
Ash berbicara dengan nada yang bermaksud untuk mencoba untuk menenangkan Sasya, namun Sasya tetap tidak menggubrisnya.
Sasya malah sibuk untuk melakukan beberapa kali panggilan ke semua nomor, baik nomor Bunda Hana, Lily, Lukas atau pun Ayah Brian semuanya tidak ada yang mau mengangkat telepon dari Sasya.
Sehingga Sasya menjadi semakin mengkhawatirkan keadaan keluarganya, yang mana wajah Sasya sudah begitu cemas, panik, khawatir yang kini bercampur aduk menjadi satu.
"Arrrgghhh... jika begini keadaannya aku tidak akan tenang dalam bekerja. Lebih baik aku pulang saja, apa kamu mau menemaniku pulang Ash? Aku mohon.." ucap Sasya sambil duduk di samping Ash dan mengembalikan ponselnya.
"Ta-tapi, Kiss.. a-aku hari ini ada jadwal operasi nanti jam 3 sore dengan dokter Frans. Ja-jadi aku tidak bisa meninggalkan tugasku begitu saja, ma-maaf?" ucap Ash dengan wajah sedihnya.
"Memangnya tidak bisa di ganti dengan dokter lainnya gitu Ash, aku benar-benar sangat butuh bantuanmu kali ini. Please Ash.. please.. aku mohon.." ucap Sasya dengan nada memohon.
"Ma-maaf Kiss.. a-aku tidak bisa, ji-jika aku membatalkan kesempatan ini. Bisa-bisa aku akan mendapatkan nilai jelek dari hasil kerja kerasku ini" u
Ash berbicara dengan nada lirih lantaran satu sisi Ash mau membantu Sasya, namun di sisi lainnya Ash tidak mau mendapatakan nilai jelek yang mana akan mempengaruhi tugas kuliahnya.
"Ta-tapi Ash.." ucapan Sasya terpotong saat seseorang datang mendekati mereka dengan tersenyum menatap kearahnya.
"Permisi, Dok.. maaf ganggu waktunya. Dokter Frans memanggil dokter Ash untuk segera menemuinya untuk menjelaskan sesuatu sebelum melakukan operasi nanti" ucap seseorang yang mana itu adalah Anna asisten suster Ash.
"Bukannya operasinya masih ada beberapa jam lagi? Lalu, kenapa dokter Frans memanggilku sekarang Anna?" tanya Ash dengan wajah bingungnya.
"Maaf, Dok untuk itu saya kurang tahu. Saya cuman di beri tahu oleh asisten suster dari dokter Frans. Jadi, saya segera mencari keberadaan dokter Ash dan memberitahu ini semua"
"Sebelumnya saya minta maaf kepada dokter Sasya karena datangan saya mengganggu waktu kalian, cuman saya harus segera menyampaikan pesan ini. Agar dokter Ash segera menemui dokter Frans"
Anna berbicara dengan nada sopannya sambil sedikit tersenyum kikuk menatap Sasya yang juga tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, suster Anna. Ini sudah menjadi tugasmu, yang mana dokter Ash juga harus segera mengetahui semua itu dan bisa langsung menemui dokter Frans di ruangannya" ucap Sasya sambil tersenyum.
Suster Anna yang melihat wajah Sasya seperti habis menangis membuat Anna langsung menanyakannya tanpa rasa tidak enak.
"Dokter Sasya tidak apa-apa, kan? Atau dokter Ash sudah melakukan sesuatu yang membuat dokter Sasya sampai bersedih seperti ini?" tanya suster Anna.
"Yaakk.. kau kira aku laki-laki penge*cut apa! Mentang-mentang dia terlihat habis menangis, aku yag di salahkan. Kalau kau tidak tahu apa-apa jangan asal menebaknya saja, apa kamu tahu jika dia itu menangis karena kepikiran dengan keluarganya yang sakit. Bukan karena aku, Paham!!"
Ash membentak sambil berdiri tepat di depan Anna yang membuat Anna memejamkan kedua matanya perlahan dan kembali membukanya menatap wajah Ash.
Sasya yang melihat itu langsung berdiri mendekati Ash dan juga Anna.
"Apa-apaan sih Ash, kamu ini kenapa jadi kasar kepadanya. Apa salah Anna padamu, hah!? Wajar saja jika dia itu menanyakan hal itu padamu karena aku menangis di sampingmu. Jika aku ada di posisi dia juga aku akan menanyakan ha yang sama, paham!"
"Jadi jangan sekali-kali kamu membentak Anna seperti ini, apa kamu lupa jika aku tidak suka dengan pria yang kasar terhadap wanita. Apa lagi sampai berani membentaknya seperti ini, atau kamu akan kehilanganku sebagai sahabatmu!"
"Ma-maaf.." ucap Ash lirih yang membuat Anna langsung menatap Ash dengan tatapan aneh lantaran Ash sangat menuruti ucapan Sasya.
"Di-dia bisa senurut itu hanya karena dokter Sasya yang berbicara? Astaga, i-ini benar-benar jadian yang sangat langka" gumam Anna di dalam hatinya.
"Lebih baik kau minta maaf pada Anna, sekarang!" tegas Sasya yang kini langsung membuat Ash menatap Anna dengan tatapan yang sedikit kesal.
"Ckk.. gara-gara dia, Kiss jadi memarahiku kan. Awas saja kamu Anna, aku kan membuat perhitungan padamu" ucap Ash di dalam hatinya sambil tersenyum kikuk.
"Maafkan aku, karena sudah membentakmu" imbuh Ash dengan nada sedikit cuek.
"Iya, tidak apa-apa Dok.. mungkin saya yang salah karena langsung menuduh dokter Ash begitu saja, jadi saya juga minta maaf ya.." ucap Anna dengan menunjukkan senyum manisnya hingga membuat kedua lesung pipinya terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Ba-baguslah ka-kalau dia sadar jika dia yang bersalah, ta-tapi haruskah menunjukkan senyum jelek itu? Astaga.. Anna, kau benar-benar membuat jantungku berdetak sangat tidak nyaman! Arrghhhh.. lihat saja nanti, aku akan rombak itu pipimu agar tidak ada lobang di sana yang akan mengganggu konsentrasiku" ucap Ash di dalam hatinya dengan kesal, yang mana wajahnya sudah mulai memerah.
Sasya dan Anna saling menatap satu sama lain saat melihat reaksi Ash yang terdiam memerah bagaikan kepiting rebus, hingga akhirnya Sasya melambaikan tangannya dan membuat Ash tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kamu melamun seperti itu sat melihat wajah suster Anna? Apa kamu menyukainya?" tanya Sasya spontan membuat keduanya melototkan matanya dengan wajah yang memarah.
Ash yang sudah mulai salah tingkah langsung saja, memegang tangan suster Anna.
"Astaga, aku lupa kan tadi dokter Frans memanggilku bukan begitu suster Anna? Jadi, ayo kita segera ke sana sebelum dokter Frans menunggu terlalu lama lagi" ucap Ash sambil menoleh ke arah suster Anna yang diam mematung hingga Ash.
"Aku pergi dulu ya, nanti kalau ada apa-apa kabari aku. Jangan pergi sendirian, jika aku selesai operasi nanti aku dapat izin maka aku akan menemanimu pulang ke rumah. Tunggu aku, dahh.."
Ash berbicara yang langsung membawa suster Anna pergi dengan menarik tangannya serta berpamitan kepada Sasya yang kini menatap mereka dengan wajah bingungnya.
"Baru kali ini aku melihat Ash menggandeng tangan wanita yang mana dia sangat anti berdekatan dengan wanita selain diriku. Bahkan, saat anak perempuan di kampus ingin mendekatinya saja dia malah bersikap cuek dan dingin"
"Namun, saat dengan suster Anna dia bahkan terlihat seperti salah tingkah dan sekarang malah pergi dengan menggandeng tangannya"
"Benar-benar sangat aneh sikapmu Ash, apa jangan-jangan kamu sudah mulai menaruh hati pada suster Anna? Astaga.. kenapa aku malah jadi memikirkan mereka sih!"
"Arrrggghhh.. bagaimana ini, aku harus pulang dengan siapa? Ash tidak bisa menemaniku, jika aku menunggunya pasti akan sangat lama. Dan sekarang perasaanku sudah mulai tidak tenang, aku selalu kepikiran dengan Ayah"
"Apa aku nekat pulang sendiri aja kali ya? Ahya.. Mungkin itu yang terbaik. Lebih baik aku segera menemui kepala dokter untuk meminta izin padanya. Semoga saja langsung di izinkan agar aku bisa segera pulang menengok Ayah. Bismillah.. semangat Sasya, semangat, kamu pasti bisa"
Sasya bergumam sendiri sambil menatap kepergian Ash dan suster Anna yag kini sudah menghilang, lalu Sasya pun pergi meninggalkan taman menuju ruangan kepala dokter.
Yang mana, Alex dan pinjai langsung segera membuntuti kemana pun Sasya pergi lantaran Alex tidak mau kehilangan jejak Sasya dan tidak akan pernah membiarkan Sasya pulang seorang diri.
__ADS_1