
“Ternyata asyik juga ya jalan-jalan sore seperti ini, bahkan tidak ada bedanya seperti di Indonesia. Hanya saja di sini tidak terlalu banyak polusi yang mengganggu. Sedangkan di Indonesia begitu penuh dengan polusi, apa lagi kendaraan yang lewat selalu saja seperti orang sedang balapan. Tapi, di sini sangat tertib dengan peraturan” ucap Qisya sambil menatap jalan raya dari jauh.
Tidak lama kemudian, pandangan mata Qisya berpaling saat melihat tempat ramai yang membuatnya merasa tertarik.
“Sepertinya di sana ada tempat kuliner kaya pasar malam deh, coba akh aku ke sana. Siapa tahu kan ada jajanan yang enak hehe... Hitung-hitung bisa buat camilan di penginapan, sambil menunggu Om Bisma dan Om Pinjai pulang” gumam Qisya sambil menatap ke arah tempat wisata kuliner yang berada di seberang jalan.
Qisya pun dengan sangat hati-hati menyeberangi jalanan yang tidak begitu ramai kendaraan. Dengan perlahan dan sedikit berlari kecil, akhirnya Qisya berhasil untuk bisa berada di seberang jalan.
Kemudian Qisya terus berjalan untuk sampai ke tempat wisata kuliner tersebut. Terlihat jelas di wajah Qisya bahwa ia tidak memiliki trauma dengan kejadiannya beberapa bulan lalu. Ia malah terlihat sangat senang dan antusias untuk segera sampai ke tempat tersebut.
...*...
...*...
Di dalam mobil
Bisma duduk di kursi belakang sambil menatap ke jendela sambil melamun dengan wajah yang sedikit memar akibat pukulan kecil dari musuhnya yang berhasil ia habisi.
Sedangkan Pinjai sedang menyetir mobil untuk segera membawa Tuannya ke penginapan agar bisa langsung beristirahat. Karena Pinjai merasa saat ini Tuannya sedikit kelelahan.
Namun, di saat perjalanan ke arah penginapan tak sengaja Pinjai melihat Qisya sedang berjalan menuju tempat wisata kuliner.
“Tuan, seperti itu Nona Rose” ucap Pinjai yang membuat lamunan Bisma langsung buyar dan menengok ke arah Pinjai.
“Rose? Dimana dia?” tanya Bisma dengan perasaan terkejut.
“Dia di sana Tuan. Sepertinya nona Rose ingin mengunjungi tempat kuliner itu” jawab Pinjai sambil menunjukkan keberadaan Qisya.
Bisma pun melihat Qisya dengan perasaan sedikit tidak percaya, kenapa dia bisa keluar begitu saja. Padahal ia sudah menjaga ketat Qisya dengan beberapa body guard yang berjaga di penginapan.
“Dimana para body guard yang aku suruh menjaga dia? Dan kenapa mereka bisa membiarkan gadis kecil itu keluar seorang diri seperti ini” tegas Bisma dengan kesal yang membuat Pinjai sedikit ketakutan.
“Maaf, Tuan. Saya kurang tahu, karena tidak ada satu pun body guard yang memberi kabar padaku jika Nona Rose ingin keluar rumah” jawab Pinjai dengan tegas.
__ADS_1
“Kau urus para body guard itu! Beri mereka semua pelajaran yang tidak bisa di lupakan. Paham!” bentak Bisma dengan nada yang sangat dingin.
“Pa-paham, Tuan” jawab Pinjai dengan perasaan gugup.
Ya, meskipun Pinjai sudah bekerja dengan Bisma sejak lama, namun ia juga masih sangat takut jika melihat atau mendengar ucapan Bisma yang sedang marah atau pun kesal. Karena Pinjai tahu sekali sifat Bisma, ia tidak pernah memandang siapa pun orang yang berani melawan kehendaknya.
Jika orang tersebut melakukan kesalahan, maka tidak segan-segan Bisma untuk menghukumnya bahkan bisa membunuhnya tanpa memiliki perasaan kasihan sedikit pun.
“Cepat bawa aku ke sana!” ucap Bisma dengan tegas dan langsung diangguki oleh Pinjai.
Kemudian, ia melajukan mobilnya untuk bisa menyusul Qisya. Di saat Qisya ingin memasuki tempat tersebut ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
“Hei... Gadis kecil, kau mau kemana?” panggil Bisma dengan sedikit menaikkan nada suaranya supaya Qisya mendengarnya, karena jarak mereka lumayan jauh sekitar 5 sampai 6 meter dari posisi Qisya berdiri.
“Sepertinya aku mengenal suara itu?!” gumam Qisya.
Tak lama ia membalikkan badannya dan menatap Bisma sedang berjalan ke arahnya dengan sangat gagah serta tak lupa gaya berwibawanya terlihat sangat jelas bahkan ketampanan terukir sebagai penambah kesan kesempurnaan seorang laki-laki.
“O-om Bisma” ucap Qisya yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Qisya sangat tahu kalau Bisma adalah tipe orang yang sangat ketat menjaga kesehatan tubuhnya, pasti ia tidak akan di bolehkan jajan di tempat seperti ini. Apa lagi Bisma sangat menghindari makanan berminyak atau pun makanan pedas yang akan merusak kesehatannya.
“Siapa yang menyuruhmu, kesini?” tanya Bisma dengan dingin.
Aura dinginnya Bisma tersebut malah membuat Qisya sedikit terlihat ketakutan. Sedangkan Pinjai tidak ikut bersama Bisma, karena ia di suruh untuk menunggu di dalam mobil.
“E... i-itu... a... anu Om, hem... i-itu...” jawab Qisya dengan sangat gugup dan bingung.
Qisya tidak tahu harus menjawab pertanyaan Bisma dengan jawaban apa. Karena Qisya tahu kalau ini kesalahannya yang keluar tanpa izin dari Bisma. Sedangkan Qisya mengira Bisma akan pulang nanti malam, makanya ia berani pergi keluar sebentar karena tidak ada para body guard yang menjaganya.
Tapi sekarang malah Qisya ketahuan, jadi ia saat ini benar-benar bingung harus jawab apa. Qisya tahu kalau Bisma sedang marah pasti terlihat seperti seorang monster yang sangat menyeramkan.
“Ita itu, ita itu apa hem? Bisa kan kalau orang bertanya itu di jawab bukan malah ita itu ita itu kek orang gagu!” ucap Bisma dengan tegas.
__ADS_1
“Hehe... Ma-maaf, wah... Om Bisma hari ini kelihatan ganteng banget deh. Eh tunggu, i-itu kenapa kening Om Bisma kok kaya memar begitu? Om habis berantem?” tanya Qisya dengan perasaan khawatir dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka yang sedikit menegangkan.
Bisma begitu terkejut dengan pertanyaan Qisya yang sedikit membuatnya gugup dan bingung, harus jawab apa supaya tidak membuat Qisya mencurigainya.
“E... i-itu, a-anu... hem...” ucap Bisma yang bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ita itu, ita itu apaan? Bisa kan kalau orang bertanya di jawab bukannya malah ita itu mulu kek orang gagu!” ucap Qisya yang mengikuti nada Bisma.
“Yakk... Kenapa kamu mengikuti nada bicaraku? Apa kau sudah berani padaku?” tanya Bisma dengan nada kesalnya.
“Ya, memang kenapa kalau aku berani pada Om Bisma? Apa aku akan kualat karena sudah berani kepada orang tua seperti Om Bisma ini?” tanya balik Qisya sambil menatap Bisma dengan wajah yang dibuat berani namun di dalam hatinya ia sangat ketakutan jika Bisma bisa lebih memarahinya.
“Apa kau bilang? Aku ini masih muda ya! Bahkan aku saja belum memiliki pasangan, istri, bahkan anak. Jadi aku bukan orang tua, paham!” bentak Bisma yang sedikit membuat Qisya ketakutan tetapi sebisa mungkin ia menyembunyikannya.
“Tetap saja, umur Om dan aku berbeda sangat jauh. Jadi, Om tetap sudah tua. Dan Om tidak boleh melawan kodrat itu, paham!” ucap Qisya sambil mengikuti gaya ucapan Bisma.
“Yakk... Dasar gadis kecil yang menyebalkan, berani-beraninya kau mengikuti aku seperti ini” jawab Bisma.
“Om juga, dasar Om-om tua yang bisanya hanya marah-marah saja. Jika tidak marah ya, cuek. Kalau enggak cuek ya, dingin. Hanya itu yang Om bisa kan. Marah, dingin dan cuek adalah sifat Om yang sangat ngeselin” ucap Qisya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo semuanya... Ketemu lagi dengan Author cubby kalian 🤗🤗🤗
Terima kasih atas dukungan kalian yang berarti selama ini 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Berikut adalah rekomendasi novel lagi untuk kalian dari Author 😙😙😙
Selamat menjelajah dan jangan lupa tinggalkan jejak imut kalian 😁😁😁
Tinggalkan jejak yang banyak sebanyak banyaknya deh... 😆😆😆
...*...
__ADS_1