
Bahkan Bunda Hana yang melihat Sasya tertawa malah merasa senang. Setidaknya ia berhasil membuat Sasya kembali tersenyum. Sasya tertawa sambil memegangi perutnya, namun di hatinya ia masih sangat bersedih karena orang yang berusaha keluarganya jauhkan darinya kini malah ada bersamanya.
“Maafkan aku Bun, aku belum bisa menceritakan semuanya sama kalian. Tapi aku janji, kalau aku pasti akan menceritakannya di waktu yang pas tapi aku tidak tahu kapan hahh...” gumam Sasya di dalam hatinya sambil berpura-pura tertawa untuk menutupi kesedihannya.
Setelah selesai dari tawanya, Bunda Hana kembali menanyakan kenapa tadi ia bisa menangis seperti itu. Cuma Sasya belum bisa jujur padanya sehingga Sasya sedikit berbohong kalau dirinya menangis karena terharu dia bisa melakukan operasi besar demi menyelamatkan nyawa seseorang.
Syukurnya Bunda Hana percaya dengan apa yang Sasya katakan, bahkan bunda Hana juga ikut terharu serta meneteskan air matanya saat melihat anaknya benar-benar akan menjadi seorang dokter yang hebat.
📱 “Bunda sudah dulu ya, Sasya masih ada pasien. Nanti di sambung lagi ya, salam kangen dan sayang buat semuanya dahh... Assalamualaikum...” ucap Sasya yang buru-buru mematikan ponselnya karena ia tidak tahan untuk menahan rasa sakit di dalam hatinya saat bayang-bayang masa lalu teringat jelas di dalam pikirannya.
Sasya berusaha sekeras mungkin untuk melawannya karena ia tidak mau lagi sampai rasa traumanya kembali menghantuinya. Ia sudah sangat keras berjuang untuk sembuh, jadi ia juga harus berjuang agar bisa melawan semuanya.
Sasya juga mencoba untuk menerima kenyataan jika semua sudah jalan dari Sang Pencipta Alam Semesta. Waktu sudah semakin sore, dan kini saatnya Sasya kembali ke mesnya yang jarang ia kunjungi. Malah Saya lebih memilih tidur di rumah sakit agar bisa berjaga-jaga jika Alex membutuhkannya.
*
*
Sementara itu saat ini Ash sedang berjalan dengan penuh rasa takut untuk mencapai ruang rawatnya Alex, yang dimana sudah banyak para mafioso yang berjaga ketat di sekeliling ruangan itu dengan tatapan mematikan.
Ash lalu berjalan mendekati pintu ruangan Alex, namun tiba-tiba saja Pinjai segera menahannya sebelum Ash mendekati pintu ruangan Alex.
“Sorry, what are you doing here?” tanya Pinjai dengan tatapan penuh intimidasi.
“Ya mau mengecek keadaan Tuan Alex lah, masa ia mau ngegosip” jawab spontan Ash yang membuat dirinya langsung menutup mulutnya.
“Astaga... you are dead, Ash...” gumam Ash di dalam hati sambil melirik ke semua mafioso termasuk Pinjai yang menatapnya sangat tajam.
“E... hehe... ma-maaf Tuan keceplosan. Maklum mulutku ini emang enggak bisa di rem hihi...” ucap Ash kembali.
“Yang bisa mengecek Tuan Alex adalah dokter Sasya bukan dirimu, jadi buat apa kau mengecek Tuan Alex? Ja-jangan jangan kau penyusup yang mau melukai Tuanku, iya!!” ucap Pinjai yang mampu membuat Ash tersudut penuh ketakutan sambil mengangkat kedua tangannya di dada, dan kini semua Mafioso sudah mengelilingi Pinjai dan juga Ash.
“Bu-bukan begitu Tu-tuan, de-dengarkan aku dulu. Aku ini sahabatnya dokter Sasya, dan aku di tugaskan untuk menggantikannya hanya hari ini saja. Kis- maksudku Dokter Sasya sedang tidak masuk karena sakit” ucap Ash dengan sangat gugup bahkan keringatnya sudah mengucur di sekeliling wajahnya.
“Kiss... ma-maafkan aku karena aku berbohong mengatakan kamu sedang sakit, aku terpaksa. Kalau aku tidak berkata demikian, aku akan mati hari ini. Semoga saja kamu tidak beneran sakit ya Kiss...” gumam Ash di dalam hatinya.
__ADS_1
Pinjai yang mendengar itu langsung melirik semua mafiosonya untuk menjauh dan kembali ke posisi awal mereka berjaga.
“Baiklah, jika begitu. Saya akan masuk denganmu dan mengawasi setiap gerak-gerikmu, paham! Awas saja jika ada apa-apa dengan Tuanku, maka kau akan merasakan akibatnya mengerti!” ucap Pinjai dengan tegas yang langsung di angguki oleh Ash dengan cepat.
Lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruangan rawat Alex. Kemudian Pinjai membuka pintu dengan perlahan dan Alex langsung menatap ke arah pintu yang terbuka itu.
“Finally you are co- hahh... kau siap- arkhhh...” pekik Alex yang tadinya telah tiduran di atas ranjang, kini menjadi bangun dan membuat perutnya terasa sangat nyeri karena ia bangun dengan cepat akibat terkejut.
“Tuan... kau tidak apa-apa?” ucap Pinjai saat ingin mendekatinya, namun Alex langsung mengisyaratkan dengan tangannya jika dia baik-baik saja.
“I'm sorry Mr. Alex, perkenalkan nama saya Ash. Saya juga salah satu mahasiswa yang 1 jurusan dengan Ki- maksudku Sasya. Aku dan Sasya merupakan sahabat sejak kamu duduk di bangku sekolah menengah, jadi kami selalu bersama” jelas Ash yang paham dengan tatapan aneh dari Alex.
“Sahabat? Jadi Sasya memiliki sahabat laki-laki yang cukup manis dan juga tampan aarghh... apaan sih, masih tampanan juga aku bahkan lebih matangan juga diriku dan pria ini terlihat masih kecil, jadi mana mungkin mereka cocok kan...” gumam Alex di dalam hatinya dengan tatapan yang remeh, namun di persekian detik Alex kembali menangkis semuanya.
“Huuaaa... apaan sih, ini pikiran kenapa jadi begini? Fokus Alex, fokus... jangan biarkan cinta bersemu di hatimu, karena cinta itu hanya akan membuat luka yang sangat sakit, paham...” sahut Alex di dalam hatinya.
Ash dan Pinjai menatap Alex dengan tatapan bingung, karena melihat tingkah Alex yang seperti sedang menepis-nepis angin di depan wajahnya.
“Sir...” sapa kecil Pinjai yang berhasil membuat Alex langsung menoleh ke arahnya.
“Hem...” dehem Alex dengan tatapan aneh.
“Memangnya ada apa dengan saya?” tanya balik Alex dengan wajah melongonya, sedangkan Pinjai dan Ash saling menatap satu sama lain dengan tatapan aneh.
“Tuan tidak merasa jika tadi Tuan seperti ini...” jawab Pinjai sambil memperagakan seperti Alex tadi, sehingga Alex yang melihat itu refleks melototkan matanya.
“O-oh i-itu... sa-saya lagi ngusir nyamuk, ya nyamuk. Tadi banyak nyamuk ckk... rumah sakit apa ini bisa ada nyamuk begini” sahut Alex dengan mengalihkan kenyataan.
“Hem... ya sudah, biar saya periksa Tuan dulu. Saya tidak ada banyak waktu karena masih ada pasien yang harus saya urus” ucap Ash yang berjalan mendekati bangkar Alex.
Lalu Ash segera memeriksa Alex, namun saat memeriksanya Alex seperti berbisik kepada Ash yang membuatnya sedikit terkejut.
“Sedekat apa kau dengan Sasya?” tanyanya dengan suara kecil.
“Ini orang kenapa kepo banget sih dengan kehidupanku sama Kiss. A-apa jangan-jangan dia mulai menyukai Kiss? Hem... tidak bisa di biarin nih, kerjain dikit gapapa kali ya hihi... hitung-hitung peringatan kalau Kiss adalah milikku hihi...” gumam Ash di dalam hatinya.
__ADS_1
Pinjai yang melihat Alex seperti komat-kamit membuat ia sangat penasaran, tapi ia tahu batasan. Mungkin ini adalah urusan pribadi Tuannya, jadi ia tetap diam di posisinya sambil memperhatikan gerak-gerik Ash.
“Kenapa diam? Saya kan nanya...” tanya Alex kembali yang sangat penasaran.
“Ekhemm... Tuan mau tahu sedekat apa saya dengan Sasya?” ujar Ash yang refleks membuat Alex mengangguk kecil, sehingga Ash tersenyum kecil lalu ia menjawab.
“Hubungan saya dan Sasya itu sebenarnya sangat-sangat dekat Tuan, bahkan saya sudah di anggap sebagai anak sendiri oleh keluarganya. Apa lagi Bundanya begitu baik, sehingga saya sangat nyaman dengan mereka. Makanya setiap Sasya kemana-mana pasti saya akan menemaninya karena keluarganya mempercayakan Sasya pada saya” jelas Ash yang membuat Alex terdiam seribu bahasa.
“Ohya... saya lupa, kalau saya dan Sasya lagi dalam proses pendekatan jadi kemungkinan nanti kami akan bertunangan. Ya sudah saya pamit Tuan, excuse me...” sahut Ash kembali sambil tersenyum dan pergi meninggalkan ruangan Alex.
Lagi dan lagi perkataan Ash yang terakhir ini membuat Alex merasakan sakit di dalam hatinya.
“Kenapa saat mendengar mereka mau bertunangan hatiku begitu hancur? Ada apa ini? Padahal aku dan Sasya tidak ada hubungan apa pun, bahkan ketemu saja baru sekarang. Lalu ini perasaan apa...” gumam Alex di dalam hatinya.
“Tuan, mengapa wajahmu terlihat sangat murung? Bukannya tadi Tuan habis diperiksa oleh dokter itu, namun kenapa jadi begini? Apa dia tidak becus dalam memeriksa Tuan? Jika benar saya akan melaporkannya agar segera di keluarkan dari rumah sakit dan namanya tidak akan pernah ada di daftar kedokteran mana pun” jelas Pinjai yang membuat Alex langsung menatapnya.
“I'm fine oke... Jadi bisakah tinggalkan saya di sini sendirian, saya cape mau istirahat” ujar Alex sambil berbaring di bangkarnya dan membelakangi Pinjai.
Pinjai yang melihat Alex butuh waktu untuk beristirahat, segera ia keluar dari ruang rawatnya Alex. Setelah keluarnya Pinjai, Alex segera berbalik dan berbaring dalam keadaan terlentang.
Alex kembali mengingat semua ucapan Ash, yang selalu terngiang-ngiang di pikirannya saat ini. Sampai seketika tanpa di sadari Alex malah tertidur akibat kepalanya yang begitu pusing karena memikirkan tentang hubungan antara Ash dan juga Sasya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah Kang Salto Barbar kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭
__ADS_1
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻