Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Perasaan Sasya Pada Alex


__ADS_3

Yang lain hanya menyimak sambil kembali menyemil, belum lagi Lily si ratu nyemil. Sebanyak apa pun dia makan maka jika melihat sesuatu di depan matanya pun akan langsung disikat. Semua camilan tidak lepas dari genggaman Lily yang mana tubuhnya semakin lama semakin gembul.


...*...


...*...


1 Minggu berlalu..


Sasya sudah kembali bekerja bersama Ash, bahkan hanya tinggal beberapa hari lagi masa relawan mereka akan berakhir. Namun tanpa Sasya sadari Alex sudah menunggu di taman.


"Kiss.. aku ke kantin dulu ya beli minum haus nih, kamu mau nitip enggak? Nanti aku nyusul ke sana.." Ujar Ash sambil memberhentikan langkah kakinya.


"Hem.. boleh, aku titip minuman seger aja ya sama roti tapi gratis. Bagaimana? Boleh dong.." Jawab Sasya sambil merayu Ash.


"Huhh.. beginilah nasib kacung, baru nawarin malah kejebak sendiri. Yayaya.. aku beliin, ya sudah kamu duluan ke taman nanti aku nyusul" Sahut Ash.


"Wokee.. dahh.." Sasya melambaikan tangannya sambil berjalan pergi meninggalkan Ash yang masih menatap kepergiannya, lalu Ash pun pergi ke arah yang berlawanan. Sasya pergi ke arah kanan dan Ash ke arah kiri.


Baru beberapa langkah Sasya sudah banyak di sapa oleh keluarga pasien yang baru saja lewat, sehingga Sasya sedikit mengobrol dengannya. Lalu Sasya kembali berjalan dan melihat ada seorang pria duduk di kursi taman dengan posisi tubuh membelakanginya.


Sasya mengerutkan dahinya sangat bingung, setelah itu Sasya melangkahkan kakinya mendekati pria tersebut. Mata Sasya berubah sedikit bersinar karena Sasya tahu jika pria yang duduk itu adalah Alex.


Sasya berjalan memutari Alex dan duduk di sampingnya sambil menoleh ke arahnya lalu berkata, "Ada apa kamu ke sini? Tumben.. biasanya kalau mau menemuiku kirim pesan terlebih dahulu. Tetapi ini kok langsung dateng aja tanpa di undang"

__ADS_1


Alex menoleh tersenyum kecil ke arah Sasya kemudian ia menjawab, "Maaf kalau aku mengagetkanmu, tapi mungkin ini pertemuan terakhir kita"


Deghhh..


Sasya awalnya menatap ke arah anak kecil yang sedang bermain, seketika menoleh ke arah Alex dengan ekspresi mimik wajah begitu terkejut.


"Ma-maksudmu pe-pertemuan terakhir kaya gimana? Apa kamu sudah bosan padaku? Kamu bilang katanya kamu mau memperjuangkan cintamu padaku, lantas apa yang aku dengar ini hahh!!"


Sasya berdiri menatap wajah Alex yang hanya bisa tersenyum melihat Sasya semakin ke sini semakin menunjukkan cintanya pada Alex, meskipun Sasya tidak mengatakan bahwa dia mencintainya tetapi Alex bisa melihat semua itu dari sorotan mata Sasya yang saat ini mulai berkaca-kaca.


Tanpa mereka sadari ternyata Ash baru saja tiba di taman dan menatap Sasya sedikit tegang. Ash mau melangkahkan kakinya mendekati Sasya, namun dia urungkan niatnya dan malah bersembunyi di balik pohon yang tak jauh sehingga Ash bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Bukannya kamu tidak mencintaiku? Lalu buat apa kamu marah seperti ini, toh di sini hanya aku yang berjuang jadi buat apa! Pasti hasilnya akan sia-sia, dari pada aku semakin menyakiti hatiku lebih baik aku menjauh darimu. Siapa tahu kan kamu bisa hidup tenang tanpa kehadiran aku yang selalu mengganggumu"


Alex mencoba memanfaatkan keadaan ini untuk memancing perasaan yang selama ini Sasya umpeti, mungkin dengan cara kaya gini Alex bisa membuat Sasya menyatakan perasaannya sebelum ia pergi.


"Selama ini aku bertahan dengan semua kisahmu yang selalu menghantuiku, dulu memang aku tidak tahu apa itu cinta. Tapi sekarang tidak lagi, karena aku sudah menyadarinya. Cuman aku tidak bisa mengatakannya kalau aku juga mencintamu Lex!"


Sasya meneteskan air matanya sambil terduduk kembali dengan pandang lurus ke depan. Alex yang melihat itu segera mengeluarkan kain kecil dari saku celananya.


"Pakai ini kasihan wajahmu yang cantik tertutup oleh awan mendung" Alex menyodorkan kain tersebut hingga Sasya langsung menerimanya.


"Ke-kenapa kamu tega sama aku hiks.. ka-kamu bilang kamu mau berjuang buat cinta kita, tapi kenapa di saat aku sudah mulai membuka hatiku kamu malah ingin pergi dariku. Kamu jahat Lex, kamu jahat aku benci sama kamu aku benci hiks.."

__ADS_1


Sasya menyerongkan tubuhnya berhadapan dengan Alex lalu ia mengoceh tanpa henti sambil memukul keras tubuh Alex. Sedangkan Alex hanya bisa tersenyum sangat lebar, akhirnya dia bisa mendengar sendiri tentang perasaan Sasya kepadanya.


Rasa bahagia menyelimuti Alex hingga tanpa di sadari ia meneteskan air matanya dan berkata, "A-aku senang Saa.. a-aku senang ketika mendengar bahwa kamu juga mencintaiku. Terima kasih selama ini kamu telah mempertahankan cinta yang ada di dalam hatimu hanya untukku dan terima kasih karena kamu sudah bisa menerimaku apa adanya tanpa melihat sisi buruku yang dahulu"


Sasya terdiam ketika matanya menatap mata Alex yang sudah mengalir deras membuat Sasya malah menjadi bingung ada apa dengan semua ini kenapa Alex bisa menangis.


"Ka-kamu nangis? A-apa aku memukulmu begitu kencang, sehingga kamu merasa kesakitan?" Tanya Sasya dengan ekspresi wajahnya yang begitu polos.


Alex menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ti-tidak, aku menangis bukan akibat pukulanmu yang tidak ada rasanya itu. Tetapi aku menangis karena aku bahagia hari ini kamu telah menyatakan cintamu padaku meskipun dengan cara yang tak di duga"


Sasya mendengar jawaban Alex langsung terdiam seribu bahasa, bahkan wajahnya mulai memerah. Sasya baru menyadari bahwa dirinya sudah menyatakan cintanya sebelum waktu itu tiba. Entah kenapa Sasya malah menjadi salah tingkah.


Sedangkan Ash yang berada di balik pohon dari tadi menahan semua rasa sakit hatinya ketika wanita yang ia cintai selama ini malah menyatakan cintanya pada pria yang baru saja di kenal, apa lagi Ash sampai detik ini belum tahu ada kedekatan apa Sasya dengan Alex sehingga mereka terlihat seperti bukan orang yang baru kenal.


Akibat rasa fokusnya menatap Sasya dan juga Alex, Ash tidak menyadari bahwa ada seorang wanita berdiri tepat di belakangnya dengan wajah bingung melihat tangan Ash memukul-mukul batang pohon dengan ekspresi marah.


"Kenapa kamu mudah sekali menyatakan cintamu pada seorang pria yang baru saja kamu kenal Kiss? Ada apa semua ini, apa kalian sudah mengenal sejak lama? Jika benar kenapa kamu tidak menceritakan kedekatan kalian padaku, asal kamu tahu Kiss selama ini aku menahan perasanku menunggu waktu yang tepat agar aku bisa menyatakan cinta ini"


"Namun aku salah Kiss.. te-ternyata kamu tidak sedikit pun memiliki perasaan padaku. Padahal kita dekat sudah sangat lama, namun.. sudahlah mungkin cintaku hanya bertepuk sebelah tangan hehe.."


Ash bergumam kecil dengan mata menatap ke arah Alex dan Sasya, mata Ash mulai berkaca-kaca. Cuman disaat Ash sedang diambang kekecewaannya suara wanita di belakang mampi membuat Ash langsung membolakan matanya.


"Itulah yang dinamakan cinta, Dok. Jika kita sudah berani bermain dengannya maka kita juga harus sudah siap untuk menerima semua kenyataan dimana cinta yang kita berikan akan terbalaskan atau tidak. Setidaknya kamu sudah berjuang untuk selalu ada di sampingnya"

__ADS_1


"Jadi kalau mereka memang saling mencintai belajarlah untuk melepaskan perasaan itu agar hatimu tidak terluka semakin dalam. Toh kamu sama dia juga masih bisa dekat bukan? Ya walaupun hanya sekedar sahabat. Tapi aku yakin kok suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan yang lebih darinya, pokonya semangat"


Wanita cantik berbicara dengan sangat lembut dan tersenyum menatap Ash, Ash yang sudah membalikan tubuhnya menatap wanita itu membuat ia sedikit terkejut, tetapi berkat ucapan wanita itu hati Ash yang terluka penuh dengan amarah seketika mulai mereda. Entah ilmu apa yang digunakan olehnya sampai-sampai yang di ucapkannya berhasil menghilangkan kesedihan di dalam hatinya.


__ADS_2