Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Dibalik Keegoisan Alex


__ADS_3

Namun pada akhirnya, semakin kesini kedua orang tua Syasa semakin menaruh curiga. Sehingga masalah ini harus segera diselesaikan, sebelum hal buruk terjadi menimpa rumah tangga anaknya yang masih seumur jagung.


"Jika kami belum memiliki keturunan, itu tandanya Allah belum memberikan kepercayaannya pada kami, Ayah." jawab Alex, spontan.


"Dari mana kalian tahu, jika Allah belum percaya pada kalian? Sedangkan yang menjadi penghalang disini, adalah jarak dan juga pekerjaan!"


"Jangan kira kami tidak tahu, jika akhir-akhir ini kalian selalu meributkan masalah anak dan juga karir!"


"Kami diam, bukan berarti kami tidak memperhatikan rumah tangga kalian. Hanya saja, kami masih memantau sejauh mana kalian bisa menyelesaikan masalah,"


"Tapi, nyatanya. Kalian belum bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin."


"Sekarang Ayah tanya sama kamu, Sasya. Apa tujuan kamu menikah sama Alex?"


Ayah Brian menatap kearah Sasya yang masih sesegukan didalam pelukan suaminya. Sedangkan Alex langsung meraup wajah istrinya sambil mengusap air matanya.


Alex menggelengkan kecil kepalanya, agar Sasya tidak terus menangis seperti ini. Alex mau Sasya menjadi sosok wanita yang kuat dan bisa menghadapi semua masalah.


Sasya menarik napas panjang, lalu dia kembali emnatap wajah Ayah Brian serta menjawab semua pertanyaan yang akan Ayah Brian tanyakan.


"Ma-maaf Ayah, Bunda. Mungkin Sasya sudah mengecewakan kalian, tapi niat Sasya dan Mas Alex menikah lantaran kami saling mencintai." ucap Sasya, sedikit tenang.


"Jika kamu mencintai suamimu, lantas kenapa kamu tidak mendengarkan permintaannya?" tanya Ayah Brian menatap tajam kearah putrinya.


"Ma-maksud, Ayah?" tanya balik, Sasya.


"Apa harus Ayah perjelas, bahwa suamimu menginginkan seorang keturunan. Tetapi kenapa kamu malah mengesampingkan semua atas dasar karir."


"Ya, Ayah tahu saat ini karirmu lagi melonjak tinggi di banding suamimu. Cuman, kembali lagi. Apa tugas seorang istri pada suaminya?"


Ayah Brian mencecar habis Syasa dengan semua pertanyaan. Bahkan Sasya sendiri pun tidak tahu harus menjawab apa lagi.


Disatu sisi, Sasya memang telah menyadari bahwa dirinya sudah menjadi seorang istri. Disisi lainnya, Sasya juga tidak mau jika karirnya yang sedang diatas awan langsung terhempas jatuh kebumi.

__ADS_1


Padahal Sasya sudah susah payah untuk mencapai semua itu dari titik nol, jadi dia enggan untuk melepaskannya.


"Kenapa diam? Kamu tidak bisa menjawab pertanyaan, Ayah?" ucap Ayah Brian, kembali.


"Maaf Ayah, mungkin biar Alex saja yang menjawab semua pertanyaan Ayah. Insyaallah Alex siap." sahut Alex yang tidak tega melihat istrinya mulai tertekan.


"Baiklah, jika kamu mau menjawab semuanya. Jadi jawablah, apa tugas seorang istri pada suaminya?"


Ayah Brian terus mengulang pertanyaan yang sama, lantaran dia masih harus memancing emosi yang ada di dalam hati anak dan juga menantunya.


Jika emosi di dalam hati mereka sudah keluar, kemungkinan mereka akan tersadar. Karena didalam rumah tangga, tidak baik ketika keduanya saling menonjolkan keegoisan masing-masing.


"Alex tahu mungkin diusia Sasya yang masih muda, dia belum mengerti tentang tugas sebagai seorang istri. Cuman menurut Alex, sejauh ini Sasya sudah berusaha menjadi yang terbaik buat--"


"Jadi yang terbaik? Dari mana letak terbaiknya. Dia saja masih besar kepala mengikuti egonya, bahkan dia lebih mementingkan karirnya ketimbang rumah tangganya."


Ayah Brian memotong ucapan Alex. Dia begitu kesal ketika kedua suami istri dihadapannya ini, selalu memutar-mutar memberikan penjelasan padanya.


"Ya, Sasya tahu Ayah. Sasya masih kecil, masih anak-anak ketimbang Mas Alex. Tapi, kami juga sudah berkomitmen untuk tidak saling mempermasalahkan tentang karir!" sahut Sasya yang mulai terbawa suasana.


"Aku tahu, aku belum bisa memberikan kamu keturunan. Cuman, kita tetap terus berusaha, jadi kalau memang belum dikasih harusnya kamu itu mengerti, Mas. Bukan malah menyalahkan karirku!"


Sasya menatap suaminya dengan tatapan kesal. Sedangkan Alex, dia tidak menyangka bahwa istrinya bisa mengencangkan suaranya kepadanya.


Ditambah lagi, Sasya malah seakan-akan terus menyalahkan suaminya atas semua yang terjadi pada mereka.


"Sasya, hentikan ucapanmu! Dia itu suamimu, jadi jangan pernah membesarkan suaramu dihadapannya. Bunda dan Ayah, sama sekali tidak pernah mengajarkanmu seperti itu!" tegur Bunda Hana yang ikut terhanyut didalam suasana, ketika melihat tingkah putrinya.


Ayah Brian menoleh kearah istrinya, lalu dia memberikan kode supaya Bunda Hana tidak ikut campur.


"Sudah biarkan saja, aku mau lihat sejauh mana mereka memahami dirinya masing-masing." gumam kecil Ayah Brian.


"Tapi, Mas ...." Bunda Hana menghentikan ucapannya, saat suaminya memberikan kode. Bunda Hana pun mulai terdiam, menyimak semuanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu menyalahkanku, Syaa. Aku dari tadi selalu membelamu didepan mereka, tapi kenapa kamu malah melimpahkan semuanya padaku?" tegas Alex.


"Ya memang ini salahmu, Mas. Kamu selalu membesar-besarkan setiap kita memiliki masalah. Padahal sebelum menikah, kita sudah berkomitmen tidak akan melarang siapa pun dari kita untuk tetap meneruskan karirnya." jawab Sasya, air matanya terus berlinang.


"Aku tidak pernah membesar-besarkan masalah, Syaa. Aku ini kepala rumah tangga, harusnya kamu menghargai aku bukan malah menyalahkan aku."


"Jika aku melarangmu berkarir, mungkin aku sudah mengambil tindakan untuk kamu risent menjadi dokter disini dan ikut bersamaku ke Indonesia,"


"Tapi apa? Aku tetap sabar menunggumu, bukan? Belum lagi aku rela, bolak-balik Indonesia-Amerika meskipun tubuhku sangat lelah."


"Semua aku lakukan, untuk siapa? Untuk kamu, istriku. Orang yang selama ini aku cintai, aku rela menghabiskan semua waktuku dijalan hanya demi mengunjungimu disini,"


"Selama perdebatan yang kita lalui, tidak sekalipun aku menyuruhmu untuk risent, aku juga tidak melarangmu menjadi seorang dokter, bahkan aku pun tidak pernah sedikit saja meminta waktumu!"


"Aku hanya meminta 1 hal, yaitu seorang keturunan. Usiaku sudah tidak muda lagi Syaa, aku tidak tahu kapan umurku akan berakhir. Bisa saja esok, lusa atau minggu depan."


"Maka dari itu, aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Daddy. Meskipun jarak kita jauh, aku rela, aku ikhlas. Asalkan aku bisa selalu melihat senyuman diwajah anak-anakku,"


"Aku menginginkan anak, bukan berarti aku memaksamu harus memiliki anak sekarang juga. Tidak! Kita bisa perlahan ikut program disela-sela kesibukan kita, apa lagi kita berdua dinyatakan sehat tanpa kendala"


"Hanya saja, kamu selalu tidak ada waktu untuk melakukan itu. Bagaimana jika aku tiada disaat kecelakaan pesawat ketika berangkat ke sini?"


"Lalu, apa yang bisa aku tinggalkan untukmu? Harta? Itu tidak akan menjamin kebahagianmu. Tapi, keturunan. Itu bisa selalu menjadi kekuatan u tukmu kembali melangkah, disaat aku tiada."


"Ya mungkin, caraku salah dalam mengatakan semua itu. Sehingga tanpa aku sadari ada kata-kata terucap dari bibirku yang menyakitimu, tapi jujur Syaa. Aku tidak ada niatan untuk menghentikan karirmu."


"Setiap hari aku selalu bermimpi tiba-tiba sesuatu hal buruk datang menimpaku, disaat kita belum memiliki keturunan. Sampai akhirnya aku harus meninggalkanmu seorang diri untuk selamanya, hiks ...."


"Aku tidak mau jika kamu harus terus menerus bersedih atas kehilanganku, berbeda ketika kita memiliki keturunan. Pasti, dia bisa mengurangi rasa kesedihan diwajah Mommynya. Hingga kamu lupa akan kepergianku, hiks ...."


Alex menunduk menangis sesegukkan, bahkan kata-kata Alex mampu membuat kedua mertuanya sampai menteskan air matanya.


Bunda Hana dan juga Ayah Brian, mereka benar-benar tidak menyangka jika menantunya bisa berpikir sejauh itu.

__ADS_1


Awalnya mereka kira Alex menginginkan seorang anak hanya karena, dia malu diusia yang sudah mulai menua masih belum memiliki seorang keturunan.


Namun, nyatanya mereka salah. Alex menginginkan keturunan, lantaran dia tidak mau jika istrinya akan hidup seorang diri, ketika sesuatu hal buruk terjadi padanya dalam waktu cukup dekat.


__ADS_2