Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Anak Bunda Sudah Besar


__ADS_3

Selang 1 jam setelah pemeriksaan, kini Qisya sudah dipindahkan di ruangan khusus untuk keluarga Brian.


Lalu kedua orang tua Hana serta Brian pun sudah mulai tenang saat melihat Qisya yang sedang tertidur pulas dan mereka meninggalkan Qisya, Hana dan Brian kembali ke rumah untuk membereskan semuanya termasuk Arya.


Arya di beri kepercayaan yang lebih oleh Brian agar dia bisa membantunya untuk menemukan si pelaku. Kini, hanya tinggal Hana dan Brian yang berada di dalam ruangan untuk menemani Qisya.


Hana yang sedikit merasakan keram di perutnya pun ia segera beristirahat lalu, merebahkan tubuhnya di sofa empuk. Sehingga, Brian yang harus menjaga Qisya.


Namun, selang beberapa menit saat Hana tertidur Qisya pun membuka kedua matanya.


“A-ayah? Bu-bunda mana?” tanya Qisya dengan suara bergetar.


“Sttt... sayang, sudah ya jangan banyak berbicara dulu. Itu bunda ada di sofa lagi bobo kasihan cape nungguin Qisya dari tadi” saut Brian sambil mengelus kepala Qisya.


“Bunda gapapa kan Ayah? Bunda enggak sakit lagi kan?” tanya Qisya dengan wajah cemasnya.


“Enggak sayang, Bunda sehat kok. Kan Kakak sudah menyelamatkan Bunda sama adik-adik. Jadi, mereka sehat. Tapi malah Kakak yang sakit hem... kenapa loh? Qisya takut ya sama orang tadi?” tanya Brian.


“I-iya Ayah, o-olang itu ma-mau menusuk Bunda pakai pisau hiks... Qisya enggak mau Bunda pelgi kaya Ibu Qisya. Qisya enggak mau kalau Qisya enggak punya Bunda lagi hiks...” Qisya menangis dengan sangat kejer yang membuat Hana sedikit terusik dari tidurnya.


Sedangkan Brian mencoba menenangkan Qisya namun ia tidak bisa. Saat ini yang di butuhkan Qisya adalah Hana. Karena hanya dia yang mampu membuat Qisya mengerti dan sedikit tenang.


Hana kemudian terbangun, dan langsung kaget saat mendengar suara isak tangis Qisya. “Mas, ada apa ini? Kenapa Qisya menangis?” tanya Hana dengan wajah panik sambil mendekati Qisya.


“Bundaa... hiks...” ucap Qisya sambil memeluk perut Hana dari samping.


“Cup-cup-cup... Kakak kenapa nangis? Pasti gara-gara Ayah ya?” tanya Hana.


“Loh kok aku sih, orang dia nangis sendiri gara-gara enggak mau kehilangan kamu. Malah aku yang di salahin” saut Brian dengan wajah kesalnya.


“Oalah... Sudah dong Kakak enggak boleh nangis, kasihan nanti dedeknya ikutan nangis loh di dalam” ucap Hana.


“Bunda janji ya enggak bakalan ninggalin Qisya? Bunda juga akan sayang teyus sama Qisya enggak boleh sampai bohong ya” ucap Qisya sambil melepaskan pelukannya dan menatap Hana degan mata sembabnya.


Kemudian Hana duduk di kursi samping bangsal, karena Brian meninggalkan mereka untuk duduk di sofa dengan perasaan kesal karena Hana menuduhnya telah membuat Qisya menangis.


Hana menghapus air mata Qisya menggunakan tangannya sambil tersenyum. “Bunda tidak akan pernah meninggalkan Qisya ataupun Ayah. Bunda akan tetap di samping kalian. Namun, jika Bunda meninggalkan kalian pun itu karena Allah lebih sayang sama Bunda jadi Bunda dipanggil lebih dulu” ucap Hana dengan lembut.


“Tapi Qisya enggak mau Bunda meninggal. Qisya mau Bunda sehat sampai nanti Qisya bisa bahagiain Bunda sama Ayah” saut Qisya.

__ADS_1


“Hem... sayang, anak Bunda sudah besar ya sekarang. Dan sangat pintar sekali, apa lagi mau jadi Kakak jadi makin tambah pintar ya” ucap Hana dengan sangat bangga.


“Iya dong, Qisya kan sudah besal Bunda. Qisya juga mau jadi doktel supaya bisa ngelawat Bunda kalau sakit nanti” jawab Qisya.


“Oh jadi cuman Bunda yang di rawat nih.., terus Ayah enggak gitu?” tanya Brian yang sudah ada di samping Hana dan Qisya dengan wajah dinginnya sambil melipat kedua tangan di dada.


“Eh... Ayah, hehe...” Qisya tertawa saat melihat wajah Brian yang begitu menyeramkan.


“Kenapa cengar-cengir gitu?” tanya Brian dengan wajah datar.


“Mas...” ucap Hana sambil memegang tangan Brian.


“Bunda, itu lihat Ayah galak banget. Qisya takut hiks...” ucap Qisya sambil menunjukkan aktingnya.


“Mas Brian jangan galak-galak bisa enggak? Lihat kan Qisya nangis lagi” ucap Hana dengan wajah kesalnya.


“Yakk... Kenapa aku yang di salahin sih. Harusnya Qisya dong, masa ia dia cuman mau ngerawat kamu doang. Terus kalau aku sakit bagaimana? Harus ke rumah sakit sendiri gitu?” ucap Brian dengan wajah kesalnya.


“Huaaa... Bunda sama Ayah belantem, hiks...” ucap Qisya dengan mengeluarkan semua aktingnya, sambil sedikit mengintip.


Hana yang melihat Qisya seperti sedang berpura-pura pun, mencolek Brian untuk bisa melihat Qisya yang sedang mengintip. Kemudian Hana memberikan kode pada Brian dengan kedipan mata untuk mengerjai Qisya.


“Boleh, Mas. Kapan kita liburan berdua” tanya Hana.


“Aaaa... Qisya mau ikut” ucap Qisya dengan lantang.


“Loh bukannya tadi Qisya nangis? Kok sekarang berhenti?” tanya Hana.


“Eh... hiks... Qisya mau ikut Bunda sama Ayah huaa hiks...” Qisya kembali menggunakan aktingnya.


“Wah... Sepertinya ada yang sudah berbohong nih Bunda” ucap Brian sambil menggoda Qisya.


“Iya benar, Ayah. Kayanya harus kita kasih hukuman bisa seru deh...” jawab Hana .


“Aaaa... Enggak mau enggak mau, ya ya ya Qisya ngaku Qisya bohong hehe...” Qisya tertawa dengan wajah yang tanpa dosa.


Brian dan Hana pun saling memberikan kode satu sama lain dengan isyarat gerakan matanya, kemudian mereka pun berdiri di samping bangkar Qisya lalu mereka langsung menyerang Qisya.


“Hahah... geli Bunda, Ayah haha...” Qisya tertawa saat Hana dan Brian mengelitiki Qisya.

__ADS_1


“Nah.. rasakan ini anak nakal, berani sekali ya kamu membohongi kita hem...” ucap Brian.


“Haha... ampun Ayah, ampun hahaha... Qisya janji enggak bohong lagi haha... udah Ayah udah... haha haha...” Qisya tertawa dengan sangat geli sambil sedikit meliuk-liukkan tubuhnya.


Dan pada akhirnya mereka menyudahi bercandanya karena ada suster yang membawakan makan malam untuk Qisya.


Awalnya Qisya tidak mau memakan makanan yang tidak ada rasanya itu, sehingga Hana berusaha keras untuk membuat Qisya mengerti agar mau memakannya.


Ya, meskipun dengan berbagai penolakan dengan memberikan sedikit ancaman bahwa jika Qisya tidak memakannya maka kedua adik yang ada di dalam perut Hana akan sedih. Jadi, dengan alasan simpel itu Qisya akhirnya mau makan dengan sangat lahap.


Qisya memang sangat menyayangi kedua adiknya sehingga ia tidak mau sampai melihat sang Bunda serta adik-adiknya bersedih.


Sedangkan Brian hanya bisa tersenyum melihat betapa saling menyayanginya mereka, bagaikan seorang anak dan ibu kandung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello para pembaca setiaku... 😁😁😁


Semoga kalian semuanya sehat dan selalu bahagia... 😚😚😘


Author mau kasih sedikit pengumuman dulu nehh buat kalian 👉🏻👈🏻


Kalian tahu... Novel ini akan segera berakhir atau tamat 😱😱😱


Jadi Author ingin meminta pendapat kalian semua disini... 🤭🤭🤭


Adakah yang mau lanjut Season 2 atau bikin novel baru nehh... 🤔🤔🤔


Karena di novel ini kan sudah banyak konflik dan kejadian... 😗😗😗


Jadi Author bingung lebih baik lanjut atau bikin cerita baru 🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️


Tolong berikan masukan dan saran kalian di komentar yaaa... 😊😊😊


Terima kasih atas semua dukungan yang kalian berikan 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Itu sangatlah berarti besar untuk Author selama ini semuanya... 🥺🥺🥺


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi pembaca setiaku... 🤗🤗🤗

__ADS_1


Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2