Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Lukas Tidak Setuju


__ADS_3

Brian sedikit memperhatikan gerak-gerik Sasya yang dari tadi sangat gelisah dengan keadaan duduk, muka penuh kecemasan dan juga ia selalu memainkan jari-jarinya.


“Kak? Kakak tidak apa-apa? Kok dari tadi Ayah perhatikan kamu seperti orang yang kebingungan dan juga cemas. Seolah-olah ada yang mau kamu ungkapin, tetapi kamu takut mengatakannya. Apa benar begitu?” tanya Brian sambil menatap Sasya yang membuatnya tersontak kaget.


Sasya menatap wajah Brian dengan wajah yang panik, bagaikan seorang maling yang sudah kepergok warga.


“Ke-kenapa Ayah bisa tahu apa yang ada di dalam pikiranku? Apa wajahku terlihat seperti yang Ayah katakan? Tapi perasaan aku biasa saja deh cuma gugup aja uhh...” gumam Sasya di dalam hatinya.


Hanna dan juga Lily langsung menatap Sasya, sehingga membuatnya semakin panik.


“Ada apa sayang? Ayo cerita sama kami, siapa tahu jika ada masalah kami bisa bantu hem...” ucap Hanna dengan penuh kasih sayang.


“Ya benar, Kak. Nanti Lily juga bantu doa deh biar masalah Kakak cepat selesai. Tapi kalau bantu menyelesaikan masalahnya Lily belum sanggup, kan Lily masih kecil hehe...” saut Lily yang membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Lukas yang tadinya sibuk bermain, saat mendengar sang Kakak seperti itu langsung menghentikannya dan berbalik menghadap Sasya. Kini mereka semua seolah-olah sedang menghakimi seorang maling yang sudah ketahuan.


“Apa ini semua karena Kak Ash?” celetuk Lukas yang membuat semuanya menatap padanya.


“Kenapa pada melihatku?” Lukas kembali menyuarakan suaranya dengan tampang datarnya.


“Ti-tidak, ini enggak ada hubungannya sama Ash kok” saut Sasya agar membuat semuanya tidak menyalahkan Ash karena mereka tahu jika Ash selalu menjahili Sasya apa pun itu yang akan membuat Sasya merasa kesal.


“Lantas jika bukan karenanya kenapa kamu seperti ini? Cepat katakan, Sya. Jangan buat Ayah khawatir ” tanya Brian dengan wajah tegasnya, Sasya yang sudah tahu jika namanya di sebut maka tandanya Brian sudah mulai sedikit kesal.


“Sabar, pelan-pelan kalau bicara sama anak jangan membuatnya semakin takut” ucap Hanna sambil berbisik serta memegang paha Brian dengan perlahan untuk memberikan kode.


“Ya sudah jika kamu tidak mau menceritakannya pada kami, itu semua terserah padamu. Tapi ingat, kita adalah keluargamu dan jika ada apa-apa denganmu maka keluargamulah yang akan lebih dulu merasakan kesedihan dan juga penyesalan” ucap Brian yang membuat Sasya langsung menutup matanya perlahan, lalu ia menghembuskan nafasnya dan kembali membuka matanya.

__ADS_1


Kemudian Sasya menatap semuanya secara bergantian, “Jadi begini... 1 minggu yang lalu para mahasiswa/i di beri tahu melalui papan pengumuman jika di kota Los Angeles sangat membutuhkan sukarelawan kampus Sasya, namun sayangnya hanya orang-orang tertentu saja yang akan dipilih oleh pihak kampus sesuai dengan nilai atau pun yang lainnya”


Sasya mencoba menceritakannya perlahan-lahan agar membuat semuanya mengerti, tetapi sebenarnya di dalam diri Sasya ia terlihat sangat takut dan juga gugup. Sehingga membuat detak jantung Sasya menjadi tidak stabil.


“Siapa saja yang masuk ke daftar para sukarelawan itu, Kak?” tanya Hanna dengan penuh penasaran.


“Jangan bilang salah satunya adalah namamu” ucap Brian dengan penuh kecurigaan.


Sasya menganggukkan kepalanya perlahan, “Ya, Ayah... Namaku ada di salah satu daftar orang-orang hebat lainnya, bahkan banyak yang merasa kecewa karena tidak terpilih sebagai sukarelawan di sana. Tetapi tidak hanya di 1 rumah sakit saja, melainkan 10 rumah sakit besar yang akan menjadi tempat kita untuk memperdalam ilmu dan juga memperluas pengetahuan"


“Di kampus sudah ada 30 mahasiswa/i yang telah terpilih, kemudian pihak kampus juga harus membagi serta memasangkan kami sesuai dengan jurusan yang kami pilih dan 1 rumah sakit itu terdiri dari 3 relawan dokter yang akan membantu mereka. Lalu kita juga bisa mengetahu bagaimana kinerja seorang dokter yang profesional”


Sasya menjelaskan secara detail yang membuat Lily sedikit kebingungan, namun yang lainnya sangat paham.


“Jadi aku mohon sama kalian semua untuk mengizinkan aku menjadi salah satu relawan itu. Aku sangat ingin menjadi seorang dokter yang sangat profesional, karena ini adalah impianku Ayah, Bunda... Aku ingin sekali jika keluargaku ada yang sakit, maka akulah yang akan menanganinya serta merawatnya hingga sembuh"


"Kalian pasti tahu, seorang dokter tidak mungkin hanya berada di satu daerah atau satu tempat saja. Pasti bagi dokter yang baru sepertiku ini sangat butuh jam terbang yang lebih tinggi supaya aku bisa menjadi seorang dokter yang hebat”


Sasya sudah melewati masa-masa terpuruknya hingga kembali membuatnya merasakan bahagia karena impiannya berada di depan mata. Namun di balik itu semua Brian juga memiliki kekhawatiran terhadap Sasya, ua tidak mau jika sesuatu terjadi pada Sasya, apa lagi ia pernah merasakan trauma berat.


“Waaawww hebat... Benar-benar hebat Kak. Lily senang dengarnya, jadi sebentar lagi Kak Sasya akan menjadi seorang Ibu Dokter yang cantik jelita dong hehe...” saut Lily dengan penuh semangat.


“Insya Allah, Dek. Doakan Kakak ya, supaya Kakak bisa mencapai impian Kakak ini dan Kakak juga akan mendoakan kalian berdua supaya cita-cita kalian bisa terwujud” ucap Sasya sambil tersenyum.


“Tapi Lukas tidak setuju jika Kakak pergi. Seperti di kota ini tidak ada rumah sakit besar saja, lagi pula di sini juga rumah sakitnya bagus kok. Kenapa harus ke Los Angeles?” tegas Lukas dengan wajah kesal.


“Ya mungkin di sana membutuhkan relawan agar bisa membantu mereka meringankan beban kekurangan seorang dokter atau pun memang mereka seperti membuka sekolah kedokteran. Jadi anggap saja kaya kita sedang training sebelum masuk kerja” jawab Sasya.

__ADS_1


“Apa tidak bisa di kota New York saja? Kan kamu di sana tidak punya siapa-siapa, Kak? Jadi bagaimana kamu bisa mengurus semuanya seorang diri tanpa kita semua?” tanya Brian.


“Ayah tenang saja, kami sudah diberikan fasilitas mes putri dan putra. Pasti akan jauh lebih aman, dan juga ada penjaganya kok. Masalah makan dan sebagainya Sasya sudah bisa Ayah, kan Sasya sudah besar. Lagian juga Bunda selalu mengajarkan Sasya tentang semuanya” jawab Sasya yang semakin membuat Hanna bangga.


“Huaaaa... Kakak memang yang terbaik, tidak ada tandingannya. Lily sayang banget sama Kakak, pokoknya sayang buanyak-buanyak sekebon hehe...” Lily berdiri dan langsung memeluk Sasya dengan keadaan duduk.


“Hehe... Kakak juga sayang banget sama Lily, pokoknya Lily harus jadi anak yang baik, nurut dan juga pintar ya. Ingat, jika nanti Kakak tidak ada di rumah, Lily enggak boleh berantem terus sama Abang Lukas ya” ucap Sasya sambil memeluk erat Lily serta mencium kepalanya.


“Ya Kak siap, tapi itu juga kalau Abang Lukasnya enggak ngeselin ya hehe...” saut Lily sambil melepaskan pelukannya dan mendongak ke atas menata Sasya serta menunjukkan sederetan giginya yang putih kecil dan juga rapi.


Sasya yang sudah gemas pun langsung mencubit hidung Lily dengan perlahan sehingga membuat mereka semua tertawa dan tersenyum. Tapi tidak dengan Lukas, dia masih tidak rela jika Sasya harus pergi jauh darinya.


Setelah selesai Sasya kembali bertanya untuk memastikan semuanya, “Jadi bagaimana Ayah, Bunda? Apa kalian setuju dan mengizinkan Sasya untuk menimba ilmu? Dari tadi Sasya lihat Bunda sama sekali tidak bicara, apa Bunda marah sama Sasya karena Sasya mau ninggalin kalian?”


“Tapi kan Sasya enggak ninggalin kalian, lagian nanti saar Sasya libur tinggal pulang kan New York dan Los Angeles hanya berbeda kota doang bukan negara jadi hanya perlu beberapa jam saja kok”


“Ayah, Bunda please... Sasya sangat ingin menjadi dokter, supaya Sasya bisa selalu merawat kalian agar tidak jatuh sakit” Sasya memohon dengan wajah imutnya yang membuat Hanna langsung berdiri dan duduk di sebelah Sasya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Selamat beristirahat dan selalu bahagia semua... 😇😇😇


Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺


Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗


Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁

__ADS_1


Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2