
Sampai seketika tak lama pesawat pun lepas landas meninggalkan kota Los Angeles menuju New York. Yang mana sebentar lagi Sasya akan bisa ketemu dengan keluarganya yang sudah ia nantikan agar bisa melihat kondisi sang Ayah.
*
*
Hampir 3 jam lamanya mereka hanya terdiam sambil menatap ke arah samping jendela pesawat yang mana hanya ada pemandangan awan dan juga langit yang mulai meredup pertanda jika hari sudah semakin sore.
Sasya yang merasa sangat jenuh langsung menoleh ke samping bersamaan dengan Alex yang juga menatapnya.
"Ada apa kau menatapku?" ucap Alex dan Sasya secara spontan hingga membuatnya terdiam lantaran tanpa di sengaja mereka seperti berbicara copy paste.
"E-enggak.." ucap keduanya kembali yang masih dengan permasaan yang kini berhasil mendapat cengengesan dari Pinjai yang duduk di belakang.
"Nahkan.. itu tandanya kalian berjodoh, jadi secepatnya bersatu. Mulut saja sudah menyatu, masa hati mau saling berlawanan ya enggak enak dong haha.." canda Pinjai yang sedikit mengecangkan suaranya agar terdengar di telinga dua sejoli tersebut.
Alex dan Sasya sedikit memajukan badannya dan menoleh ke arah Pinjai yang kini sedang menongolkan kepalanya.
"Diam!!" tegas keduanya yang mana langsung menatap satu sama lain penuh keterkejutannya.
Sedangkan Pinjai dan beberapa bodyguard hanya bisa tertawa kecil lantaran melihat mereka yang bertingkah layaknya anak kecil yang saling mengikuti suara satu sama lain.
Tapi, anehnya saat ini apa pun yg di ucapka Alex dan Sasya selalu sama hingga nada serta ritme pembicaraan pun sangat tepat.
Sampai kemudian, seorang pramugari datang dengan membawakan beberapa hidangan cemilan yang sangat enak.
"Permisi Tuan, Nyonya semuanya.. saya membawakan cemilan untuk menemani waktu santai semuanya. Jika ada yang sudah merasa lapar atau apa pun bisa segera mengatakanna dan aku aku akan segera membawakan makanan tersebut"
__ADS_1
Seorang pramugari berbicara sambil membagikan beberapa camilan bersama rekan kerjanya kepada mereka di atas meja kecil, yang langsung di angguki oleh beberapa bodyguard dan juga Pinjai, serta Alex.
Sedangkan Sasya selalu menunjukkan senyumnya yang mana salah satu pramugara ikut membantu memberikan makanan kepada mereka. Sehingga Alex yang melihat itu mmebuat hatinya sangat panas.
"Terima kasih, Kakak tampan.." ucap Sasya dengan tersenyum lebar sambil menatap seorang pramugara.
"Sama-sama, Kakak cantik.." sahut seorang pramugara yang membalas senyuman Sasya sangat manis bahkan Alex yang melihatnya benar-benar sudah tidak bisa lagi mengontrol rasa cemburu di hatinya yang saat ini menggebu-gebu.
"Elehh.. kaya gitu di bilang tampan? Cihh.. matanya aja yang lagi bermasalah" celoteh Alex dengan cuek.
"Kenapa? Iri, bilang Bos!" celetuk Sasya yang tidak kalah ketusnya.
"Yayaya.. begitulah seorang wanita jika sudah berulah maka akan hanya membuat seorang pria baper. Namun, saat si pria mengungkapkan cintanya si wanita malah ada saja alesannya dan dengan begitu dia bisa kembali mencari mangsa barunya" sindir Alex dengan keras.
"Yaaaakk.. enak saja kalau ngomong, kau kira aku wanita apaan hah!! Bilang saja kalau kamu itu merasa tersaingin lantaran tidak ada wanita pun yang berani memujimu" celetus Sasya yang mana membuat Alex langsung menatapnya dengan tajam.
"Heii.. dokter Sasya yang sangat menyebalkan! Apa kau lupa waktu itu pernah ada 2 wanita yang sedang menggodaku habis-habisan, namun ada seorang gadis kecil yang memarahinya lantaran dia tidak mau kekasihnya di goda oleh siapa pun?"
"Namun, pada saat itu aku rasa gadis kecil itu belum mengetahui atas ucapannya, jadi apakah saat ini gadis itu sudah mengetahuinya?"
Alex menggoda serta menyindir Sasya yang mana Sasya terdiam dengan keadaan wajah memerah menatap Alex. Sedangkan beberapa pramugari/pramugara sudah kembali ke tempatnya lantaran kode yang telah Pinjai berikan.
Pinjai yang melihat tingkah keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena di satu sisi mereka terkadang terlihat sangat lucu dan juga menggemaskan.
Namun, di sisi lainnya mereka juga sangat membuat Pinjai pusing serta bingung harus bagaimana menghadapi pertengkaran mereka yang seperti ini.
"Huhhh.. terkadang mereka terlihat sangat manis jika sedang berada di adegan yang pas, tetapi mereka juga bisa terlihat sangat menyebalkan ketika berada di adegan yang selalu melenceng"
__ADS_1
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka sudah menjadi satu keluarga, apakah anaknya akan seperti ini? Atau bahkan lebih parah? Hahh.. aku saja yang menjalin hubungan dengan Manda tidak seperti ini saja anakku sudah sangat menyebalkan. Apa kabar dengan anak mereka?"
Pinjai bergumam di dalam hatinya dengan tatapan malas saat melihat cekcok keduanya yang begitu rumit. Pinjai malah menyibukkan dirinya dengan memekai penutup kuping serta mendengarkan musik atau menonton sesuatu di layar kecil.
"Stop! Jangan kembali mengingatkan aku tentang masa lalu, paham!" ucap Sasya dengan wajah datarnya yang mana malah membuat Alex tersadar jika dirinya malah berusaha mengingatkan masa lalu, padahal Sasya telah berjuang untuk melewatinya susah payah dan penuh perjuangan.
"Ma-maaf, a-aku tidak sengaja. A-aku lupa jika kau-..." ucapan Alex terhenti saat menilah Sasya menatapnya penuh instens serta langsung menyerobotnya.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Mungkin menurutmu masa lalu itu sangatlah indah karena kedekatan kita, namun menurutku masa lalu itu sangatlah menyakitkan. Aku tidak membencimu, bahkan membanci apa yang pernah kita lalui"
"Aku hanya sedang berusaha berdamai dengan masa laluku dan aku cuman ingin menjadikannya semuanya kenangan, karena aku mau fokus menata masa depanku dengan menggapai semua cita-citaku agar aku bisa membahagiakan keluargaku"
"Tapi, jika masalah jodoh aku hanya bisa menyerahakn pada Sang Pencipta. Aku tahu jika pemberiannya adalah yang terbaik untukku, ya walaupun suatu saat nanti aku mendapatkan pasangan memiliki masa lalu begitu kelam aku akan tetap bersyukur"
"Apa lagi dia kalau sampai dia mau berubah menjadi jauh lebih baik lagi, maka aku akan menghargai proses itu dari pada aku langsung menemukan seseorang yang terlihat sempurna namun nyatanya zonk"
Sasya mengoceh tanpa henti yang mana mampu membuat Alex merasa tersentuh dan bersalah, tapi poin-poin yang berasal dari ucapan Sasya seperti sedang memberikan kode kepada Alex yang mana Alex sudah menangkap semua itu.
"Aku janji Saya, aku janji. Aku akan meninggalkan semua bisnis gelapku secara perlahan, dan aku akan berubah menjadi orang yang jauh lebih baik dari ini. Aku benar-benar akan berjuang melakukan apa pun demi mendapatkanmu, meskipun aku harus mempertaruhkan semua hartaku aku siap bahkan nyawa pun aku rela. Asalkan aku akan terus bersamamu sampai aku menutup mata untuk terakhir kalinya"
Alex berbicara di dalam hatinya sendiri yang mana matanya berkaca-kaca saar menatap Sasya yang kini sudah menoleh menatap ke arah jendela. Namun, tanpa di sadari Sasya meneteskan air matanya serta mengusapnya secara perlahan.
"Aku memang tidak bisa melupakan kejadian yang sangat menyakitkan di dalam hidupku tentang dirimu, tapi entah kenapa hati ini selalu terus menerus membuatku agar aku bisa memberikan suport untukmu supaya kamu bisa berubah. Tapi, aku sadar jika seseorang tidak akan bisa berubah kalau bukan dengan niatan dari hatinya"
"Cuman, entah mengapa aku sangat ingin melihatmu berubah menjadi pria yang baik dan tidak lagi menjalankan bisnis kotormu itu. Karena aku takut jika suatu saat nanti Ayah dan Bunda tahu jika kamu ada di dekatku dengan pekerjaanmu yang gelap itu maka aku akan sangat yakin jika mereka kembali memisahkanku denganmu"
"Jujur aku tidak mau kalau sampai itu terjadi kembali, aku tidak bisa lagi menahan semua perasaan ini. Aku sudah mencoba untuk menguburnya perlahan, namun saat kau kembali muncul rasa ini malah menjdi berlipat ganda. Apakah ini yang di namakan takdir? Sejauh apa pun kita berpisah, jika takdir memang menyatukan kita pasti akan bertemu di saat yang tepat"
__ADS_1
Sasya berbicara di dalam hatinya sesekali air matanya menetes di pipi serta tak lupa menghapusnya menggunakan jarinya dengan perlahan agar tidak membuat Alex merasa curiga.
Bahkan Sasya berusaha menahan isak tangisnya agar tidak sampai terdengar oleh siap pun yang ada di dalam pesawat tersebut, terutama Alex.