
Yang mana, Alex dan Pinjai langsung segera membuntuti kemana pun Sasya pergi lantaran Alex tidak mau kehilangan jejak Sasya dan tidak akan pernah membiarkan Sasya pulang seorang diri.
...*...
...*...
Sasya berjalan dengan terburu-buru ke ruangan kepala dokter dengan wajah cemasnya, saking paniknya Sasya sampai tidak mengetahui jika Alex serta Pinjai mengikutinya dari arah belakang.
Sesampainya di depan ruangan kepala dokter, Sasya mencoba untuk menarik nafas terlebih dahulu untuk menenangkan hatinya yang sudah tidak karuan.
"Huhh.. tenang Sasya, tenang. Kamu pasti bisa, jadi berpikirlah secara positif ayo.. semangat. Bismillah.."
Sasya bergumam kecil sambil terus menenangkan dirinya sendiri agar saat bertemu dengan kepala dokter rasanya tidak segugup saat berkencan pertama kali dengan kekasih.
Tok.. tok.. tok..
Sasya menunjukkan senyumannya sambil mengetuk pintu ruangan kepala dokter dengan perlahan.
"Ya, masuk.." titah seseorang yang mana itu adalah kepala dokter.
Kemudian, Sasya membuka gagang pintu serta masuk ke dalam dengan perlahan dan tak lupa juga Sasya menunjukkan senyuman manisnya terhadap kepala dokter.
"Permisi, Mr. Hans. Maaf mengganggu waktunya, boleh saya berbicara dengan Anda?" ucap Sasya sambil berdiri di depan meja Mr. Hans yang kini sedang duduk menyandari di kursi kebesarannya.
"Boleh, silakan duduk dokter Sasya.." ucap Mr. Hans dengan sangat ramah dan tersenyum menatap Sasya, hingga Sasya pun duduk di salah satu kursi di depan Mr. Hans.
"Terima kasih banyak, Mr. Hans" sahut Sasya yang sudah duduk sambil menatap ke arahnya.
"Ohya, tadi katanya ada yang mau di bicarakan. Ada apa memangnya dokter Sasya? Apakah ada masalah dalam pekerjaanmu, atau-.." ucap Mr. Hans yang kini sudah langsung di potong oleh Sasya.
__ADS_1
"Maaf Mr. saya langsung memotong pembicaraan Mr. lantaran saya sudah tidak mau banyak berbasa-basi lagi. Waktu saya tidak banyak lagi, tujuan saya ke sini hanya untuk minta izin beberapa hari agar saya bisa kembali pulang ke rumah"
Sasya mengucapkannya dengan memberanikan diri, ya meskipun rasanya dia sangat gugup dan juga tegang membuat Sasya semakin deg-degan.
Mr. Hans menyipitkan matanya menatap wajah Sasya dengan keadaan aneh dan berkata, "Izin untuk pulang? Memang kau kira ini sekolahan yang bisa meminta izin sesuka hatimu, hem?"
"Kau ini sebentar lagi sudah akan menjadi seorang dokter, yang mana harus mementingkan keselamatan orang lain lebih dulu barulah keluarga"
"Apa kau lupa tugas seorang dokter? Atau haruskah saya kembali mengatahan apa itu dokter dan bagaimana caranya menjadi dokter yang hebat? Lagian, jika kau masih memikirkan rumah lebih baik jangan menjadi seorang dokter karena tugasnya sangatlah berat"
Mr. Hans berceloteh dengan nada yang sedikit kesal lantaran Sasya seperti tidak melaksanakan tugasya dengan sangat baik sebagai seorang dokter. Yang mana, Mr. Hans berpikir jika Sasya merupakan anak yang manja yang tidak bisa berlama-lama jauh dari keluarganya.
"Ma-maaf, Mr. Hans. Aku kira Mr. salah paham dan saya belum selesai berbicara. Di sini saya izin pulang ke rumah buka semata-mata karena saya lalai atau tidak becus dalam mengerjakan pekerjaan saya sebagai seorang dokter"
"Tapi, di sini saya izin lantaran Ayah saya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit. Jadi, saya hanya ingin meminta izin beberapa hari saja. Setelah itu saya akan kembali ke sini untuk mengejar pekerjaan saya yang tertinggal"
"Saya hanya ingin mengecek keadaan Ayah saya saja, setelah saya sudah melihat Ayah saya secara langsung dan dalam kondisi tidak seperti apa yang ada di bayangan saya"
Sasya memohon meminta izin kepada Mr. Hans untuk menemui sang Ayah yang sedang sakit, namun terlihat di wajah Mr. Hans dia sangat bingung apa lagi rumah sakit ini lagi benar-benar padat pasien sehingga ia tidak bisa langsung memutuskannya begitu saja.
"Baiklah, saya akan memikirkannya terlebih dahulu. Jadi, dokter Sasya bisa menunggu 1 sampai 3 hari kedapan. Barulah saya bisa memutuskan semuanya, karena saya harus mengecek semuanya terlebih dahulu"
"Jika, semua pasien aman dan semua dokter tidak ada yang keteter dalam menjalankan tugasnya maka saya akan memberikan izin kepada dokter Sasya"
Mr. Hans berbicara dengan tegas yang mana membuat Sasya langsung mengeluarkan air matanya, lantaran dia benar-benar sangat ingin pergi hari dan segera memeluk Ayah Brian.
Namun, di sisi lain Sasya juga mengerti jika meminta izin tidaklah sembarangan. Apa lagi dirinya adalah seorang dokter, ya walaupun belum mendapat gelar yang resmi namun tetap saja dia mempunyai tugas yang sama dengan para dokter lainnya.
"Ba-baiklah, Mr. ji-jika hari ini saya belum di perbolehkan pulang. Mungkin bukan rezeki saya, terima kasih atas waktunya, saya permisi terlebih dahulu untuk meneruskan tugas yang tertinggal"
__ADS_1
Sasya berbicara sambil berdiri dan sedikit membungkuk menatap Mr. Hans serta menghapus air matanya dan tersenyum.
Mr. Hans hanya bisa menganggukan kepalanya dengan tatapan aneh dan juga sedikit merasa kasihan melihat keadaan Sasya.
Namun, Mr. Hans juga harus memikirkan semuanya sebelum mengambil langkah agar tidak membuat kesalahan.
Alex dan Pinjai yang telah menguping dari celah pintu serta berjaga-jaga agar tidak ada yang melihatnya, kini mulai menjauhi pintu tersebut karena sebentar lagi Sasya akan keluar dari ruangan Mr. Hans.
"Sepertinya aku harus mengambil tindakan agar Sasya bisa bertemu dengan keluarganya. Aku tidak bisa melihat wajahnya sesedih itu, bahkan hatiku saja sangat sakit saat melihatnya menangis"
"Tenang, Baby. Aku akan menolongmu, tunggulah beberapa menit lagi. Pasti kamu akan mendapatkan kabar yang bahagia"
Alex bergumam di dalam dihatinya dibalik pepohonan bersama Pinjai, yang mana Pinjai bisa merasakan jika Tuannya itu seperti sedang merencanakan sesuatu karena Pinjai melihat senyuman yang mengukir di sudut bibir Alex terlihat sangat menyeramkan.
"Tuan, apakah kau sudah merencanakan sesuatu agar Nona Sasya bisa pulang hari ini?" tanya Pinjai yang langsung membuat Alex menoleh ke arahnya dengan senyuman devilnya.
"Menurutmu, hem..?" ucap Alex sambil menaikkan alisnya yang membuat Pinjai ikut tersenyum kecil seperti sudah membaca pikiran Alex.
"Sudahku duga, Tuan akan satu langkah di depanku" jawab Pinjai yang membuat Alex tersenyum dan kembali menatap kepergian Sasya dengan wajah yang masih bersedih.
Namun, jika seseorang yang tidak mengenal Sasya pasti akan melihat jika Sasya baik-baik saja.
Tapi, jika seseorang lebih mengenal Sasya pasti akan tahu di balik senyuman yang terukir di bibir Sasya ada rasa sakit atas menahan rasa rindu yang begitu mendalam terhadap keluarganya terutama sang Ayah yang akan menjadi pikiran Sasya.
Saat Sasya mulai menghilang dari pandangan Alex dan Pinjai, barulah mereka akan mulai keluar dari persembunyiannya.
Alex menatap Pinjai dengan senyum liciknya dan juga di balas oleh Pinjai. Terlihat jelas di wajah mereka jika aura dingin mencekram mulai keluar, dan memancarkan sisi gelap dari Alex.
Kini, saatnya seekor Elang mulai beraksi mencari mangsa yang sudah berani mengusik gadis kecil kesayangannya.
__ADS_1
Kemudian, Alex dan Pinjai langsung memasuki ruangan Mr. Hans tanpa mengetuknya terlebih dahulu sehingga membuat Mr. Hans begitu terkejut melihat kedatangan ke-2 orang yang sangat di segani.