Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Berpisah Dengan Keluarga


__ADS_3

Sesampainya di bandara, mereka langsung berjalan menuju pesawat yang mana mereka harus merasakan perpisahan yang begitu menyayat hati. Sehingga mereka berlima langsung berpamitan satu persatu sambil memeluk yang lainnya hingga menangis sesenggukan.


“Pah, Brian pamit dulu ya. Jaga diri kalian baik-baik, dan ingat jangan pada berantem karena kemungkinan tidak ada lagi yang bisa melerai kalian nantinya hehe...” ucap Brian yang langsung memeluk kedua orang tuanya bergantian.


“Kamu baik-baik di sana, jaga istri dan anak-anakmu di sana. Bahagiakan mereka, jangan sampai kamu membuat mereka menangis. Jika itu terjadi, maka Papah akan turun tangan langsung ke Amerika” saut Opa Ferry sambil memeluk Brian.


“Siap, Pah. Mah, Brian pamit ya. Mamah baik-baik jangan galak-galak sama Papah. Kasihan sudah tua nanti makin tua lagi hehe ..” canda Brian sambil memeluk Oma Syifa.


“Hiks... Kamu ini bisa saja, kamu juga jaga diri dan jaga Hana sama cucu-cucuku dengan baik ya. Mamah titip mereka semua, ingat jangan membuat mereka merasakan kesedihan bahkan kesepian” ucap Oma Syifa sambil menangis memeluk Brian serta sedikit memeluk Brian.


“Umi, Abah, Hana pamit ya, jaga diri kalian baik-baik. Abah juga jaga kesehatannya dan obatnya di minum dengan teratur, dan kamu Dek. Tolong jaga Abah dan Umi dengan baik, kalau ada apa-apa cepat kabari Mbak ya jangan sampai enggak. Kamu juga harus rajin membawa Abah berobat supaya bisa sehat terus. Umi juga ya jangan cape-cape loh, Hana enggak mau sampai dengar Umi sakit hiks...” Hana menangis sambil memeluk keluarganya dengan bergantian.


“Hiks... Jaga diri baik-baik ya sayang, Umi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Jangan lupa untuk mengabari kami setiap harinya ya...” ucap Umi yang menangis di pelukan Hana.


“Jaga anak-anakmu dengan baik, didik mereka sebaik mungkin agar mereka tetap bisa menjaga sopan santun terhadap orang yang lebih tua, meski pun di negara mana pun mereka harus tahu adap dan tata krama” ucap Abah sambil memeluk Hana.


“Insya Allah, Mi, Bah. Hana akan selalu mengajarkan mereka yang terbaik sebisa Hana dan menjaganya sebaik mungkin agar Hana tidak kembali merasakan kehilangan” ucap Hana dengan wajah yang berlinang air mata.


“Dek, Mbak titip Abah dan Umi ya. Berikan mereka kebahagiaan yang belum bisa Mbak berikan kepada mereka, sekarang mereka tanggung jawab kamu sebagai anak laki-laki. Jika kamu ingin mencari pasangan, carilah wanita yang bisa menghargai seseorang dan memiliki kasih sayang yang sangat besar terhadap siapa pun. Tidak perlu memandang fisiknya, ingat kita di ajarkan untuk bisa melihat kecantikan seseorang dari hatinya bukan fisiknya” ucap Hana sambil memeluk Arya.


“Ya Mbak, Arya akan ingat semua nasihat dari Mbak. Mbak juga baik-baik di sana ya, terus hubungi Arya lewat video call supaya Abah dan Umi bisa melihat kalian agar tidak membuat mereka ke pikiran” ucap Arya sambil memeluk Hana hingga meneteskan air matanya.

__ADS_1


Kemudian bergantian dengan yang lainnya. Hingga saatnya kini giliran ketiga kurcaci yang berpamitan dengan semuanya. Mereka menangis sejadi-jadinya saat memeluk semuanya, yang membuat mereka pun ikut bertambah sedih.


Tetapi hanya Lukas lah yang masih bisa menahan tangisnya ya meskipun air matanya luruh tapi Lukas tidak sampai terisak. Satu persatu memeluk hingga erat menumpahkan rasa kesedihan yang teramat dalam untuk perpisahan ini.


“Oma, Opa, Om Arya, Mbah Kung, Mbah Uti hiks... Qisya pamit dulu ya, kalian bak-baik di sini jangan ada yang sakit ya. Nanti saja nunggu Qisya sudah menjadi dokter, pasti Qisya akan merawat kalian semua hingga sembuh. Tapi setelah Qisya jadi dokter pun Qisya enggak mau melihat kalian semua sakit, jadi harus banyakin minum vitamin ya...”


“Dan untuk Om Arya juga, cepat cari pasangan jangan sampai nanti dilangkahi sama Qisya loh hehe...” canda Qisya sambil menangis agar tidak membuat mereka semakin bersedih.


“Yakk... Dasar, orang sudah nangis-nangis malah dibikin kesel. Ingat di sana jangan pacaran ya itu enggak boleh, terus juga harus belajar yang rajin dan ingat janjinya untuk segera sembuh oke...” ucap Arya.


“Siap, Om. Mau peluk boleh?” tanya Qisya yang langsung membuat Arya memeluknya hingga erat, lalu bergantian dengan yang lain.


“Oma, Opa, Mbah Kung, Mbah Uti, Om Yaya. Lily amit pelgi duyu ya... anti Lily balik agi kok, anti bica main cama-cama ya. Tapi Lily mau Opa cama Om ndak libut-libut ya halus teyus cama-cama. Mbah Kung cama Mbah Uti juga ndak boyeh cakit-cakit ya halus cehat telus cemuanya. Teyus, om Yaya juga ndak boyeh bandel ya halus jagain cemuanya kan Om Yaya jagoan jadi halus bica jagain yang lainnya ya. Lily itip cemuanya hiks...” ucap Lily dengan isak tangisnya yang membuat semua jadi ikut menangis.


“Oma, Opa, Mbah Kung, Mbah Uti dan Om Arya... Lukas pamit ya, jaga diri kalian baik-baik jangan pada sakit atau ribut-ribut. Lukas enggak suka lihat kalian seperti itu, jika Lukas tahu kalian sakit atau pada ribut maka Lukas akan pastikan tidak akan balik ke Indonesia untuk menemui kalian lagi. Lukas ingin melihat kalian selalu bahagia tanpa harus bersedih atas kepergian kami yang hanya sementara ini. Lukas janji kalau Lukas akan selalu menjaga Ayah, Bunda, Kaka dan juga Lily untuk kalian supaya kalian tidak berlarut-larut nangisnya seperti ini. Kasihan wajah kalian akan semakin terlihat menua nantinya” saut Lukas yang mencoba membuat mereka berhenti menangis.


Namun sedetik kemudian mereka memeluk Lukas bergantian. Mereka bisa merasakan kasih sayang yang sangat dalam di diri Lukas. Ya memang sikap dia sangat dingin dan cuek, tapi dibalik itu semua Lukas memiliki jiwa penyayang yang melebihi mereka semua.


Setelah semuanya sudah selesai berpamitan, kemudian Brian segera berjalan bersama Hana dan ketiga kurcaci untuk memasuki pesawat. Mereka saling melambaikan tangan bersama-sama dengan air mata yang terus terurai.


Sedih? Ya memang sangat sedih. Siapa sih yang mau berpisah dengan keluarga, pasti rasanya sangat sakit. Tapi mereka mencoba untuk mengikhlaskan agar Qisya secepatnya hilang dari traumanya dan perusahaan Brian pun kembali berjaya akibat ulah Cika yang sekarang sudah mendekap di penjara.

__ADS_1


Satu demi satu anak tangga mereka lalui, hingga akhirnya mereka berdiri di pintu pesawat sambil tetap melambaikan tangan dan tak terasa salah satu pramugara pun menutup pintu pesawat dan mempersilakan Brian, Hana dan ketiga kurcaci untuk duduk di tempatnya masing-masing.


Di dalam pesawat juga ada beberapa body guard suruhan Brian untuk berjaga-jaga. Sehingga pada akhirnya pesawat pun lepas landas dan pergi meninggalkan Indonesia. Semua keluarga Hana dan Brian hanya bisa terus menangis sambil para Istru saling bersandar di bahu suami mereka.


Sedangkan Arya hanya bisa meneteskan air matanya melihat ketiga ponakan yang begitu dia sayangi telah pergi ke negeri orang. Kemudian saat pesawat telah hilang dari pandangan, kini mereka langsung pulang meninggalkan bandara dengan perasaan yang masih bersedih.


Arya, Abah serta Umi langsung berpamitan kepada Oma Syifa dan Opa Ferry untuk langsung pulang ke desanya karena sudah lama meninggalkan rumahnya. Dengan berat hati mereka hanya bisa berpelukan untuk saling menguatkan diri atas kepergian keluarga kecil Brian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu ya ceritanya semuanya... 😁😁😁


Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗


Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗


Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️

__ADS_1


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2