
"A-apa ta-tadi yang dibilang Arya? Ke-keluarga mas Brian ada di sini? Ke-kenapa mendadak sekali? A-apa mas Brian ingin melamar Hana? Yak.. apa-apain sih Hana, kau kan belum siap menikah. Kenapa malah mikir seperti itu" gumam Hana dengan wajah polosnya yang sudah sedikit memerah.
"Sudahlah, aku harus bersih-bersih dan membuatkan minum lebih dulu. Kasihan jika mereka menunggu lebih lama, dan tidak sopan juga jika tamu diangguri begitu saja"
Hana kemudian menyelesaikan tugasnya, dan membersihkan diri serta tidak lupa membuatkan minum untuk keluarga Brian. Lalu membawanya ke ruang tamu.
*
*
*
*
Hana melangkahkan kakinya dengan memegang nampan berisikan minuman teh hangat dan cemilan tempe mendoan yang sangat lezat.
Perlahan Hana menaruh nampannya di atas meja, kemudian bersalaman dengan Nyonya Syifa dan Tuan Ferry yang hanya menyatukan tangannya.
Tuan Ferry sangat berkesan dengan cara Hana yang benar-benar menjaga dirinya dari pria yang bukan mahramnya.
Sedangkan Nyonya Syifa yang melihat Hana kini mengingatkan wajahnya dengan sahabat lamanya.
"Mukanya kenapa mirip dengan sahabat lamaku waktu sekolah SMP dulu ya, tapi siapa namanya aku lupa?" Nyonya Syifa bertanya dalam hatinya sambil menatap Hana dengan mengingat-ingat.
"Maaf Tuan, Nyonya hanya ini yang bisa Hana suguhkan" Hana berusaha duduk dan dengan memberi senyuman yang di hiasi dengan lesung pipi yang sangat manis.
"Se-senyum itu? Kenapa dia selalu mirip dengan Sandra. Apa ini yang di mananya 7 kembaran di dunia. Apa Sandra telah kembali menjadi Hana? Jika benar aku tidak akan melepaskan Sandra kembali" Brian berbicara di dalam hatinya sambil menatap Hana dengan tatapan seorang predator yang ingin memakan mangsanya.
Mata Hana terfokus kepada anak kecil yang sedang duduk sambil bermain boneka kesayangannya yaitu Nana dan Nono.
Qisya bermain dengan sangat anteng, tanpa menatap Hana sekalipun.
Sampai akhirnya Hana bertanya "Hum.. sepertinya ada adik kecil yang menggemaskan ya, siapakah namumu"
Hana menatap Qisya dengan tatapan penuh kasih sayang dengan di hiasi senyuman manisnya, membuat Qisya menoleh dan langsung menatap Hana dengan tatapan kagum.
"Isa ante. Wah.. ante cantik banget pake celimut di kepalanya hehe.." Qisya yang belum tahu namanya kini ia asal menyebutkan sesuai dengan apa yang ia lihat sambil memegang kepalanya.
"Itu namanya kerudung sayang, bukan selimut" jawab Brian sambil mengelus sayang kepala Qisya.
__ADS_1
"Oh tudung, lalu tudung itu apa ayah?" tanya Qisya sambil menengok dan mendongak ke atas untuk menatap mata Brian
"Kerudung itu adalah sebuah kain yang menutupi ramput seorang wanita untuk menutupi auratnya. Dia hanya membuka kerudungnya jika berada di kamar sendirian, ataupun saat mengumpul dengan sesama wanita. Bahkan kerudungnya juga hanya boleh di buka jika seorang wanita itu bersama oleh suaminya, jika tidak maka kerudungnya tidah boleh dilepas"
Brian mencoba menjelaskan kepada Qisya dengan bahasa yang mudah Qisya pahami.
"Oh gitu, ayah. Jadi Isa halus pakai tudung dong. Kan Isa beyum punya cuami. Itu uga Oma ndak pakai tudung, kan Oma sudah punya cuami Opa. Belalti Oma cama Opa ukan cuami istli dong"
Celotehan kepolosan dari Qisya membuat Brian dan Hana menahan tawanya, sedangkan Tuan Ferry serta Nyonya Syifa di buat sangat terkejut dengan perkataan Qisya yang sedikit menyayat hati.
"Nahkan.., aku sudah berusaha mengingatkan untuk menutup aurat, tapi kamu bandel sih masih bilang gerah-gerah mulu. Kalau sudah begini saja baru paham" ucap Tuan Ferry sambil menatap istrinya.
Nyonya Syifa hanya bisa tertawa dengan keadaan menggaruk tengkluknya yang tidak gatal karena bingung mau jawab apa lagi dan akhirnya Nyonya Syifa meminta maaf pada suaminya serta akan berjanji setelah pulang dari sini akan memulai mengenakan hijabnya.
Hana merasa sangat senang ketika mendengar Nyonya Syifa ingin menggunakan hijab, bahkan yang lebih senang lagi saat mata Hana tertuju dengan suatu pemandangan yang sangat menyejukkan.
Brian yang suka sekali menggoda Qisya membuat ia merasa kesal sampai membuat wajahnya marah, padahal di mata Brian wajah Qisya ketika sedang marah terlihat sangat lucu dan malah membuat Brian tertawa.
Bagaimana tidak, Qisya marah layaknya seorang wanita dewasa yang menyipitkan matanya, melipat kedua tangan di dada dan memajukan bibirnya seperti cocok bebek yang malah terlihat sangat menggemaskan.
"Tahu ah.., Isa malah cama ayah. Isa ndak mau temenan cama ayah. Isa mau temenan ama ante cantik aja bye"
Hana malah mengangkat Qisya dan mendudukan di pangkuannya sambil memeluk Qisya dan berkata "Hum.. boleh dong, jadi kita temanan oke"
"Hehe.. oteh, ante cantik baik deh sayang ante canti banyak-banyak muachh" Qisya menengok ke belakang menatap wajah cantik Hana dan mencium pipinya.
Brian yang melihat Qisya begitu akrab dengan Hana yang baru saja di kenalnya kini membuat Brian berpikir dan berbicara di dalam hati kecilnya.
"Sandra, kau benar-benar kembali sayang? Aku senang sekali, bisa mendapatkan wanita baik sepertimu melalui Hana. Bahkan Qisya sangat dekat dengan Hana yang baru saja dikenalnya"
Sedangkan kedua orang tua Brian hanya bisa menatap bahagia kepada cucunya, Hana memang wanita yang cocok untuk Brian.
Dia bail, ramah, sopan, cantik, perhatian, dan sayang terhadap anak kecil. Apa lagi yang kurang dari Hana? Dia bagaikan sebuat jarum yang berada di tumpukan jerami.
Begitu berharga tetapi susah untuk di dapatkan serta di cari, tidak ada di dunia ini wanita yang sempurna seperti Hana. Meskipun banyak, tetapi yang seperti Hana ini hanya ada satu menurut orang tua Brian.
Sampai akhirnya celoteh Qisya membuat semua orang terdiam dengan perasaan mengejutkan.
"Bunda, Isa lapel nih peyutnya unyi mulu. Keruwek-keruwek gitu" Qisya tanpa sadar mengucapkan kata Bunda yang membuat Hana terdiam dan melongo.
__ADS_1
"Qisya, dia bukan bundamu nak. Dia tante Hana" ucap Brian dengan nada dinginnya.
"Ndak mau ayah, Isa mau bunda Hana titik. Ayah ndak boyeh malah-malah mulu dan ndak boyeh dingin-dingin cama Bundanya Isa. Paham!!" Qisya menatap tajam Brian dengan mata nya yang kecil sambil menggunakan nada Brian.
"Yayaya.., terserah kamu sama" saut Brian dengan nada kesalnya.
"Bunda, Isa boyeh kan manggil ante Ana pakai Bunda. Coalnya lebih cocok dali pada ante. Nanti kalo di panggil ante Ana jadi tua dong. Jadi manggilnya Bunda aja ya biyal awet muda gitu loh hehe"
Qisya tertawa dengan sangat gemas membuat Hana jadi ikut tertawa sambil mencubit kecil hidung dan mendekatkan hidungnya.
Brian dan kedua orang tuanya yang melihat suasana itu membuat mereka tersenyum tanpa sadar.
Nyonya Syifa bahkan sudah meneteskan air mata, dengan langsung terburu-buru di hapusnya agar tidak sampai membuat Hana curiga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para leaders 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung othor terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Terimakasih 🙏🙏
Papay 🤗🤗
__ADS_1