Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Aku Sangat Menyesal


__ADS_3

Semua keberanian Brian kumpulkan supaya lebih kuat untuk menemui Hana serta agar ketakutan di dalam diri Brian sedikit berkurang.


Brian berdiri beberapa menit untuk menatap Hana yang penuh dengan berbagai macam alat medis di kelilingi dengan bunyi yang sangat nyaring.


Tit ! ...


Tit ! ...


Tit ! ...


Bunyi alat untuk mengontrol detak jantung berbunyi dengan beberapa jeda yang menandakan bahwa kondisi Hana saat ini sedang baik-baik saja.


Brian menatapnya sangat lama dengan wajah yang sudah di banjiri air mata, bahkan bibirnya sangat berat untuk mengatakan apa pun dalam kondisi Hana yang saat ini hanya bisa terbaring lemah.


Brian kemudian duduk dikursi disamping Hana sambil matanya turun menatap perut Hana yang belum terlihat membuncit.


Perlahan demi perlahan Brian mengangkat tangannya sambil mengusap perut Hana dengan sangat lembut hingga air matanya jatuh dengan sangat deras.


“Hiks..., a-anak A-ayah sa-sayang. Baik-baik ya di perut Bunda. Ba-bantu Ayah untuk segera membangunkan Bunda” ucap Brian dengan suara bergetar hebat disertai isak tangisnya sambil mengusap dan mencium perut Hana.


Beberapa menit Brian telah selesai menyapa sang anak di dalam perut Hana, kini saatnya mata Brian naik untuk menatap wajah Hana yang begitu damai.


Bahkan Hana terlihat seperti baik-baik saja layaknya seseorang yang sedang tertidur.


“Sa-sayang... Ma-maafkan aku yang selama ini hanya bisa menyakiti perasaanmu. Aku suami yang terlalu bod*doh tidak bisa membedakan semuanya. Aku su-suami yang sebenernya sangat sangat sangat beruntung telah memiliki istri sebaik dan sesempurna dirimu. Hanya saja aku terlalu egois untuk mempercayai serta mengakui jika kamu benar-benar layak untuk aku dapatkan. Seharusnya aku bersyukur bahkan melebihi semuanya itu. Ta-tapi aku malah menyia-nyiakan kamu selama ini. Aku memang suami yang tidak becus, suami yang jahat bahkan suami yang sangat kejam terhadap istrinya”


“Aku minta maaf sayang hiks... aku akui aku sangat menyesal saat ini. A-aku janji akan berubah untuk kamu dan orang-orang yang aku sayangi. Aku telah sadar, dan a-aku benar-benar sangat menyesal atas semua perlakuanku padamu yang tidak baik bahkan bisa di katakan sudah sangat terlewat batas. Aku siap untuk mendapatkan hukuman darimu, sayang. Ta-tapi please jangan hukum aku seperti ini hiks... aku tidak akan sanggup jika aku harus merasakan kehilangan lagi hiks...”


“Cukup sekali dan terakhir aku merasakan semua rasa sakit yang amat mendalam itu, tapi kali ini aku tidak akan sanggup sayang hiks... jika ada apa-apa denganmu, maka aku akan selalu ikut bersamamu. Aku rela mempertaruhkan nyawaku dan menukarnya jika itu bisa aku lakukan untuk kalian. Ayo sayang hiks... bangun, aku mohon bukalah matamu. Lihat aku sayang, aku Brian yang baru. Brian yang saat ini sudah benar-benar mencintaimu, aku Brian yang akan selalu berusaha membahagiakan kamu serta keluargaku dengan sangat baik. Dan aku pun akan berjanji untuk menjadi suami yang bisa menghargai perjuangan seorang istri. Bimbing aku sayang, tuntun aku ayo kamu harus bangun sayang jangan tidur seperti ini hiks...”


“Aku tidak akan mengatakan cinta ini jika kamu masih tidur seperti ini, namun jika kamu mau bangun maka aku akan dengan lantang serta memberanikan diri untuk mengatakannya langsung di saat itu juga. Aku akan menjadi pria yang lebih baik lagi jika kamu mau bangun sayang hiks... jika tidak, jangan salahkan aku kalau aku bisa lebih buruk dari ini dan akan menyiksa diriku sendiri hiks...”

__ADS_1


Brian mengoceh dengan sangat panjang kali lebar, mencoba untuk berinteraksi dengan Hana.


Namun, reaksi Hana masih tetap sama. Ia hanya terus tertidur tanpa membuka ataupun memberi respon pada tubuhnya.


Brian beberapa kali memeluk Hana serta mencium kening Hana dengan menumpahkan semua air mata penyesalan karena telah menyia-nyiakan istri sebaik Hana.


Ia juga tidak lupa untuk selalu memandangi wajah cantik sang istri dengan sangat lama. Tangan Brian terarah untuk mengusap pipi Hana dengan perlahan sambil tangan satunya terus menerus menggenggam dan menciumi tangan Hana sambil menaruhnya di pipi.


Isak tangis Brian tidak mau terhenti, bahkan air matanya pun selalu menetes di pipi Hana. Kini, wajah Brian seketika berubah menjadi sangat kacau penuh dengan kelopak mata yang membesar, mata sembab memerah, serta memucat.


Beberapa kali Brian bolak balik untuk memuntahkan isi di dalam perutnya dan kembali menunggu Hana, hingga saatnya sang dokter memasuki ruangan ICU.


“Permisi, Tuan Brian. Boleh saya mengecek istri anda lebih dulu. Ini waktunya kami untuk memeriksanya setelah 30 menit sekali supaya kamu bisa memantau keadaan istri anda dengan sangat baik” ucap sang dokter dengan sangat ramah bersama sang suster.


“Silahkan!” ucap Brian dengan sangat dingin sambil menghapus air matanya.


“Maaf Tuan, boleh anda keluar lebih dulu supaya dokter bisa lebih leluasa memeriksa istri anda” jawab sang suster dengan nada sopannya.


Sang suster hanya bisa menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Brian yang sangat menakutkan, bahkan ia tidak berani melanjutkan perkataannya karena ia takut di pecat dari pekerjaannya saat ini.


Sang dokter yang mendengar serta melihat emosi Brian semakin menaik membuat ia langsung mengambil alih semuanya.


“Maafkan suster ya, Tuan Brian. Mungkin maksud dia mencoba untuk membuat Tuan menunggu sebentar saja di luar karena istri Tuan harus saya periksa, jika saya memeriksanya sambil dilihat oleh keluarganya itu akan membuat saya lebih tidak fokus nantinya dan akan menjadi kesalahan dalam memberikan informasi ke pihak keluarganya”


Sang dokter mencoba untuk menjelaskan kepada Brian dengan sangat berhati-hati agar emosinya tidak semakin memuncak.


“Cih!! Periksa tinggal periksa apa hubungannya dengan saya! Sudahlah aku titip istriku, jika ada sesuatu yang terjadi maka aku akan segera menuntut kalian berdua. Paham! Ingat jangan lama-lama karena saya ingin selalu menemani istri saya. Dan satu lagi, tolong pindahkan istri saya di ruangan khusus agar saya bisa menemaninya 24 jam dan satukan ruangan istri saya dengan keluarga saya yang lainnya”


Brian berbicara dengan sangat lantang serta dingin, lalu ia langsung meninggalkan sang dokter dan suster begitu saja sambil berpamitan kepada Hana sambil mencium keningnya.


Brian berjalan keluar ruangan sambil melihat Hana dari kaca besar dan memperhatikan cara kerja sang dokter mau pun sang suster.

__ADS_1


Hampir 15 menit berlalu sang Dokter dan suster pun sudah selesai dengan tugasnya, kemudian mereka keluar ruangan dan menemui Brian.


“Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Brian dengan wajah yang khawatir.


“Sejauh ini keadaan istri Tuan baik-baik saja, tetapi kita tidak bisa memastikan ke depannya akan seperti apa. Karena istri Tuan belum bisa melewati masa kritisnya” ucap Sang dokter dengan berat hati.


“Apa maksudmu, Dok?!! Berani kau berbicara seperti itu lagi pada istriku, maka akan aku pastikan kau dan semua keluarga serta keturunanmu akan hancur seketika, paham!! Ingat baik-baik, istriku sebentar lagi akan bangun dan tidak akan meninggalkan keluarganya termasuk suaminya sendiri yaitu aku Brian Adijaya” ucap Brian dengan suara lantangnya penuh dengan emosi, ketegasan serta bola mata yang sudah memerah dan tangan yang dikepal sangat kuat, lalu kini rahangnya mulai mengeras menahan gejolak yang ada di dalam hati Brian.


“Ma-maaf Tuan, maafkan saya. Ma-maksud saya keadaan istri Tuan masih seperti tadi, tidak ada kemajuan bahkan ia masih dalam keadaan kritis. Tapi saya akan terus memantaunya setiap saat, jadi Tuan tidak perlu khawatir” jawab sang dokter dengan sangat hati-hati, namun di dalam hati kecinya ia sangat takut jika harus berhadapan dengan Brian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Sampai sini dulu ya cerita hari ini 😁


Semoga kalian menyukainya 😊


Dukung Author terus dengan cara berikut : ⬇️


Like 👍🏻


Komen 📝


Favorite ♥️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiah ya 😆


Terimakasih 🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


Papay 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2