
“Apa kau ingat, bagaimana dulu kita selalu merintis semuanya bareng-bareng. Tapi sekarang apa!? Pada akhirnya kaulah yang telah mengkhianatiku, Jovan!!”
Bonnie yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, seketika ia melontarkan sebuah bogeman keras tepat di perut Jovan.
Bughh...
“Arrghhhh... Sia*lan!!!” pekik Jovan menahan rasa sakit di perutnya.
“Aduhh... aduhh... Bagaimana? Sakit bukan? Tapi sayangnya, ini tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam hatiku!” geram Bonnie yang langsung menonjok pipi Jovan dengan sangat mulus.
Duuaakkk...
Braaakkkk...
Akibat Bonnie memukulnya dengan sangat kencang, membuat Jovan terjatuh bersamaan dengan kursinya. Jovan melirik Bonnie dengan tatapan kebencian, bahkan sudut bibirnya pun sudah mengeluarkan cairan berwarna merah. Bonnie berjongkok di hadapannya sambil tertawa kecil melihat nasib Jovan yang sudah tidak berdaya.
“Dasaarrr pengecutttt!!!! Bisa-bisanya kau memukulku dalam keadaan seperti ini hahaha...” Jovan meledek Bonnie dengan sangat remeh, yang membuat Bonnie semakin kesal.
“Aku bukan pengecutttttttt!!!!” pekik Bonnie yang mulai terpancing.
“Jika kau bukan seorang pengecut, maka bukalah terlebih dahulu semua tali yang mengingat di tubuhku ini. Lalu kita duel 1 vs 1, bagaimana?” tawar Jovan.
“Oke, siapa takut!!” jawab Bonnie yang langsung berdiri lalu ia berjalan mendekati Joko, sedangkan Jovan ia tersenyum penuh kelicikan.
“Tuan, bisakah kau membuka talinya? Jika seperti ini kesannya aku seorang pengecut karena melawan orang yang lemah tak berdaya” ucap Bonnie sambil menatap Joko.
“Bagaimana Tuan? Apa ini tidak akan berbahaya untuknya?” ucap Joko sambil menatap Alex.
“Lepaskan saja, kita lihat seperti apa pertarungan mereka. Jika ada apa-apa dengan Bonnie, maka kau harus segera menolongnya” ucap Alex.
“Baik, Tuan” ucap Joko yang langsung menyuruh mafioso lain untuk membukakan tali yang mengikat tubuh Jovan.
Setelah semua talinya sudah terlepas, mafioso itu kembali keluar dari jeruji besi itu sambil berjaga-jaga. Hanya dengan hitungan detik saja, Jovan dan juga Bonnie sudah langsung saling menjatuhkan pukulan demi pukulan dengan membabi buta.
Bughhh...
Duaakk...
Mereka saling tersungkur, kemudian kembali berdiri untuk melanjutkannya. Namun kali ini Jovan berhasil menangkis tangan Bonnie hingga memelintirkannya ke belakang. Kemudian Jovan melirik semuanya dan segera mengambil pisau kecil di belakang ikat pinggang Bonnie.
Jovan sangat tahu kebiasaan Bonnie, jadi ia sengaja memancing Bonnie untuk semakin emosi dan juga marah. Apa lagi Bonnie tipe orang yang gampang terhasut, setelah itu Jovan menyembunyikan pisau kecil itu di saku celananya tanpa membuat yang lainnya merasa curiga.
Entahlah kali ini Jovan benar-benar sangat cerdik, ia bisa dengan mudahnya mengelabuhi semuanya. Lalu Jovan sedikit mengendurkan pelintiran tangannya sehingga membuat Bonnie langsung membalasnya.
Aaarrggghhhhh...
Jovan berteriak kesakitan saat Bonnie ternyata memelintir tangannya dengan rasa sakit 2 kali lipat dari ia sendiri yang memelintir tangan Bonnie.
“Lepaskan tanganku, si*alan!! Arggghhh...” pekik Jovan sambil meringis penuh kesakitan.
Bonnie yang sudah puas langsung menghempaskan Jovan hingga dahinya membentur jeruji besi lainnya. Jovan yang di buat semakin marah oleh Bonnie seketika mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan pisau kecil itu karena tujuan Jovan mengambil pisau itu bukanlah untuk membunuh Bonnie. Melainkan untuk membunuh Alex yang dari tadi meremehkan dirinya.
Alex dan Pinjai selalu tersenyum menatap aksi keduanya. Ya walaupun ada rasa kecewa karena tidak sesuai eskpetasi, tetapi mereka senang karena melihat kedua sahabat yang saling bertengkar hanya karena masalah harta. Alex berdiri sambil berjalan memasuki jeruji besi itu sambil tersenyum licik, sedangkan Jovan yang melihat itu pun tersenyum sekian detik dan kembali berpura-pura kesakitan.
__ADS_1
“Bagaimana rasanya? Sakit? Tapi aku rasa ini tidak seberapa dengan apa yang kau buat padanya. Bagaimana kalau aku tunjukkan cara bermain yang benar” sahut Alex.
“Apa kau ingin membantuku, Tuan?” tanya Bonnie dengan berbinar.
“Ya, saya akan sedikit menunjukkan bagaimana caranya bermain” ucap Alex dengan dingin.
“Baiklah, Tuan. Saya dengan senang hati akan mengikuti semua permainanmu” sahut Bonnie.
Alex langsung menatap Joko, memberi isyarat untuknya kembali mengikat Jovan. Jovan yang tidak terima langsung memberontak, namun apa daya dia tidak akan bisa menang karena banyak mafioso yang memeganginya. Tapi jangan salah, Jovan masih memiliki ide karena ia mempunyai pisau yang tadi ia ambil dari Bonnie tanpa sepengetahuan siapa pun.
Saat ini Jovan hanya bisa bersabar menunggu waktu yang tepat, untuk bisa melampiaskan kemarahannya pada Alex karena semua ini bisa terjadi ya karena Alex sudah menangkapnya. Jika Alex tidak ikut campur dalam urusannya dengan Bonnie, kemungkinan saat ini Jovan tidak ada niatan untuk membunuh Alex.
“Mafioso, berikan saya pisau kecil” ucap Alex dengan nada tegasnya.
Sedangkan Bonnie hanya melihat serta menunggu permainan apa yang akan Alex tunjukkan padanya.
“Ini Tuan...” jawab mafioso sambil memberikan pisau kecil yang sangat tajam.
Alex mengambilnya dan berjalan perlahan mendekati kursi Jovan. Kemudian ia sedikit membungkukkan tubuhnya mendekati wajah Jovan.
Slaaashhh...
Satu sayatan lolos mengenai pipi Jovan, sehingga ia memejamkan matanya sambil menahan rasa sakitnya.
“Hemm... Sepertinya ini kurang berasa ya untukmu. Oke baiklah... Sekarang giliranmu untuk memberikan tanda padanya sebelum ia menjemput ajalnya” Alex memberikan pisau kecil pada Bonnie yang segera ia ambil lalu ia memberikan beberapa luka sayatan di wajah hingga leher Jovan.
Jovan yang benar-benar sudah di ambang kemarahan terhadap Alex membuat dirinya tidak bisa merasakan rasa sakit, ia hanya sedikit meringis tanpa adanya jeritan.
Proookkk...
Proookkk...
Proookkk...
“Mungkin dia hanya berpura-pura menahan rasa sakitnya Tuan. Padahal mah, di dalam hatinya sudah menangis hahaha...” ledek Bonnie yang semakin membuat Jovan membara.
“Apa kau ingin mendengar jeritan sahabatmu untuk terakhir kalinya?” tanya Alex.
“Ya, saya mau banget Tuan. Supaya saya bisa selalu ingat, bahkan orang yang telah mengkhianati saya tidak akan bisa hidup dengan tenang” jawab Bonnie.
Joko dan Pinjai yang memang sudah mengerti maksud Tuannya, mereka hanya bisa tersenyum karena sebentar lagi mereka bisa mendengar suara rintihan sang pengkhianat.
Alex lalu memberikan kode kepada seorang mafioso, dan dia langsung pergi mengambilkan sebuah cairan air garam yang memang mereka sudah siapkan dan memberikannya kepada Alex.
“Air apaan itu, hah!!” pekik Jovan dengan wajah penuh darah.
“Ini hanya air biasa, namun ketika mengenai lukamu pasti akan terasa sangat segar” sahut Alex sambil tersenyum begitu licik.
“Lepaskan aku lepaskaaannn... Dasar Iblissssss...” teriak Jovan sambil memberontak serta menggoyang-goyangkan kursinya.
“Ya saya memang Iblis... Iblis yang akan memusnahkan tikus kecil seperti dirimu, paham!!” tegas Alex dengan sangat dingin, dan kemudian ia memberikan gelas itu kepada Bonnie.
“Terima kasih, Tuan. Kau memang sangat baik” ucap Bonnie sambil tersenyum ke arah Jovan.
__ADS_1
Tanpa aba-aba lagi, Bonnie menyiramkan air itu secara perlahan ke arah wajah Jovan.
Aaarrrghhhhhh...
Siiaaa**llaaaaaaa...
Aaarrrggghhhhh...
Paaannasssss...
Paaaanaaaasss...
Suara teriakan Jovan mampu membuat semua tersenyum hingga tertawa kecil, tetapi jangan dianggap remeh. Jovan menahan rasa sakitnya sekuat mungkin serta ia mengambil pisau kecil tadi untuk memutuskan tali yang mengikat tangannya.
Tak butuh waktu lama, Jovan langsung berhasil melepaskan tangannya dan dengan cepat Jovan berlari hingga menusuk perut Alex.
Jllleeebbb...
Tuuuuuuuaaaaannnnn...
Teriak semuanya saat melihat Alex di tusuk dengan sebuah pisau kecil. Alex pun tersenyum sambil memegangi tangan Jovan dengan pisau yang masih menempel, sedangkan Bonnie berlari menghindari Alex dan Jovan.
Pinjai serta para mafioso lainnya langsung mengamankan Alex yang sudah terjatuh dengan keadaan berlimpah darah dimana-mana. Pinjai mengamankan Alex bersama mafioso lainnya, lalu mereka segera membawa Alex ke rumah sakit terbesar agar Alex bisa di berikan perawatan khusus.
Sedangkan Joko, dia langsung menyuruh mafiosonya untuk mengikat Jovan layaknya hewan. Di situlah Jovan tertawa dengan sangat puas.
“Bhahaha... Rasakan itu Alex, kau sudah berani ikut campur urusanku maka terimalah itu. Jika aku mati, maka kau juga harus ikut mati haha...”
Joko yang sudah di ambang emosi, segera menembaki Jovan dengan membabi buta tanpa adanya rasa kasihan. Bahkan darah Jovan pun muncrat mengenai wajah hingga pakaian Joko.
Di rasa tubuh Jovan sudah terombang-ambing tak terbentuk. Kemudian Joko menyuruh mafiosonya untuk membawakan daging segar itu agar menjadi santapan si kembar peliharaan kesayangan Tuannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para leaders 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung othor terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi... 😆😜
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗