
“Tuan, Tuan mau apa? Tuan jangan aneh-aneh ya. Nona Qisya masih sangat kecil, jadi jangan berikan apa pun yang nantinya akan semakin membuat ia membenci Tuan” saut Pinjai saat tahu apa yang dimaksud dari Bisma.
“Apa kau sudah gila, Pinjai! Kau lihat badannya sudah dingin seperti ini, lalu jika aku diam saja bagaimana dia bisa selamat? Setidaknya aku harus berusaha untuk menolongnya sambil kita menuju ke rumah sakit. Dan untuk masalah itu aku tidak peduli lagi, jika dia membenciku atau tidak maka biarkan saja, yang terpenting aku masih bisa melihatnya hidup di dunia ini. Dari pada nanti aku harus menyesal di saat dia sudah tidak ada lagi di dunia karena aku yang takut melakukan sesuatu” saut Bisma dengan tegas yang membuat Pinjai terdiam.
Yang di katakan Bisma memang ada benarnya, namun ini adalah hal yang pertama kalinya untuk Bisma dan Qisya. Tapi, jika Pinjai melarangnya maka nyawa Qisyalah yang akan jadi taruhannya. Jadi, lebih baik Pinjai diam dan mengikuti semua perintah dari Bisma.
Tanpa aba-aba, Bisma berusaha mengontrol detak jantungnya yang semakin berpacu dengan cepat saat ia ingin memberikan nafas buatan untuk Qisya. Pinjai yang memang sedikit penasaran pun hanya bisa melirik sekilas dari spion atas.
“Jangan melihat ke arah belakang, kau paham Pinjai!” tegas Bisma saat tahu kalau Pinjai sedang menatapnya.
“Maafkan saya, Tuan. Saya janji tidak akan melihatnya. Saya hanya akan fokus untuk menyetir mobil” saut Pinjai yang kembali fokus menatap ke depan.
Dengan begitu Bisma sedikit mendengakkan wajah Qisya dan membuka mulutnya. Lalu, dengan perlahan ia langsung menempelkan mulutnya dengan milik Qisya sambil memberikan nafas buatan untuk Qisya. Namun, entah di sengaja atau tidak Bisma merasakan hal yang sangat aneh.
Bisma yang baru merasakan ini untuk yang pertama kalinya membuat ia penasaran dengan bibir ranum Qisya yang begitu menggoda. Tanpa basa-basi ia langsung mengulum secara perlahan. Tapi, saat ia sedang asyik dengan bibir Qisya tiba-tiba saja Qisya terbatuk dan memuntahkan air sungai yang cukup banyak.
Uhuk... Uhukk... Uhukk...
Sayangnya, ia hanya memuntahkannya tanpa membuka kedua matanya yang tandanya Qisya masih setia dengan tidurnya.
“Bagaimana, Tuan? Apa airnya sudah keluar?” tanya Pinjai dengan keadaan masih fokus ke depan.
__ADS_1
“Sepertinya sudah, tapi kenapa dia tidak sadarkan diri? Biasanya orang yang habis mengeluarkan air di dalam mulutnya saat tenggelam langsung segera siuman. Tapi, ini dia malah pingsan kembali atau jangan-jangan nafas buatan yang saya berikan kurang?” tanya Bisma dengan wajah polosnya yang sedikit membuat Pinjai tersedak.
“Uhuk... Uhuk... Ekhem... Maaf, Tuan. Kemungkinan akibat Nona Qisya sering menangis atau melamun membuat ia sedikit merasa kelelahan jadi ia masih tidak sadarkan diri. Lagi pula airnya sudah keluar, bukan? Jadi biarkan dokter yang mengurusnya nanti. Jadi, tuan tidak perlu kembali memberikan nafas buatan untuk Nona Qisya” ucap Pinjai dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Bisma.
Bisma pun terdiam sambil menatap wajah mulus Qisya yang sangat menyejukkan hatinya. Tangan Bisma pun terangkat untuk mengusap pipi Qisya dengan sangat lembut. Dan tanpa sadar ibu jari Bisma mengusap bibir kecil tipis Qisya yang sangat menggoda itu.
“Entah kenapa, saat ini hanya kau yang telah berhasil mengambil kesucian bibirku ini Baby. Dan aku pun telah mengambil kesucian bibirmu itu, tapi entah kenapa bibirmu saat ini terlihat sangat menggoda bagiku. Kenyal, enak, lembut dan nikmat itulah yang saat ini masih terngiang di bibirku. Semoga jika nanti kamu terbangun, kamu tidak akan marah denganku atau pun membenci diriku atas semua yang sudah kamu ketahui. Karena aku pun tidak mau menjadi seperti ini, tapi ini harus aku lakukan demi membuat Kakakku tenang di alam sana ” ucap Bisma di dalam hatinya sambil menatap wajah Qisya dan mengelus bibir Qisya menggunakan ibu jarinya dengan keadaan tersenyum.
Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit, Bisma segera turun dari mobilnya saat Pinjai sudah membukakan pintu mobil untuknya. Bisma berlari menggendong Qisya dengan keadaan basah kuyup serta tak lupa Pinjai selalu setia mengikuti kemana pun Bisma pergi.
Suster yang melihatnya langsung membawa bangkar untuk Qisya, lalu mendorongnya ke sebuah ruangan yang di mana sudah ada dokter yang berada di sana. Saat Bisma ingin ikut masuk ke dalam ruangan tersebut, salah satu suster menahannya karena tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam.
Namun, jika sang dokter sudah selesai memeriksanya barulah Bisma boleh melihat keadaan Qisya. Dengan berat hati Bisma menunggu di depan ruangan penuh kepanikan serta kecemasan. Pinjai yang melihat semua pakaian Tuannya basah tanpa sebuah perintah ia inisiatif untuk menelepon salah satu anak buahnya untuk membelikan beberapa setel baju untuk Bisma, Pinjai dan Qisya.
Sudah 1 jam Bisma mondar-mandir, ke sana ke sini untuk menunggu kabar dari sang dokter yang dari tadi tidak keluar sama sekali dari ruangan. Hal ini membuat Bisma serta Pinjai semakin panik dan penasaran, tapi untungnya Pinjai dengan sigap langsung membelikan baju salin untuk Bisma kenakan agar tidak masuk angin atau pun ikut sakit bersama Qisya.
Bisma yang awalnya menolak untuk berganti pakaian, dengan berbagai alasan Pinjai membuat ia sedikit mengerti. Jika Bisma juga jatuh sakit, maka siapa yang akan menjaga Qisya di sini. Itulah yang membuat Bisma langsung segera mengganti semua pakaiannya. Tapi di saat Bisma sedang di landa ke panikan tanpa sengaja Pinjai menatap baju putih Bisma yang sedikit berwarna kemerahan yang artinya luka Bisma belum benar-benar kering.
Tanpa basa-basi Pinjai langsung menarik Tuannya untuk segera di obati oleh dokter lainnya. Bisma yang memang dari tadi sedikit menahan rasa perih di bagian perutnya membuat ia tidak memperdulikan lukanya. Karena pada saat ini kefokusan Bisma hanyalah kepada kondisi Qisya.
Hingga akhirnya setelah selesai di obati serta digantikan perban oleh sang dokter mereka kembali ke ruangan di mana Qisya telah di rawat. Di situ Pinjai menyuruh Bisma untuk duduk agar lukanya yang basah tidak semakin melebar. Bisma saat ini hanya bisa menuruti perintah dari Pinjai, entah kenapa sosok Bisma yang memang identik dengan menyuruh tanpa mau di suruh kini malah berbanding ke balik.
__ADS_1
Saat ini Bisma akan selalu menuruti perkataan Pinjai, karena Bisma ingin bisa selalu merawat Qisya tanpa harus merasakan sakit. 1 jam 20 menit mereka menunggu, entah kenapa Bisma semakin tidak tenang dengan keadaan Qisya. Hingga pada akhirnya seorang suster keluar bersamaan dengan sang dokter.
“Permisi, apakah di sini ada keluarga pasien?” tanya sang dokter dengan bahasa Korea.
“Ya ada, Dok. Saya keluarga dari pasien yang tenggelam tadi, lalu bagaimana keadaannya Dok? Apakah ada luka dalam? Luka serius? Ataukah ada yang harus ditindak lanjuti?” tanya Bisma yang menggebu-gebu sambil berdiri di depan sang dokter.
Sang dokter pun tersenyum, ia tahu kalau saat ini Bisma sedang dilanda dengan kepanikannya yang begitu besar. “Tenang, Tuan. Nona saat ini baik-baik saja di dalam, hanya saya sepertinya dia mengalami depresi yang cukup mendalam. Jadi, saat ini kami sudah memberikan obat penenang agar kondisi tubuhnya semakin lebih baik. Karena saat ini Nona benar-benar butuh istirahat total agar depresinya tidak berkelanjutan. Jadi, untuk itu nanti saya akan pindahkan Nona ke ruangan penginapan”
“Berikan ruangan yang sangat privasi untuknya, Dok. Biar asisten saya yang mengurus semua biaya administrasinya” saut Bisma dengan dingin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai sini dulu ya ceritanya semuanya... 😁😁😁
Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗
Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗
Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰
__ADS_1
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻