Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Tidak Sekolah


__ADS_3

Qisya yang sudah sangat kesal karena ia beberapa kali memanggil Arya tidak ada sautan atau pun jawaban dari Arya.


“Om Alyaa...” terisk Qisya sambil menarik baju Arya yang sedikit membuat ia tercekik.


“Uhuk... uhuk...” Arya terbatuk saat kerah bajunya sedikit menekan lehernya.


“Sukulin, lagian sih bengong aja. Ayo pulang Om, Qisya sudah kangen sama Bunda” ucap Qisya dengan wajah kesalnya.


“Uhuk... kamu ini apa-apaan sih Qisya, nanti kalau Om mati bagaimana? Nanti enggak ada lagi Om Qisya yang gantengnya enggak ke tulungan kaya Om Arya ini” saut Arya dengan sedikit kesal


“Ya kalau Om mati, tinggal kubul saja di tanah. Masa iya mau di buang di laut. Bisa-bisa jadi makanan hiu dong haha...” jawab Qisya sambil tertawa.


“Yakkk... dasar anak rese” saut Arya dengan nada marah.


“Om Alya tuh yang lese” jawab Qisya sambil bertolak pinggang menatap Arya dengan tatapan marah.


“Huftt... sabar Arya, sabar. Orang sabar di sayang Bu guru cantik hihi” gumam Arya sambil tertawa sendiri.


“Om Alya kenapa sih habis ketemu sama Bu Cantik ketawa-ketawa kaya olang gila gitu. Jangan-jangan Om Alya lupa minum obat haha...” ucap Qisya di dalam hatinya sambil menatap Arya.


Arya yang sudah sadar dari lamunannya pun segera berpamitan dengan kedua satpam, lalu menaiki motor dengan Qisya yang duduk di depan.


Betapa senangnya Qisya saat baru kembali menikmati udara ketika menaiki motor. Bahkan, Qisya sangat jarang naik motor karena ia lebih sering menaiki mobil jika ingin pergi kemana-mana.


Motor yang Arya pakai adalah motor yang Brian beli saat baru-barunya keluar motor metic vespa terbaru. Bahkan hampir jarang sekali digunakan hanya sekali dua kali saat membelinya dulu. Karena itu hanyalah sebagai koleksi untuk memenuhi bagasi saja.


Banyak mobil mewah serta motor yang Brian beli tetapi hanya sekali dua kali dipakai saja, selebihnya ia serahkan kepada Pak satpam untuk memanasi mesin semua kendaraannya agar tidak rusak.


Brian hanya memakai mobil kesayangannya yang selalu menemaninya kemana pun ia pergi. Arya yang sedang menikmati jalan bersama Qisya membuat mereka bersenandung di sepanjang jalan.


Bahkan tidak lupa Arya memakaikan helm untuk Qisya agar terjaga dari segala macam bahaya. Namun, di selang-selang kemacetan lampu merah, Qisya melihat ada beberapa anak kecil yang sedang mengamen di lampu merah.


“Om Alya, lihat deh itu... kok meleka tidak sekolah kaya Qisya? Apa meleka tidak mau pintal kaya Qisya?” tanya Qisya sambil mendongak menata Arya.

__ADS_1


“Tidak sayang, mereka mungkin tidak ada biaya untuk bersekolah. Bahkan untuk makan saja mereka harus mengamen di jalanan yang terkadang panas ke panasan hujan kehujanan. Jadi Qisya harus bersyukur ya karena bisa sekolah dan makan enak. Tidak seperti mereka yang selalu menahan laparnya”


“Tapi, Qisya juga tidak boleh sombong kepada orang yang derajatnya di bawah Qisya. Karena menurut Allah derajat manusia itu sama, hanya saja iman dan ketakwaanlah yang membuat mereka berbeda. Kalau masalah harta kaya miskin itu sama saja, jadi Qisya harus benar-benar jadi anak yang baik dan tidak boleh memandang rendah seseorang. Kalau mereka kesusahan harusnya Qisya membantu mereka jangan sampai saat mereka kesusahan Qisya malah mengolok atau mengejeknya. Itu tidak bagus, kan Qisya tahu jika Bunda tidak mau kalau Qisya nanti tumbuh sebagai anak yang sombong. Itu sebabnya Qisya harus jadi anak yang baik oke...”


Arya sedikit menasehati Qisya agar tidak salah memandang seseorang. Dengan umur Qisya yang sudah semakin mengerti tentang segala sesuatunya jadi dibutuh tenaga ekstra untuk membuatnya tidak salah memilih jalannya nanti.


“Oke... Hoya... Om Alya ada uang enggak? Kalau ada Qisya pinjam ya nanti Qisya ganti deh tapi minta Ayah dulu hehe...” ucap Qisya sambil menyengir kuda.


“Uang? Uang buat apa?” tanya Arya dengan wajah bingungnya.


“Buat meleka Om, kasihan belum makan. Pasti meleka lapal deh...” ucap Qisya sambil menatap anak-anak kecil yang sedang mengamen.


“Oh itu, kalau itu mah enggak usah di ganti. Kecuali Qisya jajan bakso baru di ganti, nanti uang Om habis kalau buat jajan Qisya. Kan Qisya mah makan mulu jadi bisa-bisa Om Arya bangkrut nanti haha...” ucap Arya sambil tertawa dan mengeluarkan dompet dari saku celananya.


“Yakk... dasal Om pelit” saut Qisya sambil memasang wajah cemberutnya.


“Aduh... aduh... awas hati-hati mulutnya lepas kalau moyong-moyong begitu. Ini uangnya Qisya kasih ke mereka jangan lupa baca Bismillah ya biar menjadi sumber pahala buat Qisya dan akan menjadi berkah buat mereka semua” saut Arya sambil memberikan uang Rp. 100.000 kepada Qisya.


Di saat anak jalanan mendekati Qisya untuk meminta sedekah sambil bernyanyi, kemudian Qisya memasukkan uang tersebut ke dalam kaleng sambil membaca Bismillah.


Dan tidak lama lampu merah berganti dengan lampu hijau yang pertanda bahwa waktunya mereka untuk kembali melajukan motornya menuju rumah.


Qisya dan Arya tidak ada henti-hentinya bersenandung menyanyikan lagu anak-anak, meski pun Qisya bernyanyi dengan syair yang salah-salah terus tetapi tidak membuat mereka berhenti.


Bahkan Arya pun dengan sengaja menyalahkan baitnya mengikuti Qisya yang malah mendapat omelan dari Qisya jika Arya bernyanyi dengan lirik lagu yang salah.


Sampai pada akhirnya mereka sampai ke rumah kediaman keluarga Brian. Qisya yang sudah tidak sabar untuk bertemu sang Bunda membuat ia buru-buru turun dari motor kemudian sedikit berlari sambil mengucapkan salam dengan suara yang menggelegar seisi rumah.


Arya yang sudah memarkirkan motor dengan posisi awalnya pun kemudian segera memasuki rumah untuk menyusul Qisya.


“Assalamualaikum... Qisya yang cantik dan imut pulang nih...” teriak Qisya dengan suara cemprengnya, lalu berlarian kecil dengan susah payah menuju ruang keluarga.


“Waalaikumsalam, aduh... cucuku sudah pulang” saut Nyonya Syifa dengan diikuti semuanya untuk menjawab salam dari Qisya.

__ADS_1


“Bundaaa...” teriak Qisya sambil berlari dan memeluk Hana.


Hap ! ...


Dengan sigap Hana menangkap pelukan Qisya dengan sangat erat. “Sayangnya Bunda, aduh... Bunda kangen banget sama Qisya”


“Qisya juga kangen banget sama Bunda, Bunda jangan sakit lagi ya... Qisya enggak mau ditinggal Bunda teyus tahu, nanti Qisya sedih di lumah kalau enggak ada Bunda jadi sepi” saut Qisya sambil melepaskan pelukannya dan memasang muka yang sangat sedih.


“Uluh... uluh... sayangnya Bunda, hoya... Qisya mau ikutan jadi model Bunda enggak? Bunda mau bikin acara model hijab loh...” tanya Hana.


“Wahh... mau banget Bunda, yey... Qisya jadi model horeee...” sorak Qisya sambil jingkrak-jingkrakan kesenangan.


“Qisya tahu enggak, Ayah juga mau loh jadi model Bunda. Nanti Qisya bantu bunda buat dandanin Ayah ya...” saut Hana sambil tersenyum.


Qisya yang tadinya senang kini berubah menjadi bengong, karena ia sangat terkejut dengan perkataan sang Bunda. Yang ingin menjadikan Ayahnya sebagai model hijab juga, padahal kan Brian laki-laki kenapa harus ikutan seperti ini. Itulah yang ada di pikiran Qisya saat ini.


“Loh, Ayah ikutan juga Bunda? Kan Ayah laki-laki, masa ia pakai hijab juga kaya kita?” tanya Qisya dengan wajah bingungnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Hehe... Bunda juga tidak tahu sayang, semua ini kemauan dedek kembarmu bukan Bunda” ucap Hana sambil tersenyum menatap perut buncitnya yang semakin membesar sambil mengelusnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Jangan bosan-bosan ya buat dukung Author Cubby ini... 🤭🤭🤭


Jangan lupa untuk selalu tersenyum dan bahagia ya semuanya... 😁😁😁


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2