Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Burung Kakak Tua


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Brian


Brian sedang sibuk memandikan Qisya dan kemudian mendandani Qisya dengan sangat cantik.


"Yah.. kok ambut Isa jadi kaya gini ayah" Isa yang melihat rambutnya di kuncir kuda yang miring ke kanan itu membuat Qisya merasa kurang puas dengan hasil karya Brian.


"Loh ini kan sudah bagus sayang, dari pada tadi kurang rapi. Sudah gapapa kan miring sedikit ini" jawab Brian yang sudah menyerah untuk mengucir rambut seperti kuda yang diminta oleh Qisya.


"Ish.. ini jelek ayah, maca ucilannya miling sih. Nanti kalo otak Isa miling uga gimana? Ayah mau tanggung jawab" celoteh Qisya sambil menarik kuncirannya dengan sangat kesal.


Hampir 10 kali lebih Brian berusaha menguncir rambut Qisya yang penuh dengan perjuangan.


Namun, setelah hasilnya menurut Brian bagus kini malah di hancurkan oleh Qisya.


"Astaga sayang,.. ayah sudah susah payah nguncirin kamu kaya buntut kuda-kuda apalah itu, sesuai kesukaanmu. Tapi malah dihancurkan, lama-lama ayah botakin rambut kamu biyar tidak usah repot-repot nguncir lagi"


Brian yang sudah kesal dengan tingkah Qisya, kini malah duduk di kasur dengan menatap Qisya yang masih setia duduk di depan cermin.


"Kalo ambut Isa di otakin, nanti jadinya lampu taman ayah.., makannya ayah belajal cali bunda balu biyar Qisya bisa dikuncilin ambutnya. Enggak miling-miling kaya ayah" celetuk Qisya sambil menatap ayahnya dengan kesal.


Brian yang mendengar perkataan Qisya kali ini di buat sangat terkejut, bahkan di usia Qisya yang terbilang masih umur 4 tahun kini dia sudah bisa berbicara layaknya orang dewasa.


Ini adalah hal yang pertama kalinya Qisya mengucapkan kata-kata bunda di depan Brian.


"Qi-Qisya ta-tahu dari mana kata-kata bunda?" Brian bertanya dengan suara gugup dan menampilkan wajah bingungnya.


"Isa tahu dali Oma, Isa waktu itu iyat anak kecil yang digandeng ibunya bahagia banget tahu ayah. Isa mau deh punya bunda kaya meleka bisa gandeng-gandeng, pelgi baleng teyus gitu"


Qisya mulai menceritakan semua yang pernah Qisya lihat pada Brian dengan harapan yang sangat dalam.


Brian yang mendengar celotehan Qisya membuat hatinya tersayat, jika saja Sandra atau ibu kandungnya Qisya masih hidup mungkin saja Qisya tidak sampai kekurangan kasih sayang seperti ini.


"A-apa aku harus mencarikan bunda buat Qisya? Ta-tapi siapa? Ohya.. kan Hana mirip banget dengan Sandra. Apa lagi setiap aku melihatnya seperti aku sedang melihat Sandra. Hana dan Sandra seperti wanita kembar hanya saja berbeda nama tetapi sikap mereka semua sama persis. Apa aku harus menikahi Hana demi Qisya? Sama seperti permintaan Sandra waktu itu" ucap Brian di dalam hatinya.


Qisya yang melihat Brian terdiam dan bengong seperti itu membuat ia langsung mendekati Brian dan mencoel pipi Brian.


"Ayah..." panggil Qisya dengan suara lembutnya dan membuat Brian tersadar dan langsung memangku Qisya.


"Qisya minta kuncirin Oma saja ya" ucap Brian yang diangguki oleh Qisya, kemudian Brian langsung menggendong Qisya.


Brian berjalan keluar dari kamar Qisya menuju kamar mamahnya dan tidak lupa untuk meminta tolong agar mamahnya bisa membantu mengurus Qisya yang dari tadi selalu ribut dengan kunciran kudanya, sampai-sampai membuat Brian belum mandi dan bersiap-siap.


*

__ADS_1


*


*


*


Saatnya keluarga Brian berangkat berlibur menuju desa SUKA MAJU dimana yang terdapat tempat tinggal keluarga Hana.


Brian kali ini tidak melupakan masalah mobil, dia menggunakan mobil keluarga yang biasa mamahnya pakai.


Jika Brian mengunakan mobil terlalu mewah bisa-bisa membuat orang kampung heboh kembali, dan mereka menyangka bahwa Brian ingin melamar Hana.


Di sepanjang jalan Brian fokus dengan menyetir mobilnya sesekali mendengar suara cempreng anaknya yang sedang bernyanyi di belakang bersama Oma nya.


Sedangkan Opanya sesekali menengok ke arah belakang dengan senyuman yang melebar dan ikut bernyanyi bersama Qisya.


"Balonku ada lima, lupa-lupa walna nya. Hijau kuning kelabu melah muda dan bilu. Doooorrr...." Qisya menyanyi dengan sangat bersemangat dan mengagetkan semuanya.


"Bhaha.. balonnya saja belum melutus sudah dor duluan" Brian tertawa mendengar nyanyian Qisya yang terburu-buru sambil sesekali melihat jalanan di depannya.


"Hehe... habisna lama sih, jadi meletus duluan deh balonnya" Qisya yang merasa kelamaan lagunya malah mengambil jalan pintas untuk meletuskan balonnya lebih dulu.


Kedua orang tua Brian yang melihat tingkah lucu cucunya ini malah membuat mereka tertawa dengan perasaan yang tidak bisa diartikan, bagaimana kebahagiian mereka telah melihat perubahan Brian yang semakin hangat.


"Yey.. lagu balu, Isa mau itut nyanyi Oma" sorak Qisya dengan duduk meloncat-loncat saking senangnya ingin mendengarkan lagu baru Oma nya.


Nyonya Syifa mulai menyanyikan lagu burung kakak tua dengan mengulangnya beberapa kali sampai Qisya hafal dan bisa menyanyikannya sendiri.


"Gimana? Gampangkan,.. coba Qisya nanyikan kaya Oma tadi" Nyonya Syifa berusaha memyemangati Qisya untuk hafal dengan lagu-lagu anak kecil.


"Bulung kakak tua, hinggap di jendela, Oma sudah tua giginya tinggal dua. Trek dung.., trek dung..., trek dung la la la.. bulung Oma tua yey.." Qisya menyanyikan lagu dengan sangat bersemangat sampai-sampai tidak sadar jika ia salah menyanyikan lirik lagunya.


Brian dan Tuan Ferry yang mendengar Qisya bernyanyi dengan lirik yang salah membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


Sedangan Nyonya Syifa malah melongok dan menepuk jidatnya sambil berkata "Ya ampun Qisya, itu liriknya salah loh. Masa gigi Oma yang tinggal dua aturan kan gigi nenek loh"


"Kan Oma uga nenek-nenek, jadi Oma uga cama giginya nanti tinggal dua hihi.." Qisya menyengir tanpa dosa dengan mood hatinya yang sangat senang.


"Ckk!!.. kamu ini ya, terus kenapa jadi burung Oma yang tua? harusnya kan burung kakak tua Qisya" Nyonya Syifa merasa sedikit kesal dengan Qisya, sudah dicontohkan berkali-kali masih saja salah.


"Hehe.. ndak tahu Oma, Isa ingetna bulung Oma yang tua" saut Qisya dengan tertawa cekikikkan.


"Bhaha.. mamah kan memang punya burung tua, jadi Qisya tidak salah dong" celetuk Brian sambil melirik mamahnya dari kaca sepion yang berada di depan untuk melihat ke belang.

__ADS_1


"Brian..." geram Nyonya Syifa yang membuat Brian semakin tertawa.


"Emangna Oma benelan unya bulung tua ayah? Kok Isa ndak pelnah iyat di lumah. Apa Oma umpeti ya?" tanya Qisya dengan wajah polosnya.


"Eh,.. Oma enggak punya burung kok, noh Opa yang punya burungnya. Oma mah cuma punya goa dan hutan rimba saja" jawab Nyonya Syifa dengan nada kesal.


Tuan Ferry yang mendengar istrinya asal jeplak itu membuat dirinya berhenti tertawa dan melemparkan tatapan tajam pada istrinya.


"Hehe.. maaf mas, pisss" ucap Nyonya Syifa yang langsung memperlihatkan jari membentuk huruf V dengan senyuman yang mengembang.


"Opa,.. Isa mau iyat bulung Opa boyeh? Bulung Opa walna apa? hijau, kuning, melah, bilu, atau pelangi? teyus apa bulu bulungnya anyak Opa?" tanya Qisya yang malah membuat Tuan Ferry langsung menutupi asetnya dan langsung kembali menghadap depan.


Yang membuat Brian dan Nyonya Syifa tertawa tanpa henti, kepolosan Qisya hari ini membuat pikiran mereka traveling kemana-mana.


Padahal kan Qisya hanya menanyakan seekor burung, lalu kenapa mereka menanggapinya burung yang lain ya.


Qisya yang merasa penasaran kini merengek untuk melihat burung Opanya, tetapi Nyonya Syifa dan Arya berhasil mengalihkan Qisya, sampai akhirnya Qisya yang sudah mulai ngantuk itu tertidur dengan sangat nyenyak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜


Terimakasih 🙏🙏


Papay 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2