
1 bulan telah berlalu...
Brian yang benar-benar sudah sembuh membuat ia mengumpulkan semua keluarga di ruang keluarga, termasuk keluarganya Hana. Arya yang memang sibuk dengan pekerjaannya, membuat ia harus meninggalkan semua itu demi urusan kepentingan keluarga yang mana Brian bilang kalau ini benar-benar sangatlah penting untuk di sampaikan kepada semuanya.
“Ada apa, Nak Brian? Kenapa kita semua di kumpulkan di sini? Apakah ada sesuatu hal yang penting?” ucap Abah dengan kelembutannya.
“Ya, Brian. Ada apa kamu mengumpulkan kita semua seperti ini? Apa jangan-jangan ada sesuatu hal penting yang harus benar-benar hari ini juga untuk di bicarakan?” tanya Opa Ferry sambil menatap Brian.
“Ini ada apa sih, Hana? Mamah kok jadi was-was seperti ini ya...” saut Oma Syifa dengan wajah penuh ke khawatiran.
“Ya, Jeng. Aku juga berpikir sama seperti itu dari rumah sampai sekarang pun. Lagian juga kayanya ini penting banget ya Nak Brian?” ucap Umi dengan perasaan cemas.
“Arya juga sampai harus membatalkan semua meeting hari ini Mas, demi untuk datang ke sini yang katanya benar-benar penting” saut Arya dengan wajah bingungnya.
Hana dan Brian hanya bisa saling menatap satu sama lain seperti sedang berbicara dengan bahasa isyarat, yang mana Brian meminta izin dan kekuatan dari Hana untuk menyampaikan hal tersebut. Sedangkan Hana hanya bisa mengangguk kecil dan tersenyum yang artinya, dia setuju serta akan terus mensupport apa pun yang Brian lakukan demi kebaikan keluarga.
Qisya, Lukas dan Lily hanya bisa terdiam sambil duduk di lantai yang beralaskan karpet lembut, berbulu dan sangat halus sambil bermain. Ketiga kurcaci itu memang sudah tahu apa yang ingin Brian katakan, karena mereka sudah membicarakan semuanya saat makan malam bersama di luar yang hanya terdiri dari keluarga kecil Brian.
Brian menghela nafasnya terlebih dahulu untuk membuang rasa gugupnya, karena kemungkinan besar ini akan membuat semuanya shock.
“Brian, cepatlah jangan bikin Mamah penasaran” saut Oma Syifa yang sudah penuh dengan rasa gelisah.
“Ekhem... Sebelumnya Brian dan Hana ingin meminta maaf kepada semuanya karena susah mengganggu waktu kalian semua...” ucap Brian sambil menatap semuanya satu persatu secara bergantian.
Hana yang tahu jika sang suami sedang merasakan kegugupan, dia pun langsung menggenggam tangan Brian agar membuatnya merasa sedikit nyaman karena ini semua mau tidak mau harus di sampaikan bahkan harus di jelaskan dengan sangat detail yang nantinya tidak akan menyinggung atau pun membuat yang lainnya merasa sedih.
“Aduh, Bah. Kok perasaan Umi semakin tidak enak ya?” ucap Umi.
__ADS_1
“Tenang, Mi. Insya Allah semua akan baik-baik saja, kita dengarkan Nak Brian berbicara hingga selesai dulu biar semuanya tidak semakin penasaran” jawab Abah.
“Brian jangan buat Mamah sampai mati penasaran ya, ini jantung Mamah berasa ingin copot tahu menunggu jawaban kamu yang dari tadi hanya berbelit saja” saut Oma Syifa dengan sedikit kesal.
“Sabar, Mah. Biar Brian bicara dulu, jangan dipotong nanti dia lupa dan akan membuat kita semakin penasaran” jawab Opa Ferry.
“Jika Mas sulit untuk mengatakannya, apa harus Hana yang mewakilkan?” tanya Hana sambil menatap serta mengelus tangan Brian.
“Tidak perlu, aku kepala rumah tangga. Jadi biar aku saja yang mengatakannya kepada semuanya kalau beberapa hari lagi tepatnya seminggu lagi, keluarga kecil kami akan pindah ke Amerika. Kami akan tinggal di sana entah sampai kapan, tapi yang jelas kami akan sering datang ke Indonesia untuk menengok atau liburan menemui semuanya di sini” ucap Brian.
Semua yang mendengar ucapan Brian seketika sangat terkejut dengan wajah penuh ekspresi yang berbeda-beda. Mereka semua seakan-akan tidak percaya dengan apa yang telah Brian ucapkan tentang kepindahannya bersama keluarga kecilnya.
“Apa kamu serius, Brian? Dan kamu Hana, apa kamu yakin dengan keputusan ini?” tanya Opa Ferry dengan wajah serius.
“Apa tidak bisa kalian bicarakan lagi, karena kan di sana kalian tidak punya siapa-siapa. Kita semua ada di sini, jadi bagaimana jika ada sesuatu dengan kalian? Kami di sini pasti akan sangat khawatir” saut Abah.
“Mamah setuju dengan Abah, kalian di sana tidak punya siapa-siapa. Keluarga kalian semua di Indonesia, lalu kenapa kalian ingin pindah ke sana? Apa alasan kalian bisa mengambil keputusan seperti ini?” tanya Oma Syifa dengan wajah datarnya.
Ya, saat ini Qisya sedang menemani sang adik Lily untuk bermain boneka. Sedangkan Lukas sedang memainkan games yang ada di layar tabletnya dengan keseriusan.
“Awalnya Hana juga sangat terkejut dengan keputusan Mas Brian. Tetapi setelah Mas Brian menjelaskan semuanya secara detail kepada kami saat makan malam di luar itu, membuat Hana dan anak-anak setuju karena ini semua demi kebaikan Kakak agar tidak membuatnya merasa takut terhadap apa yang sudah dialaminya. Lagian juga kami bisa sekalian berobat agar Kakak bisa kembali sembuh dan normal dari masa traumanya yang selalu mengganggu pikirannya, juga supaya Kakak nantinya bisa terus melanjutkan cita-citanya sebagai seorang Dokter Spesialis” ucap Hana.
“Memangnya alasan yang sangat kuat untuk membuat kalian semua ingin pindah dari sini itu apa, Mbak? Mas? Apa kalian tidak sedih jika melihat seorang Nenek dan Kakek yang pastinya akan merasa sangat kangen saat tidak bisa berjumpa dengan cucu-cucunya setiap saat?” tanya Arya penuh keseriusan.
“Brian sudah memikirkan semua ini dari jauh hari, memang mungkin ini yang terbaik untuk keluarga kecil kami. Apa lagi Brian juga harus membangun kembali perusahaan Brian yang sudah hampir bangkrut ini, jadi Brian harus memulainya dari nol kembali. Di tambah Brian juga ingin menghilangkan trauma-trauma yang ada di dalam pikiran Kakak sehingga tidak akan terbawa saat dia besar nanti. Tapi alasan terkuatnya karena Brian dan Hana tidak mau sampai orang itu kembali muncul di hadapan kami hanya sekedar sapa menyapa atau pun ingin menemui Kakak. Kami tidak akan setuju, yang mana orang itu sudah memisahkan kita dengan Kakak dengan sangat rapi"
"Jadi, Brian tidak mau lagi sampai kecolongan dan terjadi hal seperti itu lagi pada keluarga kecil Brian. Mungkin dengan begini orang itu tidak akan tahu keberadaan kami di mana, jika memang ada yang menanyakan tentang kami tolong bilang saja kalau kalian semua tidak tahu dimana keberadaan kami dan tidak berkomunikasi dengan kami, karena Brian takut jika mereka adalah salah satu orang suruhan dari orang itu”
__ADS_1
Brian menjelaskan semuanya kepada yang lain agar membuat mereka mengerti, dan Brian pun tidak mau menyebutkan nama Bisma karena dia sudah sangat kecewa dengan Bisma. Orang yang sangat Bisma percaya, kini dengan teganya mengkhianatinya sampai membuat Brian sendiri tidak menyangka dengan kejadian itu.
Semua terdiam untuk mencerna serta memikirkan setiap ucapannya Brian, hingga tujuan kenapa Brian dan Hana bisa sampai berpikir sejauh itu. Namun pada akhirnya mereka semua bisa mengerti, mungkin saja semua ini demi kesembuhan Qisya yang begitu trauma hingga membuatnya selalu sering berdiam diri dan menyendiri. Tidak seperti Qisya yang dulu dimana dia sangat ceria.
Hal ini bisa jadi sebuah alasan terbesarnya Brian dan Hana ingin menjauhkan Qisya dari Bisma, yang mana suatu saat pasti dia akan mencoba menemui Qisya jika mereka masih berada di Indonesia. Apa lagi Hana sebagai seorang Ibu ataupun Bunda, dia sangat mengerti apa yang sedang Qisya alami dan juga Brian seperti melihat adanya perasaan lain yang mulai tumbuh dari diri Bisma dan Qisya.
Pada saat pembicaraannya Bisma dan Brian, di situlah Brian bisa melihat sorotan mata Bisma dan Qisya seperti ada perasaan saling nyaman satu sama lain. Apa lagi saat kejadian dimana Qisya rela untuk melukai dirinya hanya demi menyelamatkan Bisma dari amukan sang adik laki-lakinya itu.
“Kak, boleh Opa bertanya sama Kakak?” tanya Tuan Ferry sambil menatap Qisya.
Qisya yang pada saat itu sedang sibuk menemani sang adik bermain boneka, seketika ia langsung menengok ke arah Opa Ferry.
“Mau nanya apa, Opa?” tanya Qisya dengan lembut.
“Saat Kakak pergi ke Amerika, Kakak harus janji akan sembuh okay? Jika Kakak tidak ingin sembuh, maka Opa tidak akan mengizinkan kalian semua pergi ke sana” ucap Opa Ferry dengan menatap tajam mata Qisya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai sini dulu ya cerita hari ini semuanya... 😁😁😁
Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗
Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗
Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰
__ADS_1
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻