
Namun, Di saat tegang seperti ini malah ada seseorang yang sedang tertawa di sebuah taman dengan rasa bahagianya. Entahlah, senyuman dan tawa itu berhasil menarik perhatian seseorang yang ada di sampingnya.
...*...
...*...
...Central Park, New York, Amerika Serikat....
Ada seorang wanita berhijab sedang duduk di kursi taman sambil menikmati es krim di tangannya, tidak lain dan tidak bukan adalah Lily. Tak lupa di samping Lily selalu ada seorang pria tampan yang selama ini masih terus menemaninya.
Taman yang sangat luas nan indah menjadi salah satu tempat terfavorit bagi semua orang, termaksud mereka.
Bahkan mereka sering kali bersepedahan atau berjalan santai hanya untuk menikmati udara yang membuatnya sedikit fresh.
"Hem.. Enak ya Jay, kalau seandainya kita bisa seperti ini terus. Apa lagi kalau kita sudah menikah, pasti aku akan bawa semua anak-anak untuk main ke sini. Seru kan, ya dong hehe.."
Ucapan Lily mampu membuat Jay langsung menoleh ke arahnya penuh keterkejutan sambil berkata. "Ki-kita? Ma-maksudnya aku dan kamu me-menikah gitu?"
Seketika Lily langsung menyadari kebod*dohannya akibat mulutnya yang selalu keceplas-ceplosan dan tidak bisa di kontrol.
Lily terlihat begitu gugup saat Jay terus menatap ke arahnya untuk menunggu jawaban darinya. Namun, secepat kilat Lily segera mengalihkan pertanyaan Jay ketika melihat es krim ditangan Jay mulai menetes mengenai tangannya sendiri.
Jay membersihkan tangannya dan kembali menatap Lily, sedangkan Lily selalu berusaha menatap kearah lain agar tidak membuat Jay menaruh curiga padanya.
"Apa maksud ucapanmu barusan, Ly?" tanya Jay kembali.
"U-ucapan yang mana? Kok aku lupa ya.." sahut Lily dengan semua kegelisahannya dan berpura-pura untuk berpikir.
__ADS_1
"Sudahlah Ly, jangan berulah lagi. Apa maksud tujuanmu berkata seperti itu? Apa kamu mau menikah denganku?" Jay bertanya penuh keseriusan.
"Haaahh? Me-menikah de-denganmu? Ba-bagaimana bisa? Ki-kita kan sahabat Jay, la-lagi pula kita beda agama loh. Jadi sudahlah, aku tidak mau membahas itu. Lebih baik kita pulang yuk, Bunda udah nunggu di rumah"
Lily bergegas bangkit dari kursi dan membuang sampah es krimnya, kemudian berbalik menatap wajah Jay yang masih terdiam di tempat.
"Ayo, Jay! Apa kamu mau menginap di sini?" rengek Lily langsung membuat Jay bangkit membuang sampah es krimnya dan berjalan di sampingnya.
Selama mereka berjalan menuju mobil Jay, Lily selalu terdiam dan terus mengalihkan pandangannya tanpa berkata apa pun. Sedangkan Jay dia selalu memikirkan ucapan Lily.
Kemudian mereka masuk ke dalam mobil lalu bergegas pergi meninggalkan taman, kali ini mereka ke sini menggunakan mobil Jay tanpa membawa sepeda yang biasa mereka gunakan.
Hampir 5 menit mereka terdiam, Jay yang tak henti-hentinya di penuhi perasaan penasaran. Tanpa basa-basi Jay segera tutup poin kembali melontarkan pertanyaan yang mampu membuat Lily refleks menoleh dengan cepat.
"Jika agama kita sama, apa kita bisa menikah?" ucap Jay sesekali melirik ke arah Lily.
"Ya aku cuman mau memastikan jika agama kita sama, apakah kemungkinan besar kita bisa menikah?"
Lily terdiam kembali menatap ke arah depan, terlihat jelas bahwa Lily begitu bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa kepada Jay karena dia sendiri pun tidak mengerti sama perasaannya.
"Apa kamu mencintaiku?"
1 kalimat berhasil lolos dari mulut Lily, Jay langsung menghentikan laju mobilnya dengan menginjak rem dan hampir saja membuat kening Lily terbentur jika tangan Lily tidak refleks untuk melindunginya.
"Astaga, Jay! Apa-apaan sih, bagaimana jika aku terluka!" pekik Lily menatap tajam kearahnya.
"Ma-maaf, a-aku ti-tidak sengaja. A-apa ada yang terluka?" Jay menatap ke arah wajah Lily penuh ketelitian agar dia bisa mengecek apakah ada luka atau pun tidak, tahu sendiri disini Jay tidak bisa menyentuh Lily secara bebas.
__ADS_1
"Untungnya enggak ada, kalau ada pasti kamu sudah habis di tangan Bang Lukas" celoteh Lily penuh kecuekan dan kembali membenarkan posisi duduknya.
"Huhh.. Baguslah, setidaknya aku masih aman" Jay kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.
"Ohya, Ly. Tadi kan kamu mengatakan apakah aku mencintaimu , terus kalau aku jawab aku enggak mencintaimu apa responmu?"
"Biasa saja"
"Kalau aku bilang, aku mencintaimu?"
"Biasa saja"
"Kenapa dari 2 kalimat berbeda itu tetapi jawabannya tetap sama, biasa saja!"
"Entahlah! Yakk.. Ngapa jadi bahas itu sih, mendingan sekarang kamu fokus pada kecepatan mobilmu karena aku tidak mau mati konyol!"
Jay melirik Lily sedikit kesal dan fokus pada mobilnya, namun sesekali mereka saling melirik satu sama lain.
Dimana keduanya memang memiliki perasaan, hanya saja mereka masih enggan untuk saling terbuka satu sama lain. di satu sisi Lily berpikir bahwa mereka tidak akan bisa bersatu karena adanya perbedaan agama.
Dan di sisi Jay, dia diambang kebingungan karena sedari sekolah dia sudah mulai memiliki perasaan kepada Lily. Cuman, jika dia berpindah agama apakah keluarganya akan menyetujuinya? Apa lagi tidak mudah untuk seseorang berpindah agama hanya demi cinta.
Kalau pun bukan berpindah agama bagaimana mungkin Jay bisa mengejar cintanya pada Lily, sedangkan Lily tidak akan pernah berpindah agama.
Jay tahu jika Lily berasal dari keluar yang sangat berpegang teguh pada keyakinannya. Sehingga mereka tidak akan bisa tergoyahkan meskipun menyangkut masalah cinta.
Paling mereka akan berpikir bahwa lebih baik kehilangan cinta dari pada harus kehilangan agama yang sudah menjadi darah daging di tubuhnya sedari kecil.
__ADS_1
Sama halnya seperti Sasya dan Alex, dari situ Jay bisa belajar bahwasanya tidak mudah untuk seseorang bisa langsung berpindah agama. Banyak proses yang harus di lalui supaya bisa menyeram ilmu yang akan mereka jadikan paduan selama hidupnya.