
Dan Sasya pun harus bisa meredam api amarah yang melekat dalam di hati Ayah Brian serta Lukas, karena merekalah yang sangat tersakiti saat melihat betapa hancurnya masa kecil Sasya.
"Ke-kenapa kalian pada nangis? Astaga.. ini juga, air apa sih yang menetes di pipiku!" Ucap Alex yang langsung menghapus kasar sisa air mata yang ada di pipinya hingga membuat Sasya dan Pinjai pun langsung mengikutinya.
Selang beberapa detik seorang suster datang dengan membawa troli jatah makan siang Alex.
"Permisi Tuan, Nyonya.. ini makan siangnya" Suster tersebut langsung memasang meja makan di bangkar Alex dan menatanya serapi mungkin dengan bantuan Sasya.
Sedangkan Pinjai dia langsung ke luar mengambil paper bag yang berisikan pakaian dari tangan salah satu Bodyguardnya lalu kemabali masuk menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang mana tubuhnya sudah terasa lengket,
Namun, tanpa di sengaja mata suster tersebut menatap ke arah meja samping bangkar yang mana makanan tadi pagi masih utuh tak tersentuh sedikit pun.
"Loh, Tuan.. ada apa ini? Kenapa makanan tadi pagi tidak di makan?" Tanya suster dengan wajah paniknya.
"Mulut saya sangat pahit, jadi jika kau mau ambil saja. Sekalian bawa semua makanan ini keluar!" Titah Alex dengan aura dinginnya dan berhasil membuat suster tersebut sedikit terkejut.
Sasya yang melihat tingkah Alex kembali berulah saat sikap manisnya yang tadi seketika hilang entah kemana, lalu di gantikan dengan sikapnya yang dingin membuat Sasya menggelengkan kecil kepalanya.
"Sudah Sus, biar saya yang urus. Suster bawa makanan ini saja, lagian sepertinya ini sudah tidak layak di makan nanti bisa di buang atau di kasih ke hewan liar saja" Ujar Sasya untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang sambil menaruh semua makanan tadi pagi ke troli.
"Ta-tapi Nyonya.. jika Tuan tidak makan maka-.." Ucap suster tersebut yang mana langsung diserobot oleh Sasya.
"Tidak usah khawatir Sus, saya juga seorang dokter. Jadi saya paham dan saya akan pastikan jika Tuan Alex akan memakan makanannya dengan sangat lahap serta menghabiskannya tanpa menyisakan sebutir nasi pun di atas piringnya" Jawab Sasya sambil tersebut.
"Baiklah, Nyo- eh.. ma-maksudnya Dok. Kalau begitu saya permisi.." Ujar suster tersebut dengan sedikit membungkuk serta tersenyum kikuk ke arah Sasya dan juga Alex.
Suster pergi dengan mendorong trolinya hingga tenggelam bersamaan dengan pintu yang sudah tertutup. Kini hanya ada Sasya dan juga Alex, yang mana Pinjai masih setia di dalam kamar mandi.
"Baru beberapa menit yang lalu aku berfikir jika kamu, eh ma-maksudnya Tuan Alex sudah mulai berubah. Tapi, salah ternyata sifat yang dingin, cuek dan juga keras kepala masih melekat di dalamnya"
__ADS_1
Sasya menatap Alex dengan sangat sinis. Hanya saja, Alex membalas tatapan Sasya dengan keadaan yang bingung.
"Jangan panggil aku Tuan Alex. Aku lebih suka jika kamu berbicara dengan bahasa yang mana membuatmu nyaman. Aku kamu pun itu jauh lebih baik, jadi tidak menoton yang terkesan seperti layaknya seorang atasan dan bawahan" Celetuk Alex.
"Yayaya.. terserah dirimu saja, sudah jangan banyak mengoceh. Sekarang makan makanan yang ada di depanmu itu, lalu habiskan tanpa menyisakan sebutir nasi pun. Tanpa membantah!"
"Aku tidak mau jika sampai ada yang tersisa maka aku akan sangat malu saat bertemu dengan suster tadi, yang mana aku ini seorang dokter. Tetapi jika aku tidak bisa membujukmu untuk makan, maka gelarku akan menjadi taruhannya"
Sasya berbicara sambil kedua tangannya langsung membuka plastik yang menempel di piring untuk menutupi makanan dari kotoran (bakteri/kuman).
"Baiklah aku mau makan tapi dari tanganmu, karena tanganku tiba-tiba saja sakit. Entah kenapa, yang jelas aku tidak bisa makan sendiri"
Alex mengeluarkan semua jurus andalannya agar dirinya selalu bisa dimanjakan oleh gadis kecil pujaan hatinya, yang mana Sasya refleks menatap tangan Alex sekilas lalu kembali menatap wajahnya.
"Kok bisa tiba-tiba sakit? Ya sudah jika begitu aku panggilkan dokter dulu agar semua tubuhmu bisa di ronsen siapa tahu akibat luka jahitanmu yang basah bisa menjalar menjadi patah tulang!" Jawab Sasya dengan kesal.
"Yaaakkk.. kau menyumpahi calon suamimu sendiri patah tulang? Apa kau lupa jika ucapan adalah doa, yang mana apa pun baik buruknya yang terucap dari bibir akan terkabul. Belum lagi ada istilah mulutmu harimaumu" Celoteh Alex bagaikan emak-emak yang kurang jatah bulanan.
Nyenyenyenye...
Sasya menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar dan juga menyindir Alex, hingga membuatnya terkekeh saat melihat wajah Sasya begitu lucu.
Apa boleh buat, mau tidak mau Sasya harus menyuapini Alex agar ia bisa mengisi perutnya yang kosong dari tadi pagi. Jika Sasya tidak menurutinya maka bisa di pastikan kalau Alex tidak akan kembali menyentuh makanan serta obatnya.
"Buka mulutnya yang gede!" Titah Sasya sambil menyuapi Alex dengan satu sendok full. Alex mengerutkan dahinya dan sedikit takut.
"Apa begini cara dokter menyuapi pasiennya? Jika orang sakit kau suapi dengan 1 sendok full seperti ini aku yakin jiwa mereka pasti akan langsung meninggalkan raganya tanpa permisi. Kalau begitu kenapa tidak kau suapi aku dengan sendok semen sekalian!"
Alex berbicara dengan nada yang begitu kesal, baru kali ini ia melihat seseorang menyuapini orang sakit bagaikan orang yang sehat dan juga rakus.
__ADS_1
"Ohya.. idemu bagus juga itu, baiklah coba aku suruh anak buahmu saja untuk mencarikan sendok semen. Lagi pula itu sangat cocok bukan? Biar kamu bisa segera sehat!" Sahut Sasya dengan nada penekanan.
"ASTAGAAA.. BALQISYA ZHAFIRA ALEXANDER!!" Pekik Alex dengan sangat keras hingga membuat wajah Sasya memerah lantaran bukan karena takut, melainkan ngeblush saat mendengar dibelakang namanya ada nama Alex sehingga membuat detak jantungnya berdebar sangat kencang.
"Ma-maaf, a-aku tidak se-sengaja membentakmu. Habisnya kamu menyebalkan, aku berbicara seperti itu karena aku sedang kesal. Tapi, kamu malah menggaggapnya serius" Gumam kecil Alex sambil menundukkan kepalanya dengan memainkan jarinya.
Alex yang merasa Sasya terdiam akibat ulah bentakan yang mana pasti akan sangat membekas di dalam hatinya, makannya saat ini Sasya malah terdiam mematung.
Padahal sebenarnya bukan karena itu, tapi karena Alex telah membuat hati Sasya menjadi di tumbuhi oleh bunga-bunga yang saling bermekaran.
"Ma-maaf hiks.." Alex menangis bagaikan seorang anak kecil yang sedang melakukan kesalahan namun hanya mendapatkan kecuekan dari sang induk.
Sasya yang mendengar tangisan itu membuat dirinya langsung tersadar dan kembali menatap Alex dengan tatapan aneh. "La-lah.. ka-kamu kenapa menangis seperti itu? Kesambet?"
"Ma-maaf aku sudah membentakmu Honey hiks.. sekali lagi maaf aku tidak sengaja, please jangan marah sama aku ya hiks.." Sahut Alex yang sudah menangis merengek sambil menarik baju pergelangan tangan Sasya.
"Huhhh.. sudahlah, aku tidak apa-apa. Lebih baik hapus air matamu atau aku tidak mau lagi menatap wajahmu yang jelek saat sedang menangis seperti ini! Aku lebih suka melihatmu tersenyum maka itu akan menambah ketampananmu!" Titah Sasya dengan wajah ngeblushnya yang kini berusaha merayu Alex yang mana kata-kata itu terlontar dari dalam lubuk hati yang dalam.
Alex yang mendapat ucapan begitu indah terdengar di telinganya langsung mengusap semua sisa air matanya dan sedikit mendongak ke atas menatap wajah Sasya dengan tersenyum yang mana malah terlihat bagaikan seekor kelinci imut.
Sasya terkekeh melihat aksi lucu Alex yang baru saja menangis saat di ancam seperti itu malah kini benar-benar menunjukkan sisi lainnya.
"Hihi.. kau terlihat sangat lucu, Big Baby" Gumam Sasya di dalam hatinya sambil terkekeh yang mana membuat Alex pun merasa bahagia hingga wajahnya mulai merah merona.
Kemudian Sasya menyuapini Alex dengan penuh kelembutan, hingga Alex pun terlihat begitu lahap. Bahkan malah terlihat bagaikan orang yang tidak makan selama 1 bulan.
Namun, dari arah kamar mandi Pinjai melihat adegan romantis itu membuat hatinya sangat bahagia. Kini, hubungan mereka kembali membaik meskipun Sasya telah mengetahui siapa Alex yang sebenarnya tetapi takdir masih berpihak pada mereka.
Alex tanpa sengaja melirik ke arah Pinjai yang sedang berdiri di belakang Sasya tepat di dekat pintu kamar mandi membuat Alex mengode Pinjai agar meninggalkan mereka berdua dengan kode matanya.
__ADS_1
Pinjai pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Walaupun Alex tidak menyuruhnya pergi, Pinjai juga akan tetap pergi untuk memberikan ruang agar mereka bisa menikmati masa-masa yang langka seperti ini.