
Pinjai yang mendengar itu benar-benar sangat terkejut, makanya waktu awal ia bertemu dengan Sasya seperti ia tidak asing mengenali wajahnya. Tapi waktu itu Pinjai tidak mau ambil pusing, selagi Sasya bisa merawat Alex dengan baik maka tak jadi masalah untuk Pinjai.
“Ja-jadi do-dokter kecil kemarin sore itu a-adalah No-Nona Qisya?!!” pekik Pinjai dengan wajah terkejut dengan apa yang ia dengar barusan dan seolah-olah ia sedang menyangkal semuanya.
“Iya... itu dia. Dia adalah gadis kecilku yang selama ini hampir membuatku gila karena ia selalu hadir menjadi bayangan akan penyesalanku di masa lalu. Sekarang aku telah menyadari jika aku benar-benar telah jatuh cinta padanya” ucap Alex dengan mode serius.
Lagi dan lagi Pinjai dibuat sangat terkejut marena yang ia tahu jika selama ini Alex hanya merasa bersalah sehingga ia terus ke pikiran dengan Sasya. Namun kenyataannya apa yang Pinjai prediksi semuanya adalah benar, ia kaget sekaligus senang karena Tuannya sudah bisa menurunkan gengsinya.
“Haahh... sudah aku duga selama ini jika kau memang sudah menaruh hati pada gadis kecilmu itu sejak dulu. Hanya saja sekarang ini kau sudah terlambat menyadari semuanya” ucap Pinjai yang membuat Alex langsung menoleh ke arahnya.
“Apa maksudmu aku sudah terlambat? Memang salah jika aku menyadarinya sekarang? Lagi pula juga Sasya belum memiliki pasangan” celetuk Alex dengan tatapan kesal, sedangkan Pinjai hanya menatapnya balik dengan sangat malas.
“Ya tidak sih, tapi kau tahu kan jika dia masih mempunyai rasa ketakutannya terhadapmu. Ya meskipun bukan trauma ya, tapi dari cerita yang aku dengar dia seperti sedang merasa cemburu padamu. Cuma cemburu tentang apa?” ucap Pinjai dengan wajah bingungnya, yang membuat Alex seketika terdiam mencerna semuanya dan kembali mengingat apa saja yang pernah ia katakan padanya.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga det-...
“Astagggaaaaa!!! Bod*doh... bod*doh... bod*doh!! Kenapa kau sangat bo*doh sekali Alexx!!! Kenapa kau melupakan sesuatu yang pasti saat ini membuat Sasya malah jadi salah paham padamu, arrrghhhhh... sia*laaaann... Aku harus bagaimana ini, Pinjai! Bagaimanaaaa.... arrghhhh...”
Alex berdiri dari kursi panjang itu dengan keadaan frustrasi. Ia jalan ke sana ke sini sambil menjambak rambutnya sendiri dengan penuh amarah dan juga kepanikan yang sangat melanda di dalam dirinya. Pinjai yang menyaksikan semua itu malah menjadi bingung, melihat sikap Alex yang berubah-ubah dalam waktu singkat.
“Kamu salah minum obat hari ini, Lex? Kenapa saat kamu sudah di nyatakan sembuh, kini malah gantian otakmu yang sakit ya...” celetuk Pinjai yang membuat Alex semakin geram dan ingin sekali mencekik leher Pinjai.
“Kau sudah bosan hidup rupanya hahh... PINJAI!!!” tegas Alex dengan tatapan mematikan dan kedua tangannya yang sudah berada tepat di leher Pinjai yang membuat Pinjai melototkan matanya hingga ia menelan air liurnya dengan sangat kasar.
“O-oke... o-oke... a-aku mi-minta maaf. Ja-jadi le-lepaskan ta-tanganmu dari leherku ini Lex. A-aku pu-ounya a-anak ya-yang masih kecil Lex, ja-jadi to-tolong lepaskan tanganmu...“ ujar Pinjai dengan nada tersendat-sendat akibat ketakutan yang membuatnya sangat gugup hingga mengeluarkan keringat dingin.
“Ckk... aarrrghhhh... percuma saja aku bercerita padamu jika kau tidak bisa di andalkan!” sahut Alex yang melepaskan tangannya dari leher Pinjai dan pergi menuju mobilnya dalam keadaan sangat marah.
__ADS_1
“Huhhh... huhh... tenang Pinjai, tenang... saat ini kamu sudah aman dari maut yang menyebalkan itu” gumam kecil Pinjai dengan perasaan lega.
Sudah dari tadi Pinjai seperti menahan nafasnya sendiri akibat ketakutannya yang begitu besar, karena baru kali ini Alex hampir membunuh Pinjai orang kepercayaannya dan juga sudah di anggap seperti Kakak baginya.
Pinjai yang mulai tenang dan melihat Alex sudah mulai menjauh, sesegera mungkin Pinjai bangkir dari tempat duduknya dan berjalan mengejar Alex. Lalu Alex masuk ke dalam mobil dengan menutup pintunya dengan sangat keras, sampai-sampai membuat mafiosonya terlonjak kaget mendengar suara keras tersebut.
Pinjai mengode semua mafiosonya untuk segera masuk ke dalam mobilnya masing-masing dan mengikuti mobil Pinjai. Lalu Pinjai masuk ke dalam mobil dan menyalakannya serta melajukannya dengan kecepatan lumayan, tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu pelan. Sesekali Pinjai menoleh ke arah kaca spion atasnya untuk melihat keadaan kondisi Alex saat ini.
“Sekali lagi kau melirikku dari kaca itu, maka bersiaplah jika peluru yang aku tembakkan ke kaca spion itu akan mengenai kepalamu terlebih dahulu lalu menembusnya dan barulah mengenai kacanya” ujar Alex yang berbicara sambil menoleh ke arah samping kaca mobil dengan menatap pemandangan di sebelah kirinya.
Mendengar ucapan itu membuat Pinjai hanya bisa menelan air liurnya sendiri berulang-ulang kali, sehingga ia tak lagi berani untuk menatap ke arah mana pun kecuali ia fokus menatap jalanan yang ada di depannya serta sesekali melirik ke kaca spion kanan dan kiri.
...*...
...*...
Di Mes Sasya...
“Hikss... ke-kenapa baru sekarang kau muncul lagi, kenapaaaa hiks... Di saat aku mulai melupakanmu, di saat itu pula kau datang dengan mengatakan perasaanmu semudah itu Om hiks...”
“Kenapa rasanya sangat sakit sa-saat aku menolakmu hiks... a-apa aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu Om? Ta-tapi aku tidak bisa membiarkan cinta ini tumbuh begitu saja hiks... selama ini aku sudah berjuang seorang diri melepas semua masa laluku"
"Na-namun pada akhirnya aku malah kembali di pertemukan dengannya dalam keadaan yang sama-sama mulai mencintai hiks...” Sasya menangis sambil tubuhnya mulai melemas dan terjatuh dalam keadaan duduk serta bersandar di belakang pintu dengan tatapan lurus ke depan.
Tidak lupa juga tangannya yang masih menggenggam ponsel rusaknya itu, Sasya letakkan disampingnya. Namun semenit kemudian, Sasya kembali di ingatkan dengan masa lalunya yang mana ia di culik oleh Alex dan dijadikan sebagai alat balas dendam Alex untuk menghancurkan Hana dan juga Brian.
Bahkan Hana dan Brian hampir saja bercerai karena saling menyalahkan satu sama lain atas menghilangkan Sasya pada waktu itu, sehingga mereka selalu saja ribut dengan melampiaskan kesedihan mereka. Sasya yang kembali teringat semua cerita waktu itu dari Hana itu, kini membuat ia langsung segera menghapus air matanya dan berdiri dengan sangat kuat.
“E-enggak Sasya, enggak... kau tidak boleh seperti ini. Ingatlah, tujuanmu adalah ingin melupakannya dan tidak lagi membawa masa lalumu itu ikut bersama masa depanmu yang saat ini sedang kamu raih dengan hasil kerja kerasmu sendiri”
“Sedangkan dia? Dia lah yang sudah menghancurkan semuanya, malah dengan seenaknya mengatakan cinta padamu. Dimana akal sehatnya coba! Lalu perasaan macam apa ini yang ada di dalam hatiku”
__ADS_1
“Aku harus membuang rasa ini jauh-jauh darinya, ya meskipun aku tidak memiliki dendam dan sudah memaafkannya, tapi bukan berarti aku mengizinkannya untuk kembali masuk ke dalam kehidupanku yang baru di mulai. Ya benar, pokoknya aku harus bisaaaa...”
Sasya mengunci pintunya dan pergi ke arah kamar mandi untuk membersihkan badannya yang begitu lengket. Selang 1 jam kurang, kini Sasya sudah selesai mandi dengan kondisi handuk kecil yang melingkar di atas kepalanya. Lalu Sasya bercermin untuk melakukan aktivitas rutinnya memanjakan tubuhnya.
Saat semuanya sudah selesai, ia segera menyisir rambutnya yang sangat basah kemudian ia memakai hairdryer untuk sedikit mengeringkan rambutnya karena ini Mes seorang diri, jadi jika Sasya baru selesai mandi ia tidak menggunakan penutup kepalanya atau hijabnya.
Bahkan saat tinggal dengan keluarganya pun sama, hanya jika ada di dalam kamarnya sendiri Sasya akan membuka penutup kerudungnya. Di saat Sasya sudah mulai tenang dan kembali segar, ia masih melihat ponselnya yang hancur tergeletak di dekat pintu.
“Po-ponsel itu...” gumam Sasya yang langsung melangkahkan kedua kakinya mendekati ponsel rusak itu, lalu Sasya membungkuk dan mengambil ponsel itu sambil menatapnya cukup lama.
“Huhh... ayo Sya, ayo... kamu pasti bisa melawan semuanya dan melupakan dia. Jika kamu memang sudah tidak mau lagi masa lalu itu kembali menghantui dirimu” ucap Sasya dengan menguatkan dirinya sendiri.
Setelah beberapa detik, Sasya berjalan keluar dari kamar Mesnya mendekati tempat sampah yang berasa di luar. Sasya berdiri persis di depan tempat sampah yang tidak terlalu penuh dan juga bau itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1