Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
I'm Fine, Jay


__ADS_3

Ya meskipun Jay terlihat sangat cuek pada Lily, tapi di dalam hatinya ia merasa ada yang aneh setiap ia melihat Lily yang ceroboh, bandel atau sebagainya dan itu membuat hati Jay terarah untuk segera menghentikannya.


“Huaahhh... huaahh... huaahh...” Lily kepedasan sambil meminum es tersebut yang membuat bibirnya memerah serta wajahnya sudah mulai berkeringat.


Padahal belum ada setengah ayam yang Lily makan, kini sudah membuatnya seperti di dalam kobaran api. Jelas-jelas ini adalah sekolah elite, pasti akan ada AC di setiap ruangan kecuali di dalam kamar mandi.


“Huaaahhh... So spicy... hahh...” ucap Lily yang membuat Jay sedikit kesal.


Akhirnya Jay berjalan dengan langkah cepatnya, dan langsung menarik box tersebut dengan kasar serta ia membuangnya ke tempat sampah. Lily yang melihat itu langsung berdiri dengan wajah yang sudah memerah.


"Aaahh... Jayyyyy... Kenapa makanan aku di buang hahh... hahh...” pekik Lily dengan menahan rasa panas akibat lidahnya yang mulai terbakar.


Jay kembali mendekati Lily dan berkata, “Kau tahu kan itu bukan makanan yang sehat, tapi sebuah penyakit! Jadi bijaklah dalam memilih makanan, paham!”


“Huaaa... Dasar bocah menyebalkan. Kau kira harga makanan itu murah apa, hah! Itu mahal tahu, bahkan uang jajanku saja tinggal sedikit karena membelinya. Lalu sekarang kau dengan seenaknya tanpa rasa bersalah membuangnya begitu saja” Celoteh Lily yang membuat Jay tetap fokus pada bukunya, dan berpura-pura membaca buku.


“Oh my... Itu mulut apa toa sekolah sih. Nyaring banget suaranya, sampai kupingku berdengung seperti ini uhh...” ucap Jay di dalam hati kecilnya sambil menutup kedua kupingnya.


Lily yang memang sedang kepedasan membuat emosinya semakin memuncak. Sehingga Lily segera mendekati meja Jay.


Braaaakkk...


“Kau dengar tidak aku ini berbicara padamu, bukan dengan manekin hahh???” Lily memukul meja dengan sedikit keras yang membuat ia sendiri meringis kesakitan.


“Makanya jangan sok kuat deh, mau memukul meja tapi begini saja sudah mengeluh hump... Dasar payah!” ledek Jay sambil melirik tajam ke arah Lily yang emosinya semakin tinggi karena efek pedasnya masih ada di lidahnya.


“Kaaauuuu...” geram Lily yang mau memukul Jay, namun seperkian detik ia mengurungkan niatnya karena rasa pedes yang lebih panas.


Sehingga Lily langsung berlari ke arah mejanya untuk kembali minum. Tapi sayangnya minuman tersebut sudah habis tak tersisa membuat Lily kalang kabut di buatnya. Diam-diam Jay masih memperhatikan Lily, lalu seketika ia ingat jika tadi pagi sang Mommy memberikan sekotak susu untuknya.


Sesegera mungkin Jay mengeluarkan kotak susu yang belum di minum tersebut dari dalam tasnya. Kemudian Jay berjalan dengan wajar datarnya mendekati Lily yang wajahnya semakin memerah karena kepedesan.


“Nih... Minumlah susu ini, siapa tahu pedasnya akan berkurang” ucap Jay dengan nada cuek.


“Thank you Jay...” sahut Lily yang langsung merampas susu tersebut serta meminumnya dengan perasaan lega.


Jay kembali berjalan ke mejanya sambil meneruskan membaca bukunya, serta mengerjakan pekerjaan rumah agar dia bisa lebih santai saat di rumah. Lagi pula ini jam kosong, dari pada di pakai untuk yang tidak penting lebih baik di gunakan sebaik mungkin. Ya walaupun jatuhnya memang Jay melakukan ini agar di rumah bisa fokus pada games kesayangannya di rumah nanti.


5 menit telah berlalu...


Setelah rasa pedas di dalam mulut Lily menghilang, ia malah merasakan jika perutnya mulai sakit dan juga panas. Lily merebahkan kepalanya di meja dengan tumpuan satu tangan sambil menatap ke arah tembok, lalu tangan satunya memegangi perutnya yang semakin memanas.


“Hiks... hiks...” Lily menangis dengan suara yang sangat kecil, bahkan nyaris tidak bersuara.

__ADS_1


Lily takut jika sampai nanti Lukas mengetahuinya, pasti ia akan habis di marahi karena Lily mempunyai penyakit lambung sehingga ia tidak bisa terkena makanan yang begitu pedas. Tetapi kalau tidak bandel, berarti bukan Lily dong namanya. Ya memang Lily sangat tahu jika dirinya tidak boleh makan apa pun yang berbau pedas, cuma menurut Lily jika hanya sekali dalam sebulan atau setahun masa iya tidak boleh.


Lagian Lily juga pengen merasakan seperti yang lainnya di mana mereka bisa makan apa pun tanpa adanya larangan. Jay sesekali memperhatikan Lily tanpa mau membuatnya menjadi kege’eran akibat perhatiannya. Padahal Jay melakukan itu hanya untuk menolong Lily saja bukan karena ia memiliki perasaan.


Cuma tidak tahu kenapa, saat ini Lily bagaikan objek yang tidak bisa lepas dari mata Elangnya Jay. Jay melihat tubuh Lily bergetar yang menandakan bahwa dirinya sedang menangis. Jay membereskan bukunya ke dalam tas, lalu perlahan demi perlahan ia kembali mendekati Lily dengan wajah penuh kekhawatiran.


“Lyyy... A-are you okay?” ucap Jay dengan suara yang begitu cemas.


Lily yang mendengar itu langsung menolehkan kepalanya tanpa mengubah posisinya. Jay yang melihat wajah Lily mulai sembab langsung duduk di kursi sampingnya Lily dengan segala kepanikannya.


“Why are you cry? Bilang sama aku, siapa yang menyakitimu. Aku akan hajar dia sampai babak belur nanti...” ucap spontan Jay yang membuat Lily tersenyum di sela isak tangisnya, cuma sayangnya Jay tidak sadar jika ia mengatakan hal yang membuat hati Lily begitu tersentuh.


“I'm fine, Jay... Aku cuma kangen saja sama Kak Sasya karena dia belum pulang dari Los Angeles” jawab Lily dengan nada berbohong sambil mencekram perutnya sendiri.


“Aku kirain kamu kenapa” ucap Jay yang kembali datar, membuat Lily tertawa kecil.


“Hehe... Kamu lucu deh, tadi kamu mengkhawatirkan aku sampai-sampai mau membuat orang yang menyakitiku babak belur. Tapi sekarang malah kembali cuek, dasar bunglon hihi...” ledek Lily dengan segara kesakitannya.


Terlihat jelas jika Lily sedang berusaha mengalihkan rasa sakitnya. Jay yang mendengar itu pun segera membuatnya berdiri dengan wajah tegangnya menatap Lily.


“E-enggak, a-aku tidak bilang begitu kok. Ka-kamu salah dengar kali... Aku cuma bilang kamu kenapa nangis gitu doang” sahut Jay.


“Begini nih kalau sudah ketahuan, pasti si bunglon akan berubah kembali untuk menutupi penyamarannya tadi haha...” ucap Lily yang tak terasa membuat muka Jay memerah akibat malu.


“Sstttt...” Lily mengerang kesakitan memegangi perutnya yang memang sudah tidak bisa lagi ia tahan.


“Hiks... Sa-sakit Jay, sakit... hiks...” rengek Lily sambil kedua tangannya memegangi perutnya.


“Kalau udah begini baru kapok, tadi kemana saja hah... Malah terlihat begitu bahagia memakannya, sekarang sudah tahu akibatnya kan bukannya sehat malah sakit seperti ini!” omel Jay kembali yang malah membuat Lily kesal.


“Stoppppp! Aku ini lagi sakit bukannya cepetan di tolong kek, apa kek... Ini malah di ceramahi kek Ibu tiri...” pekik Lily yang membuat Jay langsung berlari mencari pertolongan.


“Okeee... Tunggu si situ dulu ya, jangan kemana-mana ingatttttt...” teriak Jay di sela larinya yang begitu kencang.


“Hiks... Bu-Bunda, A-Abang, A-Ayah, Ka-Kakak hiks... Perut Lily sakit hiks... To-tolong Lily hiks...” Lily menangis dengan sangat kejar sambil mencoba menahan rasa sakitnya sampai Jay kembali membawa pertolongan.


*


*


Sementara itu di perpustakaan


Lukas sedang duduk di meja paling ujung di dekat pojokkan, karena ia tidak terlalu suka dengan keramaian jadi ia selalu ia mencari tempat yang bisa membuatnya sangat nyaman dan tenang.

__ADS_1


“Kenapa perasaanku tidak enak kayak gini ya...” gumam Lukas sambil menatap ke arah jendela sambil merasakan hatinya seperti ada yang mengganjal.


Entahlah dia sendiri tidak tahu itu tidak, namun saat Lukas kembali fokus membaca salah satu buku ia di kejutkan dengan benda yang terjatuh tepat di punggungnya.


Bughh...


Sebuah buku yang lumayan besar dan tebal menimpa punggung Lukas.


“Ckkk... Who is this? Mengambil buku saja tidak becus ciih!” gumam Lukas dengan tatapan penuh kekesalan.


“Sorry!” ucap salah satu siswi dengan segala kedatarannya menatap Lukas yang masih menatap lurus ke depan.


“Bisa kan jadi cewek jangan ceroboh! Mengambil buku begitu saja tidak be-....” ucapan Lukas terhenti saat ia menoleh menatap seseorang yang tidak familier dan langsung berdiri secepat mungkin dengan menimbulkan suara kursi yang terseret ke belakang.


“Ka-kauu...” ucap Lukas kembali penuh keterkejutannya.


“Why?” tanya siswi itu yang tidak lain adalah Key, siswa yang paling cuek, jutek dan juga tidak suka banyak berbicara sama seperti Lukas.


“No... Nothing!” ucap Lukas dengan terbata-bata dan juga tegas untuk menutupi kegugupannya.


“Sorry sudah membuatmu merasakan sakit, saya tidak sengaja. Jadi sekali lagi maaf, permisi.m.” sahut Key dengan penuh segala kecuekannya lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Lukas.


“Wait a minute!” pekik Lukas yang membuat Key menghentikan kedua langkah kakinya tanpa mau menolehnya.


Kemudian Lukas membungkuk mengambilkan buku tersebut dan berjalan mendekati Key. Lukas berdiri tepat di depan Key sambil memberikan buku yang tadi jatuh menimpa punggungnya.


“This is your book, jadi bawalah pergi!” ucap Lukas yang memberikan buku itu kepada Key.


Segera mungkin Key mengambilnya dan tak lupa ia mengucapkan kata terima kasih. Awalnya Key memang sangat ingin membaca buku yang saat ini sudah ada di tangannya, cuma karena bukunya terlalu jauh dari jangkauannya sehingga bukunya pun terjatuh di seberang tepat mengenai punggungnya Lukas.


Key yang melihat buku itu mengenai salah satu pria cuek, membuatnya enggan untuk kembali mengambilnya. Tapi siapa sangka kini malah Lukas sendirilah yang mengantarkan buku itu. Setelah buku itu sudah di tangan Key, Lukas pun segera pergi dari perpustakaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Jangan bosan-bosan ya buat dukung Author Cubby ini... 🤭🤭🤭


Jangan lupa untuk selalu tersenyum dan bahagia ya semuanya... 😁😁😁


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗

__ADS_1


Sayang kalian banyak banyak semua pembaca setiaku 🤗🥰❤️🤍


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2