Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Apakah Kau Ada Kenalan Orang Pintar?


__ADS_3

Di saat mobil sudah mulai menjauh serta tidak lagi terlihat oleh mata Sasya, kini Sasya langsung berbalik dan berjalan kembali memasuki rumah sakit dalam keadaan tersenyum.


...*...


...*...


Malam hari tepatnya pukul 7, kini Alex sedang memakan makan malamnya dengan bantuan Sasya. Ya, begitulah Alex dia selalu ada saja akalnya supaya bisa bermanja-manja dengannya. Sedangkan Pinjai dia hanya duduk di sofa sambil mengabari istri tercintanya dan melihat beberapa video lucu tentang anaknya.


"Makan yang bener terus minun obat, lalu istirahat" Titah Sasya sambil menyuapini Alex.


"Aku belum ngantuk, lagian juga jika selesai makan langsung tidur nanti yang ada roti sobekku akan berubah menjadi bolu bantet!" Celetuk Alex yang langsung membuat Pinjai menoleh dan menatapnya penuh keterkejutan.


"Apa lihat-lihat, hahh?!" Ucap Alex sambil melirik Pinjai dengan lirikan mautnya yang membuat Pinjai segera mungkin kembali fokus pada ponselnya.


Sasya menoleh sekilas kebelakang melihat Pinjai fokus pada ponselnya, lalu kembali lagi menatap Alex serta menyuapini bubur pada mulut Alex.


"Bisa tidak jadi orang itu jangan galak-galak, dia itu temanmu bukan? Jadi, kau harus menghargainya. Apa lagi dia selalu ada di saat susah dan kau juga selalu meminta bantuannya, hingga dia melakukan semuanya tanpa mengeluh. Tapi, apa balasanmu? Kau selalu saja memarahinya tanpa sebab. Dasar aneh!" Celoteh Sasya dengan segala kedumelannya menggunakan nada sebalnya.


"Ya maaf, lagian juga aku sudah terbiasa dengannya seperti ini. Jadi, tidak mungkin dia baper padaku! Kau tanyakan saja padanya apakah dia keberatan dengan semua sikapku" Sahut Alex dengan segala bantahannya.


"Ckk.. memang susah jika berbicara dengan pria arrogan sepertimu. Ya sudahlah, ini minummu. Lalu, minumlah obat itu aku mau ke kamar mandi sebentar"


Sasya langsung memberikan minum kepada Alex di saat makanannya sudah habis, kemudian Sasya ke pergi ke kamar mandi setelah memastikan obat serta air sudah berada di depan mata Alex.


Alex yang sudah meminum obatnya lalu kembali menaruh gelas di tangannya serta kini langsung menatap ke arah Pinjai.

__ADS_1


"Apakah kau ada kenalan orang pintar?" Tanya Alex yang membuat Pinjai menatapnya dengan menautkan kedua alisnya.


Pinjai sangat bingung dengan apa yang Alex tanyakan sehingga Pinjai menaruh ponselnya di dalam saku celana dan segera bangkit kemudian mendekati Alex.


"Orang pintar? Maksudnya kaya semacam dukum atau cenayang begitukah? Tapi, untuk apa kau mencari orang seperti itu?"


"Ja- jangan bilang kau ingin menyakiti seseorang dengan cara halus, atau kau punya tujuan ingin memelet semua keluarga Nona Sasya agar bisa merestuimu? Astaga Alex, buang jauh-jauh pikiran itu dan kau jangan belajar gila dengan permainan sihir. Paham!"


Celoteh Pinjai dengan suara kerasnya hingga Sasya yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung terkejut bukan main ketika mendengar perkataan Pinjai yang sangat sensitif di telinganya.


"Yaaaakkkk.. apa kau bilang, hahh!! Tuan Alex ingin mengguna-gunain keluargaku? Wahhh.. kau ingin mengajak perang kedua denganku? Tenang aku tidak sekecil dulu yang bisa kau bod*dohi lagi. Tapi, sekarang aku sudah dewasa jadi aku bisa melawanmu Tuan Alex!"


"Dasar tidak ada terima kasihnya, aku sudah cape-cape mengurusmu bahkan sudah membelamu di depan keluargaku sendiri sampai aku dan Ayahku hampir saja bertengkar kini kau malah dengan seenak jidatmu mengatakan seperti itu!"


Alex kemudian melirik Pinjai dengan tatapan mematikan hingga tubuh Pinjai bergidik ngeri, lalu Alex kembali menatap ke arah Sasya dengan tatapan sendunya.


"Ti-tidak, itu tidak benar Sayang. Please.. jangan marah dulu, apa yang di katakan Pinjai itu salah besar. Aku tidak ada niatan apa pun untuk menyakiti atau mengguna-gunai semua keluargamu. Percaya sama aku, aku sudah berubah Syaa.."


"Aku bukan Alex yang jahat seperti dulu, tapi aku Alex yang sedang belajar memperbaiki diri untuk berubah menjadi pria yang jauh lebih baik lagi. Aku mohon Syaa.. jangan kembali berpikir jelek padaku"


Alex terus berbicara dengan nada memohon yang mana kini matanya sudah berkaca-kaca, jika saja Sasya bisa ia sentuh mungkin Alex sudah menarik hingga menciumi punggung tangan Sasya. Sayangnya Sasya tidak suka di sentuh oleh siapa pun kecuali dengan seorang wanita.


Namun Sasya yang mendengar permohonan maaf dari Alex seketika menjadi bimbang dan langsung menatap Pinjai. Sedangkan Pinjai yang di tatap oleh Sasya serta Alex langsung terdiam membeku dengan keadaan yang tidak bisa di jelaskan.


"Apa maksud ucapanmu Tuan Pinjai? Kenapa bisa kau mengatakan itu semua? Aku mau kau jawab dengan jujur!!" Tegas Sasya dengan suara yang sangat lantang.

__ADS_1


Pinjai yang mendengar itu pun segera mungkin ingin menjawab pertanyaan tersebut, tetapi Alex langsung kembali menyuarakan suaranya yang mana membuat Pinjai tidak jadi menjawab.


"Aku hanya mengatakan ap-..." Ucapan Alex terhenti saat Sasya menatap tajam kearahnya yang mana membuat Alex menundukkan kepalanya.


Baru kali ini Pinjai melihat seorang Alex yang dingin dan kejam bahkan seorang King dari Mafia Golden Fangs kini menundukkan kepalanya hanya karena wanita yang saat ini ada di hadapannya. Benar-benar keajaiban yang sangat langka, ternyata apa yang dikatakan pepatah.


Bahwa seorang pria yang kejam serta berdarah dingin sekali pun jika sudah di pertemukan dengan pawangnya, maka ia terlihat bagaikan seorang anak kecil yang sangat takut kepada induknya. Bukan lagi sifat kejamnya yang keluar, melainkan isak tangis yang begitu langka.


"Apa namamu Tuan Pinjai?" Tanya Sasya dengan penekanan. Alex hanya menggeleng kecil dengan suara isak tangisnya yang mulai terdengr sangat lirih, entah kenapa Alex begitu cengeng jika berhadapan dengan Sasya. Bahkan sifatnya saat ini benar-benar berbanding terbalik dengan sifat Alex yang biasanya.


"Huhhh.. sudahlah jangan menangis, dan sekarang kau jelaskan padaku Tuan Pinjai. Apa maksud omonganmu yang tadi?!" Ucap Sasya yang sudah jengah melihat Alex yang begitu cengeng dan juga manja kepadanya.


"Ma-maaf Nona, saya tidak bermaksud seperti itu. Tadi saya hanya terkejut saat Tuan Alex menanyakan apakah saya mempunyai kenalan orang pintar. Maka dari itu saya langsung nyeletuk seperti itu, saya takut jika Tuan Alex akan salah jalan. Belum lagi meskipun usianya sudah sangat matang tetapi bagiku dia Adik kecilku yang harus di arahi agar tidak kembali terjebak di luang yang sama"


Pinjai menjelaskan sesuai dengan faktanya, namun Sasya langsung menoleh ke arah Alex dengan sedikit rasa kasihan.


Entahlah saat mendengar isak tangis Alex yang awalnya membuat Sasya kesal kini berubah menjadi terasa sesak di dalam hatinya. Lalu, Sasya mencoba untuk menetrakan apa yang ada di hatinya dan kembali mengutarakan suaranya dengan sangat lembut.


"Tuan Alex, bisakah kau menatapku dan jelaskan padaku apa yang kau maksud dengan orang pintar? Lalu buat apa kau menanyakan hal itu pada Tuan Pinjai?" Tanya Sasya dengan suara yang lebih lembut.


Alex mengangkat kepalanya dengan perlahan yang mana matanya sudah mulai sembab dan memerah, betapa terkejutnya Sasya melihat itu. Padahal Alex belum lama menangis namun matanya sudah hampir membengkak.


Alex terisak kecil bersamaan dengan air mata yang masih mengalir, Sasya langsung mencari tisu dan mengelapnya dengan perlahan mencoba untuk membuat Alex agar lebih tenang.


Sampai seketika di saat udah mulai tenang Alex dengan perlahan membuka mulutnya menggerakan bibirnya dengan sedikit gemetar, lalu Alex menjawab semua kesalah pahaman ini.

__ADS_1


__ADS_2