
Seenggaknya saat ini Daddy Ken sudah menyadari kesalahannya. Hanya selang beberapa menit ponsel Jay berbunyi, lalu mengangkatnya.
"APAA!!!"
"O-oke, Ja-jay ke sana sekarang!!"
Jay berdiri penuh keterkejutan saat menerima telepon dari seseorang, bahkan mereka yang awalnya sedang tersenyum seketika berubah menjadi panik.
"Ada apa, Jay? Kenapa wajahmu terlihat pucet?" tanya Nenek Mona penuh kekhawatiran.
Jay berjalan mondar-mandir sambil menggigit kukunya, terlihat jelas bahwa Jay benar-benar gelisah setelah mendapatkan telepon dari seseorang.
"Jay, ada apa? Siapa yang barusan nelpon?" Key menatap Jay, perasaan hatinya pun mulai tidak enak.
"Mo-mommy, Kak. Mommy barusan nelpon Jay, kata Mommy..." Jay menghentikan ucapannya sejanak, sambil menarik nafasnya.
"Ka-kata Mommy apa, Jay? Katakan dengan jelas! Aku tidak suka basa-basi!" sahut Key begitu tegas.
"Mo-mommy bilang ka-kalau Da-daddy masuk rumah sakit, Kak" ucap Jay lirih.
"A-apa!! Da-daddy masuk rumah sakit? Ko-kok bisa?" jawab Key, wajahnya terlihat panik disertai genangan air mata yang hampir menetes.
"Entahlah, Jay harus ke rumah sakit sekarang. Kasihan Mommy sendirian, pasti sekarang Mommy sedang ke bingungan melihat kondisi Daddy semakin menurun"
Jay berbicara dengan mata yang sudah berair. Ketika Jay mau berbalik pergi, Key berdiri bersamaan Nenek Mona dan juga Kakek Iram.
"Kakak ikut!" tegas Key.
"Kami juga ikut!" ucap Nenek Mona dan Kakek Iram secara bersamaan.
Jay berbalik menatap manik mata mereka satu persatu, lalu sedikit tersenyum. Jay merasa senang saat mereka semua mau ikut bersamanya tanpa di minta.
Dengan cepat Nenek Mona dan Key kembali ke kamarnya untuk mengambil tas serta sedikit bersiap-siap. Setelah selesai mereka bergegas ke rumah sakit menggunakan mobil Jay.
Sepanjang berjalanan Jay dan juga Key terlihat panik, mereka benar-benar mengkhawatirkn kondisi Daddy Ken.
Kalau pun sampai ada apa-apa Key tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri akibat rencana Kakek Iram yang sedikit keterlaluan.
Sedangkan Jay, dia sangat takut jika hal buruk terjadi oleh Daddynya maka Jay tidak bisa membayangkan betapa rapuhnya sosok Mommy Nisha yang dia tahu terlihat kuat untuk menghadapi semua keadaan tetapi langsung menyerah hanya karena kehilangan cintanya.
Kurang lebih 45 menit mereka melakukan perjalanan, di tambah ada sedikit gangguan akibat kemacetan membuat mereka semakin tidak tenang.
__ADS_1
Apa lagi Kakek Iram, meskipun di luar dia terlihat kuat dan juga tidak mengkhawatirkan kondisi Daddy Ken. Namun, di dalam hatinya dia akan amat bersalah kalau sampai hal buruk terjadi pada Daddy Ken.
Kakek Iram takut jika ada sesuatu hal buruk terjadi maka sudah bisa di pastikan dia akan kehilangan orang-orng yang sudah menjadi keluarganya.
Di saat mobil Jay baru saja sampai di halaman rumah sakit menuju parkiran, Key tiba-tiba keluar sambil berlari sekencang mungkin menuju ruang UGD.
Mau tidak mau Jay harus memakirkan mobilnya lebih dulu, barulah mereka semua segera turun terburu-buru untuk keluar dari mobil menyusul Key.
Akan tetapi di sini Jay tidak boleh egois, lantaran dia harus menjaga Nenek Mona dan Kakek Iram yang semakin ke sini semakin berumur.
Jay takut jika mereka berlali takutnya membuat Nenek Mona dan Kakek Iram kekelahan atau pun bisa terjatuh akibat mengejar cucunya yang entah sudah kemana.
Jay menuntun mereka menuju ruang UGD, sedangkan Key dia baru aja sampai dan berlari memeluk Mommy Nisha dalam keadaan menangis.
Tak henti-hentinya Key selalu meminta maaf kepada Mommy Nisha karena ini semua salahnya, kalau dia bisa bersikap lebih tegas pada Kakek Iram mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Namun Mommy Nisha hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengusap air mata Key, tak lama Jay dan Kakek Iram beserta Nenek Mona pun datang.
"Bagaimana keadaan Ken, Nis?" tanya Nenek Mona.
Mommy Nisha hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian Nenek Mona memeluknya perlahan, dibalik pelukan Nenek Mona. Dia malah menatap tajam ke arah suaminya.
Kakek Iram hanya mengerutkan dahinya tak percaya bahwa istrinya bisa berkata seperti itu padanya. "Apa maksudmu ini salahku? Dia sakit bukan karenaku, tapi karena dia sendiri!"
"Heii suamiku!! Kau dalang di balik semua rencana ini jadi kau yang harus bertanggung jawab! Jika sampai ada apa-apa dengan Ken, maka nyawamu taruhannya!!"
Degh!
Aura Nenek Mona terpancar sangat menyeramkan membuat semua yang ada di sana ketakutan, terutama Jay yang langsung mengumpet di belakang Mommy Nisha dengan sedikit mengintip.
Sedangkan Kakek Iram terdiam mematung ketika istrinya bisa mengatakan hal yang sangat mengerikan untuknya.
"Sa-sayang hehe.. Ja-jangan se-seperti itu ya, ba-baiklah a-aku akan tang-..." ucapan Kakek Iram terhenti saat melihat seorang dokter baru saja keluar dari ruangan bersama asistennya.
Key yang melihat itu pun langsung berlari mendekatinya diikuti oleh Mommy Nisha dalam keadaan sangat panik.
"Bagaimana keadaan Daddy saya, Dok? Dia baik-baik aja kan!" ucap Key, wajahnya terlihat cemas dan matanya berkaca-kaca.
"Ada apa dengan suami saya, Dok? Katakan!" tanya Mommy Nisha, air matanya mulai runtuh menatap sang Dokter.
Sang dokter tersenyum kecil menatap semuanya, tetapi senyuman itu malah semakin membuat yang lain bingung bercampur penasaran.
__ADS_1
"Astaga, malah senyum dong! Heii.. Dokter! Apa kau tidak lihat wajah kami sedang panik seperti ini, malah bisa-bisanya tersenyum! Dasar-..."
"Stop, Jay!! Jika kamu terus mengoceh bagaimana dokter mau menjelaskannya! Jadi sekarang kamu mau diam atau dokter akan menjahit mulutmu!" ancam Key.
Jay langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya sambil sedikit membolakan matanya. Lalu sang Dokter pun menjelaskan perlahan tentang kondisi Daddy Ken.
"Semuanya tenang dulu ya, di sini kondisi Tuan Ken baik-baik saja. Dia hanya perlu beristirahat karena kondisi tubuhnya sangatlah lemah akibat kekurangan cairan dan juga asupan makanan"
"Jadi saya mohon untuk semuanya jika nanti Tuan Ken sudah bangun, tolong bujuk supaya mau memakan makanannya. Meski hanya 5 suap saja, itu tidak apa-apa setidaknya perutnya terisi sesuatu tidak sampai kosong"
Penjelasan dokter berhasil membuat semuanya sedikit tersenyum, perasaan panik seketika tergantikan oleh perasaan yang sangat lega. Dimana keadaan Daddy Ken baik-baik saja dan hanya perlu beristirahat.
"Terus apakah kami boleh menjenguknya sekarang, Dok?" tanya Key antusias. Matanya berbinar menandakan bahwa Key sangat-sangat merindukan Daddynya.
Rasa bahagia dan senang melanda diri Key, rasanya dia ingin sekali merasakan pelukan hangat dari Daddy Ken yang selama ini tidak pernah dia dapatkan sama sekali.
"Untuk sekarang tidak bisa, Nona. Saat ini Tuan Ken sedang beristirahat, namun sebentar lagi kami akan segera memindahkan Tuan Ken ke ruang inap supaya kalian bisa menjaganya 24 jam kedepan" jawab sang Dokter.
"Ahya.. Baiklah, Dok. Terima kasih atas informasinya, saya mohon berikan perawatan terbaik agar suami saya bisa kembali pulih" sahut Mommy Nisha.
"Pasti, Nyonya. Kalian tenang saja, karena Tuan Ken tidak mengalami penyakit serius kok. Dia cuman kelelahan"
"Jadi Tuan hanya perlu di rawat 2 sampai 3 hari kedepan. Jika semuanya baik-baik saja dan normal, maka di hari itu juga Tuan bisa kembali pulang ke rumah"
Semua mengangguk pelan menatap dang Dokter. Sedangkan Nenek Mona ikut merasa senang ketika mendengar kabar tersebut.
Begitu pun Kakek Iram, dia mengelus dadanya perlahan bersamaan dengan hilangnya rasa panik di dalam hatinya.
"Huhhh.. Selamat, selamat! Untung si Ken itu tidak apa-apa, jika dia kenapa-kenapa habislah riwayatmu Iram!"
"Ternyata selama ini aku baru tersadar kalau aku telah menikahi singa betina yang sangat garang. Sehingga salah sedikit saja, sudah bisa di pastikan nyawaku akan menjadi santapannya"
Kakek Iram berbicara di dalam hatinya, wajahnya mulai kembali seperti semula. Kemudian sang Dokter berpamitan untuk kembali mengecek pasien lainnya yang sudah menunggu.
Key dan Mommy Nisha berpelukan, bergantian sama Jay. Namun Nenek Mona dan Kakek Iram hanya terdiam sesekali Nenek Mona melirik tajam ke arah suaminya.
"Ingat! Setelah Ken tersadar, kau ceritakan semua skenario yang sudah kau buat! Jangan sampai kembali membuatnya syok. Ngerti!" titah Nenek Mona.
Kakek Iram mengangguk kecil sambil menundukkan kepalanya, baru kali ini seorang Kakek Iram begitu tunduk. Bukan berarti Kakek Iram tipe suami takut istri, melainkan Kakek Iram telah menunjukkan betapa besar cintanya pada istrinya.
Key dan Jay saling melirik satu sama lain, lalu mereka terkekeh pelan bersama Mommy Nisha. Kakek Iram melirik mereka sangat kesal, kalau tidak ada Nenek Mona yang selalu mengawasinya mungkin saja Jay dan Key sudah habis di bejek-bejek bagaikan cucian kotor.
__ADS_1