
Kini sang Kakek terlihat sangat bahagia dan juga bersemangat. Padahal tadi dia sangat susah di bujuk untuk makan atau pun minum obat.
“Sus... maaf ya, Ayah saya itu memang begitu. Maklum saja sudah tua jadi dia bertingkah layaknya seorang anak kecil. Tetapi suster tidak keberatan kah untuk menyuapi Ayah saya? Soalnya dari tadi saya kesusahan membujuknya bahkan sudah menyerah. Namun suster datang, Ayah saja jadi semangat ingin makan. Jadi saya mohon Sus... bantu Ayah saya supaya ada asupan makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya yang sudah kosong itu...”
Anak sang Kakek menjelaskan betapa susahnya dia untuk membujuk Ayahnya itu agar mau dia mau makan dan pada akhirnya ada keajaiban yang datang dan membuat sang Kakek pun bersemangat kembali untuk makan.
“Tidak apa-apa Nyonya, itu sudah tugas saya. Selagi Kakek senang dan dia mau makan, maka tak masalah bagiku yang penting Kakek harus sembuh ya... janji?” ucap suster Anna dengan dia tersenyum manis.
“Yaak... kalau aku sembuh, nanti enggak bisa ketemu suster cantik lagi dong...” ucap Kakek dengan wajah sedihnya.
“Loh kok berbicara seperti itu, harusnya Kakek bersyukur dong... karena di luar sana itu banyak yang sedang berusaha keras untuk melawan penyakitnya demi kesembuhan. Ingat loh Kek... sakit itu sangat tidak enak, kasihan cucu Kakek di rumah dan juga anak-anaknya Kakek yang ingin sekali melihat Kakek kembali sembuh. Kalau Kakek sakitnya lama, pasti mereka semua sedih lihatnya. Apa Kakek tidak kasihan hem...”
Suster Anna berusaha menasihati sang Kakek agar ia mengerti jika kesembuhan itu adalah sebuah anugerah yang sangat luar biasa bagi seorang pasien.
“Jangan panggil aku Kakek, tapi panggil aku Honey oke...” ucap sang Kakek yang mampu membuat semua orang refleks melototkan mata menatap sang Kakek yang kini sedang tersenyum.
Suster Anna yang mendengar itu semua, membuat tubuhnya lemah dan hampir pingsan. Entah mengapa kegenitan dari Kakek itu melebihi sang Nenek. Mungkin saja jika di satukan, maka mereka akan sangat cocok yang mana satunya manja dan satunya tidak mau berjauh-jauhan. Lengkap sudah penderitaan suster Anna dan Ash dalam menangani pasien yang benar-benar sangat menguras tenanga dan juga mental.
“Ekhem... ma-maaf ya Kek, kalau untuk masalah itu suster Anna tak bisa karena jika suster Anna memanggil Kakek dengan sebutan Honey, nanti bisa-bisa dia di pecat dari rumah sakit ini karena ketahuan. Memangnya Kakek mau jika Kakek tidak bisa ketemu dengan suster Anna lagi, hem...”
__ADS_1
Ash berusaha untuk menolong suster Anna yang sudah tidak tahu lagi harus bicara apa lagi. Suster Anna hanya bisa menoleh menatap Ash yang membuat Ash lalu mengedipkan perlahan kedua matanya. Seolah-olah dia memberikan isyarat jika semuanya akan baik-baik saja.
“Oh begitu... ya sudah gapapa. Panggil Kakek juga boleh, asalkan suster cantik selalu mengunjungi aku bersama dokter Ash yaa hehe...” ucap Kakek yang malah membuat anaknya itu menggelengkan kepala saat melihat kelakuan Ayahnya yang begitu centil pada wanita cantik.
“Pasti... nanti Ash pastikan suster Anna akan selalu mengunjungi Kakek di sini, yang penting Kakek bisa cepat sembuh” ucap Ash dengan penuh senyuman.
Kakek yang mendengar ucapan Ash itu pun malah membuat wajahnya sangat murung sehingga suster Anna, Ash dan juga anaknya itu menjadi panik. Namun hanya dengan hitungan menit saja, sang Kakek berhasil membuat semuanya pun melongo menyaksikan tingkah seorang bayi gede menangis tanpa sebab.
“Hiks... dokter Ash jahat ihh hiks... masa aku di usir kan aku ini masih mau di sini hiks... na-nanti kalau aku pu-pulang, aku enggak bisa lihat suster cantik lagi deh huaa... hiks...” isak tangis Sang Kakek.
Seketika Ash menatap suster Anna yang sudah bingung melihat keanehan setiap pasien yang Ash tangani dan membuat sang anak dari Kakek itu langsung turun tangan, karena dia itu sangat tahu jika Ayahnya sedang melakukan sandiwara untuk menarik perhatian suster Anna.
“Hyaaaakkk... dasar anak menyebalkan! Kenapa malah bawa-bawa identitasku sih... lihatlah, suster Anna jadi tahu kan kalau aku ini mantan tentara. Pasti dia malu punya kekasih sepertiku gara-gara mulut lemesmu itu haahh... punya anak bukannya mendukung ehh... ini malah ia menjatuhkanku cckkk...”
Sang Kakek pun mulai emosi terhadap anaknya sendiri, yang malah membuat semuanya pun tertawa gemas melihat tingkah lucunya Kakek yang benar-benar seperti anak kecil yang menginginkan perhatian lebih. Sampai ketika Ash lalu memeriksa kondisi Kakek bersamaan dengan suster Anna yang menyuapinya.
Setelah semuanya selesai, lalu mereka keluar dari ruangan Kakek tanpa adanya drama. Entah kenapa tapi hanya dengan menghadapi 2 pasien, sudah membuat Ash dan Suster Anna itu merasa sangat kelelahan hingga Ash menoleh ke arah suster Anna.
“Mau ikut ke kantin enggak, Suster? I'm hungry...” Ash berkata dengan nada cuek dan juga sedikit dinginnya.
__ADS_1
“Sure... kebetulan aku juga sudah mulai lapar Dok” sahut Anna yang tersenyum sambil dia menatap Ash serta membuat jantung Ash berdetak cukup keras.
Saat ini Ash benar-benar terlihat seperti orang yang baru saja merasakan jatuh cinta dan juga dia mulai terpesona akan kecantikan dan kemanisan dari seorang suster Anna. Hanya saja Ash menangkis semuanya dan juga kembali fokus pada tujuannya yaitu untuk mendapatkan hati Sasya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih sepi nih 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja ya... 🤭🤭🤭
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semuanya... 🤗🤗🤗
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻