Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Lomba Malu-Malu Meong


__ADS_3

“Enggak menyangka, aku kira rasa makanan ini tidak enak. Tetapi rasanya malah mengalahkan masakan restoran bintang 5” ucap Brian di dalam hari sambil makan.


Bagaimana tidak enak, ini saja sudah termasuk makanan paling mewah jika berada di desa.


Berbeda jika kita berada di kota, maka makanan ini layaknya makanan di warteg dengan sayur yang dibungkus seharga 3000 dan gorengan seharga 2000.


Tetapi tidak dengan Abah dan Umi yang melihat cara makan Brian malah membuat mereka tersenyum senang.


Kapan lagi ada tamu dengan penampilan seperti orang kaya main ke rumah mereka yang sangat kecil dan jelek kini.


Apa lagi hanya dengan masakan sederhana saja bisa membuat Brian sampai menambah sebanyak 2 kali.


Kemudian mereka semua melanjutkan makannya dengan sangat tenang tanpa bersuara sedikit pun.


Namun di sisa-sisa penghabisan tempe mendoan yang telah Hana buat, kini malah menjadi rebutan kedua pria yang tidak mau saling mengalah.


Dan sang Umilah yang menjadi penengah, kemudian tempe mendoan yang terakhir itu di belah menjadi 2 lalu membagikannya kepada Arya dan Brian.


Hanya yang melihat tinglah aneh Brian malah membuat dirinya menjadi senyum-senyum sendiri.


Abah yang sudah selesai dengan makanannya kemudian mengajak Arya serta Brian untuk duduk diruang tamu sambil menunggu Hana dan Umi yang sedang membereskan meja makan terlebih dulu.


*


*


*


*


Hana dan Umi sudah selesai membereskan meja makan serta dapur kemudian mencuci piring.


Kini mereka berdua berjalan ke arah ruang tamu, yang di mana Abah, Arya dan Brian sedang menunggu.


Hana dan Umi duduk di kursi yang bersebelahan, sedangkan Brian duduk di kursi yang bersebelahan dengan Arya. Kemudian Abah duduk di kursi tunggal kesayangannya.


Kemudian Brian memperkenalkan diri sambil sedikit bercerita kenapa bisa ada di sini dengan nada dinginnya serta muka yang tanpa ekspresi.


“Ndok, bisa dijelaskan bagaimana mas Brian bisa sampai ada di dalam rumah ini? Mas Brian saja tidak tahu jika dia di bawa ke rumah kita” ucap Abah sambil menatap Hana.


“Iki loh bah-..” Hana menjeda ucapannya karena dipotong oleh Abah.


“Gunakan bahasa biasa saja Ndok, kasihan mas Brian tidak paham bahasa lokal” ucap Abah.


Akhirnya Hana menceritakan semuanya tentang kejadian itu, dan sampai akhirnya Hana membawa Brian ke rumah.


“Jadi begitu toh mbak, kenapa tidak memberitahu Arya dulu jika di kamar ada mas Brian” saut Arya.

__ADS_1


“Hehe.. maaf dek, mbak lupa toh kalo di kamarmu ada mas Brian” ucap Hana sambil tersenyum dengan menampilkan lesung pipi yang sangat manis.


“Se-senyum itu? Se-seperti senyum Sandra” ucap Brian di dalam hati.


“Bagaimana keadaan mas Brian sekarang, apa sudah jauh lebih baik? Atau masih sakit, nanti kita bisa periksa ke puskesmas di sini” tanya Umi dengan sangat ramah.


“Terima kasih om, tante atas bantuan kalian” ucap Brian sambil menatap Abah dan Umi yang diangguki oleh mereka dengan senyuman.


“Dan untukmu saya ucapkan banyak-banyak terima kasih sudah menyelamatkan saya, maaf jika tadi saya hampir saja menabrakmu karena tidak berhati-hati” sambung Brian sambil menatap Hana dan hanya di senyumi oleh Hana.


“Sedangkan untukmu saya ingin ucapkan maaf yang sebesar-besarnya karena sudah menuduhmu yang bukan-bukan” sambung Brian sambil menatap Arya.


“Tidak apa-apa mas, Arya paham kok. Lagian juga Arya mau minta maaf karena sudah menuduh mas sebagai maling hehe..” saut Arya dengan nada cengengesan.


“Tidak perlu terlalu formal nak, panggil saja aku Abah Tomi. Ini istriku Umi Dewi, itu anak pertamaku Hana dan ini anak bontotku Arya” ucap Abah sambil memperkenalkan diri.


Brian hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil sesekali menatap mereka.


“Hoya.. mas maaf mobilmu kayanya rusak parah, dan masih ada di tempat kejadian. Habis Hana bingung mau bawanya pakai apa” celoteh Hana yang langsung di tatap oleh Brian.


Hana langsung membuang mukanya untuk menjauhi tatapan Brian.


“Maaf masnya tidak boleh melihat wanita bukan mahramnya seperti itu, nanti berdosa” ucap Abah yang menasihati Brian.


“Ma-maaf o- eh Abah” ucap Brian dengan sangat gugup.


“Oalah anakmu toh bah, seneng banget meledek mbakyune” ucap Umi sambil mengadu kepada Abah.


“Anakmu juga toh mi, kan bikinnya bareng satu pabrik” celoteh Abah yang membuat muka Umi memerah.


“Astagfirullah, Abah ini bikin Umi malu saja toh” saut Umi dengan menahan malunya.


Sedangkan Brian dan Hana mukanya sudah memerah seperti keping rebus yang baru saja diangkat.


“Haha.. lah ini ada apa sih, kok mukanya pada merah begitu. Apakah lagi ada lomba malu-malu meong?” ucap Arya dengan sifat jailnya.


“Hoya.. mas Brian ini sudah berkeluargakah? Sepertinya dari parasnya terlihat sudah dewasa dan cukup umur” tanya Abah untuk mengalihkan topik.


“Saya duda yang ditinggal istri 5 tahun lalu tepat di malam pertama kami dan saya berumur 30 tahun” jawab Brian dengan tegas.


“Innalilahi wainnalilahi rojiun, kami turut berduka cita ya mas. Maaf jika pertanyaan Abah membuatmu menjadi teringat masa lalu” ucap Abah dengan rasa yang tidak enak.


“Tidak apa-apa Abah, saya sudah mengikhlaskan semuanya. Dan Allah sudah menggantikan dia dengan menghadirkan putriku yang sangat cantik” ucap Brian sedikit tersenyum sangat tipis bahkan hampir tidak terlihat.


“Loh tadi bilang istrinya meninggal saat malam pertama, lalu anak siapa itu mas Brian? Apa masnya sudah punya istri lagi? Tapi kok duda. Bagaimana ceritanya kok Hana jadi bingung ya” celoteh hanya yang malah mendapat tatapan dari Umi dan Abahnya.


“Ndok, enggak boleh ikut campur urusan orang. Itu urusan dapur mereka, paham kan maksud Abah” ucap Abah dengan nada yang tegas.

__ADS_1


“Maaf Abah, Hana hilaf..” jawab Hana dengan menundukkan kepalanya.


“Ya sudah, kamu harus minta maaf juga pada mas Brian” celetuk Umi sambil diangguki oleh Hana.


“Hana minta maaf sudah ikut campur urusan kehidupan mas Brian” ucap Hana sambil menundukkan kepalanya.


“Baiklah, saya harus segera pergi dulu karena masih banyak pekerjaan yang harus saya tangani di sini” ucap Brian dengan nada dingin.


“Ya sudah, Arya kamu antarkan mas Brian sampai ke tempat kerjanya ya. Kasihan karena mas Brian pasti belum ada kendaraan, apa lagi di sini sulit sekali menemukan taksi” ucap Abah.


“Oke siap Abah, Arya selalu siap melaksanakan perintah negara tanpa membantah sedikit pun” ucap Arya dengan gaya hormat layaknya seorang militer.


“Arya, Arya ada-ada saja kelakuanmu, nak” ucap Umi sambil menggelengkan kepalanya sedangkan Arya hanya bisa tertawa.


“Tidak usah Abah, saya sudah banyak merepotkan kalian di sini” ucap Brian.


“Tidak apa-apa nak, kasihan jika kamu kesulitan mencari kendaraan. Biar Arya yang mengantarkanmu” saut Abah.


“Sudah sana, kamu siap-siap dulu Arya. Kasihan mas Brian kelamaan menunggu kamu” celetuk Umi.


“Hehe..  mas Brian tunggu sebentar ya 5 menit, Arya mau ganti baju dulu biar keren” ucap Arya sambil berlari ke arah kamar.


Hana hanya bisa terdiam sesekali melihat ke arah Brian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜


Terimakasih 🙏🙏

__ADS_1


Papay 🤗🤗


__ADS_2