Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Kejahilan Syasa Dan Alex


__ADS_3

Mereka berdiri diatas pelaminan sambil tersenyum, beberapa wartawan bergegas mengabadikan momen tersebut.


Hingga pada akhirnya, satu persatu para tamu menaiki pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai yang baru saja resmi menjadi suami istri.


Jam menunjukkan pukul 11 malam, dimana Alex dan Sasya sudah turun dari pelaminan meninggalkan semuanya yang masih setia menikmati acara yang sedikit lagi usai.


Alex dan Sasya berjalan menelusuri lorong hotel, hingga pada akhirnya mereka sampai di kamar barunya, tepat bersebelahan dengan kamar keluarganya.


Perlahan mereka melangkahkan kedua kakinya bersamaan, rasa canggung dan juga malu seketika mulai menyelimuti hati mereka. Bahkan wajahnya sedikit merona dihiasi oleh senyuman kecil.


Detak jantung kian berdebar begitu kencang, menandakan bahwa mereka masih tidak menyangka jikalau, hari ini mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri.


Mereka melihat kearah sekeliling sudut kamar yang sudah didekorasi seindah mungkin, agar bisa menambah kesan keromantisan diantaran mereka yang terbilang masih kaku.


Kasur yang seharusnya bersih dan hanya tersusun bantal, guling dan juga selimut. Kini, telah disulap menjadi taman bunga yang dipenuhi kelopak mawar merah bertebaran dimana-mana.


Sasya terdiam mematung melihat ranjang tersebut, sedangkan Alex berjalan perlahan mendekati Sasya setelah mengunci pintunya.


"Syaa, ka-kamu ma-mau bersih-bersih duluan atau-"


"Kamu duluan saja, Mas. Aku mau duduk sebentar pegel banget."


Sasya memotong ucapan Alex sambil berbalik menatapnya, Alex mengangguk kecil tersenyum, kemudian tangannya refleks mengelus pipi Sasya perlahan, lalu pergi meninggalkan Sasya kearah kamar mandi.


Sasya tampak terdiam mematung matanya sedikit membola, akibat sentuhan tangan Alex berhasil membuatnya sedikit menegang.


"A-apa se-setelah i-ini dia akan meminta haknya? Lalu, apakah aku sudah siap, untuk menyerahkan mahkota yang selama ini aku jaga?"


"Lantas apakah aku juga akan siap, jika beberapa hari kedepannya kakiku menjadi lumpuh akibat pertarungan ranjang?"


"Terus, bagaimana jika Alex melakukannya dengan kasar? Apa lagi dia kan mantan seorang Mafia, pasti hasratnya akan lebih besar dari pria biasa."


Sasya bergumam didalam hatinya dalam keadaan melamun, rasa takut dan juga dilema membuat Sasya benar-benar bingung.


Namun, semua itu tidak berlangsung lama ketika Sasya kembali mengingat kebaikan tentang Alex yang selama ini sudah berjuang untuknya. Jadi, mau tidak mau, siap tidak siap. Sasya harus bisa memuaskan suaminya dihari pertamanya.


"Bismillah, hari ini aku akan menyerahkan diriku sendiri kepada suamiku dengan suka rela,"


"Aku harus bisa membuat malam pertama ini menjadi malam yang sangat spesial untuknya, supaya dia tidak akan pernah melupakan malam pertama kita."

__ADS_1


Sasya tersenyum menyemangati dirinya sendiri, Sasya tahu jika malam pertama bukanlah malam yang mudah dia lewati.


Dimalam inilah, sepasang suami istri akan memadu kasih menyatukan cintanya sambil berikhtiar untuk menghasilkan buah hati yang sangat diharapkan.


Sasya berjalan mendekati cermin hias, kemudian duduk secara perlahan. Lalu, Sasya mencopot aksesorisnya satu persatu.


Namun, ketika Sasya sedang berdiri mau membuka resleting belakang gaunnya, matanya malah melihat ke arah Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mas, boleh bantu bukakan resleting gaunku ini? Soalnya susah banget, beberapa kali aku usaha tapi selalu gagal." ucap Sasya.


Alex yang sedang asyik mengeringkan rambutnya, langsung berhenti ketika mendengar perkataan Sasya yang seakan-akan kembali memicu kegugupan didalam hati Alex.


"A-aku?" tunjuk Alex kepada dirinya sendiri. Wajahnya terlihat begitu terkejut melihat Sasya tersenyum, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.


Alex terdiam mematung, semua imajinasi liar pun berputar didalam pikirannya. Dimana Alex sendiri masih belum siap untuk melakukan hal berhubungan badan.


Ditambah lagi Alex pernah membaca sebuah artikel tentang malam pertama, dari situ membuat Alex sedikit merasa ketakutan jika malam pertama akan lumpuhkan kaki Syasa, meskipun sementara.


"Mas! Ayolah, aku harus segera mandi. Badanku sudah terasa lengket banget ini." rengek Sasya.


"I-iya, se-sebentar. A-aku mau me-menaruh handuk du-"


"Astaga! Sudahlah letakkan disitu saja, nanti aku yang membereskan. Setidaknya bukakan resleting gaunku dulu ...."


Kemudian, Alex berjalan perlahan mendekati Sasya. Sedangkan Sasya langsung berbalik membelakangi Alex, rasa gemetar dikedua tangan Alex membuatnya menarik ulur tangannya.


"Astaga, Sasya. Kamu ini sedang mengujiku atau bagaimana sih, kenapa malah kesannya aku yang grogi?"


"Bukannya hal seperti ini sudah terbiasa dirasakan oleh pengantin wanita? Tetapi, kenapa sekarang berbanding terbalik? Kamu terlihat tenang, tetapi diriku yang terlihat gugup."


Batin Alex berbicara tangannya mulai sedikit gemetar, perlahan demi perlahan resleting gaun Sasya terbuka lebar bersamaan dengan menutupnya kedua mata Alex.


Setelah resleting gaun tersebut terbuka Alex segera berbalik, matanya terbuka lebar, begitu juga dengan detak jantungnya yang berpacu cepat.


"Terima ka--, loh ... Kenapa Mas membelakangiku?" ujar Sasya sedikit terkejut ketika berbalik, Alex malah sudah membelakanginya.


"Se-sebenarnya ka-kamu itu se-sengaja kan, ma-mau mengujiku ke-keimananku?" ucap Alex tanpa berbalik, dia terus memegangi dadanya sendiri.


"Hah? Ma-maksudmu apa, Mas? Keimanan?" jawab Sasya, bingung.

__ADS_1


Namun, seketika Sasya langsung paham. Sasya malah tersenyum jahil. Gaun yang beberapa menit lalu masih dia gunakan, sekarang telah terlepas darinya.


Sasya mengambil gaun tersebut lalu memberikannya kepada Alex, refleks tangan Alex menerimanya. Matanya kembali membola ketika melihat gaun tersebut berda ditangannya.


Hap!


Sasya memeluk Alex dari belakang. Tubuh Alex mulai melemas, dia berpikir bahwa Sasya saat ini sedang dalam keadaan tidak menggunakan apa pun. Padahal nyatanya, Sasya masih menggunakan pakian lengkap beserta hijab yang masih melekat dikepalanya.


"Syaa ...." ucap Alex, rasanya dia ingin sekali lenyap dari dunia ini ketika detak jantungnya memompa cukup cepat.


"Kenapa, Sayang? Bukannya kita sudah resmi? Jadi, boleh dong ...." goda Sasya menggunakan suara yang sangat lembut.


"Syaa, le-lepasin. Pa-pakai ba-bajumu, a-aku ti-tidak mau sa-sampai kamu ma-masuk angin!" pinta Alex, suaranya terdengar terbata-bata akibat Alex terlihat gugup.


Sasya tertawa terbahak-bahak merasakan tubuh Alex mulai bergetar hebat, Alex spontan berbalik. Dimana dia melihat Sasya sedang menertawainya duduk di pinggir ranjang.


Mata Alex terkejut bukan main, tubuh Sasya yang dianggapnya polos tanpa menggunakan 1 helai pakaian pun, langsung terbantahkan. Nyatanya, Sasya masih menggunakan baju manset lengan panjang dan juga inner pants.


"Sasya! Apa tadi kamu sedang mengerjaiku?" gumam Alex, kesal.


"Eh, hehe ... Ya, maaf. Habisnya kamu lucu, seharusnya kan aku yang gugup, bukan kamu." jawab Sasya, masih setia dengan tawanya.


"Hem ... Rupanya, istriku mulai nakal ya!"


"Baiklah, mungkin aku harus memberikan hukuman untukmu. Ya, aku harap hukuman ini tidak akan membuatmu lumpuh 7 hari 7 malam."


Alex menatap Sasya dengan tatapan penuh arti, belum lagi senyuman miring terukir diwajah Alex. Jika memang Sasya bisa menjahili suaminya, maka Alex juga harus bisa menjahili istrinya.


Sasya mendengar penuturan kata yang terlontar dari mulut Alex, berhasil membuat Sasya bergidik ngeri. Tatapan Alex seperti memancarkan hasrat yang begitu besar padanya, bagaikan seekor Elang yang akan menerkam mangsanya tanpa ampun.


Alex melempar gaun Sasya kesembarang arah, kemudian dia berjalan perlahan mendekati Sasya. Rasa gugup, takut dan juga deg-deg'an kian melanda diri Sasya.


Tanpa sadar, Syasa meranjak menaiki ranjang secara perlahan. Kali ini Alex tidak mau kalah dia juga harus bisa membuat Syasa merasakan apa yang dia rasakan tadi, dan pada akhirnya Alex berhasil berada didepan Syasa.


"Ma-mas, ka-kamu ma-mau nga-ngapain?" ucap Syasa gugup.


"Mau memuaskan istriku, bukannya tadi kamu sudah menggodaku?" sahut Alex.


"Ta-tapi, a-aku belum bersih-bersih, Mas?" jawab Syasa, spontan. Kedua pipinya kini telah memerah bagaikan kepiting rebus.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Alex yang mulai mendekati wajah Syasa, sehingga tubuh Syasa terterpentok oleh sandaran ranjang.


Syasa hanya bisa memejamkan kedua matanya ketika wajah Alex mendekatinya, hembusan napas mereka saling terasa stu sama lain. Tetapi saat bibir mereka hampir saja tersentuh, tiba-tiba Alex malah menggelitiki Syasa dan membuat Syasa malah tertawa lepas.


__ADS_2