Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Dingin, Cuek, dan Pemarah


__ADS_3

Terdengar suara kamera dengan berbagai pose yang Qisya dan Bisma lakukan, meskipun awalnya Bisma tidak mau. Tapi, bukan Qisya namanya jika ia tidak pandai merayu supaya Bisma mau menurutinya. Apa lagi, ini kejadian yang sangat langka.


Kapan lagi Qisya bisa melihat dan mengabadikan senyum Bisma ini. Karena kemungkinan saja saat ia sampai ke penginapan nanti atau pun besok paginya, sifat Bisma kembali seperti semula. Sesudah selesai mengabadikan semuanya, kini saatnya mereka mencari makanan yang bisa membuatnya merasa tertarik.


“Astaga, makanan apa ini? Kenapa banyak minyaknya, bahkan kuahnya bisa sampai merah seperti itu. Bagaimana rasanya? Apa bisa seenak seperti di restoran? Baru kali ini aku pertama kali datang di tempat jajanan seperti ini ” ucap Bisma di dalam hatinya sambil melihat semua dagangan yang sedang di jual.


“Daddy... Rose mau beli itu...” tunjuk Qisya saat mendapati penjual makanan seafood dengan berbagai rasa kuah.


“Bagaimana kalau kita jajan di supermarket saja, bahkan di sana pilihannya lebih banyak kok dari pada di sini. Siapa tahu saja mereka tidak higienis dalam memasak sebuah makanan. Yang ada nanti kita bisa sakit perut lagi” bujuk Bisma.


“Kalau Daddy mau jajan di sana ya sudah sana pergi, Rose mau di sini saja. Lagian makanannya enak kok, kan Qisya suka lihat-lihat di Tubeyou tentang makanan Korea” saut Qisya yang langsung mendekati salah satu dari pedagang tersebut dan membeli makanan itu.


“Sabar, Bisma... Sabar. Kamu sedang menghadapi anak kecil, jadi harus bisa tahan emosi. Jika tidak, maka kamu bisa-bisa di curigai oleh Qisya. Apa lagi, di balik kepolosannya dia juga cepat tanggap dengan apa yang ia lihat dan dengarkan. Jadi, aku harus lebih hati-hati lagi ” ucap Bisma di dalam hatinya.


Setelah Qisya sudah menerima makanan tersebut, Bisma langsung segera membayarnya. Tak hanya itu, Qisya langsung terus berjalan berkeliling sambil membeli semua makanan yang membuatnya tertarik.


Setelah semuanya di rasa sudah cukup oleh Qisya, ia langsung mengajak Bisma untuk duduk di pinggiran danau yang terdapat beberapa pasangan.


“Dad, kita duduk di sini ya. Sekalian makan jajanan ini, kasihan dari tadi di anggurin terus nanti bisa-bisa dia nangis lagi kalau kita tidak sampai memakan semua jajanan ini” ajak Qisya sambil duduk di atas rerumputan yang hijau dengan pemandangan yang sangat bagus.


“Ya sudah, tapi sebentar saja ya. Soalnya nanti malaman aku harus kembali berangkat untuk mengurus pekerjaan” ucap Bisma sambil duduk di sebelah Qisya.


“Hem... Memangnya ada ya Dad, orang yang terus bekerja dan berangkatnya sampai larut malam seperti itu, memangnya pekerjaan apa sih? Rose jadi penasaran deh, soalnya yang Rose tahu itu jam 10 kantor sudah tutup. Lalu, Daddy kerja dimana? Atau jangan-jangan...” ucap Qisya sambil menggantungkan kata-katanya yang semakin membuat Bisma gelisah.


“Apa dia sudah tahu pekerjaan ini? Akhh... Tidak! Ini tidak boleh terjadi, cukup dia tahu kalau aku ini hanyalah orang baik tanpa harus tahu siapa aku yang sebenarnya ” ucap Bisma di dalam hatinya yang penuh dengan kekhawatiran.

__ADS_1


“Jangan-jangan apa? Katakan dengan jelas. Jangan sampai kamu bikin aku mati penasaran” saut Bisma sambil memasang wajah cemas.


“Ciee... Nungguin ya, haha... Ternyata di balik sifat Daddy yang dingin, cuek, dan pemarah ini Daddy juga terlalu kepo ya orangnya. Bahkan, lihat saja tuh muka Daddy sudah kaya ayam tetangga yang mati penasaran bhaha...” tawa Qisya pecah saat melihat wajah Bisma yang sangat lucu ketika sedang cemas.


“Rose!!” tekan Bisma yang sudah menunjukkan aura dinginnya membuat tawa Qisya langsung terhenti.


“Ya ampun, kasihan banget kamu ini sayang belum aku makan. Cup cup cup... Jangan nangis ya, ini aku makan kok jadi senyum yaa...” ucap Qisya yang langsung memakan jajanannya mencoba untuk menutupi rasa takutnya saat mendengar suara bariton Bisma yang menandakan bahwa ia benar-benar sangat serius.


“Nyam... Nyam... Nyam... Daddy mau tidak? Enak tahu, manis kek Rose hehe...” ucap Qisya sambil tertawa.


“Aku tidak suka jika sedang mengobrol lalu di alihkan seperti ini. Jadi, tolong jangan buat aku marah dan cepat teruskan apa yang kamu tahu tentang pekerjaanku ini” ucap Bisma dengan wajah yang sangat datar.


“Ya sudah, ya. Jangan-jangan Daddy bukan pemilik perusahaan kan, jadi Daddy harus bekerja sesuai shift seperti pekerjaan yang lain. Terkadang ada yang shift pagi, siang dan malam. Lalu, ada juga yang bekerja tidak memakai shift. Jadi, Daddy ini sebenarnya bukan orang kaya yang mempunyai perusahaan sendiri kan?”


“Kalau misalkan Daddy punya perusahaan sendiri, pasti berangkatnya pagi dan pulangnya minimal jam 10 malam itu juga sudah terlalu malam. Bukannya malah berangkat malam dan kadang pulangnya juga tidak tentu. Jadi, Rose rasa Daddy memiliki atasan yang lebih kaya lagi kan. Sama kaya Om Pinjai yang memiliki atasan Daddy terus Daddy juga memiliki atasan lagi jadi Daddy bekerja untuk orang lain. Gitu, kan” celoteh Qisya sambil memakan camilannya yang membuat Bisma terdiam melongo.


“Apa dari kecil Daddy memang memiliki sifat sombong seperti ini?” tanya Qisya dengan wajah polosnya.


“Memang ini kenyataannya. Bukan sombong, melainkan aku percaya dengan diriku sendiri bahwa aku bisa membeli apa pun yang aku inginkan dan aku paling tidak suka dengan penolakan” ucap Bisma dengan tegas.


“Ishh... Ishh... Ishh... Kurang-kurangin sombongnya Dad, Nanti kalau sudah jatuh sakit loh. Lagian kan Daddy sekarang lagi di atas awan tuh, nah... Nanti kalau ada burung-burung yang menabrak Daddy bisa-bisa Daddy langsung terjatuh ke bawah dan rasa sakitnya itu pasti sakit banget. Jadi, mending Daddy bersikap apa adanya saja, tidak perlu menyombongkan apa yang Daddy punya sekarang. Karena jika nanti Daddy mati, semua itu tidak ada yang Daddy bawa satu pun. Daddy hanya akan membawa amalan-amalan baik yang bisa menemani Daddy” celoteh Qisya yang memberikan nasihat untuk Bisma.


“Yakk... Enak saja kamu ngatain aku mati, umurku masih panjang tahu. Aku saja belum memiliki pasangan, belum menikah, belum malam pertama, belum punya anak, belum punya menantu, belum punya cucu, belum punya cicit. Jadi, aku tidak mau mati dulu. Paham kamu!” saut Bisma dengan kesal yang langsung menyerobot camilan Qisya.


“Gimana, Dad. Enak, bukan?” tanya Qisya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ya, enak banget...” saut Bisma tanpa sadar.


“Tadi katanya makanan di sana enggak sehat, kok habis hihi...” ledek Qisya saat melihat camilan yang Bisma makan sudah habis tak tersisa.


Bisma yang baru menyadari semua itu pun langsung terkejut dengan apa yang ia makan baru saja. Lalu, tanpa mengurangi rasa malu serta gengsinya Bisma menjawabnya dengan sedikit gugup.


“Me-memangnya aku tidak boleh makan? Kan ini juga pakai uangku, lagi pula aku lapar dari tadi belum makan, jadi ya sudah dari pada aku mati kelaparan mending aku makan yang ada saja”.


Qisya hanya bisa tertawa kecil saat melihat kegugupan di wajah Bisma yang sedang berusaha menahan gengsinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selamat pagi... Selamat siang... Selamat malam semuanya... 🤗🤗🤗


Aku harap kalian menyukai karyaku dan bisa terus mendukungku 🥺🥺🥺


Author juga ingin selalu bisa memberikan rekomendasi novel untuk kalian semua 😗😗😗


Berikut adalah rekomendasi dari Author untuk kalian semua 🥳🥳🥳


Silahkan kalian jelajahi dan tinggalkan jejak indah kalian semua 😁😁😁


Terima kasih... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


...*...

__ADS_1



__ADS_2