Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Kecebong Mas Brian


__ADS_3

Di saat semuanya sedang bingung memikirkan jawabannya, kini tidak sengaja tangan Hana menggenggam tangan Qisya yang berada di dekatnya.


Qisya yang merasakan tangannya di sentuh langsung kaget dan menatap ke arah tangan Hana.


“Alhamdulillah, Ayah, Oma, Opa, Mbah Kung, Mbah Uti, Om Alya... Lihat tangan Bunda” teriak Qisya dengan sangat bahagia.


Semua orang yang sangat penasaran berlomba-lomba berlarian mendekati bangkar Hana, apa lagi Brian dia bagaikan bayangan yang langsung melesat dan melihat reaksi tangan Hana sedang menggenggam tangan Qisya.


“Sa-sayang, ka-kamu sudah sadar hiks... ayo buka matamu sayang aku mohon buka matamu hiks...” Brian menangis sambil menggenggam tangan Hana yang satunya dan sesekali menciuminya.


Tuan Ferry tidak lupa langsung menekan tombol merah untuk segera memanggil sang dokter.


Semua orang menangis melihat reaksi Hana yang sudah ada kemajuan.


Dan pada akhirnya perlahan demi perlahan Hana membuka matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu.


“Hiks... Ayah lihat Bunda bangun, Ayah Bunda bangun yey... doa Qisya dikabuli sama Allah hiks... Qisya senang banget” Qisya bersorak sambil menangis.


“Ma-mas Bri-Brian...”


“Qi-Qisya sa-sayang”


“A-abah, U-umi, Ma-Mah, Pa-Papah, A-Arya”


Hana memanggil semua orang dengan suara lirihnya sambil terbata-bata. Brian yang begitu senang kini langsung memeluk Hana untuk menumpahkan semua kerinduannya yang selama ini telah ia pendam.


Qisya yang menangis pun ikut memeluk sang Bunda penuh kehangatan.


Hana hanya bisa menangis sambil tersenyum, betapa bahagianya ia saat ini perjuangannya untuk kembali tidak sia-sia. Bahkan, di saat ia kembali Brian yang terlihat dingin kini malah menjadi seperti anak kecil yang merindukan ibunya.


“Ha-haus...” ucap Hana dengan suara seraknya.


Brian dan Qisya menyudahi pelukannya, kemudian dengan cepat Brian memberikan Hana minum menggunakan sendok sedikit demi sedikit agar Hana bisa menyesuaikannya lebih dulu.


Tak lama datanglah sang dokter dan suster dengan keadaan terburu-buru.


“Alhamdulillah, Nyonya sudah bangun. Mari saya cek dulu kondisinya untuk memastikan semuanya” ucap sang dokter sambil memeriksa Hana di bantu dengan sang suster dan Brian yang sedikit menjauh sambil menggendong Qisya.

__ADS_1


Hampir 5 menit sang dokter mengecek kondisi Hana kemudian ia berkata “Alhamdulillah, Tuan, Nyonya dan semuanya. Keadaan Nyonya Hana sudah mulai membaik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Saat ini kita hanya perlu sedikit menerapi Nyonya Hana untuk membantunya menggerakkan tubuhnya yang kemungkinan sedikit kaku. Jika Nyonya Hana dan janinnya sudah kembali kuat maka kami baru bisa memulangkannya. Jika tidak, Nyonya Hana harus istirahat total di sini sampai benar-benar pulih”


Sang dokter menjelaskan semuanya dan di angguki oleh semua yang ada di sana.


Kemudian sang dokter dan suster pamit untuk undur diri dan pergi meninggalkan semuanya.


“Ja-janin? Ma-maksud dokter ta-tadi apa Mas?” tanya Hana dengan wajah bingungnya.


“Ya ampun perut Hana ke-kenapa buncit seperti ini Mas. Hiks... Hana sakit apa Mas, kenapa perut Hana jadi besar hiks... Maafin Hana kalau Hana banyak salah. Mungkin hidup Hana sudah tidak lama lagi hiks...” Hana menangis saat melihat perutnya yang membesar sambil mengelusnya.


Semua yang ada di sana mencoba menahan tawanya karena Hana yang bisa-bisanya baru bangun dari tidur panjangnya malah berpikir seperti itu.


Brian mencoba untuk menenangkan Hana dengan sangat lembut. Sampai akhirnya Hana sudah mulai tenang kini saatnya Brian berbicara.


“Sayang, coba kamu tutup matamu sambil merasakan sesuatu di dalam sini” ucap Brian sambil mengarahkan tangan Hana ke perutnya.


Hana mengikuti perintah Brian kemudian ia menutup matanya untuk merasakan sesuatu di dalam sana. Dan benar saja saat Hana merasakan tendangan kecil dari sang Baby membuat ia langsung membuka matanya.


“Huaaa... hiks... Ayah, Umi perut Hana ada isinya hiks... ja-jangan-jangan cacing di dalam perut Hana berkembang biak huaa hiks... Hana takut hiks...” Hana kembali menangis sangat kejar yang membuat semua orang menepuk jidatnya masing-masing termasuk Qisya.


Arya sudah mulai kesal dengan tingkah Mbaknya yang sangat polos melebihi kedunguan membuat Arya geregetan.


“Huaa... hiks... Mas Brian jahat. Kenapa nanem kecebong di perut Hana. Hiks... dasar suami menyebalkan. Bagaimana kalau Hana nanti mati akibat darahnya di sedot habis sama kecebong Mas Brian. Mas Brian mau Hana mati iya? Jadi Mas Brian bisa nikah lagi... huaaa... hiks... dasar jahat” teriak Hana sambil memukul Brian dengan mengeluarkan seluruh tenaganya.


Ya, meski pun masih lemas tapi Hana sudah bisa menggerakkan kedua tangannya.


Semua yang ada di sana melototkan matanya kepada Arya yang membuat sang empunya tertawa cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Hehe... ma-maaf, habisnya Arya kesal lihat tingkah Mbak Hana. Jadi Arya pikir ia mengerti tahunya makin parah saja” saut Arya.


“Sayang, hei... tenang dulu ya kasihan anak-anak kita di dalam sini mereka akan tidak nyaman jika Bundanya menangis seperti ini” ucap Brian sambil menenangkan Hana.


Hana yang mendengar kata anak langsung terhenti dari nangisnya sambil menatap Brian “A-anak ki-kita? Ja-jadi Ha-hana Hamidun Mas?” tanya Hana dengan wajah polosnya.


“Hamil oi, hamil. Bukan Hamidun, enggak sekalian bawa temannya Hamidun si Rojali” saut Arya.


“Cih! Ikut-ikut saja anak bau bawang. Sudah jangan ganggu!” saut Hana dengan wajah ketusnya.

__ADS_1


“Iya sayang... Di sini ada anak kita bahkan mereka kembar loh” ucap Brian sambil mengelus perut Hana dengan sangat lembut.


“Jadi, Hana hamil ya Mas? Wah... selamat ya Mas. Kamu akan menjadi Ayah si anak kembar ini hihi... uluh-uluh tayang anak Bunda lagi pada ngapain di dalam sini heum...” ucap Hana sambil mengelus perutnya.


Brian dan semuanya merasa sangat bahagia karena Hana sudah kembali berada bersama mereka. Tetapi, tidak dengan Qisya dia merasa sangat murung melihat sang Bunda begitu menyayangi adik-adiknya.


Bian yang melihat wajah Qisya berubah langsung berkata “Qisya kenapa sayang, kok murung begitu. Hoya... lupa kan kita mau tiup lilin untuk merayakan ulang tahun Qisya. Bagaimana senang kan sekarang Qisya bisa tiup lilin bareng-bareng sama Ayah dan Bunda”


Qisya hanya tersenyum menatap Brian serta Hana. Sampai akhirnya Hana mencoba untuk bangun dan duduk di bantu oleh Brian dengan perlahan.


“Qisya kenapa sayang, apa Qisya tidak senang Bunda sudah kembali heum...” ucap Hana sambil menggenggam tangan mungil Qisya.


“Tidak, Qisya malahan senang banget Bunda sudah bangun. Kan ini doa Qisya di hali ulang tahun Qisya yang ke-6 ini” jawab Qisya dengan senyuman.


“Qisya tidak bisa membohongi Bunda, karena Bunda tahu jika Qisya berbohong pasti hidungnya kembang kempis hehe...” ucap Hana sambil menggoda Qisya yang membut semuanya ikut tertawa.


“Ish... Bunda, Qisya enggak bohong loh” ucap Qisya sambil memajukan mulutnya.


“Ya sudah kalau Qisya enggak mau cerita Bunda tidur lagi deh” Hana berusaha untuk menakuti Qisya agar ia mau terbuka karena Hana merasa ada yang janggal dengan Qisya.


“Tidak... Bunda tidak boleh tidul lama-lama lagi. Yaya Qisya celita deh.. Qisya cuman takut kalau nanti adik-adik Qisya lahir lalu Bunda sama Ayah tidak sayang lagi sama Qisya. Kan Qisya bukan anak.....” ucapan Qisya terhenti saat Hana langsung memeluk Qisya dari samping.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai semuanya... 😄😄😄


Apa kabar kalian? Author harap kalian semua baik-baik saja 😁😁😁


Seperti yang Author janjikan kemarin kalau hari ini akan up 3 bab 🥳🥳🥳


Gimana? Kalian senang tidak? Semoga kalian senang yaaa... 😉😉😉


Terima kasih atas dukungan kalian semua selama ini 😆😆😆


Author sangat bersyukur karena karya Author sangat diterima oleh kalian semua disini... 🥰🥰🥰


Terima kasih semuanya... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya 🤗🤗🤗


Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2