terpenting Sasya makan bukan untuknya sendiri, melainkan untuk anak yang ada didalam perut istrinya.
Alex duduk sambil memberikan kantung tersebut kepada Bunda Hana untuk dicek apakah benar yang ini atau bukan, cuman Bunda Hana malah terkejut sama jumlah test pack tersebut.
"Ya ampun, Alex. Kamu membeli test pack banyak banget? Kenapa enggak sekalian tokonya saja yang kamu beli hehe ...." canda Bunda Hana.
Alex hanya bisa terkekeh menggaruk tengkluknya yang tidak gatal. Sedangkan Sasya masih asyik sama makanannya yang terlihat begitu menggiurkan.
Setelah selesai makan, Bunda Hana memberikan test pack tersebut kepada sang anak. Sasya hanya bisa menerimanya sambil melirik kearah Bunda Hana dan Alex secara bergantian.
"Ayo, Sayang kamu harus berani untuk mencobanya. Aku yakin kok didalam perutmu ini sudah ada anakku, kasihan loh jika kamu enggak mau mengakuinya. Bisa-bisa nanti dia sedih saat Mommynya telah meragukan keberadaannya." ucap Alex.
"Benar yang dikatakan oleh suamimu, Sayang. Kakak harus berani untuk melakukannya. Siapa tahu, ini rezeki 'kan?" jawab Bunda Hana, mengelus kepala anaknya.
"Baiklah, tapi jika hasilnya ne---"
Alex dan Bunda Hana terus menyemangati Sasya agar dia tidak mencemaskan hasilnya lebih dulu. Sasya tersenyum mengangguk, perlahan mereka bertiga bangkit. Kemudian segera berjalan menuju kamar Sasya.
...*...
...*...
Dikamar Sasya hampir kurang lebih 10 sampai 15 menit, akhirnya Sasya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit menegang.
Begitu juga sama Ace, awalnya dia terlihat panik menunggu detik-detik kehadiran anak pertamanya. Bunda Hana langsung mendekati Sasya dan mencecarnya beberapa pertanyaan mengenai hasilnya.
Sasya yang tidak berani melihatnya langsung memberikan semua test pack yang sudah dia coba kepada Bunda Hana yang lebih mengetahuinya.
__ADS_1
Alex tidak keberatan karena dia juga belum mengerti sama semuanya. Perlahan demi perlahan Bunda Hana mengecek semuanya, dan hasilnya positif.
Dari 20 test pack semua hasilnya sama, yaitu garis 2 yang terlihat begitu jelas. Ya walaupun ada beberapa yang samar.
Semuanya tetap menunjukkan hasil, bahwa saat ini Sasya benar-benar telah mengandung anak dan juga cucu pertama.
"Kak, lihat ini. Ha-hasilnya po-positif semua, hiks ...."
Bunda Hana menunjukkan salah satu hasil dari semuanya yang sangat terlihat jelas. Sasya yang tidak percaya langsung mengambilnya, lalu melihatnya secara intens begitu juga sama semua hasilnya.
"Bu-bun, i-ini be-benar? Ka-kalau Sa-sasya telah ha-hamil anak pertama?" gumam Sasya, lirih.
"Se-serius Bun? Sa-sayang? Ja-jadi, se-sebentar lagi a-aku akan men-menjadi Daddy?" ucap Alex, penuh kebahagiaan.
Bunda Hana hanya bisa meneteskan air matanya, dia tidak menyangka sebahagia inikah ketika dirinya mengetahu bahwa cucu pertamanya sebentar lagi launching.
"Mas, se-sebentar lagi ki-kita a-akan me-menjadi o-orang tua hiks ...." ucap Sasya, antusias sambil menatap perutnya dan mengusapnya perlahan.
Isak tangis ketiganya pecah disaat Alex berlutut dihadapan Sasya, mengusap serta mencium perut istrinya yang masih terlihat rata.
"Se-selamat datang anak Daddy, baik-baik diperut Mommy ya Sayang. Janji sama Daddy ya, Baby jangan nakal sama Mommy ya,"
"Kasihan Mommy nanti jadi sakit loh, yang terpenting Daddy mau Baby dan Mommy sehat-sehat semuanya ya. Daddy sayang banget sama kalian, i love you more Baby hiks ...."
"Terima kasih karem Baby sudah hadir menjadi pelengkap untuk Daddy dan Mommy, sampai kapan pun Daddy akan berusaha membahagiakan kalian semuanya. Daddy janji, Daddy akan menjadi Daddy terbaik yang kalian miliki."
Kata-kata manis terucap dari bibir Alex begitu tulus, dia memeluk perut Sasya begitu erat sesekali menciumnya.
Sasya dan Bunda Hana yang menyaksikan betapa bahagianya Alex, hanya bisa tersenyum sambil menangis. Bahkan tangan Sasya mengusap kepala suaminya begitu lembut.
__ADS_1
Selang beberapa menit Alex berdiri dan memeluk istrinya sambil menciumi wajahnya. Alex sangat bersyukur atas kenikmatan rezeki yang hari ini datang untuknya.
Sasya pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa mengucapkan bahwa dia sangat bahagia bisa mewujudkan impian suaminya yang beberapa bulan tertunda akibat keegoisan mereka keduanya.