
Hana pun tersenyum sangat lebar yang menandakan ia begitu bahagia melihat Brian hari ini banyak perubahan, bahkan Brian yang semalam begitu keras pun bisa cepat luluh hanya karena Brian meminum kopi buatan Hana.
“Ini ada apaan sih sama diriku, kenapa aku seperti ini. Bahkan kenapa saat aku mencium tangan Hana rasanya begitu nyaman. Arghh... sia*lan kenapa malah aku yang luluh. Lalu, bagaimana dengan misiku untuk membuat Hana agar bisa merasakan kesakitan yang sama? Arghh.. sudahlah intinya saat ini aku cuman pengen dekat sama Hana ” ucap Brian di dalam hatinya.
“Ya ampun... masa ia hanya karena kopi Mas Brian bisa langsung berubah seperti ini. Jika benar adanya maka setiap dia marah aku harus membuatkan kopi supaya dia tenang dan kembali lembut seperti ini hehe..” ucap Hana di dalam hatinya.
Tak terasa mereka sudah memasuki pekarangan rumah dan Brian memberhentikan mobilnya, lalu keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Hana.
Hana yang mendapati sikap Brian begitu romantis malah membuat ia langsung terkejut.
“Ya Allah ini semua ada apa sih, kok Hana jadi bingung ya. Apa Mas Brian lagi kesambet setan kopi, jadi bisa seperti ini ?” tanya Hana di dalam hatinya sambil menatap Brian.
“Ayo turun, memangnya mau tidur di mobil? Jangan geer ya! Aku membukakan pintu cuman karena ingin saja. Jika tidak pun aku tidak mau membukakan pintu untukmu” ucap Brian dengan sangat ketus.
Hana hanya bisa tersenyum dan kemudian keluar dengan perasaan bahagia. Entah kenapa hari ini semua berpihak kepada Hana, bahkan sikap Brian yang semalam pun sirna semua.
Meskipun nada bicaranya masih dingin, tapi Hana senang dengan perlakuan Brian yang berusaha memperlihatkan jika ia benar-benar masih mencintai Hana.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Namun, tiba-tiba saja Brian merasakan mual yang sangat mengganggu.
“Huek... huekk...” Brian langsung berlari ke arah kamarnya dengan sangat cepat kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Hana yang melihat Brian sangat khawatir dan mengikuti Brian ke arah kamar. Tetapi, Nyonya Syifa menahannya lalu berkata “Ada apa sama Brian? Kenapa dia muntah-muntah seperti itu?”
“Hana juga tidak tahu, Mah. Mungkin karena asam lambung Mas Brian naik, karena tadi di kantor Mas Brian minta di bikinin mie rebus yang begitu pedas” jawab Hana dengan wajah cemasnya.
“Hah? Se-sejak kapan Brian menyukai mie?” tanya Nyonya Syifa dengan wajah terkejut.
“Hana juga berpikir seperti itu, Mah. Cuma... Entahlah Hana juga bingung” ucap Hana.
“Ada apa? Kenapa wajah kalian seperti orang yang sedang bingung?” tanya Tuan Ferry yang tiba-tiba datang entah dari mana dan langsung heran saat melihat wajah Hana serta Nyonya Syifa yang sangat menegangkan.
“Itu, Pah. Brian pulang dari kantor malah muntah-muntah. Kata Hana dia di kantor makan mie rebus pedas banget” jawab Nyonya Syifa sambil menatap suaminya.
“Apa? Mie? Bu-bukannya dia anti sama makanan instan?” tanya Tuan Ferry yang begitu terkejut saat mendengar jawaban dari istrinya.
“Tidak tahu, Pah. Mamah juga terkejut saat Hana bicara seperti itu” saut Nyonya Syifa.
__ADS_1
“Bundaa...” Qisya berlari sambil berteriak saat melihat Hana sudah pulang lalu memeluk kaki Hana dengan sangat erat.
“Aduh.., anak Bunda” Hana menjajarkan tinggi Qisya lalu memeluknya dengan sangat erat.
“Bunda, Isa angen tau. Bunda ama banget cih ke kantol Ayahna. Teyus Ayah ana? Kok ndak ada?” tanya Qisya sambil melepaskan pelukannya dan menatap Hana.
“Ayah lagi kurang sehat sayang, jadi bunda mau ngerawat Ayah dulu ya” ucap Hana dengan lembut sambil berdiri.
“Isa itut ya, Isa uga mau bantu Bunda ngelawat Ayah” jawab Qisya.
“Ya sudah kalian cepat ke sana, siapa tahu Brian membutuhkan kalian. Papah sama Mamah mau keluar sebentar ya, ada urusan mendadak” ucap Tuan Ferry.
“Ya sayang, kalian baik-baik ya. Kalau ada apa-apa cepat hubungi kami” jawab Nyonya Syifa.
“Ya... Pah, Mah. Kalian hati-hati di jalan ya, jangan pulang terlalu malam takut ada apa-apa di jalan. Jika pulangnya terlalu malam lebih baik Papah dan Mamah cari penginapan di dekat sana saja buat jaga-jaga” ucap Hana.
“Ya, kalau begitu kami pamit ya. Assalamualaikum” pamit Tuan Ferry bersamaan dengan Nyonya Syifa.
“Waalaikumsalam” saut Hana dan Qisya bersamaan sambil bersalaman dengan mereka.
Tuan Ferry dan Nyonya Syifa pergi meninggalkan rumah. Sedangkan Hana serta Qisya berjalan sambil bergandengan tangan menuju kamar Brian dan Hana.
“Qisya duduk di kasur dulu ya, Bunda mau lihat Ayah di kamar mandi” ucap Hana sambil membawa Qisya agar duduk di kasur.
“Oteh Bunda” jawab Qisya sambil tersenyum yang menunjukkan sederetan gigi kecilnya.
Hana mencium kening Qisya lalu berjalan menuju kamar mandi. Beberapa kali Hana mengetuk pintu kamar mandi, namun tidak ada sautan dari Brian.
Dengan keadaan cemas Hana mencoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci oleh Brian. Kemudian, Hana masuk dengan keadaan penuh khawatir.
Hana melihat keadaan Brian yang sudah lemas dengan duduk di lantai sambil bersandar di kloset serta muka yang begitu pucat dan keringat dingin bercucuran penuh di wajahnya.
Hana sangat terkejut dengan keadaan Brian seperti ini dan dengan langkah cepat Hana mencoba untuk membantu Brian.
“Astaghfirullah, Mas Brian. Kamu kenapa Mas, kok seperti ini” ucap Hana dengan wajah khawatir.
“A-aku ti-tidak tahu, ra-rasanya be-begitu mual” ucap Brian dengan terbata-bata sambil bersuara dengan sangat lemas.
__ADS_1
“Makanya kan Hana sudah bilang, Mas itu tidak menyukai mie jadi kenapa malah meminta makan itu sih. Lihat... akibatnya jadi begini, memangnya Mas kira Hana senang saat melihat Mas seperti ini? Tidak, Mas. Hana lebih senang melihat Mas bersikap kasar tapi Mas selalu sehat dari pada Hana melihat keadaan Mas yang seperti ini hiks...”
Hana yang sudah sangat khawatir membuat ia menangis dengan keadaan emosi, Brian yang melihat Hana seperti itu langsung memeluknya dengan keadaan lemas.
“Hiks... Mas kenapa selalu senang membuat Hana menangis? Apa dengan Hana menangis Mas akan bahagia? Jika begitu, Hana akan menangis setiap saat supaya Mas selalu sehat dan bahagia. Tidak seperti ini” saut Hana sambil memeluk Brian dengan sangat erat.
“Ma-maafkan a-aku hiks...” ucap Brian sambil menangis.
“Sudah Mas, sekarang Mas duduk dulu ya Hana mau ambilkan baju ganti Mas dulu. Ini basah semua kasihan Mas bisa masuk angin” saut Hana sambil mencoba mendudukkan Brian di atas kloset.
Dengan langkah sedikit tergesa-gesa Hana keluar kamar mandi dan mengambil baju ganti untuk Brian, kemudian kembali ke kamar mandi dan langsung membantu Brian untuk mengganti semua pakaiannya.
Tidak ada kata malu saat keadaan mendesak seperti ini, Hana hanya fokus untuk segera membawa Brian agar secepatnya bisa istirahat di atas kasur.
Sedangkan Qisya fokus menonton televisi di atas kasur dengan sangat serius. Perlahan demi perlahan Hana membopong Brian yang keadaannya sangat lemas ke arah kasur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai sini dulu cerita untuk saat ini 🤗
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung othor terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1
Papay 🤗🤗